
Mata Aurora terlihat bengkak karena tadi dia sempat bercerita pada ara tentang kerinduannya pada sosok orang tua yang sudah lama meninggal.
Cukup lama camer dan calon menantu itu saling bercerita, Ara menceritakan kisah dia dan deon, sementara Aurora bercerita tentang keluarga kandungnya dan bagaimana hidupnya setelah kedua orang tuanya meninggal.
Ara tertawa melihat mata Aurora yang sedikit bengkak akibat menangis, “kalo al liat kamu sekarang mommy yakin dia akan marah sama mommy” kekeh Ara.
“Kok gitu mom” Aurora sudah mulai terbiasa dengan kehadiran ara dan dia sudah menganggap ara sebagai ibunya sendiri, mungkin jika Al melamarnya lagi, Aurora akan menerima itu, dia ingin cepat-cepat masuk dalam keluarga Ara.
“Iya soalnya mommy udah buat mata kamu bengkak” Ara mengelus pipi Aurora dengan lembut, “kalau mau cerita lagi, datang aja pada mommy, mommy siap memberikan solusi dan menjadi pendengar yang baik” tambah Ara.
Aurora mengangguk pelan, “makasih mom” jawab aurora.
.
‘brak’ pintu kamar Aurora tiba-tiba terbuka, Al masuk dengan wajah serius menuju Aurora.
“A-Al?!” panggil Aurora.
“Lov ikut aku sekarang” Al menyodorkan sebelah tangannya kea rah Aurora, wajah pria itu sangat serius saat ini.
“Ma-mau kemana?” Aurora sedikit gagap karena canggung dnegan situasi sekarang.
“ikut saja atau tidak pernah bersamaku selamanya” ancam Al.
Dengan pasrah Aurora menyambut tangan Al, gadis itu hanya mengikuti Al untuk pergi entah kemana.
.
Perjalanan sekitar 30 menit, Al ternyata membawa Aurora menuju atap gedung apartemen Al.
“Al mau apa kita ke ata__” ucapan Aurora terhenti karena begitu pintu atap terbuka, tempat itu berubah menjadi sebuah taman yang sangat indah.
Dari arah pintu hingga me tengah-tengah atap dihiasi dengan lilin palsu yang berakhir berbentuk hati.
Al memimpin Aurora untuk berjalan menuju hati yang sudah dipersiapkan.
__ADS_1
Begitu sampai, pria itu menekuk sebelah kakinya dan mengeluarkan cincin dari dalam saku miliknya. “Lov, aku tau ini terlalu cepat bagimu, tapi lov aku menikah denganmu bukan hanya karena menginginkan tubuhmu, aku membutuhkan kamu seutuhnya, memang di umur kita yang sekarang akan banyak pertengkaran yang mungkin akan terjadi, tapi aku janji dihatiku hanya ada satu nama yaitu Aurora Lovania Putri, Will you marry me Lov?” ucap Al penuh tekad dan kejujuran.
Aurora menahan air matanya yang akan jatuh, dia menyodorkan sebelah tangannya untuk dipasangkan cincin oleh Al, “I Will” jawab Aurora.
Al sedikit tersentak tapi kemudian pria itu tersenyum senang, setelah memasangkan cicin pada tangan Aurora pria itu tegak dan memberikan ciuman pada bibir Aurora.
“Terima kasih lov, terima kasih sudah mau menerimaku” bisik Al sambil memberikan ciuman kecil pada kening dan bibir Aurora.
Kedua pasangan kekasih itu melanjutkan kegiatan mereka dengan makan malam bersama di meja yang sudah disiapkan di sana, Al memang sudah mempersiapkan semuanya dia ingin membuat suasana dimana Aurora tidak bisa menolaknya lagi. Dia juga sudah mempersiapkan sesuatu untuk mereka berdua di pagi hari.
...🦁🦁🦁🦁🦁...
Olivia dan EL sudah berganti baju dengan baju santai, karena tadi baju el dan Olivia basah karena air mata olivia.
Olivia baru saja membuang jauh-jauh rasa gengsinya dan dengan lantang ia menyatakan bahwa ia menginginkan EL di sisinya, pria itu sekarang bagai sedang terbang ke langit ke-tujuh rasanya.
