Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
39. Dua Hati yang tersakiti


__ADS_3

Sejak matahari terbenam Olivia terus merasa cemas, karena El tidak datang lagi ke apartemennya, Olivia sudah berkali-kali mundar mandir antara pintu untuk melihat kearah luar dan balik lagi ke ruang tamunya, El masih belum mendatanginya.


“apa tangannya sudah sembuh? Apa sakit itu Cuma akting? Apa pria itu menipuku?” pertanyaan itu terus dia lontarkan sendiri sejak tadi menunggu kedatangan EL dengan cemas.


“Tapi tadi dia beneran sakit, tidak mungkin tangannya bisa sembuh secepat itu, sebenarnya dia kenapa sih” bertanya sendiri, dan menjawab sendiri, Olivia persis seperti orang gila yang berbicara sendiri.


“Apa kepribadiannya berubah jadi dia lupa tentang tangannya yang sakit karena aku?” Pekik Olivia, Al memang pernah berbohong pada gadis itu kalau El mempunyai kepribadian ganda, jadi Olivia menebak jika kepribadian el yang merupakan kebohongan AL.


‘Ting tong’ Olivia langsung tegak dan membuka pintu dengan cepat.


“kenapa lama sekali sih?!” seru Olivia tanpa melihat siapa yang ada di depannya.


“Maaf lama kak, saya tadi banyak yang harus diantarkan, tolong tanda tangan di sini, karena barangnya sudah diterima” seorang petugas pengantar barang yang ternyata kena omelan Olivia.


Olivia yang malu hanya menunduk dan cepat cepat menandatangani yang diminta petugas itu dan langsung mengambil barangnya dengan cepat, dia lupa kalau dia membeli beberapa barang online beberapa hari yang lalu.


“Ahhh sial! Kenapa anak kecil itu terus muncul dalam pikiranku!” teriak olivia kesal sambil menjambak rambutnya sendiri.


Gerakan jambakan itu terhenti, tiba-tiba ide cemerlang muncul dalam pikiran Olivia, mata gadis itu melirik kearah jam yang menunjukkan pukul 8 malam, dia yakin El masih belum makan karena tangannya yang sakit, dengan cepat Olivia berjalan menuju dapur dan membuat makanan enak dengan sangat singkat, Sepiring nasi dengan ayam goreng bumbu dan sepiring sayur capcay sudah siap dihadapannya, Olivia segera meletakkan ketiga piring itu kedalam nampan untuk membawanya ke apartemen EL.


.


Sampai di depan apartemen el, yang jaraknya hanya beberapa langkah dari apartemennya, Olivia sudah seperti orang yang berjalan puluhan kilo meter, karena nafasnya yang tersengal dan detak jantungnya berdegup dengan kencang.


“tenang olivia, ini hanya mengecek anak kecil itu, sebagai bentuk pertanggung jawabanmu” batin olivia, gadis itu berusaha menenangkan dirinya sendiri yang sekarang gugup.


...🐺🐺🐺🐺🐺...

__ADS_1


El Baru saja bangun pukul 7 malam, di ketiduran terlalu lama, setelah sampai apartemen pria itu tertidur mungkin karena kelelahan berlari dan mendapatkan banyak hukuman dari seniornya.


‘krruuyyuukk’ El memegangi perutnya yang terasa lapar, tapi dia membiarkannya saja, pria itu melangkah ke kamar mandi untuk mandi dan menjernihkan pikirannya.


Begitu siap mandi, el hanya mengenakan celana rumahnya tidak mengenakan baju sama sekali, sebuah handuk kecil bertengger di kepalanya karena tadi dia baru saja selesai keramas, karena kelaparan El mengambil ponselnya ingin memesan layanan gojek untuk membeli makanannya, pria itu sudah memutuskan untuk menyerah, dia tidak ingin menghancurkan hubungan orang lain, EL bukanlah pria jahat, dia merasa perasaannya itu baru saja tumbuh, jadi dia tidak akan sakit jika mencabut tunas itu secepatnya.


‘ting tong’ Bunyi bell apartemennya membuat el mengurungkan niat untuk meraih ponsel, dia berjalan begitu saja menuju pintu.


