
Ay menatap dua saudara kembarnya yang datang pagi-pagi sekali ke ruang inapnya, “kenapa tampang kalian berdua murung gitu?” ledek Ay.
“Mommy nyebelin banget, Aurora dilarang tinggal satu atap sama abang! Nyebelin kan” gerutu AL.
Ay mengangguk mengerti kini tatapannya terarah pada EL abang keduanya, “kalau abang EL?”
“gak ada” jawab EL berbohong.
“Haah” Ay menghela nafas panjang, “kalian berdua mending cepat-cepat nikah deh! Kalau uang buat nikah kurang biar ay tambahin, sana ajak pacar kalian berdua nikah” omel Ay.
“Emang kamu punya uang sayang?” tanya Brian heran.
Ay tersenyum pepsodent, “kan uang daddy brian jadi uang mommy Ay dong”.
Brian tertawa pelan agar Ray yang ada dalam gendongannya tidak terkejut dan terbangun, dia baru saja tertidur.
“Lo kira abang kekurangan uang makanya gak nikah sampai sekarang, bukan itu masalahnya” gerutu Al.
“iya bukan itu masalahnya” El ikut menyahuti.
“Lah, kalau bukan itu jadi apa masalahnya?” tanya Ay lagi.
“Aurora itu belum mau nikah, dia gak seperti kamu yang kebelet nikah” ujar AL.
“Abang brian juga gitu, dia gak mau nikah sama ay tapi ay berhasil meyakinkan dia hanya dalam beberapa bulan, ckckck cemen banget sih abang kembar Ay, gak bisa ubah mindset pacar masing masing, kalah sama adek nya” ledek Ay. “lagian ya sekarang ay tanya abang ngelamar gimana caranya?” tambah ay penasaran.
__ADS_1
“Suasananya sudah bagus ya abang lamar” ucap EL keceplosan.
“abang ada buat acara kejutan gitu?” ay mengulangi pertanyaannya.
“gak ada” jawab EL polos.
“pakai cincin?” tanya ay lagi.
EL kembali menggelengkan kepalanya.
“Ya mana mau! Masih kurang feel nya! Cuma karena suasana bagus ngapa gak perkeos aja kalau udah jadi anaknya tinggal nikah, kalah nih sama suami ay!” ledek ay lagi.
Brian mengulum senyum melihat ay memarahi kedua saudara kembarnya, dan sekarang kedua pria itu sama sama tertunduk tidak bisa menjawab apapun yang diucapkan oleh ay.
“Iya-iya abang salah” al dan El sama sama tegak dari duduknya.
“lah kalian berdua mau kemana?” tanya Ay heran.
“cari inspirasi buat acara kejutan” jawab al dan el bersamaan.
“hahahha semangat abang abang gantengku” seru ay dengan bersemangat.
...🐻🐻🐻🐻🐻...
Hampir satu minggu El benar-benar membuat Olivia kesal, dia pergi tidak memberi tahu hanya sebuah pesan yang ditinggalkan di pintu masuk, sekarang Olivia sudah menunggu El untuk pulang dan siap mengatakan jawabannya malah pria itu yang menghilang tanpa kabar, dia bahkan tidak mau mengirim pesan ke ponsel olivia, kedua orang itu sama sama gengsi untuk memberi pesan duluan.
__ADS_1
Satu minggu itu Olivia habiskan dengan melakukan pekerjaan dan hal-hal yang bisa mengalihkan pikirannya dari El namun nihil! Pria itu selalu muncul dalam pikirannya berkali-kali, bahkan saat bersama Michel, dia tidak pernah merasa setergantungan ini pada kehadiran seorang pria. El cukup mampu membuat Olivia kesal sampai ingin memukul wajah pria itu karena menghilang selama satu minggu.
Olivia melihat waktu pada ponselnya, baru jam Sembilan malam! Padahal ia merasa serangkaian acara melelahkan ini setidaknya sudah membawa waktu ke tengah malam. Bagaimana mungkin waktu berjalan selambat ini saat ia tidak menikmati suasana. Ia melihat ada satu notification pada layanan pesannya dan jantungnya serasa mau lepas saat ia melihat nama peninggal pesan. Dengan cepat Olivia membuka pesan itu dan ia terpana pada apa yang dibacanya.
