Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
46. Panik


__ADS_3

Saat el mau berlari menuju ruang kelasnya, Langkah pria itu terhenti karena ada beberapa senior yang menghalangi jalan nya.


"Permisi" ucap El tapi 5 orang yang tegak di depannya tidak pindah juga. El menatap kelima orang itu dengan wajah biasa saja, dia tampak tidak memiliki perasaan takut sedikitpun.


Bima berdiri dengan angkuhnya didepan El, dia yakin jika menghajar adik kelas nya itu akan membuat dirinya bahagia.


"kamu takut melihatku sekarang?" sindir Bima.


El sedikit mengernyit bingung, takut? perasaan dia tidak memperlihatkan wajah takut, "anda buta ya senior?" tanya El datar.


Bima kembali mengepal kan tangannya karena menahan marah.


"udah bim, langsung hajar aja, biar dia tau rasa" celetuk teman Bima yang berada di belakangnya.


Bima tersenyum menakutkan, "benar, dia tidak bisa di ajak bicara" bima hendak melayang kan sebuah tinjuan tapi dengan santai El menghindarinya dan membuat Bima tersungkur di tanah.


"apa aku harus melawan kalian semua baru boleh lewat" El menghela napas panjang bukan takut tapi dia sedang terburu-buru untuk masuk ke dalam kelasnya.


"Cepat pukul dia!" teriak Bima pada empat orang yang dia bawa.


Dengan cepat mereka maju bersama sama tapi kembali El menghindari semu pukulannya.


"Kalian pernah diajar kan bertarung gak sih? yakin aku boleh melawan kalian?" tanya El mata pria itu berkeliling melihat sekitar untuk mencari kamera CCTV takutnya saat dia menghajar kelima orang itu mereka akan menuntut dirinya.


"Sial! *nj*ng sini!" pekik Bima yang sekarang sudah berdiri untuk mengambil ancang-ancang memukul El.


"hah!" El menghela nafas panjang. "oke jangan menuntut aku" ucap El pasrah, dia mulai melayang kan pukulan pada kelima orang itu tanpa membuat mereka pingsan hanya babak belur saja, walau tangan pria itu sakit El masih bisa menghajar pria amatir seperti kelima orang itu, El menatap malas pada kelima orang yang sekarang sudah terkapar di tanah.


"Kalau mau menghajar orang setidaknya kalian harus kursus bela diri dulu sana" sindir El sebelum berlalu pergi dari hadapan kelima orang itu.


El berlari kembali menuju kelasnya, harusnya tidak telat jadi telat karena senior sok itu.


"Daniel!" Terdengar suara teriakan dari dalam kelasnya, Jantung El berdetak saat mendengar siapa yang memanggilnya, pria itu mempercepat langkah menuju kelasnya.


"Dani_"


"Hadir!" jawab El, dia berusaha mengontrol nafas nya yang tersengal karena tadi berlari.

__ADS_1


El berjalan mendekati Olivia dan melirik nama nya yang di tulis di bawah nama pria bernama ladhianto.


"Hapus saja nama saya disini" tunjuk El.


"Daniel?" Olivia menyeringai dan bukannya menghapus dia malah menuliskan nama El kedalam kelompok ladhianto. "sekarang anda akan sekelompok dengan Ladhianto hingga semester saya berakhir"


"Hapus saja namaku, dari kelompoknya" ulang El dia bukannya tidak mau sekelompok dengan orang lain tapi El tidak mau ada orang yang dekat dengannya dan mengetahui jati diri dirinya, bisa bahaya jika orang bernama ladhianto itu memanfaatkan dirinya.


“Aku tidak akan melakukan itu, kau sudah melewati batas waktu toleransi yang diijinkan.” Sergah Olivia.


 


“Lalu?” Tantang El.


Olivia sedikit kebingungan pria di depannya seperti orang lain lagi atau memang karena dia yang belum banyak tau tentang pria di depannya ini.


