Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
30. Menjauh


__ADS_3

Olivia tersenyum menatap beberapa makanan yang sengaja dia beli untuk tetangga barunya, gadis itu tidak berhenti tersenyum begitu mengingat wajah El yang sangat tampan dan mempesona. Baru saja dia sampai di depan apartemen miliknya gadis itu ingat ada barang yang dia lupakan dan barang itu tertinggal d dalam mobil miliknya.


Olivia kembali turun setelah meletakkan barang bawaannya di dalam apartemen, senyum gadis itu tidak henti hentinya merekah membayangkan bagaimana wajah senang El ketika dia memberikan makanan yang sangat dia sukai, Olivia sangat ingin berbagi sesuatu yang dia sukai pada El.


‘Ting’


Pintu Lift terbuka, Senyum yang tadi merekah di bibir olivia langung menghilang begitu melihat wajah pria yang sangat dia hindari dan benci, bukan karena pernah jatuh hai atau pernah memiliki hubungan romantis, tapi lebih tepatnya dia membenci pria itu karena dia telah membunuh tunangannya.


“Hai kakak cantik, ketemu lagi” gadis cantik yang tadi pagi menyapa Olivia, kembali memanggil wanita itu dengan sangat ceria. Olivia mengingat jelas wajah cantik itu yang menyapanya tadi pagi dan bersikap ramah padanya.


“Iya, aku duluan ya” ucap olivia cepat, sambil menundukkan kepala tidak mau melihat kearah pria yang berada disebelah Ay.


Brian, seorang pria masa lalu yang Olivia harap mati, tapi kini pria itu berdiri disebelah adik dari El, pria yang berhasil membawa senyuman ke dalam kehidupan olivia yang tenang dan datar.


“Kak mau gak ikut ke apartemen Ay, kami nanti malam mau makan malam merayakan pesta perpindahan abang” ucap Ay dengan bersemangat, Olivia menatap Ay lalu pria disebelahnya yang terus diam berpura-pura tidak mengenalnya atau lebih tepatnya Olivia sendiri yang berharap Brian tidak pernah mengenalnya.


Olivia segera menggelengkan kepalanya cepat, jantung gadis itu kembali bergemuruh cepat, “gak bisa maaf, aku masih banyak kerjaan” ucap Olivia, lalu ia mempercepat langkahnya untuk segera pergi.


Olivia terduduk di lantai tepatnya di samping mobilnya berada, nafas wanita itu kini terasa sesak, ingatan dan kilasan balik tentang kematian tunangan tercintanya kembali menghujani pikiran olivia.


Gadis itu berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal serta menghilangkan setiap kenangan yang terus mendera pikiran Olivia.


.


Sementara Olivia sedang berusaha mengontrol dirinya yang sedang didera kepanikan mendadak, El dan Al sedang bersandiwara dalam menghadapi adik ipar mereka.


...🐨🐨🐨🐨🐨...


El baru saja pulang dari mengantarkan kedua saudara kembarnya menuju bandara, tidak sengaja saat dia keluar dari lift bertemu dengan Olivia yang hendak menuju lift, tapi wanita itu langsung berbalik arah kembali menuju apartemennya.

__ADS_1


El sedikit mengernyitkan kan kening bingung, kenapa kakak dosen itu langsung berpura-pura tidak melihat El padahal tadi mata mereka saling berpandangan.


"Kakak dosen!" panggil El, tapi Olivia tidak menghentikan langkahnya sedikitpun.


El mempercepat langkahnya dan langsung menarik lengan Olivia hingga badan gadis itu jadi menghadap El.


"kenapa menghindari ku?" tanya El dingin.


Olivia menatap mata El lalu membuang mukanya kearah samping.


"bukan apa-apa, tolong bisa Anda melepaskan saya" ucap Olivia tanpa menatap mata El.


'Deg' jantung El langsung terasa seperti di remas begitu mata jernih itu tidak mau menatapnya.


"Apakah aku berbuat salah?" kata El dengan suara yang sudah mulai lembut.


