Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
89. Cemburu


__ADS_3

EL kagum pada Olivia, dia hidup dalam penderitaan selama bertahun-tahun tapi dia mampu mencapai kesuksesannya sekarang, semua masalah yang menimpa dirinya malah membuat Olivia semakin menjadi pribadi yang hebat, semakin El mengetahui masa lalu Olivia, semakin jatuh cinta pria itu pada sosok Olivia.


“maafkan aku kak, karena aku telah membangkitkan memori yang menyakitkan bagimu” EL berbisik lembut. Pria itu sekarang harus menahan rasa harunya sendiri, karena ia sedang berusaha menjadi sosok yang kuat bagi Olivia, tidak pernah dia bisa bayangkan bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Olivia, apakah hidupnya akan bisa sehebat Olivia? Atau akan menjadi hancur.


“EL, mengapa aku merasa sangat sedih sekarang? Aku sudah berusaha mengalihkan seluruh perasaan lemah yang mengakar di diriku, tapi kenapa aku menjadi orang yang sangat cengeng di depanmu?” Bisiknya dalam pelukan EL.


Pria itu mengelus punggung Olivia lembut, “Aku tidak keberatan Kak, kau bisa bersandar padaku kapan pun kau mau, ingat itu.”


 


Lagi-lagi wanita itu membiarkan pertahannya runtuh di dalam pelukan EL, sepertinya keberadaan pria ini telah membuat beban berat yang diembannya terasa lebih ringan, dan harus diakui, Olivia ketagihan dengan rasa nyaman yang ditularkan pria ini. Olivia mempererat pelukannya di sekitar pinggang EL, wajahnya kini mencari tempat nyaman di bahu lebar pria itu, ia menghirup aroma maskulin yang selama ini diam-diam dinikmatinya saat tidur.


 


“Maaf, kau harus melihatku seperti ini.” Isaknya dari bahu EL.


 


Pria itu menarik napas dalam. Seandainya Olivia tahu bahwa pria ini siap menjadi tamengnya kapan pun juga, andai Olivia tahu bahwa ia akan selalu ada untuknya. EL bahkan tidak peduli tentang umur, dosen dan mahasiswa pandangan orang atau apapun, asal Olivia bersamanya EL yakin bisa menikmati hidup dengan damai.


Tangisan Olivia berubah menjadi isakan kecil, ia masih bersandar sepenuhnya pada EL, dulu dia bahkan tidak pernah berbicara tentang ayahnya pada Michel, entah kenapa di depan EL, olivia mengatakan semuanya, michel sama sekali tidak tau cerita masa kecilnya, dan Olivia tidak pernah ingin menceritakan itu pada siapapun.


EL mengangkat dagu Olivia agar menatapnya, pria itu tersenyum lembut sambil mencium kedua kelopak mata Olivia yang sudah membengkak, sejak kemarin wanita itu terus menangis dibuatnya, “I Love you Olivia” bisik El sebelum menyapukan bibirnya dengan bibir Olivia.


...🐶🐶🐶🐶🐶...


Karena Olivia memutuskan mengambil cuti, EL pun akhirnya ikut membolos kuliah, sekarang keduanya justru menghabiskan pagi hari mereka bersama. Setelah meltdown Olivia barusan, EL dan Olivia memasak sarapan bersama-sama.


Setelah selesai, keduanya memilih duduk di sofa untuk menikmati sarapan yang barusan mereka buat.


“Maafkan aku” ucap Olivia tiba-tiba.


 


“Untuk?”


 


“Kehebohan yang kuciptakan semalam.” Balas Olivia ragu, “Meskipun aku benci sekali melihat tindakan heroik bodohmu itu, aku tetap berterima kasih.”


 

__ADS_1


“Aku baik-baik saja. Buktinya aku tidak demam sama sekali pagi ini, artinya lukaku tidak infeksi dan kau merawatku dengan baik.” Hibur EL sambil memaksakan senyuman di wajahnya.


 


“Aku mau kau berjanji sesuatu padaku.” Pintanya pelan.


 


“Yaitu?”


 


“Jangan membahayakan dirimu seperti itu lagi, aku tidak akan mampu menanggung rasa bersalah yang datang jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Jelasnya sendu.


 


EL melihat kekhawatiran di ekspresi wanita itu kembali, “Kak, kalau kau ada di posisiku, apa kau akan membiarkan hal itu terjadi?”


 


Olivia menggeleng. “Tapi aku juga pasti mencari cara lain untuk menolongmu.”


