Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
33. Satu wajah berbeda kisah


__ADS_3

Pukul 9 malam Al masih terjaga pikiran pria itu terus bercabang mengenai keputusan yang telah dia ambil, apakah dia salah atau dia benar memberikan keputusan pada adiknya itu.


Al akhirnya keluar dari dalam kamar, niat hati ingin menonton tv saja, tapi malah bertemu dengan aurora yang juga belum tidur.


“Belum tidur al?” sapa Aurora sedikit kaku.


Al melirik sebentar lalu kembali mengganti ganti chanel tv yang akan dia tonton. “kamu sediri?”


“Ahh… aku mau mengambil minum, aku sedikit haus” jawab Aurora sambil berjalan menuju kulkas.


Al hanya diam setelah mendengar jawaban Aurora, seperti yang aurora minta pria itu akan memperlakukan aurora seperti biasa, dan tidak akan menggoda gadis itu lagi.


“al!” panggil aurora pelan, karena pria itu hanya dia tidak menjawab lagi.


“Hmmm?” hanya dehaman yang aurora dapatkan dari Al.


“kamu marah?”


Al menolehkan kepalanya untuk melihat Aurora, “marah kenapa?” tanya Al balik, pria itu sengaja berpura-pura lupa dengan masalah mereka berdua.


“Soal kemarin itu, waktu kamu temani aku keliling untuk antar lamaran pekerjaan” gumam aurora pelan.


Al kembali melihat ke arah tv dan mencari-cari chanel tv yang diinginkan. “emang ada masalah apa? Aku lupa” jawab Al acuh.


‘Deg’ jantung Aurora langsung terasa sakit, memang ini yang dia inginkan tapi entah kenapa dia tidak suka melihat al yang acuh kepadanya, dia ingin melihat al yang bercanda dan mengganggu dirinya.


“kamu benar-benar marah ternyata” gumam Aurora pelan tapi masih mampu di dengar Al.


Al mematikan tv karena tidak ada chanel yang bagus untuk di tonton. Pria itu tegak dan mendekati aurora yang masih berdiri di dekat meja makan.


“Sebenarnya apa yang kamu mau? Aku diam berpura-pura tidak tau kamu bilang aku marah, Aku berusaha mendekatimu, kamu mengusirku, sekarang aku tanya apa yang kamu mau?” tanya Al sedikit emosi.


Aurora menunduk jantungnya berdetak cepat, gadis itu mulai takut dengan apa yang al katakan padanya.


“Aku hanya ingin kita berteman Al, tolong jangan acuhkan aku” ucap Aurora.


“berteman? Tidak bisa dan itu tidak akan pernah bisa! Karena kau sudah tau perasaanku, aku menyukaimu mustahil kau tidak tau! Selama ini aku selalu mendekatimu, dan kamu mint akita berteman? Kamu ingin mempermainkan perasaanku?!” bentak AL sedikit emosi.


“Maaf, aku hanya terlalu takut untuk memulai sebuah hubungan dengan pria kaya sepertimu” lirih Aurora.

__ADS_1


“Takut? Kenapa? Aku akui aku memang playboy banyak pacar tapi aku tidak pernah menyentuh mereka! Hanya kamu yang spesial mendapatkan perhatian itu, tapi apa? Kamu bilang takut? Tidak bisakah beri aku satu kesempatan?!” balas al.


Aurora menatap mata al, “Kamu tidak tau bagaimana posisiku, hubungan ini akan sangat mudah rapuh, kamu datang tiba-tiba dan terus mendesak ku untuk menerimamu, apa aku tidak boleh takut? Apa benar pria ini punya perasaan padaku? Apa keluarganya bisa menerimaku? Apa wanita miskin sepertiku bisa bersamanya? Kamu tidak tau apa apa al, aku sudah cukup kesulitan dengan hidupku sendiri, aku masih belum bisa memikirkan masalah lain, hidupku saja belum bisa aku benahi! Sekarang harus bertambah rumit dengan hadirnya dirimu!”


Al terdiam, cara dia memang salah, Al terlalu mendesak Aurora untuk menerima kehadiran dirinya.


“Apa jika aku memberikan waktu kau akan memberikan kesempatan?” Al sudah mulai tenang setelah mendengar semua keluhan Aurora.


Aurora menunduk dan mengangguk pelan, “berikan aku waktu, untuk mencerna semuanya” pinta Aurora dengan pelan.


