Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
102. Menantu & Mertua


__ADS_3

Hanya satu jam kemudian Olivia benar-benar bisa menenangkan dirinya dan bicara dengan normal lagi. Wanita itu masih tetap berlindung di dalam pelukannya, masih menyadarkan kepalanya pada bahu hangat EL sambil menghirup aroma maskulin pria itu yang diam-diam sangat dinikmatinya—meskipun dulu ia pernah meledek EL habis-habisan karena masalah ini—wanita itu tetap mencari sensasi nyaman dari pria yang masih mendekapnya.


“EL,bajumu basah karena air mataku.” Ia mengusap tangannya ke atas jejak air matanya yang masih ketara.


 


EL tidak menjawab, ia hanya mengusap lembut punggung Olivia sambil menciumi puncak kepala wanita itu.


 


“Apakah kau akan marah jika aku memintamu memelukku lebih lama?” Tanya Olivia polos.


EL semakin mengeratkan pelukannya pada sekeliling tubuh Olivia, “Aku bisa melakukan ini sepanjang malam”.


 


Olivia mengangkat kepalanya dari bahu EL dan menjauhkan posisi tubuhnya sedikit agar bisa memandang pria itu dengan leluasa. Hatinya terasa nyeri saat ia mempelajari setiap detil kecil di wajah EL, yang menatapnya sedih, ada bekas air mata di sudut mata EL. Ini adalah perang batin dan moril yang harus Olivia hadapi seorang diri, mengapa pria ini justru ikut menderita bersamanya?


“Aku tidak mau melihatmu seperti ini karenaku.” Ujar Olivia sambil menyapukan jemarinya di bawah mata EL. “Jangan sakiti dirimu karena masalahku, EL”.


 


EL memaksakan senyuman di wajahnya. “Aku juga tidak mau melihatmu seperti ini, tapi sepertinya kita tidak punya pilihan. Pasti ini merupakan waktu yang sulit untukmu—dan aku siap mendampingimu melalui ini semua. Tapi kak, hanya itu yang bisa kulakukan. Kau harus memaafkan dirimu terlebih dahulu sebelum kau memulai lembaran baru.”


Olivia mengangguk setuju, ajaib sekali pria ini. Dulu ia terlihat seperti bocah manja yang sombong, namun sekarang ia bisa mengungkapkan kata-kata yang terdengar sangat dewasa dan masuk akal.


 


“Kau bisa melanjutkan hidupmu tanpa harus melupakannya, kak. Aku juga tidak akan menuntutmu untuk membuang seluruh memorimu bersamanya—sangat tidak manusiawi sekali kalau aku seperti itu.” Lanjut EL bijak.


 

__ADS_1


“Aku tahu dan aku benar-benar ingin lepas dari kondisiku sekarang.” Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada EL. “Aku egois sekali, bukannya menuntaskan ini sendiri aku malah membuatmu terlibat.”


 


“Aku rela.” Balasnya cepat, “Sebenarnya kalau boleh juju raku tidak sebanding dengan pria itu”.


Kali ini Olivia memutar tubuhnya yang masih di atas pangkuan EL untuk benar-benar menatap pria itu, sementara tangan EL masih tetap menyangga punggung Olivia dengan sigap. “Bagaimana mungkin kau merasa demikian? Apa aku memperlakukanmu seburuk itu?”


Pria itu menggeleng, “Bukan karena perlakuanmu padaku. Tapi karena apa yang telah ia lakukan untukmu. Aku tidak akan pernah bisa menyeimbangi apa yang telah ia lakukan untukmu.” Pria itu menunduk demi menghindari tatapan mata Olivia.


 


Olivia menangkupkan kedua tangannya pada wajah EL, mengangkat wajah pria itu dengan perlahan sambil meminta EL untuk memandang tepat pada manik matanya. “EL, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika kau berani melakukan apa yang ia lakukan.” Emosi lagi-lagi merasuki dirinya dan air mata wanita itu sekali lagi tumpah tanpa bisa ditahannya.


 


“Kak…”


“Dengarkan aku!” Pinta Olivia dengan memaksa. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku butuh tameng lain untuk memperpanjang nyawaku? Apa yang membuatmu berpikir bahwa pria yang tepat untukku adalah pria yang rela mati untukku?! Apa kau pikir aku bisa hidup tenang kalau aku harus terus-menerus merasa bersalah seperti ini? Merasa berhutang nyawa pada orang yang telah membuat keputusan cepat untuk melindungiku?!”


