Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
48. Konfirmasi


__ADS_3

El menghela nafas panjang setelah ponselnya mati, dia tadi bolos beberapa kelas karena menunggu panggilan dari saudara kembarnya, setelah mendapat panggilan bukannya tenang perasaan pria itu menjadi semakin galau bukan karena ay melainkan karena Olivia.


El sudah mengakui dirinya menyukai olivia, tapi dia tidak mau menjadi perusak hubungan orang lain. Memang benar yang Al bilang ‘sebelum janur kuning melengkung dia siap di tikung’ tapi sayangEl tidak sejahat itu untuk merebut olivia dari tunangannya, bisa dikatakan menyerah sebelum berperang.


“Hai boleh duduk di sini?” tanya salah satu senior pada El.


“silahkan” ujar El datar.


“tadi lo keren, bisa membantah ucapan ibu Alexa” puji pria itu. Mata El kini beralih menatap pria disebelahnya.


“alexa?” beo El.


“Ya ampun Daniel, tadi dosen yang lo bantah itu namanya Alexa Olivia Jonshon, dia dosen termuda dan terhot yang ada di kampus ini” ujar pria itu.


El kembali menatap ke depan tak lagi menatap pria disebelahnya.


“Aku teman sekelasmu, namaku Defri” pria itu memperkenalkan dirinya, “dan aku juga termasuk seniormu, aku mengulang kelas dosen itu karena sering absen semester kemarin”sambungnya lagi.


El masih diam tidak menanggapi, ibarat kata pria Bernama defri itu berbicara pada tembok.


“Menurut lo gimana dengan dosen tadi? Selain termuda sebagai dosen dia juga mempunyai gelar professor, keren banget kan? Gue sampai berharap bisa mendapatkan hatinya” kekeh pria itu.


Kali ini ucapan Defri mendapat tanggapan dari el, “Dia sudah punya tunangan” jawab el dingin.


“Tunangan? Siapa?” tanya balik Defri.


“bukannya dosen itu sudah punya tunangan?” ulang El sekali lagi.


“Ibu alexa? Punya tunangan? Hahahha bro dapat info dari mana?” tawa defri pecah karena ucapan El.


El mengernyitkan keningnya bingung, apa dia di tipu oleh kakak dosen? Pikir pria itu.


“Selama aku kuliah di sini, ibu alexa itu selalu jadi primadona di kampus, walau dingin, kejam dan sedikit mengerikan, tapi masih banyak yang mengidolakan ibu alexa secara diam-diam, soalnya cantik banget, masih bisa disejajarkan dengan kita-kita kalau jalan, dan ini pertama kalinya aku dnegar dia udah bertunangan, jangan mengada ada bro” kekeh Defri.


“Ibu alexa sendiri yang bilang kalau dia sudah punya tunangan” bantah El, dia masih tidak percaya kalau dia di tipu oleh kakak dosen.

__ADS_1


“Jangan bercanda bro, dari mahasiswa sampai dosen semua mengejar ibu alexa, jika dia punya tunangan pasti pernah nongoling wajah di kampus ini, tapi gak pernah tu ada pria yang mengaku tunangannya ke sini” ungkap Defri.


Senyum dibibir El mulai mengembang membentuk bulan sabit. Hati el juga mulai berbunga-bunga mendengar penuturan defri. Dia bersyukur Defri berbicara panjang lebar hingga memberitahu dia informasi tentang kakak dosen yang dia sukai.


El langsung berdiri dari duduknya, “Thank Def” ucap al lalu langsung hilang dengan cepat dari sana. Dia ingin segera mencari olivia untuk mengkonfirmasi kebohogan gadis itu.


El berlari menuju ruang dosen, tapi tidak ada tampak wajah olivia di sana, matanya masih berkeliling mencari dosen yang dia inginkan.


“cari siapa nak?” tanya salah satu ibu dosen yang tampak seumuran oma nya.


“ibu Alexa ada bu?” tanya el dengan lembut.


“ck” ibu itu berdecak kesal, selalu saja banyak mahasiswa yang mencari perawan tua itu geramnya kesal. “seperti biasakan, dia jarang ada disini” jawab dosen itu acuh.


“Dimana ya bu, saya bisa bertemu dengan ibu Alexa?” tanya El.


“cob acari di café depan kampus, saya dengar dia suka duduk di sana” ucap ketus ibu dosen itu.


El menunduk hormat pada ibu itu lalu berterima kasih, setelah itu dia mengikuti petunjuk dari dosen itu untuk mencari olivia di café depan kampus.


...🐻🐻🐻🐻🐻...


“boleh duduk di sini kakak dosen?” tanya el.


Oivia mendongakkan kepala melihat siapa yang memanggilnya seperti itu.


"Ini tempat umum, siapa saja boleh duduk" jawab olivia.


"Kakak berbohong padaku kan?" El langsung saja to the point dengan tujuan utamanya.


