Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
54. Terbongkar


__ADS_3

Seperti biasa Al mengantar Aurora bekerja di restoran milik brian, dan pria itu akan pergi setelah itu, tapi kali ini Al terlihat tidak suka dengan manager restoran itu yang terlihat sedang berdiri di pintu masuk sambil menyapa karyawannya satu persatu seperti sedang menunggu seseorang atau penyambut tamu.


Aurora turun dari motornya bersamaan dengan Al yang berjalan turun dari motor dan mengikuti Aurora, gadis itu menghela nafas panjang dan berbalik menghadap Al “kamu percaya padakukan?” tanya Aurora.


Al masih diam dengan wajah cemberut.


“Al~” panggil Aurora dengan nada lembut. Saat bibir itu tidak mengeluarkan suara.


Al mengehla nafas panjang, “iya percaya” jawabnya dengan wajah yang terlihat seperti anak kecil.


Aurora menahan tawanya melihat wajah Al ingin rasanya dia mengecup bibir pria itu, ‘eh cium?’ setelah berani menyampaikan bagaimana perasaanya Aurora mulai tertular sikap Al yang mesum, dia memegang kedua pipi Al sambil tersenyum.


“jangan nakal-nakal, aku pergi” setelah berkata begitu aurora melangkah menjauhi Al.


Aurora mulai mendekat kearah managernya karena memang itulah pintu masuk mereka. Saat sudah sampai dihadapan manager itu, aurora terlihat berbicara sebentar lalu berlari meninggalkan Frans yang mengikutinya dibelakang.


Al melihat itu semua dia mengepalkan tangannya geram plus emosi, tapi dia tidak bisa membuat Aurora membencinya dengan marah-marah di sana sebentar lagi adiknya akan menikah itu artinya dia akan mengenalkan aurora pada kedua orang tuanya, “apa aku minta saja pada adik ipar untuk memecat pria itu?” gumam Al pada dirinya sendiri.


(


Baru saja Al mau menyalakan motornya, Adik ipar yang tadi dia pikirkan sedang menghubunginya.


“Halo bro” sapa Al.


“hai abang ipar, sudah mengantar kakak ipar ke tempat kerja?” canda brian.


“sudah, ada apa menelponku?” tanya Al.


“mau meminta sesuatu, bisakah kau membantuku?” tanya brian.


Bibir Al tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, otaknya langsung memikirkan tentang manager kurang ajar yang mau merebut aurora darinya.


“baik tapi ada syaratnya” tawar Al.


“apa?” tanya brian.


“Pecat atau pindahkan manager di restoran mu sekarang, aku tidka suka dengan nya karena terus berusaha menggoda calon istriku” ujar Al.


Terdengar suara tawa brian dari telepon.


“baiklah akan aku lakukan” jawab brian disela tawanya.

__ADS_1


“jadi apa yang kau inginkan?” tanya Al.


“aku akan berpura-pura mengabaikan Ay beberapa hari ini, dan jangan marah dengan sikapku_”


“kenapa?” al langsung memotong ucapan brian, dia langsung emosi jika brian akan meminta hal yang membuat dia marah Al tidak akan mau menerimanya.


“Abang ipar tolong jangan emosi langsung, dengarkan aku sampai selesai” kata brian memberi pengertian secara baik.


“baiklah lanjutkan” ucap Al, memang tidak ada takut sama sekali bersikap seperti itu pada ketua mafia, seolah-olah dirinya lebih mengerikan dari ketua mafia itu.


“Aku mengacuhkan Ay untuk membuat kejutan pada Ay, aku mau melamarnya seminggu sebelum kita berangkat ke turki, jadi aku mau membuatnya kesal, jadi aku memberi tau abang ipar berpura-pura acuh saja pada sikapku, dan rencana lainnya seminggu sebelum berangkat abang ipar yang mengantar ay pulang ke rumah” jelas brian.


“kau akan buat kejutan di apartemenmu?” tanya Al.


“ya abang ipar, apakah bisa?”


“hmm sedikit sulit karena saat pulang kuliah aku akan mengantar au ke tempat dia kerja” ucap Al ragu.


