
Olivia dan EL telah sampai di tempat tujuan honeymoon mereka berbeda dengan Al dan Aurora kedua orang itu menuju negeri china, sebagai tempat honeymoon.
“Tempat ini sangat indah EL” puji Olivia begitu melihat pemandangan dari balkon kamar mereka.
EL mendekati Aurora dan mencium bahu Olivia sedikit seduktif, “jangan memanggilku dengan nama itu lagi, panggil sayang atau husband atau dear?” goda EL.
Olivia terkikik geli, gadis itu berbalik untuk menatap wajah suami tampannya yang lebih muda beberapa tahun dari dirinya, “kenapa? Itu panggilan sayangku” kekeh Olivia.
El cemberut, “panggilan sayang itu berbeda dari orang lain memanggilku, jadi panggil yang lain aja wife” bujuk EL.
Olivia mengulum senyumnya dan berpura-pura berpikir panjang, “hmmm gimana ya?” goda Olivia.
‘cup’ El langsung menempelkan bibirnya pada bibir Olivia, sejak semalam dia sudah menahan Hasrat dirinya untuk menjamah Olivia tapi tidak bisa karena banyak factor, pertama acara pesta selesai tengah malam, begitu sampai di tempat tidur Olivia sudah tertidur El jadi tidak bisa membangunkan gadis itu, dan yang kedua pagi harinya mereka langsung bersiap-siap untuk honeymoon mengingat liburan semester sebentar lagi akan berakhir.
Olivia menggigit bibirnya gugup karena baru saja mendapatkan ciuman tiba-tiba dari suami mudanya?
“I love you my love” setelah berkata begitu EL kembali menekan bibirnya pada bibir Olivia dan mulai mencumbu istrinya itu dengan penuh gairah. EL melingkarkan sebelah lengannya pada pinggang Olivia dan menahan punggung wanita itu dengan lengannya yang kokoh untuk memperdalam ciuman mereka.
Olivia meremas bagian depan mantel EL sebagai pegangan agar tubuhnya tidak limbung sementara ia mencoba menjaga keseimbangan berdirinya saat EL menyerangnya seperti itu. Tangan EL yang menopang punggung Olivia perlahan menyelip ke balik mantel Olivia sambil pelan-pelan ia membawa tubuh mereka untuk disandarkan pada dinding balkon. Malam itu sangat gelap untung saja kamar mereka menginap di lantai paling atas jadi tidak akan ada yang bisa melihat pasangan suami istri itu berciuman. Suasana temaram dan sunyi semakin membuat malam itu semakin panas, hanya suara ciuman penuh gairah mereka yang terdengar selain des*h*n angin dari pantai yang memenuhi malam.
“EL. . .” Desah Olivia. sembari mendorong tubuh pria itu, ia harus menggigit bibirnya sendiri untuk menahan luapan gairahnya yang nyaris tidak terbendung. Nafas gadis itu sudah tersengal seperti orang yang baru saja lari maraton, keturunan daddy deon memang ahli semua dalam membuat wanita mereka merasa kenikmatan.
Olivia perlahan menarik masuk el ke dalam kamar mereka membiarkan pintu balkon terbuka lebar, karena sudah tidak punya waktu untuk menutup pintu itu.
__ADS_1
Hanya beberapa detik bibir mereka lepas EL kembali meraup bibir istrinya. Kedua pasangan suami istri itu kembali memulai ciuman mereka, Olivia melingkarkan lengannya pada leher EL sambil berjinjit, berusaha meraih akses yang lebih leluasa untuk juga membalas serbuan ciuman EL.
Lengan EL yang semula melingkar erat pada pinggang Olivia kini mulai meraih bukaan mantel yang dikenakan Olivia, dalam satu gerakan cepat ia membiarkan gravitasi menarik turun mantel dari tubuh istrinya, dan ia segera menanggalkan mantelnya sendiri sebelum menuntun langkah mereka semakin dalam menuju kamar tidur.
Ruang pertama yang mereka lewati adalah ruang tamu yang menyatu dengan dapur sebelum mencapai kamar tidur, menempatkan tangannya pada samping pinggul Olivia dan mendudukkan wanita itu di atas meja bar Ia menempatkan diri di antara kaki Olivia yang terbuka.
