Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
71. Penelitian


__ADS_3

Para mahasiswa dan mahasiswi mulai saling berdiskusi satu sama lain, membertimbangkan tawaran menggiurkan untuk pergi ke luar negeri bersama dosen mereka sambil mempresentasikan ide baru.


“Jadi, biar kusimpulkan!” Olivia menepukkan kedua tangannya untuk kembali menperoleh perhatian dari mahasiswanya, “Jika ada dari kalian yang tertarik untuk bergabung, silakan berikan proposal dan portofolio kalian, dengan begitu aku bisa memilih dua mahasiswa untuk berkolaborasi bersamaku—tentu saja kalian tahu di mana kalian bisa menemuiku. Apa ada pertanyaan?”


 


Tidak ada yang menjawab.


 


“Baiklah, kelas kububarkan. Selamat siang!”


.


“Kak, kenapa harus dua orang sih?” Keluh El, saat ini pria itu sedang bermanja dengan cara berbaring di pangkuan Olivia.


“Emang sudah seharusnya seperti itu, dan kenapa kamu protes?”


“Gak suka aja ada orang yang mengganggu waktu berdua kita dan aku tidak mau waktuku berdua dengan kakak berkurang” El semakin membenamkan kepalanya pada perut Olivia, entah kenapa pria itu sangat suka bermanja seperti itu pada Olivia, sedangkan Olivia hanya membiarkan kekasih mudanya itu bermanja seperti itu, dia malah mengelus rambut El sambil menonton acara tv.


“sebelum menjadi kekasih seorang Daniel, aku adalah seorang dosen, dan aku sangat menyukai pekerjaanku, menyukai penelitian yang aku lakukan, jadi tolong mengerti ya” Olivia berusaha membuat kekasih muda nya itu untuk mengerti, walau terlihat sangat susah, El berubah dari pria yang dingin menjadi pria protective dan manja.


“kalau gitu luluskan aku menjadi salah satu dari asisten kakak ya” El berusaha membujuk Olivia agar waktu nya dengan gadis itu tidak berkurang.


Olivia menunduk untuk melihat wajah El yang sedang tersenyum jenaka, “buat proposal yang bagus hingga aku memilihmu, aku tidak akan pilih kasih walau kamu kekasihku” ucap tegas Olivia.


El menghela nafas panjang dia langsung duduk.


‘Cup’ memberikan kecupan pada bibir Olivia dan beranjak dari duduknya, “baiklah aku akan membuat kakak akan memilihku, bukan karena hubungan kita tapi karena memang kepintaranku, tapi nanti kalau aku berhasil kakak harus kasih hadiah buat aku ya”.


Olivia tertawa pelan melihat El, kepalanya bergerak sendiri naik turun menyetujui permintaan El, “baik, tapi sesuatu yang bisa aku kabulkan”.

__ADS_1


“Oke deal, bye kakak dosen” El berlari menuju apartemen miliknya, meninggalkan olivia sendirian.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


Sebuah nota diletakkan di atas coffee table yang di kelilingi tiga orang yang sedang serius menatap layar laptop masing-masing, pelayan café itu sudah tidak sabar untuk menyuruh tiga tamu terakhirnya untuk segera pulang. Ia sudah mencoba memberi pertanda dengan sopan, dengan menyatakan waktu terakhir untuk memesan, bahkan ia pun sudah dengan sengaja mengangkut kursi-kursi di café itu dengan kasar—berharap tamunya sadar kalau mereka akan tutup.


 


Olivia, El dan Lana masing-masing sibuk mengetik dan menggabar sesuatu pada layar laptop masing-masing, ketiganya mencoba menggabungkan ide untuk dipresentasikan di Kopenhagen tempat yang akan menjadi presentasi akhir mereka—masih tetap tidak bergeming dengan kelakuan kasar dari pelayan tadi.


 


Sang pelayan pun murka, ia memutuskan untuk langsung saja menagih uang untuk membayar pesanan mereka dan mengusir tamunya.


 


“Mbak! Mas!, kami sudah tutup—aku seharusnya sudah pulang sejak lima belas menit yang lalu, jadi kalau kalian tidak keberatan, bayarlah dan segera rapikan barang-barang kalian.” Ujarnya ketus.