“Akan aku jauhkan pria itu dari Aurora, sejauh mungkin atau mungkin ke luar negri atau luar kota” bujuk brian.


Al kembali menyunggingkan senyumnya.


“baik abang ipar” jawab brian penuh semangat.


...🐻🐻🐻🐻🐻...


'Ting tong ting tong' El tidak berhenti menekan bell apartemen Olivia, dia tau Olivia ada di dalam dan gadis itu tidak mau membuka kan pintu apartemen nya.


'Ceklek' pintu akhirnya terbuka, muncul wajah Olivia yang terlihat kesal.


"tanganmu sudah sembuh kan? aku melihatmu menulis menggunakan tangan itu" ujar Olivia ketus.


El menganggukkan kepalanya, “memang benar tanganku sudah sembuh tapi aku mau minta pertanggung jawaban lain”.


Olivia menatap sinis El, gadis itu berusaha menutup pintu apartemennya dengan cepat, tapi suara


teriakan el menghentikan tangan Olivia yang mau menutup pintu.


“auu kak sakit” bohong EL. Olivia mengernyit bingung, pertama bingung kenapa pintu itu tidak mau tertutup kedua bingung kenapa El berteriak. “kaki kak” El menunjuk kakinya yang dekarang dia gunakan untuk menahan pintu agar tidak bisa tertutup.


“Ya ampun EL!” pekik olivia terkejut, tangan olivia langsung melepas hendel pintu dan membua pintu itu lebih lebar.

__ADS_1


Mendapatkan kesempatan emas, El langsung berlari masuk dan duduk di sofa Olivia sambil meringis pada kakinya yang menjadi penahan, padahal tidak sakit karena sendal yang El gunakan menahan pintu agar tidak tertutup. El masih berbohong dengan berpura-pura kesakitan pada kakinya.


“Itu salahmu el! Kenapa kau menjadikan kakimu untuk menahan pintu” omel Olivia pada El yang masih berbohong.


“kakak harus tanggung jawab lagi, pada kakiku” ujar El sambil terus menahan senyumnya saat melihat wajah olivia yang cemas dan khawatir.


“Tidak mau, kau yang membuat dirimu kesakitan” bantah Olivia.


“Ini sakit kak” rengek EL.


“Silahkan obati sendiri, lagian aku tidak melihat luka, sekarang pergi dari apartemenku” perintah olivia.


El menghela nafas panjang, “Tidak bisakah kakak bertanggung jawab atas diriku?” El akhirnya duduk dengan tegap dan melepaskan tangan dari kakinya.


“Tidak mau, sekarang pergi el!” usir olivia.


“Tapi aku mau minta pertanggung jawaban kak”ujar El santai.


“kakimu terlihat baik-baik saja, dan tanganmu juga tanggung jawab apa?”


EL menahan senyumnya sambil menujuk bibir pria itu berkata, “bibirku sudah tidak perawan lagi, semua ini karena kakak, jadi kakak harus tanggung jawab untuk itu”.


Olivia sempat bengong mendengar ucapan yang keluar dari mulut El, bisa bisanya pria itu menganggap dirinya lah yang bersalah, padahal dia yang menyosor pada Olivia.


“Kau yang melakukan itu bukan aku” bantah olivia, gadis itu lebih memilih melihat layar televisi yang menyala dibanding wajah el yang sangat mempesona saat ini.


“Aku memang yang melakukannya tapi kakak tidak menolakku” balas El santai.


“aku punya tunangan EL!” ujar olivia.


“Aku tidak peduli, datangkan pria itu kesini baru aku berhenti minta tanggung jawab” kata el tidak peduli.


Olivia kini menatap mata El, otaknya mulai mengingat ucapan El bersama teman-temannya. “tanggung jawab seperti apa yang kau minta? Tidur denganku? Atau berfoto mesra denganku?” suara olivia mulai terdengar emosi.


El masih belum mengerti kenapa Olivia bisa semarah itu padanya, “Berpacaran denganku” jawab El mengabaikan kebingungan dari pernyataan yang diberikan olivia.


...🐺🐺🐺🐺🐺...


bonus pict


__ADS_1


__ADS_2