Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
77. Janji


__ADS_3

Olivia memukulkan tangannya ke atas meja di tengah ruangan dengan seluruh tenaga yang dimilikinya. “BUKAN ITU INTINYA! PENELITIAN INI PENTING UNTUKKU KARENA—”


Olivia tidak mampu melanjutkan kata-katanya—ia menolak untuk meruntuhkan pertahan dirinya di depan orang yang baru saja mencuri karyanya. Masalah ini bukan tentang kredibilitas, bukan tentang karya intektual yang dirampas darinya, bukan juga tentang jenjang karir yang semakin menjanjikan untuknya.


Bagi Olivia, penelitian ini adalah sisa-sisa kenangan dengan Michel yang masih melekat pada dirinya. Michel lah yang pertama kali mengusulkan Olivia tentang seminar ini, ia yang mengantar Olivia untuk mendaftar dan ia juga yang membantu pengumpulan data dan penghitungan awal, bahkan pria itu punya ide gila untuk menggunakan green panel Olivia untuk menggerakkan mesin mobil sportnya. Seharusnya proyek ini menjadi karya mereka berdua—meraka lah yang seharusnya tampil di Kopenhagen untuk mempresentasikannya.


 


Proyek ini adalah persembahan terakhir dari Olivia untuk pria yang sangat dicintainya.


 


“Aku akan membawa masalah ini ke pengadilan, siapkan dirimu untuk bertemu dengan pengacaraku.” Olivia memutuskan untuk menuntaskan argumen yang jelas tidak akan berakhir.


 


Baru saja wanita itu akan melangkah keluar dari ruang perpustakaan, professor Sebastian justru tertawa sinis sambil mengambil ponsel dari saku jasnya. “Aku sudah menduga kau akan bersikap seperti ini. Tentu saja aku akan kalah telak jika aku harus ikut ke pengadilan, jadi aku sudah menyiapkan permainan yang lebih kotor lagi.”


 


Pria itu mengangkat ponselnya ke arah wanita itu, menunjukkan sebuah gambar yang terlihat samar di mata Olivia. Ia mendekat untuk meraih ponsel dari professor Sebastian, mempelajari gambar yang tertampang di layarnya dan seketika itu juga hatinya mencelos.


 


Gambar itu adalah foto dirinya dan EL yang keluar masuk dari apartemen nya dan juga apartemen EL, juga ada foto saat El mencium dirinya secara mendadak di depan apartemen. Foto itu diambil dari angle yang sangat pas sehingga menunjukkan posisi EL terlihat jelas.


“Aku tidak pernah mengira bahwa kau adalah tipe dosen yang suka bermain nakal dengan mahasiswa. Apa itu alasanmu memberi anak itu kesempatan untuk bergabung di proyek ini?” Ia menyeringai licik.


Inilah yang Olivia takutkan, hubungannya dengan mahasiswa itu akan banyak pertentangan, apa lagi jika ketahuan oleh public, makanya olivia selalu bersikap acuh jika berada diluar saat Bersama dengan EL.


Berbagai pikiran berseliweran dalam benak Olivia, dan ia bingung harus memprioritaskan apa terlebih dahulu: menjelaskan situasi yang sebenarnya dari foto itu, menjelaskan mengapa mereka keluar bersama, atau menjelaskan alasan mengapa ia memilih EL untuk ikut dalam proyeknya.


 


“Jika kau bawa masalah ini ke pengadilan, aku akan menyebarkan foto ini.” Ia mengambil ponselnya dari tangan Olivia. “Kau melanggar peratuan kampus, tidak seharusnya kau mengencani mahasiswamu sendiri.”

__ADS_1


Olivia menatapnya dengan pandangan siap membunuh. “Lalu apa kau akan memecatku? Aku tidak melakukan kesalahan apapun dan foto ini hanya sebuah kesalah pahaman, aku siap menanggung akibatnya.”


 


Profesor Sebastian terkekeh. “Memecatmu? Tidak mungkin! Untuk apa aku memecat profesor yang sangat berbakat seperti dirimu? Lagipula itu tidak akan memberi pengaruh apapun untukmu, kampus lain akan segera menawarkan posisi untukmu—ya semua departemen arsitektur di Negara ini jelas harus berkompetisi untuk mendapatkanmu sebagai salah satu staff pengajar mereka.”


