
Langkah-langkah Olivia dan EL semakin cepat seiring dengan diawalinya pidato pembuka tentang prestasi-prestasi yang telah dicapai kampus mereka. MC meminta seluruh hadirin untuk tenang dan mempersilakan Rektor untuk kembali berpidato untuk memberikan apresiasi.
“Semoga proses ini cepat selesai dan aku bisa segera pulang.” Gumam Olivia pelan.
“kenapa? Kakak gugup ya” bisik EL.
Olivia tidak menjawab, hanya sedikit mencubit lengan EL.
“Hadirin sekalian, setelah pidato pembuka dari Rektor kita, akan kulanjutkan rangkaian penutup dari acara malam ini dengan pengumuman rangkaian prestasi yang berhasil diraih oleh berbagai perangkat kampus kita.” MC memulai kembali kata-katanya. “Seperti yang kita tahu, kelompok paduan suara kampus kita saat ini sedang berkompetisi di Austria dan menurut informanku, mereka saat ini sudah masuk ke dalam babak sepuluh besar. Jadi mari kita berharap kalau mereka akan pulang dengan piala kemenangan.” Sang MC menepukkan tangannya sendiri sebagai tanda agar hadirin lain mengikutinya.
Olivia dan EL sudah tiba di depan pintu besar yang akan membawa mereka ke dalam ruang utama acara tahunan itu, hanya saja penjaga pintu menahan mereka dengan dalih bahwa selama pengumuman berlangsung tidak ada yang boleh keluar masuk ruangan itu. Olivia mencoba menjelaskan pada mereka bahwa namanya akan dipanggil ke podium, ia bahkan menunjukkan name-tag yang menunjukkan bahwa ia adalah dosen sekaligus tamu undangan—tapi penjaga tetap bersikeras melarangnya, dan mereka berkata akan membiarkan Olivia masuk jika namanya nanti dipanggil.
EL dan Olivia saling berpandangan dengan wajah jengkel, mencoba untuk paham dengan situasi sok sakral yang sekarang tengah berlangsung.
“Pencapaian berikutnya datang dari tim debat, dengan senang hati aku akan mengundang pembimbing mereka, Profesor Anthony untuk naik ke atas untuk memberi kata sambutan.” Lanjut sang MC.
Pria bersetelan jas keabuan yang kebetulan tadi duduk satu meja dengan Olivia bangkit dari duduknya untuk segera ke podium, diiringi dengan tepukan tangan dari seluruh hadirin.
“Terima kasih,” sambut profesor Anthoni sambil membungkuk sopan, “Aku merasa sangat bangga atas prestasi anak bimbinganku yang berhasil meraih juara dua dalam debat internasional di London kemarin. Tentu saja aku akan berusaha lebih keras lagi agar tahun depan kami mendapatkan juara pertama.” Ia menunduk hormat sebelum menerima sebuah pin yang disematkan oleh Rektor sebagai tanda penghargaan.
“Baiklah, biar kulanjutkan ke prestasi berikutnya.” MC membalikkan kartu yang ada di genggamannya untuk membaca pengumuman selanjutnya.
Ruang makan siang kembali sunyi sebelum pengumuman dilanjutkan.
__ADS_1
“Aku merasa terhormat untuk memberitakan bahwa salah seorang profesor kita juga memiliki prestasi mengagumkan dalam kancah internasional. Beliau berkolaborasi bersama dengan dua mahasiswa dalam misi menyelamatkan planet bumi. Proposal dan karya mereka sudah dikirimkan pagi ini, untuk dipresentasikan minggu depan di Kopenhagen.” Jelas MC.
Olivia dan EL sekarang justru seperti dua anak kecil yang kegirangan, sembari mereka saling menyikut satu sama lain dengan cengiran konyol di wajah mereka.
“Mari kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk beliau yang telah mewujudkan hal ini, Profesor Sebastian!” Seru sang MC diikuti dengan sorakkan dan tepuk tangan dari seluruh ruangan.
Butuh waktu beberapa detik bagi Olivia dan EL untuk mencerna bahwa yang dipanggil barusan bukanlah nama Olivia, melainkan nama kepala departemen mereka.
“HAH?” EL yang pertama sadar, ia langsung menatap Olivia yang sekarang sedang terngaga. dari ekspresinya, EL sudah bisa mengkonfirmasi bahwa wanita itu sama terkejut dengan dirinya.