 


 


“Aku tidak mau memiliki umur panjang, tapi harus melaluinya sendirian.” Ia mulai terisak, “Aku tidak sanggup menahan pedihnya, EL. Maka kumohon jangan pernah berpikir kau tidak bisa menyainginya, karena aku tidak mau kau melakukan itu—bukan itu yang kubutuhkan.”


 


EL menyapu air mata di wajah Olivia sambil mencoba menahan air matanya sendiri, “Lalu apa yang kau butuhkan?”


 

__ADS_1


“Tepat apa yang telah kau berikan untukku.” Perlahan wanita itu menurunkan telapak tangannya untuk diletakkan di belakang tengkuk EL, ia menarik pria itu untuk mendekatkan wajahnya lebih dekat pada wajahnya, “Tetaplah berada di sisiku, dan tetap hidup serta bernapas bersamaku.” Olivia akhirnya memberanikan diri untuk melakukan hal yang sejak tadi ingin dilakukannya saat ia menarik EL semakin dekat sambil menyapukan bibir mereka dengan malu-malu.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


“Mom, aurora bantuin ya” Aurora turun dari kamarnya, rencana gadis itu ingin mencari Al, tapi pria itu tidak ada di dalam kamarnya, jadi Aurora memilih berkeliling mansion besar itu, tapi saat melewati dapur dia melihat calon mertuanya sedang memasak, setelah itu aurora beralih menjadi membantu mami ara ketimbang mencari Al yang tidak jelas keberadannya dimana.


“Ehh Aurora, kok kesini?” tanya mommy Ara.


“Hehehe mau bantuin mommy, bolehkan?”


“Hmmm” Ara menatap Aurora penuh selidik, “sedang bertengkar ya dengan Al?” tebak mommy ara.


“Hah?! Enggak kok mom, baik-baik aja” bantah Aurora, gadis itu berusaha tersenyum ke arah mommy Ara.


“Bohong ahh, tadi mommy liat loh abang keluar dari kamar kamu, ada masalah apa, sini cerita sama mommy” Ara menarik tangan Aurora menuju meja makan meninggalkan masakannya untuk dilanjutkan sama pembantunya.


“mommy liat ya?”


Ara tertawa pelan sebenarnya dia tidak melihat apapun, Al sendiri yang datang padanya meminta bantuan untuk memberi kejutan lamaran pada kekasihnya, meminta bantuan Ara agar bisa membuat Aurora tetap dirumah sampai malam karena dia akan membuat kejutan pada gadis itu.


“boleh mommy tau kenapa Aurora tidak mau menikah sama al?”


Aurora langsung menunduk begitu ara bertanya masalah yang membuatnya bertengkar dengan Al.


“bukan rora gak mau nikah sama Al mom, tapi rora takut menghadapi pernikahan, umur rora masih terlalu muda, dan rora takut jika nanti kami berpisah” jawab Aurora dengan suara pelan.


Ara menggengam tangan Aurora dengan lembut, “mommy pernah juga menghadapi ketakutan seperti kamu, mommy dulu menikah di umur 17 tahun, lebih muda dari kalian berdua, mungkin karena pasangan mommy umurnya lebih tua dari mommy jadi mommy sedikit tenang, setiap ada masalah daddy deon selalu mengalah pada mommy, Al dan EL itu sifatnya sangat mirip dengan daddy deon, sekali memilih dan menetapkan hatinya pada seorang wanita maka pandangannya tidak akan pernah lepas dari wanita itu, kamu liat sendiri EL, bagaimana dia mempertahankan wanita yang umurnya lebih tua darinya? Al memang sering berganti-ganti pacar, tapi kamu tau, tidak ada pacar yang berhasil mencium Al kecuali kamu” Ara menjeda kalimatnya, mengelus pipi calon menantunya dengan lembut.


“Jelaskan pada al dengan lembut, mommy tidak akan menyalahkan kamu kalau kedepannya kalian menikah dan berpisah, kalau yang kamu takutkan adalah itu, Al juga tidak mungkin menahan keinginan kamu untuk lulus, mommy mohon terima lamaran Al ya sayang, kalau jika di kemudian hari kalian benar benar berpisah, mommy akan tetap menganggap rora sebagai anak mommy” sambung Ara lagi.


“mom, boleh Rora minta peluk mommy gak?” pinta Aurora.

__ADS_1


Ara langsung memeluk Aurora dan mengelus punggung aurora dengan lembut, “jadilah anak mommy, sayang. Mommy janji gak bakal jadi mertua yang jahat” canda Ara.


...🐨🐨🐨🐨🐨...


__ADS_2