‘ceklek’


Mata el membola saat melihat Olivia berada di depan apartemennya, tapi pria itu berusaha mengontrol dirinya yang terkejut. Bukan hanya El, olivia juga terkejut melihat pria bertelanjang dada dan memperlihatkan bentuk tubuhnya di depan olivia. Gadis itu meneguk saliva nya melihat El yang terlihat sexy saat ini apa lagi dengan rambut basah dan belum disisir itu.


“ada apa kak?” tanya El datar. Olivia kembali terkejut saat El menyapanya tanpa senyuman sedikitpun.


“ini EL kan?” pertanyaan Olivia membuat El mengernyit, kalau bukan El siapa lagi yang dihadapannya.


“Ahh gak apa-apa, ini aku bawa makan malam untukmu, katanya tangannya sakit, ini bentuk tanggung jawabku” Olivia mengambil keputusan bahwa yang di depannya adalah kepribadian el, bukan Al yang serampangan dan suka menggoda.


El menatap makanan itu dan mengambilnya, “terima kasih” jawab El singkat, tapi olivia masih tegak di sana. “ada apa lagi kak?” tanya El lagi dan masih tetap datar.


“Itu kamu bisa makan sendiri tanganmu kan sakit” ucap Olivia ragu.


El melihat nasi dan lauk pauk yang dibuatkan olivia, el menganggukkan kepalanya pelan, “akan aku coba, lagi pula aku tidak buru-buru mau kemanapun” jawab El tanpa ekpresi.


Olivia menatap sedih EL yang bersikap dingin di depannya, itu bukan seperti el yang kekanakan yang dia kenal.


“Ada apa lagi kak?” tanya EL masih dingin.

__ADS_1


“Ti-tidak ada” jawab olivia pelan. “I__”


“kalau begitu, terima kasih untuk makanan ini kak” el langsung memotong ucapan Olivia dan menutup pintu apartemennya tanpa menunggu Olivia berbicara lagi.


‘Deg’ jantung Olivia terasa sakit sekali mendapat perlakuan dingin dari el, bukannya merasa senang olivia malah sedih, entah kenapa dia sudah mulai terbiasa dengan kenakalan el, padahal dia yang ingin el menjauh darinya, olivia memang plin plan, dengan hatinya.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


Al mempercepat laju motornya, ini sudah pukul 11.30 malam, dia tidak ingin Aurora terlalu lama menunggunya, senyum pria itu terus merekah hanya dengan memikirkan Aurora, sambil bersenandung pria itu mempercepat laju motornya.


Sekitar 10 menit dia sampai di depan resto tempat Aurora bekerja, senyum pria itu tiba-tiba hilang begitu melihat siapa yang sedang tertawa dengan Aurora. Seorang pria tinggi dan lumayan tampan sedang terlihat bercanda bersama Aurora, dan gadis itu juga sedang tertawa senang, entah apa yang mereka bicarakan, tapi Al sangat benci melihat aurora seperti itu.


“Au! Ayo cepat” teriak AL begitu berhenti dihadapan Aurora.


Aurora sedikit terkejut karena Al tiba-tiba muncul dihadapannya, gadis itu langsung menunduk hormat pada pria disebelahnya. “kak Rora duluan ya” pamit aurora, dan gadis itu cepat-cepat menaiki motor al dan mengambil helm yang al berikan.


Perjalanan terasa mencekam karena Al membawa motornya dengan kecepatan penuh, sedangkan aurora yang ketakutan hanya memeluk Al dengan kuat tanpa banyak protes, karena sepertinya al sedang marah dan emosi.


Tidak sampai 10 menit mereka sampai di parkiran apartemen. Aurora turun dari motor Al dengan wajah cemberut. Dia memberikan helm pada El dengan wajah kesal.


“Jika marah menjemput ku, kamu tidak perlu jemput! Aku bisa pulang sendiri!” amuk aurora.


Al yang tiba-tiba mendapat amukan aurora menjadi terdiam ditempatnya, bukankah harusnya dia yang marah? Aurora tertawa bersama pria asing yang tidak pernah dia lihat dan gadis itu terlihat bahagia, kenapa sekarang malah aurora yang marah padanya?


...🦁🦁🦁🦁🦁...


udah ya bonus nya, maaf cuma sedikit akhir-akhir ini, soalnya author sedang sibuk, Terima kasih buat yang baca novel ini

__ADS_1


jangan lupa like, vote, hadiah dan bintang 5 nya ya 😄😄😄


__ADS_2