 


“Lalu?”


 


“Apa kau tahu berapa umur mahasiswamu? Di umurnya yang seperti ini, apakah dia mampu menghadapi sanksi social dan cemooh dari para teman kampusnya, apakah pria itu bisa bertahan di dunia yang kejam ini, dan lagi apakah orang tua mahasiswa itu setuju dengan hubungan kalian? Kau mungkin bisa mengelak, tapi tidak untuk dia, masa depan kekasihmu itu akan hancur, dan itu semua karena keputusanmu, hanya dengan satu foto ini aku mampu menghancurkan masa depan kekasih tercinta mu”


Wanita itu sekarang harus menghadapai pertarungan tersulit dalam benaknya.


 


Ia ingin memberi pelajaran pada Profesor Sebastian tentang pencurian karya intelektual dan menyeret pria itu ke pengadilan untuk mencabut gelar profesornya—dan ia tahu kalau tuntutan ini akan dimenangkannya dalam sekejap. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa berbuat gegabah dan membiarkan EL menanggung akibat dari egonya.


 


Jika rumor ini sampai keluar, jika professor Sebastian benar menyebarkan foto itu, maka hidup anak itu akan hancur. Orang yang memandang rendah dirinya akan memiliki bumbu lain untuk semakin menjatuhkannya, hal ini hanya akan menuntun EL pada kebencian yang tidak berdasar dan ujung-ujungnya justru menghancurkan semua fondasi yang sedang Olivia coba bangun untuknya. Masa depan anak itu sekarang benar-benar ada di genggaman Olivia dan keputusannya yang akan dipilihnya akan berdampak besar.


 


“Hapus foto itu di hadapanku sekarang dan pastikan kau tidak mengacaukan presentasiku.” Ucap Olivia dengan suara bergetar.


Profesor Sebastian paham akan keputusan yang Olivia buat, ia segera menggerakkan jemarinya di atas foto skandal itu dan menghapusnya.


 


Olivia tidak mengatakan sepatah katapun dan segera melangkahkan kaki untuk keluar dari ruang itu. Ia menuntun angkah kakinya cepat-cepat dengan satu orang di pikirannya, dan ia harus mencari lelaki itu sekarang.


 

__ADS_1


“DANIEL!” Olivia menemukan orang yang dicarinya sedang berdiri di dekat pintu keluar utama.


 


“Kakak, bagaima—”


 


“Janji padaku kalau kau akan menjadi orang hebat!” Tuntutnya sambil menatap dalam ke pupil gelap EL.


 


“Kakak, apa kau sudah bicara padanya? Apa kau baik-baik saja? Kau tampak…”


 


“BERJANJILAH!” Bentak Olivia tak sabar. “Berjanjilah kalau kau akan menjadi orang sukses! Berjanji kalau kau akan menjadi mahasiswa baik dan janjilah untuk lulus dengan cepat, Berjanjilah padaku!” tekan Olivia.


“Kenapa?”


 


“BERJANJILAH!” Olivia nyaris teriak seiring dirasakan matanya semakin memanas.


 


EL mengangguk, “Aku berjanji. Aku tidak akan mengecewakanmu.” Tatapan EL berubah teduh saat ia menyadari genangan air mata di wajah Olivia, entah apa yang baru terjadi di dalam tapi EL rela melakukan apapun agar wanita ini berhenti terlihat kalut. “Aku berjanji kalau aku akan melakukan dan mengerahkan semua kemapuanku untuk membuatmu bangga, Kakak.”


 


Olivia menggigit bibirnya sambil tetap menahan air mata yang sudah siap jatuh. “bagus, jangan buat aku menyesali jalan yang baru saja kuambil.”


Air mata wanita itu tumpah sesudah ia mengatakan kata-katanya. Olivia baru saja menyerahkan serpihan akhir dari kenangannya tentang Michel, ia baru saja merelakan persembahan terakhirnya untuk pria itu agar dipresentasikan oleh professor Sebastian demi menutup masalah skandal tentang EL yang akan keluar.


...🦁🦁🦁🦁🦁...

__ADS_1


__ADS_2