Mereka masih duduk di sofa, Olivia duduk manis di samping EL sambil terus menyadarkan kepalanya di atas bahu pria itu, lengannya melingkar erat di pinggang EL. EL sendiri hanya berani mengelus lembut punggung Olivia sambil terus-menerus mengecup puncak kepala wanita itu, mengungkapkan rasa bersyukur dan sayangnya atas kehadiran wanita itu di sampingnya.
“Jauh lebih baik.” Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh pria itu sambil menyembunyikan wajahnya pada lekukan leher EL. “Aku tidak percaya, aku benar-benar terpesona padamu.”
Pria itu terkekeh.
“Pasti itu bukan pernyataan pertama yang pernah kau dengar.” Lanjut Olivia sinis, dalam hati ia benar-benar membenci tingkahnya sekarang yang terkesan lembek di depan EL.
“Bukan yang pertama memang,” Akunya bangga. “Tapi satu-satunya pernyataan yang bermakna bagiku.”
Ia mengangkat sedikit kepalanya untuk mengintip ekspresi EL. Olivia berekspektasi bahwa pria itu akan menunjukkan wajah tengilnya, atau senyum kemenangan yang terkesan sombong—tapi yang terlihat di wajahnya hanya senyuman tulus yang tercermin pada sorot mata lembutnya.
__ADS_1
“Ada apa? Mengapa kau memandangiku seperti itu?” EL mencubit ujung hidung Olivia, “Apa ini pertama kalinya kau melihatku selembut ini?”
Wanita itu mengangguk sambil tersenyum, “karena wajah tampanmu mampu mempesona siapa saja yang melihatnya, setiap kau berjalan maka akan banyak mata wanita yang melihatmu” sindir Olivia.
“hahahha” EL tertawa kecil, “kakak memperhatikan semuanya?” Ia terkikik geli dengan kekonyolan yang dilakukan Olivia.
Olivia kembali menyembunyikan wajahnya pada bahu EL. “tidak sengaja karena setiap melihatmu aku juga tidak snegaja memperhatikan orang sekitarmu, dan aku kesal melihatnya” bantah olivia malu.
“terima kasih kak”
“untuk?”
“untuk mencintaiku sebesar itu” bisik EL, Ia kembali memberikan kecupan pada kening Olivia, “Aku tidak pernah merasa bersyukur seperti ini karena telah menemukan seseorang sepertimu dalam hidupku. Belum pernah aku jatuh cinta seperti ini, kau wanita yang pertama kali aku cintai dan untuk selamanya, aku bersumpah hati ini hanya untuk kakak tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Aku bahkan sudah membuat rencana jika mommy dan daddy menolak kakak, aku akan kawin lari dengan kakak, sebesar itu rasa suka dan cintaku pada kakak” ungkap EL.
Olivia menggeser tubuhnya untuk duduk tegak di samping pria itu, tangannya membelai lembut rambut berantakan, “Aku juga EL, Aku akan mencintaimu selamanya” balas Olivia.
Mendengar pernyataan Olivia sekali lagi untuk dirinya membuat EL mematung. Pria itu sekarang hanya bisa tersenyum gugup sambil menggigit bibirnya.
“Mengapa kau diam saja? Apa aku mengatakan hal yang salah?”
EL menggeleng mantap. “Aku selalu menikmati ucapan cintamu untukku, membuatku merasa lebih berharga.”
Olivia menarik napasnya dalam sebelum ia menyapukan ciuman ringan pada pipi EL. “You worth everything, EL. Aku sangat mencintaimu_” Olivia menjeda ucapannya, bibirnya menyunggingkan senyuman, “sekarang aku bisa dengan mudah mengatakannya, aku mencintaimu EL” ulang Olivia lagi.
EL menggeser duduknya lebih dekat pada Hani, memandangi setiap inci detail di wajah wanita itu.”kak jika suatu hari nanti kakak salah paham lagi padaku, jangan langsung lari dariku, kakak harus mengkonfirmasi padaku bukannya langsung lari” pinta EL, dia tau gadis yang dia cintai itu sangat implusif mudah sekali terpancing dan percaya apa yang dikatakan orang lain, itu suatu kelemahan untuk dirinya.
Olivia mengangguk, “Aku janji, EL. Aku janji untuk percaya padamu.”
...🐥🐥🐥🐥🐥...
__ADS_1