Olivia menaikkan sebelah alisnya karena bingung. "bohong? dalam artian apa ya?"


"Tunangan" ujar El dengan cepat.


Olivia tertawa pelan, "aku tidak pernah berbohong, aku memang punya tunangan" kata Olivia dengan pasti. "tapi telah meninggal" batin Olivia, dia tidak mau mengatakan bahwa tunangannya sudah tiada pada siapapun.

__ADS_1


"Benarkah? kalau gitu dimana dia? kenapa tunangannya sakit dia tidak mau mengurus?" tantang El.


"Dia sedang di tempat yang sedikit jauh dari sini" Olivia memiringkan kepala dan melipat kedua tangannya di depan dada. "kenapa aku harus memberi tahu kamu tentang tunangan ku, aku tidak memerlukan klarifikasi itu" sambung Olivia.


"kakak dosen pasti bohong, kakak takut jatuh cinta padaku kan? makanya kakak memasang dinding tebal lebih dulu agar aku tidak bisa mendekati kakak atau kakak tidak bisa mendekat padaku" sindir El.


"hahahhaa kamu lucu banget sih El" tawa Olivia, dia tidak tau kalau pria di depannya ini selalu penuh kejutan dan bisa membuatnya tertawa, sudah lama gadis itu lupa caranya tertawa, dan tersenyum.


"Aku serius, kakak bohong agar kakak tidak bisa jatuh cinta padaku kan?" cara bicara El mulai terdengar bergetar di pandangi oleh Olivia dan melihat senyum gadis itu El menjadi grogi.


"kamu suka padaku ya?" tanya Olivia spontan.


"Enggak! siapa bilang aku suka sama kakak" Elak El dia memang belum pernah jatuh cinta sekali nya jatuh cinta seperti orang bodoh yang mudah sekali ketahuan.


Olivia kembali tertawa sambil menatap mata El yang bergetar, "aku ini pakarnya hubungan percintaan, umur sepertimu memang sedang saatnya jatuh cinta" ujar Olivia.


El kini gantian tersenyum dia mendekatkan wajahnya pada Olivia, "benarkah kakak dosen? apakah saat ini aku terlihat sedang jatuh cinta? tapi kakak dosen yang pakar dalam hubungan percintaan, sepertinya ada satu hal yang Anda lupakan dan perlu pelajari" ucap El dengan bertopang dagu.


"Apa itu?" tanya Olivia spontan.


"Sosial skill, ayolah kak, kenapa kakak bisa ada disini? Kakak di sini untuk bersembunyi bukan? nampaknya lingkungan kerjamu tidak nyaman untukmu?" sindir El. Dia memang tidak memiliki banyak teman bukan karena dirinya tidak bisa bergaul hanya saja El memang memilih menjauh karena tidak terlalu suka berteman dengan orang munafik.


Kata-kata El menusuk tepat pada ego Olivia. Bagaimana mungkin mahasiswanya ini bisa mengetahui kelemahan utama Olivia dengan sangat akurat? Memang benar ia tidak pernah suka berinteraksi dengan banyak orang, mungkin istilah menjadi seorang introvert masih kurang tepat untuk mendeskripsikan pribadi sosial Olivia.


 


Ia sudah dikucilkan sejak kecil, karena keadaannya yang harus dihadapinya sejak dini—dan ia selalu mencari kenyamanan dari tumpukan buku yang menjaganya dari rasa kesepian. Sahabatnya ketika remaja pindah ke tempat lain dan mereka tidak menjaga kontak dengan baik. Meskipun ia berteman cukup baik dengan kawan-kawan kuliah masternya di Belanda, jarak dan perbedaan waktu juga berefek pada tingkat intensitas komunikasi mereka.


 


Satu-satunya orang yang Olivia izinkan untuk mengenalnya sangat dekat, untuk masuk ke dalam hidupnya, untuk berbagi lembaran terdalam dari dirinya telah tewas saat melindunginya beberapa tahun yang lalu. Kejadian itu juga membuat Olivia semakin tenggelam ke dalam buku-buku dan penelitiannya—hanya agar ia bisa menyibukkan dirinya, mengalihkan pikirannya, dan mengobati rasa hampa dalam dirinya. Daniel baru saja menyerang Olivia dengan kata-kata yang tepat dan ia sukses membuat gadis itu tercengang seketika.


 


“Aah, kakak… ekspresimu saat ini, biar aku memotretnya dalam memoriku.” El berpura-pura mengambil foto Olivia dengan jari-jarinya yang membentuk persegi panjang, seolah dia sedang memegang kamera.

__ADS_1


El tidak mau menjadi satu-satunya yang terdiam, dia akan membuat wanita di depannya ini untuk mengatakan hal sebenarnya dari kebohongan yang dia ciptakan.


...🦊🦊🦊🦊🦊...


__ADS_2