
“KAU MEMBUNUHNYA!!” Ibu Michel meraung putus asa. “DIA ANAKKU SATU-SATUNYA DAN KAU MEMBUNUHNYA.” Perlahan nada teriakan Ibu Michel melemah, wanita itu mulai memukuli punggung Olivia dengan tangannya yang tidak memegang botol.
Olivia menerima pukulan demi pukulan dengan pasrah, karena ia tahu semua nyeri di tubuhnya saat ini tidak sebanding dengan panasnya timah yang menembus tubuh Michel di malam naas itu.
“Ma, aku bahkan tidak berani meminta maaf padamu.” Ujar Olivia terbata-bata diantara tangisannya. “Aku tidak pantas melakukan itu, aku tidak berhak mendapatkan pengampunan darimu. Itu semua salahku dan aku pun hidup dengan bayangan mengerikan itu setiap malam”.
Tubuh Ibu Michel melemas, akhirnya ia mendengar kata-kata yang ingin didengarnya dari Olivia, selama bertahun tahun dia tidak berhasil bertemu dengan Olivia, karena gadis itu menghilang bagai asap.
“Rasa kehilangan yang kurasakan pastilah tidak sebanding dengan yang kau rasakan, tapi aku ingin kau tahu kalau aku berterima kasih padanya, dan di saat terakhirnya ia memintaku untuk tetap hidup. Maafkan aku, karena saat ini aku hanya berusaha melaksanakan permintaan terakhirnya.” Tangisan Olivia semakin keras.
Kedua wanita itu sekarang sama-sama menangis untuk menghilangkan rasa sakit yang mereka rasakan dalam hati masing-masing. Tentu saja Ibu Michel paham bahwa semua ini bukan salah Olivia, tapi kebutuhannya untuk mencari kambing hitam, keinginannya untuk menyalahkan seseorang dari tragedi menyakitkan ini telah menuntunnya ke rumah Olivia malam ini. Seperti Olivia yang menyalahkan Brian, seperti itu juga Ibu michel mencari kambing hitam untuk semuanya.
Perlahan Olivia menyentuh tangan ibu Michel yang masih menggenggam botol kaca, ia melepaskan tautan jemari wanita paruh baya itu dan segera mengamankan senjata dadakan yang sempat digunakannya untuk menyakiti EL barusan. Cukup satu pria saja yang harus berlumuran darah untuknya, Olivia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada EL karena ulahnya.
...🦁🦁🦁🦁🦁...
EL merintih kesakitan saat Olivia mengoleskan kapas berlumur alkohol pada lukanya yang masih basah. Belum ada satu patah kata pun keluar dari mulutnya sejak Ibu michel pulang. Olivia hanya melemparkan sendal pada EL untuk melindungi kakinya dari seluruh pacahan beling yang tersebar di lantainya, dan ia segera menarik pria itu untuk masuk ke dalam dapurnya, tempat di mana sekarang Olivia melakukan pertolongan pertama pada luka EL yang lumayan besar.
Pria itu sendiri masih bingung dengan serangkaian kejadian yang terjadi di depannya. Ia nyaris saja menelepon polisi tadi seandainya tamu Olivia tetap bersikeras memukul wanita yang dicintainya. Pria itu bingung kenapa baru sekarang wanita paruh baya itu datang, kejadian meninggalnya tunangan Olivia terjadi sudah 2 tahun terjadi, tapi kenapa ibu michel datang baru sekarang untuk menghajar Olivia.
“Kakak?”
__ADS_1
“Shh.” Olivia tetap memfokuskan pandangan pada luka EL. Ia melilitkan kain kasa beberapa kali di atas lukanya.
“Kakak—”
Kata-kata EL langsung dibalas dengan tamparan kencang pada wajahnya.
Pria itu meringis sedikit karena sensasi panas yang menyerang pipinya tanpa peringatan, ia memandang Olivia dengan tatapan tidak percaya. Apa yang telah dilakukannya hingga Olivia merasa ia pantas ditampar?
“JANGAN LAGI-LAGI KAU BERANI MELAKUKAN ITU DANIEL!” Air mata kembali turun dari pelupuknya. “Jangan lakukan itu, jangan pernah mencoba melindungi ku dari apa pun, jangan pernah mengorbankan dirimu sendiri untuk menjagaku.” Wanita itu terisak sambil memukul tangan EL yang tidak terluka.
“Aku tidak bisa tinggal diam melihat kejadian tadi, Kak. Wanita itu mengarahkan botol ke kepalamu! Untung saja pintumu tidak tertutup, sehingga aku bisa langsung masuk. Hanya Tuhan yang tahu apa yang terjadi jika aku terlambat satu detik saja.” EL menyapukan ibu jarinya di wajah Olivia untuk menghapus air matanya.
“Kalau memang itu yang harus terjadi, biarkanlah! Jika aku memang harus terluka, jika aku harus mati karena hal itu kau harus membiarkannya!” Nada bicara Olivia meninggi.