Senyuman langsung mengembang di bibir Al, begitu mendapatkan lampu kuning dari Aurora, pria itu mulai mendekati aurora.


“A-Al ma-mau apa?” ucap aurora kaku.


Al membuka kulkas sambil menahan pergerakan aurora, “mencari minuman juga, aku haus” jawab al.


“Ta-tapi menyingkirlah aku mau lewat” Aurora berusaha mengusir Al untuk menjauh darinya, tapi pria itu tetap tidak mau berpindah malah semakin dekat dengan Aurora.


Aurora yang merasa terdesak tiba-tiba memejamkan mata, dan al yang melihatnya merasa mendapatkan izin langsung mendekatkan bibirnya pada aurora, hingga kedua orang itu berciuman di sana.


Aurora awalnya terkejut tapi dia akhirnya mengalungkan tangan pada leher Al, menikmati ciuman yang diberikan Al, entah kenapa gadis itu begitu nyaman dan tidak merasa risih dengan ciuman yang diberikan al.


Aurora begitu malu dengan apa yang baru saja dia lakukan, gadis itu mendorong Al pelan dan berlari meninggalkan al.


“Al selamat malam” ucap aurora sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu kamar.


Al tersenyum senang karena aurora tidak meminta dia melupakan ciuman tadi, “malam juga au” jawab al masih dengan senyum merekah di bibirnya.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


El semakin meringis merasa sakit akan gigitan Olivia pada punggung tangannya, pria itu tegak dan hendak mengetuk pintu apartemen Olivia tapi baru saja dia mau mengetuk pintu itu terbuka dan olivia menatap El dengan mata melotot.


“Ka-kamu mau apa?!” tanya Olivia sinis.


El masih diam menatap Olivia yang masih tidak mau menatap matanya, tadi mereka hanya sebentar bertatapan, tapi kemudian olivia kembali mengalihkan pandangannya dari mata EL.


“Sakit” ucap singkat El.


“sakit? Sana pergi ke rumah sakit, kenapa harus kesini?” usir Olivia sinis.

__ADS_1


EL menyodorkan tangannya yang tadi di gigit olivia, “tanggung jawab” ucap El singkat.


Mata Olivia kembali terbelalak kaget melihat tangan El yang ada bekas gigitan nya dan juga memerah. “Kenapa tidak kamu obati sendiri?” bentak Olivia kesal, pertama kesal dengan El yang membiarkan luka itu, dan kedua kesal karena el masih mendekatinya.


“Tidak bisa, yang kakak lukai itu tangan kananku, aku tidak kidal untuk bisa menempelkan obat luka menggunakan tangan kiri” ucap El.


Olivia menghela nafas panjang, tangan el seperti itu juga karena dirinya, “baiklah” wanita itu langsung menarik tangan El yang tidak terluka. Olivia menarik El menuju sofa tamu nya, “tunggu disini” ucap Olivia ketus.


El tersenyum senang, karena berhasil membuat Olivia berbicara walau masih dengan nada ketus.


Tidak lama Olivia kembali dengan membawa kotak p3k di tangan kanannya, sedangkan ember berisi air hangat di tangan kirinya.


Gadis itu duduk disebelah tangan El yang terluka, “kemarikan tanganmu” ketus Olivia.


El langsung memberikan tangannya yang terluka tanpa suara.


Gadis itu mengompres dulu luka El dengan kain hangat, “makanya kalau aku bilang lepas ya lepas, seperti inikan jadinya” omel Olivia, saat menunggu tangan El yang sedang dia kompres.


“Aku sudah berpikir apa salahku, tapi aku tidak menemukannya? Sebenarnya apa salahku kak?” tanya El sekali lagi.


Olivia diam, dia mulai mengeringkan tangan El dengan menggunakan handuk kering yang dia bawa, setelah itu dia mulai memberikan obat merah pada luka El.


“masih tidak mau jawab ya kak?” kata El sambil melihat Olivia yang menunduk menghembus luka yang sedang diberi obat merah. “kakak harus tanggung jawab sampai tanganku sembuh, ini tangan calon arsitek, masak aku harus memotong tanganku karena infeksi” ujar El.


Olivia langsung menatap El dengan mata melotot, “aku tidak rabies!” ucapnya kesal.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


bonus pict


🐺aurora dan Al🐺




🦊 Olivia dan EL🦊


__ADS_1


__ADS_2