Itu pastilah foto dirinya yang baru diambil diam diam oleh El entah kapan waktunya.
“Aku akan melakukan apapun dalam batas kemampuanku untuk menggambar ekspresi ini di wajahmu, untuk melihat senyum hangatmu yang indah serta untuk berada di sisimu dan membuat hidup kita bermakna. Tapi aku terlalu congkak bukan, setelah seminggu berfikir aku akhirnya sadar, Aku tidak akan pernah bisa menjadi pria yang pantas mendampingimu. Jadi biar kuucapkan perpisahanku dengan cara ini. Selamat tinggal, Olivia , aku mendoakan yang terbaik dalam hidupmu. Sebuah kehormatan bagiku untuk pernah dibimbing oleh orang seperti dirimu—wanita paling hebat yang pernah kukenal.”
Olivia bingung apakah ia lebih merasa marah atau sedih dengan pesan EL. Ada satu bagian dalam dirinya yang merasa pantas mendapatkan ucapan perpisahan dengan cara seperti ini, tapi bagian lain menolak untuk setuju. Dalam hatinya, Olivia berharap EL akan memperjuangkannya lebih keras lagi, ia ingin EL mengerahkan usahanya yang terbaik, ia berharap EL menginginkan dirinya seperti Olivia—diam-diam—menginginkan EL. Bukankah dia bilang untuk menunggu jawaban darinya, tapia pa, sekarang pria itu menyerah? Dengan seluruh keegoisan yang ada di dalam hatinya, Olivia berharap EL mau membantunya untuk melupakan kesedihannya akan Michel.
Tanpa berpikir lagi, Olivia langsung bangkit dari tempat duduknya, mengambil dompet dan paspor dan memasukkan semuanya didalam tas, mencari penerbangan paling cepat menuju kote tempat tinggal EL.
Wanita itu tidak bisa berpikir jernih sekarang dan ia telah membiarkan amarah mengambil alih tindakannya. Ia murka dengan dirinya sendiri. Karena ia telah jatuh ke dalam pesona seseorang yang tidak selayaknya ia kagumi, karena ia baru menyadari detik ini bahwa kehadiran pria itu penting baginya, ia juga marah karena rasa bersalahnya pada mantan tunangan yang masih terus menyertai setiap langkahnya, ia benar-benar kesal karena ia terjebak dalam perdebatan hatinya—perdebatan yang sebenarnya tidak perlu ada—ia merasa bahwa kelakuannya sekarang masuk ke dalam kategori mengkhianati Michel, padahal ia tahu persis bahwa hal itu tidak terhitung karena Michel sudah tiada.
Olivia lelah menyangkal, ia telah tiba pada ambang jenuhnya dan malam ini emosinya meledak. Ia sudah lelah menyabotase kebahagiaannya sendiri dan saat ini Olivia siap melepas rasa gengsinya untuk mengutarakan seluruh isi pikirannya pada EL. Wanita itu sadar bahwa ia harus melanjutkan hidupnya, ia tidak bisa selamanya berkubang dalam kesedihan yang pasti tidak ada akhir indahnya hanya semata-mata untuk membuat Michel tetap hidup dalam memorinya—dan EL, mungkin pria itu adalah kesempatan Olivia yang terakhir untuk meraih kebahagiaannya.
Perjalanan menuju kota tempat tinggal El membutuhkan waktu setidaknya 1 jam, untung masih ada tiket malam yang bisa dia ambil saat itu juga, Olivia sudah tidak tau lagi dia yang akan meminta EL pada keluarganya masa bodoh di tolak, Olivia sudah tidak peduli lagi, saat ini diam au marah pada pria yang sudah berbohong padanya, berjanji tidak akan pergi dan menunggu jawabannya tapi hanya memberikan pesan singkat yang membuat dia marah, EL terlalu menyebalkan saat ini.
...🐰🐰🐰🐰🐰...
__ADS_1