“Terima kasih, merupakan suatu kehormatan bagiku.” Ia membungkuk kecil sebelum melanjutkan pidatonya. “Seperti yang kita ketahui bersama, pemanasan global memang telah menjadi kekhawatiranku sejak lama dan aku menolak untuk duduk saja tanpa melakukan usaha apapun. Awalnya proyek ini diusulkan oeh seorang profesor baru di departemen arsitektur, tapi ternyata beliau kewalahan dengan rangkaian proses penelitiannya sehingga aku harus mengambil alih seluruhnya. Dengan bantuan dua orang mahasiswa, yaitu putriku Lana dan El temannya, akhirnya kami berhasil menuntaskan proyek ini untuk dipresentasikan di Kopenhagen minggu depan.” Ia menuntuk ke arah layar kecil di belakangnya, untuk menampilkan slide presentasi yang akan dipresentasikan nanti di Kopenhagen.
Olivia tidak mau mendengar sisa pidato yang keluar dari mulut kepala departemennya—dan ia tidak perlu melakukan itu, karena ia hafal isi presentasi yang disajikan. Jelas saja, itu presentasinya, penelitiannya, karya intelektual yang ddigarapnya selama beberapa tahun terakhir dengan sungguh-sungguh. Ironisnya, bukan wanita itu yang sekarang berdiri di atas podium.
Dalam hidupnya sebagai akademisi, Olivia sudah sering melihat kasus plagiarisme terjadi dalam berbagai bentuk—mulai dari tingkat ringan, sampai kelas kakap seperti yang sedang terjadi sekarang—tapi ia tidak pernah menduga bahwa seseorang dengan gelar sebesar professor Sebastian akan melakukan praktik ini. Yang dilakukan pria itu bahkan lebih rendah lagi, ia tidak mencoba mengganti apapun dari presentasi Olivia. Seluruh layout, urutan, font, desain, dan elemen terkecil dari presentasi Olivia sama persis—hanya nama Alexa Olivia Jonshon saja yang diganti menjadi Sebastian Pertama. Sanksi yang selalu diberikan pada peneliti dan dosen yang melanggar kode etik ini adalah pencabutan gelar mereka, dan Olivia saat ini sibuk mengingat nama dari pengacaranya untuk menuntut pencabutan gelar Sebastian.
__ADS_1
Olivia kemudian mencoba memaksa untuk tetap masuk ke dalam ruangan itu, sambil EL juga ikut membantu mendorong penjaga pintu yang bertubuh besar. Lelaki di sampingnya sudah siap membuat perkara dan mengeluarkan kata-kata maut ‘kau tidak tahu siapa aku’, sebelum Olivia akhirnya menarik paksa tangan EL untuk mundur dari tempat itu.
“Kakak, berhenti menarikku! Kau harus masuk ke dalam! Naik ke atas podium itu dan segera merebut apa yang menjadi hak-mu!”
Olivia tidak menghiraukan EL dan terus menarik tangan lelaki itu, mencari tempat yang cukup sepi untuk bisa melaksanakan interogasi yang ingin dilakukannya.
“APA YANG KAU LAKUKAN EL!” Olivia mengerahkan semua sisa tenaganya untuk mendorong EL ke sudut ruangan yang sepi tanpa orang satupun.
EL diam menatap mata Olivia, dia tau saat ini gadis itu sedang emosi dan kalut, apapun jawaban yang keluar dari mulutnya tidak akan membuat wanita itu tenang.
“JAWAB AKU!” bentak Olivia lagi.
“Kakak_”
“JANGAN MENCOBA BERBOHONG PADAKU!” Olivia mengangkat telunjuknya tepat di depan wajah EL, “BERI TAHU AKU APA RENCANA BUSUKMU, DANIEL!”
“apa maksud kakak?” Tanya EL dengan suara lembut, dia tau keadaan kekasihnya ini sedang kalut sekali.
“AKU MEMBICARAKAN TENTANG APA YANG BARU TERJADI! PRIA ITU BILANG BAHWA INI ADALAH PENELITIAN MILIKNYA YANG IA LAKUKAN BERSAMA DENGAN DUA MAHASISWA, BAGAIMANA MUNGKIN FILE PRESENTASI ITU BISA SAMPAI DI TANGANNYA?!” Olivia menunjuk-nunjuk udara kosong di belakangnya.
“Kakak, aku sama bingungnya denganmu.”
“PEMBOHONG!” Hardik Olivia dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “ITU PENELITIANKU! AKU MENGHABISKAN WAKTU BERTAHUN-TAHUN UNTUK ITU DAN 6 BULAN INI AKU MATI-MATIAN UNTUK BISA BERPARTISIPASI DI SEMINAR ITU.”
...🐯🐯🐯🐯🐯...
__ADS_1