 


 


“Masih terasa nyerikah?” Olivia menyentuh kain kasa yang menutup luka di lengan pria itu.


 


EL menggeleng, “Hanya sedikit. Hey, aku ini laki-laki, masa aku kalah dengan luka seperti ini”.


Olivia mendengus, “kamu lupa, pertemuan pertama kita dan tanganmu luka karena aku gigit, kamu kesakitan sampai berhari-hari, ini bahkan lebih dari sebelumnya” sindir Olivia.


EL tertawa pelan ternyata Olivia selalu mengingat semua kenangan mereka, “Aku bercanda, habis kakak tidak mau aku dekati”.


Olivia ikutan tertawa dan menyandarkan kepalanya pada bahu kekasihnya. “EL, kamu tidak penasaran tentang pernyataan aku semalam?”


“Pernyataan yang mana?”


 

__ADS_1


“Tentang Michel, aku memang mengatakan Michel mati karena menjadi mafia tapi sebenarnya aku tau dia mati karena melindungiku, bukan karena kesalahan brian, aku butuh seseorang untuk di jadikan kambing hitam sebagai Pelepas kesedihanku”


“Ahh tentang itu aku memang sudah mendengar ceritanya dari Brian, tapi itu dari versi brian aku belum mendengarnya darimu, Apa kau mau membicarakan tentang hal itu? Aku masih siap meminjamkan bahuku untukmu kapan pun kau mau, kita tuntaskan tentang pria itu hari ini dan setelah itu kakak tidak boleh menangis karena pria itu lagi”.


“Kau baik sekali, EL” lirih Olivia, gadis itu memainkan jari tangan EL. “Tapi kalau aku menceritakan semuanya, kau akan lari dariku setelah tau cerita aslinya?”


EL menggelengkan kepala, “Tidak akan merubah perasaanku padamu.” Balasnya cepat.


Olivia mulai menceritakan malam naas yang terjadi, wanita itu kembali menangis didalam pelukan EL, bukan hanya cerita tentang Michel, Olivia menceritakan semua kisah masa kecilnya pada EL, hingga dia puas menangis dalam pelukan EL.


.


“Kak, kau sangat sempurna, dalam 2 tahun ini pasti bukan hanya aku satu satunya kekasih yang kakak miliki kan?” tebak EL.


Olivia tertawa pelan, “kenapa kau berkata seperti itu?”


“hanya menebak saja, aku yakin bukan hanya aku yang pernah mencoba mendekati kakak”


“hmmm…” Olivia sengaja menggantung ucapannya untuk melihat raut wajah EL, “Aku mendapat beberapa pengakuan sebelumnya” aku Olivia.


“Benarkah? Siapa saja?”


“ada dosen, ada juga pria kantoran, dan juga mahasiswaku” kekeh Olivia.


“Hah? Mahasiswa, dasar mahasiswa tidak tahu malu.” El terkekeh, “Apa yang mereka katakan?”


“Hmm, mereka memberiku bunga, kadang aku mendapat bingkisan kecil, ada juga yang membuat coklat pada saat white day.” Olivia mencoba mengingat tindakan menggemaskan dari mahasiswa-mahasiswa sebelumnya. “Oh, ada juga yang menuliskan perasaan mereka pada lembar jawaban ujian.”


 


“Jadi memperoleh perhatian lebih dari mahasiswamu menjadi hal yang umum untukmu?” Cecar EL penasaran.


Kali ini Olivia yang tertawa, “Dibilang umum juga tidak, hanya saja ada beberapa dari mereka yang memang bilang padaku bahwa mereka mengagumiku. Tapi kurasa itu hal wajar bukan? Kalau kau mengagumi dosenmu sendiri, aku pun pernah mengalaminya.”


 


Pria itu mendengus kesal, karena ternyata bukan ia satu-satunya mahasiswa yang memiliki perasaan istimewa pada Olivia. “Lalu apa yang kau lakukan? Maksudku dengan mahasiswamu itu, pasti mereka harus berpikir ribuan kali sebelum menyatakan kekaguman mereka padamu bukan?”


 


Olivia mengangguk, “Tapi kebanyakan dari mereka hanya menyatakan kekaguman mereka saja—kalau aku boleh mengutip kata-kata mereka, aku dijadikan alasan mereka untuk semangat datang ke kelas.” Olivia tersipu, ia tertawa geli dengan pernyataannya sendiri yang dianggapnya konyol.

__ADS_1


...🐯🐯🐯🐯🐯...


__ADS_2