
El tertawa pelan melihat tingkah kekasihnya itu, awalnya pria itu hendak marah pada Olivia karena sudah mengetahui isi pembicaraan olivia dengan professor Sebastian.
Awalnya begitu sampai di apartemen EL hanya ingin tau sedikit apa yang dibicarakan pada pertemuan olivia dan professor itu dengan cara menjebol system Gedung itu. Tapi setelah mengetahui apa yang dibicarakan EL sedikit kecewa, pria itu tidak menyangka Olivia akan menyerahkan penelitian itu demi dirinya.
“Aku tidak tertarik mengambil keuntungan dari seseorang yang sedang mabuk. Dan kalau-kalau kau sekarang sedang sibuk membayangkan bagaimana caraku mengganti bajumu, aku menutupi tubuhmu dengan selimut selama aku melepas gaunmu—aku bersumpah aku tidak mengintip sama sekali.”
Olivia justru makin merengek karena fakta yang memalukan itu. “Keteranganmu tidak membuatku merasa lebih baik.”
EL tersenyum geli melihat tingkah polos dosennya. Jelas pria itu sekarang menikmati reaksi kekanakan yang Olivia lakukan, bagaimana mungkin wanita ini bisa menatapnya dengan wajah innocent yang merona kemerahan. Menyaksikan hal ini saja sudah cukup membuat hatinya berbunga-bunga, apalagi setelah EL menyadari bahwa ini adalah kali pertama baginya—kali pertama di mana Olivia menginap di apartemen miliknya biasa EL yang selalu menginap di apartemen olivia, mereka memang selalu tidur bersama tapi memang tidak pernah ada aktivitas lebih selain tidur, dan ini pertama kalinya seorang EL membuka baju wanita.
Olivia tiba-tiba melotot karena teringat sesuatu, ia segera bangkit dan menyeru pada EL. “DANIEL!! TUNJUKKAN PONSELMU!”
“Apa?”
“BERIKAN PONSELMU PADAKU!” Lengannya kini terulur ke arah EL, menuntut untuk mendapatkan apa yang ia minta.
“Kenapa?” Ia segera meraih ponsel dari meja di samping tempat tidurnya untuk diberikan pada Olivia—yang langsung merebut dari tangannya dengan kasar.
“Just in case, hanya tindakan pencegahan.” Ia menyalakan display pada ponsel EL, “Password?”
“0101”
Wanita itu langsung memasukkan susunan angka yang diberikan dan tanpa ragu langsung mencari folder foto. Olivia ingat kemarin ia mengatakan bahwa ia percaya pada EL, tapi pengalaman mengajarkannya untuk memastikan dua kali bahwa kepercayaannya tidak di salahgunakan. Ia tahu tentang seluruh rencana busuk pria di sampingnya dan sekarang ia berusaha keras untuk mencari gambar-gambar telanjang dirinya sendiri—mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri yang masih tersisa di hadapan EL.
__ADS_1
“Kau mencari apa, kak?” EL menggeser duduknya semakin dekat pada Olivia untuk mengintip kegiatannya. “Kenapa kau memelototi folder fotoku? kak! itu kan personal!”
EL mengulurkan tangannya untuk merebut kembali ponselnya dari Olivia, tapi wanita itu lebih cepat. “Aku mencari foto bugilku di dalam sini.” Ucapnya ketus.
Pria itu memutar bola matanya sambil menyeringai kesal, merasa sedikit kecewa. “Kau tidak akan menemukannya, aku tidak sebejat itu”.
Olivia tetap bersikeras mencari satu per satu foto yang ada di dalam folder EL. Memang benar kata pria itu, tidak ada foto-foto yang aneh atau asusila, bahkan tidak banyak foto yang bisa ditemukan Olivia di dalamnya selain gambar fasad bangunan atau langit dengan kombinasi warna yang menarik. Tapi di dalam folder EL terdapat banyak sekali foto Olivia yang diambilnya secara candid. Kebanyakan dari foto itu diambil di dalam kelas, karena Olivia terlihat berdiri di tengah ruangan dengan papan tulis putih di belakangnya. Ada juga foto dirinya yang sedang menatap serius ke dalam buku tebal di sudut perpustakaan kampus, serta yang paling aneh adalah foto dirinya yang tertidur dengan mulut manyun di coffee shop langganannya, ada juga foto dia yang sedang tidur di tempat tidur dengan tertutup selimut.
“EL, kenapa kau punya banyak fotoku?” Ia mengangkat pandangannya dari ponsel EL untuk segera menatap ke dalam mata pria itu.
