
Olivia menatap El dengan bertopang dagu di depan meja makan pria itu.
“kau benar-benar belum ada makan?” tanya Olivia bingung.
El mengambil air minum untuk menelan makanannya sekaligus, “belum” jawab El singkat.
“Kau punya kepribagian ganda El? Tadi kau dingin, lalu berubah menjadi moster jahat untuk menghinaku, lalu menggodaku dan sekarang menjadi pengemis makanan di rumahku” tanya Olivia beruntun.
“Terserah” jawab singkat El lagi.
“ahhh sekarang kau bersikap cuek, sudah aku bilangkan aku sudah punya tunangan” ujar Olivia.
El mengeluarkan ponsel dari sakunya dan mengarahkan pada Olivia.
“apa ini?” Olivia menatap bingung ponsel el yang di sodorkan padanya.
“beritahu nomor tunangan kakak, aku akan minta izin pada pria itu untuk menjagamu selama dia tidak ada” ujar el acuh.
Olivia terdiam menatap ponsel el, “Tidak perlu, aku bisa jaga diri sendiri” balas Olivia.
“Bilang saja tidak ada” sindir El.
Olivia kini diam menatap El yang masih menyantap makanan dnegan lahap.
El mengangkat kepalanya dan mata El langsung bertatapan dengan mata Olivia.
‘Deg’ Jantung olivia langsung berdetak tidak karuan, perasaan yang sudah lama tidak dia rasakan kini kembali lagi, padahal perasaan itu sudah lama mati suri.
“jangan menatap mataku, setiap wanita yang menatap mataku dalam 3 detik akan jatuh cinta padaku” goda El.
Olivia segera memutuskan pandangannya dari el, “ciihhh dasar sok tampan, tunanganku lebih tampan dari dirimu” ujar Olivia ketus.
“makanya mana orangnya? Aku ingin bertemu” El kembali menantang Olivia.
“kalau sudah selesai, segera pergi” Bukannya menjawab ucapan El, olivia malah beralih tegak dan menuju sofa untuk menonton televisi.
.
Selesai makan bukannya pulang seperti perintah Olivia El malah ikutan duduk di sofa tepat disebelah Olivia.
“tadi aku suruh pulangkan?” sindir olivia pada pria yang duduk tepat sebelahnya.
El masih menatap depan, lalu tiba-tiba wajahnya menoleh menatap samping dan kembali mata Olivia bertatapan dengan mata El.
__ADS_1
‘DEG DEG DEG’ Olivia berusaha mengontrol pernapasannya agar detak jantungnya menjadi normal, tapi sia sia, mata El telah mengunci pergerakannya, menghancurkan system detak jantung gadis itu.
“Sudah aku bilang kakak akan jatuh cinta pada hitungan ke tiga” goda El.
“Huh anak kecil bisa apa? Kamu itu hanya bocah 18 tahun yang baru lulus sekolah” antang Olivia, gadis itu berusaha menentang perasaan yang sedang membuncah di jantungnya.
“satu” El mulai mendekati wajahnya pada Olivia.
“Dua” Olivia mulai gusar tapi dia masih tidak dapat bergerak mata El mampu menghipnotisnya.
“Tiga” pada hitungan ketiga El menempelkan bibirnya pada bibir Olivia. Awalnya gadis itu menolak tapi entah kenapa lama kelamaan Olivia malah menikmati ciuman itu, apa karena sudah lama tidak berciuman atau sudah lama dirinya tidak pernah merasakan perasaan berbunga-bunga itu.
Olivia terbaring di sofa dengan El berada di atasnya, pria itu masih terus mencium olivia dengan lembut, walau itu ciuman pertamanya tapi el terlihat sangat pandai dan lihai dalam melakukannya.
Pria itu awalnya hanya ingin mengerjai olivia tapi entah kenapa dia jadi keterusan dan malah menempelkan bibirnya pada Olivia.
Kedua mata orang yang sedang berciuman itu terbuka dan El melepaskan ciuman itu ketika sadar olivia sudah mulai kehabisan nafas. Pria itu menatap bibir olivia yang membengkak karena ulahnya.
El cepat-cepat duduk menjauhi Olivia, dia mulai canggung, begitu juga dengan olivia dia juga jadi grogi dan canggung pada El.