“Jadi.. Ah tidak! kau kuberi dua pilihan: duduk dan ikuti sisa pertemuan kelas ini atau kita akan bertemu di pertemuan berikutnya.” Jawab olivia santai.


El menghela nafas panjang, dia tidak mau sekelompok dengan siapapun dirinya bukan orang biasa yang bisa bersikap baik pada siapa saja, orang yang dekat dengannya kalau tidak memanfaatkan dirinya pasti dimanfaatkan oleh orang-orang sekitar untuk menghancurkan daddy deon.


"Kau adalah mahasiswa ku" jawab olivia.


El kembali menghela nafas panjang dia duduk di kursi paling depan, "terserah pokoknya saya tidak bisa sekelompok dengan siapapun" ucap El acuh.


Olivia sedikit menyunggingkan senyumannya saat melihat El, kembali senyum yang telah lama hilang itu El berhasil mengembalikannya.


"Ladhianto maaf sekali sepertinya kamu juga harus sendiri kali ini atau cari temanmu untuk membentuk kelompok dengan 3 atau 2 kepala di dalamnya, ada yang menganggap tugas yang saya berikan sangat mudah, hingga tidak mau berkelompok dengan siapapun" sindir Olivia.


El yang disindir hanya acuh, pikirannya sedang terbagi saat ini, karena merasa cemas tiba-tiba mengingat adik kembarnya.


...🐺🐺🐺🐺🐺...


Saat jam makan siang El memilih berjalan menuju perpustakaan tapi langkah pria itu terhenti karena dering ponsel yang dia Terima.


“El, apa yang terjadi? aku dengar kau di jegat saat pergi ke kampus” suara khawatir Al langsung dia dengar begitu ponsel dia angkat.


“Aku tidak apa, hanya sedikit perkelahian saja, jangan terlalu cemas” ujar El, saat mau menutup ponselnya Langkah kaki el berhenti saat jam yang selalu dia kenakan menyala merah dan menampilkan bahaya.

__ADS_1


“ay bersamamu?” tanya El panik.


“Tidak dia_” telepon terputus begitu saja.


“Sial!” el mengumpat dan mencoba menelpon adik kembarnya tapi tidak di angkat, El kembali menghubungi Al, untuk bertanya apa yang terjadi tapi tidak diangkat juga oleh al.


El mengacak rambutnya kesal, tangannya bergerak cepat membuka aplikasi yang bisa mengetahui titik lokasi kedua saudara kembarnya.


“sial gak ada laptop lagi” gerutu El, dia ingin membobol camera cctv yang ada disekitar titik lokasi adiknya berada.


Karena tidak bisa mencari alternatif El hanya sibuk menelpon Al.


.


Di tempat Al, pria itu tidak menggubris panggilan dari El dia berlari menuju aurora yang sedang membaca buku, “Ay dimana au?” tanya Al panik.


“Ay? Tadi katanya mau ke kamar kecil sebentar, ada apa al? kok kamu ketakutan gitu?” tanya balik Aurora yang mulai ikut cemas melihat wajah Al.


“Ay dalam bahaya” ucap al, yang langsung berlari menuju kamar kecil yang di katakan Aurora.


Mendengar sahabatnya dalam bahaya Aurora langsung menutup buku dan berlari mengejar Al yang sedang panik.


“bahaya gimana al?” Aurora tidak kalah panik dengan Al saudara kembar ay.


A tidak menjawab, dia hanya melihatkan jam tangannya yang masih memerah tanda bahaya.


“Au coba periksa apa ay ada di dalam?” perintah Al saat berada di depan kamar kecil perempuan.


Au mengangguk mengerti dia langsung masuk dan menggeledah setiap bilik yang ada dalam kamar kecil itu.


“gak ada al” ucap Aurora saat keluar dari kamar mandi.


Al Mengacak rambutnya frustasi dia bingung harus mencari kemana karena saat ini.


“Al tenang lah kita pasti bisa mencari Ay, pikirkan dengan jernih, apa benar adikmu bisa sampai di culik?”


...🦁🦁🦁🦁🦁...

__ADS_1


__ADS_2