Sepertinya yang tidak sabaran bukan EL saja. Jemari mungil Olivia kini melepas syal EL dengan cepat sebelum satu per satu kancing kemeja EL ditanggalkannya. Wanita itu sudah menahan diri sejak hari pertama mereka menikah.
EL tidak kalah ber napsu, tangannya menemukan retsleting dress Olivia dengan mudah dan segera menariknya turun sebelum ia menurunkan lengan dress Olivia dari kedua sisinya, mengekspos tubuh mulus Olivia lengkap dengan gunung kembar yang masih bersembunyi di balik pakaian dalam merah.
Tunggu, merah?
Wanita itu tersipu sambil menggigit bibirnya. “Hanya antisipasi karena aku tau ini akan terjadi” bisik Olivia.
EL kembali ******* bibir Olivia, ia menurunkan dress Olivia hingga ke pinggangnya dan wanita itu meringankan pekerjaan EL dengan mengangkat pinggulnya sebentar dari meja, agar pria itu bisa membuang jauh-jauh baju yang dikenakannya. Gairah EL semakin terbakar melihat pakaian dalam Olivia yang terhitung provokatif untuk imajinasinya. Wanita itu benar-benar mempersiapkan diri dengan baik, memilih warna pakaian dalam yang sangat kontras dengan kulit pucatnya.
“Wife, kau masih saja membuatku terkejut.” Gumamnya dekat bibir Olivia.
__ADS_1
Wanita itu meloloskan kemeja EL dari bahunya sebelum bibirnya mengecup lembut tulang bahu pria itu, tulang selangkanya, dadanya. EL menahan kepala Olivia, ia menengadahkan kepala wanita itu untuk menghadap wajahnya, kembali ******* panas bibir wanita yang ia tahu sedang terbakar gairahnya sendiri.
Olivia melingkarkan kakinya erat di sekitar pinggang EL sementara pria itu kini sibuk menjelajah kulit halus di leher jejangnya. Ciuman EL terus turun sampai ia menggoda sebelah gunung kembar Olivia dengan remasan seduktif. ******* wanita itu lolos saat jemari dingin EL menggoda puncak gunung kembar olivia dari balik pakaian dalam yang masih melekat.
Hilang kesabaran, EL dengan gesit melepas kaitan bra Olivia dalam satu sentakan. Kini gunung kembar wanita itu terpampang di hadapannya. EL mengusapkan ibu jarinya pada puncak gunung olivia yang sudah mengeras, membuat ******* wanita itu semakin menjadi.
Olivia merasakan bagian bawah El sudah menegang dan sengaja pria itu tempelkan pada tubuh Olivia, Wanita itu membawa tangannya untuk membelai lembut permukaan celana jins EL yang menonjol, memijatnya pelan dari luar sambil sesekali memberikan sentuhan seduktif untuk mengirimkan pesan bahwa ‘ia sudah tidak sabar’. Wanita yang lebih dewasa memang sedikit berbeda sedikit lebih ganas.
EL tidak perlu dikomando dua kali, ia segera menggendong tubuh Olivia yang setengah polos ke arah tempat tidur mereka. Bibir mereka masih bertaut saat pria itu membaringkan tubuh mungil wanita itu ke atas ranjangnya. Sejenak EL mengambil waktu untuk melepas arloji yang lalu dilemparnya dengan asal sebelum ia kembali menekan tubuh Olivia dengan tubuhnya. Tangannya menahan lengan Olivia yang ditaruh di atas kepala wanita itu, ia menahan tubuhnya dengan lutut sementara wajahnya kini kembali memberikan tanpa kepemilikan pada leher olivia.
Pria itu sudah meninggalkan banyak jejak kemerahan di leher Olivia, kini targetnya berubah pada gunung kembar wanita itu yang sejak tadi menggodanya. Awalnya EL menghisap pelan kulit di seputar lingkaran gelap dekat puncak gunung olivia, dan mulai memberikan pijatan dan sentuhan agar istrinya bisa rileks.
“Kak, aku boleh memulainya?” tanya El pelan, pandangan pria itu sudah menggelap tidak bisa menahan diri lagi.
Olivia menganggukkan kepalanya pelan memberikan izin kepada suaminya yang mud aitu untuk memulai aksi yang dia inginkan.
Mulailah kedua pasangan itu berperang sebagai pasangan suami istri yang sah dimata agama dan negara.
__ADS_1
...🙈🙈🙈🙈🙈...
...🌸 (END) 🌸...