“Sudah malam kau tidak pulang?” tanya olivia secara tiba-tiba untuk mengalihkan suasana.
“Ahhh iya” El cepat-cepat berdiri dan berlari keluar dari apartemen Olivia.
Pria itu berlari memasuki apartemennya sendiri dengan terburu-buru. Bibir El menyunggingkan sebuah senyuman dan tangannya terangkat untuk memegang bibir yang tadi telah mencium Olivia secara tiba-tiba.
.
Olivia dan El sama-sama membuka pintu apartemen mereka. Keduanya sama-sama terdiam di depan pintu mereka masing-masing, Olivia yang pertama kali memutus tatapan mereka, gadis itu mendekati El dan itu berhasil membuat El menjadi membeku.
“Sudah sarapan?” tanya Olivia.
“Eh? Be-belum” ucap El gagu.
“nah” Olivia memberikan kotak bekal yang sudah dia siapkan pai-pagi sekali, “lain kali jangan sampai telat masuk ke kelasku atau aku akan menghukummu” Olivia memberi peringatan.
...🙈🙈🙈🙈🙈...
Aurora terus di perhatikan oleh Frans, pria itu penasaran dengan ellena bukan karena gadis itu adalah mantan tunangan tapi bagaimana cara Aurora masuk dan menjadi pegawai disana, setahunya Aurora masuk karena permintaan dari pemilik restoran itu, saat ini posisi pria itu hanya seorang manager bagian, karena restoran itu merupakan restoran cabang dari Perancis.
belum ada direktut cabang yang di tempatkan di posisi di atasnya, jika dia bisa mendekati Aurora dan meminta gadis itu membantu nya naik jabatan dia akan dengan senang hati kembali pada gadis itu menjadikan gadis itu sebagai kekasih nya.
"Aurora setelah selesai bekerja datang ke kantor ku" perintah Frans pada Aurora.
__ADS_1
"baik Pak manager" jawab Aurora sopan.
.
Pukul 11 malam dimana restoran akan di tutup, Aurora berjalan memasuki ruang kerja Frans.
"permisi pak" salam Aurora dengan sopan.
"akhirnya aku bisa juga berbicara berdua denganmu, jika bukan karena perintah atasan pasti tidak bisa berbicara denganmu" sindir Frans.
Aurora masih menunduk tidak mau mengangkat kepalanya menatap Frans, gadis itu tidak menyangka mantan tunangan berubah sedratis itu, apa memang sikapnya yang seperti itu memang sudah sejak dulu.
"bapak adalah seorang manager sedangkan saya hanya pelayan biasa, bagaimana saya bisa berbicara seperti teman dengan pak manager" balas Aurora dengan nada sopan.
"sudahlah lupakan, aku mau bertanya apa pacar mu itu yang membuat kamu masuk ke dalam sini?" tanya Frans, jika benar Frans akan mengganti strateginya untuk mendapatkan posisi direktur bagian.
"tidak pak" jawab Aurora singkat.
"Lalu, siapa yang membuatmu masuk ke sini?" tanya Frans.
Aurora mengangkat kepalanya untuk menatap Frans, kening gadis itu berkerut bingung, "kenapa pak manager bertanya seperti itu?"
"Aku hanya bertanya saja karena penasaran, kitakan saling kenal, apa kamu masih marah dengan orang tuaku?" Frans berusaha mengelak dari pertanyaan Aurora.
"sudah saya bilang saya__"
'duk duk duk'
"Au! kau di dalam!"
Ucapan Aurora terhenti karena ada suara pukulan di pintu masuk, mendengar suara Al, Aurora yakin pria itu emosi karena dia terlalu lama berada di ruangan itu.
"kekasih mu itu kurang ajar sekali, dia tidak tau aku manager di sini?!" Frans emosi dan berjalan cepat menuju pintu masuknya.
'Ceklek'
"Kau __" Frans yang mau marah tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat Al langsung menerobos masuk. "sialan! kau siapa hah?! berani mengabaikan ku dan masuk begitu saja?!" amuk Frans pada Al.
...🐺🐺🐺🐺🐺...
bonus pict
__ADS_1