Wajah EL sontak memerah, ia langsung merebut ponselnya dari tangan Olivia dan mengantunginya. “kalau kau lupa akan aku ingatkan agi, kau adalah kekasihku, dan sepertinya kau mengusik privasiku kak, tidak seharusnya kau menggali ke dalam ponsel seseorang.”
“Aku menganggap kasus semalam itu darurat, jadi lebih baik kita berhenti berargumen tentang hal ini.” Ia menarik napas dalam-dalam dan bangkit dari tepi kasur. “Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita, ayo bangun.”
Olivia mengangguk patuh. Ia menyingkap selimutnya sambil berusaha untuk menapak tapi justru tubuhnya masih limbung akibat pusing di kepalanya. EL segera menangkap pinggang Olivia untuk membantu wanita itu berdiri.
“Apa kau perlu kugendong lagi?” Goda EL dengan cengiran jahil di wajahnya.
Olivia harus menelan gengsinya bulat-bulat, percuma saja sekarang kalau ia mau mencoba terlihat tegas di depan EL, pria ini telah menyaksikan dirinya dalam keadaan yang paling memalukan.
“Jika memang kau mau mambantu, aku lebih membutuhkan aspirin sekarang.” Ujarnya sambil menunduk. Tatapan EL yang tajam membuatnya merasa gugup, dan posisi lengan kokoh pria itu yang masih melingkar di seputar pinggangnya juga tidak membuat keadaan lebih baik.
__ADS_1
“Akan kusiapkan untukmu.” EL mengangguk.
Mata Olivia kini mempelajari pakaian yang sedang dikenakannya. Untung saja EL cukup punya akal sehat untuk meminjami Olivia sweater yang cukup panjang untuk menutupi setengah pahanya. Karena tubuhnya masih terasa lesu, Olivia mengizinkan EL untuk memapahnya hingga ke meja makan di apartemen studio miliknya. Pria itu menarik kursi dengan sigap dan mempersilakan Olivia untuk duduk sebelum ia mengeluarkan pilihan makanan yang dibelinya pagi tadi.
Dari semua pilihan yang diberikan, Olivia memilih roti panggang selai cokelat dan segelas kopi yang segera diracik EL di coffee machine andalannya. Dalam hati wanita itu sebenarnya merasa tersanjung dengan perlakuan special yang diberikan pria di depannya.
Olivia sedikit meringis ketika kenangan tadi malam mulai memasuki kepalanya. Memang banyak serpihan memori yang ia lupakan, momen terakhir yang bisa diingatnya mungkin hanya ketika ia berbaring di atas pasir sambil menggenggam botol champagne dengan ceroboh. Tapi Olivia ingat saat EL meminta maaf padanya, raut penyesalan yang tergambar pada wajah pria itu.
“Mengapa melamun, kak? Kau boleh minum aspirin setelah seluruh roti itu kau habiskan.” EL mengambil posisi duduk di sebrang Olivia. Pria itu masih diam membiarkan Olivia untuk sadar terlebih dahulu sebelum dia mulai mengintrogasi kesalahan yang gadis itu ambil.
‘Ting’ Diam diam EL melihat pesan yang dikirim ke dalam ponselnya.
“Tuan muda semua sudah beres, professor itu sudah mengundurkan diri” itu adalah pesan yang dikirim oleh salah satu kaki tangan EL, lebih tepatnya orang kepercayaan, seperti daddy Deon yang memiliki Botak, EL dan AL juga memiliki asisten pribadi mereka sendiri, hanya saja keduanya tidak suka di ikuti jadi asisten mereka hanya bergerak jika mereka memerintahkan.
Tiba-tiba olivia teringat sesuatu yang lebih penting. “Shit! Ini hari Senin EL!” Olivia memekik panik.
EL mengangguk sebelum tertawa geli. “Kakak, ini sudah hampir tengah hari, kita berdua sudah ketinggalan kelas sejak tadi.”
“HAH?” Olivia menyisir rambutnya dengan jari, “Kenapa kau tidak membangunkanku lebih awal tadi?!”
“Dan membiarkanmu pergi ke kelas dengan wujud seperti ini?” Ia menyesap kopinya dengan santai sambil menunjuk pada wajah Olivia.
Wanita itu memang belum memeriksa penampilannya di cermin dan ia tidak tahu wujudnya seperti apa sekarang, tapi ia yakin bahwa pagi ini ia tidak berada dalam kondisi tercantiknya.
“Aish, apa yang terjadi kemarin?” Ia mengigit rotinya dengan gusar dan langsung menelannya dengan bantuan kopi.
...🐯🐯🐯🐯🐯...
__ADS_1