 


 


“EL, aku lah yang punya kepentingan untuk proyek ini, sudah sepantasnya aku yang membayar.” Olivia akhirnya menemukan dompetnya.


 


El mengabaikan kata-kata Olivia dan tetap memberikan kartunya ke pelayan yang sudah tidak bisa bermanis-manis pada mereka.


“Kau bisa membayar untuk pertemuan berikutnya, lihatlah wajah pelayan itu, ia seperti siap mencincang kita hidup-hidup kalau kita tidak keluar sekarang.” EL segera menyimpan data yang baru dikerjakannya sebelum akhirnya mematikan laptopnya.


 

__ADS_1


“Lana, kurasa idemu bagus tapi penggambaranmu masih sedikit bermasalah. Kau masih harus menambah detil-detil tentang bagaimana alat ini bekerja—tapi itu bisa kita bahas pada pertemuan berikutnya.” Niat Olivia untuk merevisi batal ketika pelayan tadi jalan kembali ke arah meja mereka untuk mengembalikan kartu EL.


 


Lana mengangguk dan dalam hati merasa sangat lega, karena ia sudah lelah dan sangat mengantuk. Alasan gadis itu untuk ikut serta dalam proyek ini tentu saja karena ia tertarik dengan penelitian Olivia—apalagi dengan iming-iming namanya akan dikenal di kancah internasional. Alasan bonus mengapa ia menjadi bersemangat adalah karena mahasiswa lain yang ikut terpilih untuk berkolaborasi, adalah mahasiswa yang sejak awal masa perkuliahan sudah menarik hatinya, pria tampan, cool dan misterius itu membuat Lana penasaran dengan sosok EL.


Olivia sudah mengawasi gelagat Lana yang mencoba untuk menarik perhatian EL, perilakunya cenderung terkesan awkward dan Nara tidak malu-malu untuk kadang bersikap imut pada EL. Gadis itu berbicara dengan pelafalan yang dibuat-buat, ia juga mencoba menyentuh tangan EL jika ada kesempatan, dan selalu mencoba berbasa-basi dengan lelaki itu. Sejujurnya, Olivia sangat tidak paham dengan langkah-langkah flirting yang dilakukan Lana, ia tidak mengerti kenapa cara yang terkesan manja itu justru bisa menarik perhatian lelaki—tapi lagi-lagi, Olivia bermasalah dalam hal interaksi sosial, jadi bisa jadi Olivia saja yang justru aneh, dia sedikit kesal melihat semua tingkah Lana, namun bisa saja semua itu bukan untuk menarik perhatian tapi untuk lebih dekat dengan teman se profesi, Olivia tidak tau apapun itu karena lagi-lagi dia punya masalah dalam interaksi social.


 


“Daniel, ini sudah sangat malam. Bisakah kau mengantarku pulang?” Lana berlagak imut di hadapan EL.


Olivia bersumpah, ia bisa melihat mata El berputar bosan di hadapannya dan wanita itu harus berusaha menahan tawanya melihat kelakuan mahasiswa sekaligus kekasihnya itu.


 


“Tidak bisa.”


 


“aku yang akan mengantarmu, lagian aku adalah dosenmu” potong Olivia.


Lana tersenyum pada Olivia, “terima kasih bu, tapi_”


“kakak juga cewek, apa bedanya dengan gadis ini, jadi aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendiri” ucap El dingin. Pria itu kesal Olivia tidak bergantung padanya saat ini, gadisnya itu selalu berusaha mandiri.


Lana menatap interaksi antara El dan Olivia, dia sejak tadi bingung, El seperti sudah terbiasa memanggil Olivia dengan panggilan kakak dari pada ibu.


“Ah! Aku tahu!” Ujar EL dengan suara yang dibuat-buat, “Bagaimana jika aku mengantar kalian berdua pulang.”


“Tapi mengantar 2 orang sekaligus bukannya menyusahkan? Lagian bu Alexa membawa mobilnya sendiri” Lana berusaha mencari cara agar hanya dia yang diantar oleh EL.

__ADS_1


“aku tidak membawa mobil, aku kesini naik bus kota, kau ma uku antar naik bus?” ucap El ketus.


...🐻🐻🐻🐻🐻...


__ADS_2