“Dan aku harus menontonnya saja? Melihat dirimu kesakitan? Apa kau masih war—”
__ADS_1
“Aku pantas mendapatkannya, EL!” Potong Olivia. “Bahkan jika wanita itu ingin membunuhku, aku pantas mendapatkannya. Hanya ada satu orang di dunia ini yang berhak mengambil nyawaku—dan ia adalah wanita yang kau temui barusan.” Tubuh Olivia mulai bergetar, ia sedang berusaha keras untuk tetap berdiri tegak di hadapan EL. “Jangan pernah mencoba menyelamatkanku lagi, aku tidak sepadan untuk itu.”
Pria itu meletakkan kedua tangannya pada bahu Olivia, mencoba untuk menenangkan kondisi kalut wanita pujaannya.
Sorot mata EL melembut, lagi-lagi wanita ini menunjukkan sisi rapuh dirinya. “Kak, kalaupun waktu kembali terulang aku tetap akan melakukan hal yang sama, mau berapa kali pun kakak menamparku, memukulku, aku tidak peduli, kakak adalah wanita yang aku cintai” el menarik Olivia untuk mendekat pada tubuhnya. “Aku tidak tahu cara pandang mu akan dirimu sendiri. Tapi bagiku, kau sepadan dengan seluruh hidupku—you worth my life.”
Jantung Olivia serasa jatuh dari rongganya. Apa yang diungkapkan EL terdengar sangat indah di telinganya, tapi hal itu justru membuatnya takut. Ia tidak sanggup jika harus ada pria lain yang tewas mengenaskan karena melindunginya.
“EL, kumohon jangan katakan hal itu. Aku tidak bisa..”
“Kak ini semua bukan salah kakak”
Olivia menggelengkan kepalanya, wanita itu terlihat sangat rapuh saat ini, padahal beberapa hari yang lalu dia sudah bisa hidup dengan normal tanpa gangguan mimpi buruk setelah persembahan terakhir yang dia berikan pada Michel, tapi ketika ibu michel datang, semua rasa bersalah itu kembali muncul. Bagai sebuah tayangan film, kenangan itu kembali memasuki kepalanya, kenangan menyakitkan yang membuat Michel harus tewas.
“Aku… aku membunuhnya.” Olivia menggigit bibirnya untuk menyalurkan rasa sakit dalam hatinya. “Du-dua… tahun .. yang lalu, aku… membunuhnya…” Olivia mengucapkan setiap kata dengan terbata-bata. “Michel… aku membunuh Michel” Dengan satu hembusan napas, Olivia menuntaskan kalimatnya. “Dia mati di depanku”
Seiring dengan pernyataannya, Olivia langsung merasa seluruh pertahanannya runtuh. Dua tahun terakhir telah dihabisakan untuk membuat hidupnya tetap bermakna agar kematian Michel tidak sia-sia. Olivia sudah mencoba berbagai cara untuk menjaga kewarasannya, ia bergadang semalam suntuk untuk menghindari bayangan buruk yang menghantui mimpinya ia telah menenggelamkan diri dalam pekerjaannya untuk mengalihkan fokus dari rasa kehilangan, ia bahkan mencoba mencari secuil keindahan hidup dari kesehariannya demi menghindari diri dari depresi, semua itu terjadi sebelum kedatangan EL, dan sekarang ia sudah terlalu letih untuk berdusta. Olivia tidak pernah menyatakan kematian Michel pada siapa pun, termasuk dirinya. Karena ia tahu, detik ia menyatakan hal itu, maka kematian Michel benar-benar menjadi nyata. Wanita itu telah menghabiskan 2 tahun hidupnya untuk berpura-pura bahwa hubungannya dengan michel sedikit ada masalah, hanya kedatangan EL yang perlahan mulai menyadarkan wanita itu bahwa Michel telah tiada.
EL memutuskan untuk menjadi pria yang Olivia butuhkan. Ia menarik tubuh Olivia mendekat pada tubuhnya, kedua lengan kokohnya melingkari tubuh Olivia yang masih bergetar dan ia segera mendekap Olivia erat. Wanita itu menangis, menumpahkan seluruh kepedihannya di pundak EL. Olivia nyaris meraung sambil terus membenamkan wajahnya ke dalam lekukan leher pria yang dengan sabar tetap mendekapnya.
“Aku di sini, kak. Kau boleh menangis sepuasnya. Aku tidak akan pergi kemana-mana.” Bisik EL pelan.
Wanita itu perlahan mengangkat kedua lengannya untuk dilingkarkan di pinggang EL, Olivia memeluk EL erat sambil ia melanjutkan tangisannya. Malam ini, dalam keadaan sadar, Olivia benar benar mengizinkan EL untuk melihat kerapuhan dirinya, untuk mendampinginya. Ia membiarkan pria itu menjadi sandarannya, dan dalam hati ia bersyukur karena pria ini masih tetap berada di sisinya.
__ADS_1
...🐻🐻🐻🐻🐻...