"Iya" jawab dingin Olivia, dia berusaha melepaskan cengkraman tangan El dari lengannya.


"Cari tau saja sendiri, tolong lepaskan aku!"bentak olivia sambil menatap tajam mata el.


El sama sekali tidak bergeming dengan amukan dari olivia. El memang cukup keras kepala sama seperti kedua saudara kembarnya.


"katakan padaku, apa yang membuatmu menjadi seperti ini" ujar El dengan suara lembut.


Olivia masih tidak menjawab El dia masih menatap tajam el. "Sudah aku bilang lepaskan!" amuk Olivia sekali lagi.


El menggelengkan kepalanya, tangan pria itu masih setia menggenggam tangan Olivia sehingga gadis itu tidak bisa lari dari El. Mungkin jika El melepaskan tangannya dari lengan Olivia, akan timbul bercak merah pada tangan putih itu, sebab El betul-betul menggenggam erat tangan olivia takut gadis itu menyentak tangannya dan terlepas.


"dan aku juga katakan aku tidak akan melepaskan jika kamu tidak mengatakan apa yang menjadi masalah, kemarin kita baik-baik saja, tetapi kenapa sekarang kamu bersikap seperti ini?" tanya El kebingungan.

__ADS_1


Olivia diam dan menatap tangan El yang memegang lengannya, gadis itu mendekatkan mulutnya pada punggung tangan El dan menggigit punggung tangan El dengan kuat, hingga terdapat sedikit darah dan bekas gigitan pada punggung tangan el.


El memejamkan matanya menahan sakit yang di akibatkan gigitan olivia, sakit memang tapi El masih tidak mau melepaskan tangannya dari lengan olivia.


Sementara itu Olivia melotot tidak percaya, El sama sekali tidak melepaskan tangannya walau sudah dia gigit, gadis itu yakin gigitannya pasti terasa perih karena ada darah yang keluar dari bekas gigitan itu.


"tolong lepaskan" kali ini olivia memohon dengan mata yang sudah memerah menahan tangis. "kau menyakitiku" lirih olivia.


Hanya dengan satu kata itu El baru melepaskan genggaman tangannya, dia menatap punggung olivia yang berlari memasuki apartemen miliknya.


El memegangi jantungnya yang terasa sakit,pria itu berjalan pelan menuju apartemen miliknya.


Tidak lama El masuk kedalam apartemen, Olivia keluar dari apartemennya. "maaf, aku sudah tidak mau berurusan dengan ketua mafia itu" lirih Olivia sambil menatap nanar pintu apartemen El yang tertutup Rapat.


Olivia berjalan pelan menuju lift, tadi dia memang berniat pergi, tapi karena bertemu dengan el, dia malah berbalik arah menuju apartemennya.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


El meringis saat tangannya tidak sengaja terkena air, dia baru ingat tadi tangannya digigit oleh Olivia, El menatap punggung tangan yang masih menampakkan jelas gigitan Olivia di sana, dia tidak mau mengobati luka di tangan itu.


Pikiran pria itu terus mengulangi kejadian pertama kali mereka bertemu, El yakin dia tidak melakukan kesalahan apapun, tapi kenapa kakak dosen itu berubah sikap seolah-olah dia mempunyai dua kepribadian di dalam dirinya.


"apa dia marah karena aku diam saja tidak membalas perkataan teman-temannya" pikir El begitu mengingat kesalahan dia hanya satu tidak bersikap ramah pada kasir yang kemarin, "apa itu temannya?" gumam el lagi.


El kembali melihat tangannya yang terluka, tampak kemerahan dan bisa saja luka di tangan El menjadi lebih parah bahkan infeksi karena tidak di tangani dengan baik.


El kembali mengguyur badannya dengan air membiarkan rasa perih terus mendera punggung tangannya. paling nanti El akan menunjukkan pada violet jika tangannya membengkak dan perlu pengobatan.


...🐺🐺🐺🐺🐺...

__ADS_1


bonus pict.



__ADS_2