Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
49. Menggoda


__ADS_3

Mata Olivia membelalak kaget, rasanya seperti ada orang yang melumur kan perasan lemon dan garam pada lukanya yang belum kering. Apa yang EL lakukan di hadapannya sekarang sangat mirip dengan apa yang dulu Michel lakukan jika pria itu berhasil membuat Olivia tersenyum. Bahkan kata-kata yang digunakan pun sama—biar aku memotretnya dalam memori ku—dan Michel akan membentuk gestur yang sama dengan yang EL lakukan. Tujuan dan konteks mereka jelas berbeda tapi saat ini, semua terlihat sama di mata Olivia.


 


EL berhenti “memotret” Olivia, ketika dilihat mata wanita itu mulai berair. Apa ia baru saja menggodanya tepat pada titik lemahnya? Mungkin EL harus mencatat hal ini baik-baik, siapa tahu ia bisa menggunakan trik ini lagi jika ia mau membuat Olivia menangis lain kali.


 


Bagaimana pun juga, Olivia bukanlah wanita lemah. Ia berhasil menghadapai pembantaian dan ter*r*sme besar-besaran dalam hidupnya. Ia masih hidup dan meskipun rasa duka masih menyelimuti harinya, Olivia bersumpah untuk tidak terlihat lemah di depan siapa pun—apalagi di depan mahasiswa di hadapannya. Dengan tekad itu, Olivia menutup matanya sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya sejenak.


 


“Baiklah Daniel, kau memenangkan argumen kita. Kau benar, aku tidak punya social skills.” Ia menambahkan senyum pahit, “Aku punya pintar aku punya banyak gelar, dan aku lebih berpengalaman dalam hubungan percintaan, bagaimana seperti ini saja, aku beri kau tantangan, jika kau bisa mendapatkan nilai A dalam kelasku, akan aku katakana semua yang ingin kau ketahui” tantang Olivia.


El sedikit berpikir, dia memandang mata Olivia dengan lekat, “nilai A?”


“Ya, nilai A,dan akan aku jawab semua pertanyaan yang ada dalam otakmu itu” ulang Olivia. “caranya sangat mudah Kau hanya perlu hadir di dua-puluh-delapan pertemuan kita, kerjakan semua tugas yang kuberi, dan merevisi jika kusuruh, Aku selalu memberi kesempatan yang sama pada setiap mahasiswaku, jadi jika kau berjuang sama kerasnya dengan kawan-kawanmu yang lain, maka nilai sempurna sudah di tanganmu, bagaimana EL?” sambung olivia.


“Baiklah, aku setuju” jawab El, pria itu menyodorkan sebelah tangannya untuk berjabat tangan dengan Olivia.


“Oke deal” Olivia menyambut uluran tangan El.


Saat tangan olivia sudah meraih tangan El, pria itu dengan cepat menarik tangan olivia hingga membuat Wanita itu sedikit maju kedepan, wajah olivia hanya berjarak satu jengkal dengan wajah el saat ini.


“Dan kakak Dosen, yang kakak katakana juga benar, aku tertarik pada kakak dosen, dan tidak pernah memiliki pengalaman tentang cinta, tapi kakak dosen harus mempersiapkan hati kakak, karena sebentar lagi aku akan memasuki hati kakak dan mengunci diri di dalamnya, bersiaplah” El mengedipkan sebelah matanya pada Olivia setelah itu dia pergi dari hadapan Olivia.

__ADS_1


‘Bluushh’ Wajah Olivia langsung berubah merah padam, gadis itu terdiam menatap kepergian el yang tiba-tiba dan membuat jantungnya bergejolak, sudah bertahun-tahun dia tidak lagi merasakan seperti itu, dan sekarang bocah 18 tahun itu mampu membuat Olivia Kembali seperti baru pertama kali jatuh cinta.


“Dasar bocah nakal” gumam Olivia pelan sambil menyunggingkan senyuman kecil saat El sudah benar-benar menghilang dari sana.


...🐼🐼🐼🐼🐼...


Aurora sudah bersiap untuk pulang kerja, dia sudah mengganti setelan kerjanya dengan baju yang tadi dia kenakan saat pergi bekerja.


Saat hendak keluar menunggu Al untuk menjemputnya secara tidak sengaja mata Aurora menatap mata kakak Seniornya, Aurora segera mempercepat langkahnya menjauhi pria itu.


“Aurora!” panggil pria itu, tapi semakin pria itu mendekatinya, Aurora semakin mempercepat Langkah kakinya menjauhi pria itu.


"Aurora!" panggil pria itu lagi tapi kali ini dia berhasil menahan lengan Aurora hingga dia tidak bisa mengelak lagi.


"Ada apa pak manager?" tanya Aurora dengan senyum sopan.


"Maaf Pak, kita masih berada di lingkungan kerja, jadi saya harus menghormati bapak" jawab Aurora sopan.


"Ada apa? kau masih marah padaku? marah pada keluargaku?" kata pria itu beruntun.


"Aku tidak pernah marah, dan maaf bisakah bapak melepaskan tanganku" Aurora melirik tangannya yang masih ditahan pria itu.


"Tidak akan sampai panggilanmu berubah" tolak pria itu lagi.


Aurora menghela nafas panjang, "Kak Frans! kita sudah tidak ada hubungan lagi, dan aku tidak mau di pandang sinis dengan teman kerjaku!" akhirnya mulut aurora mengucapkan nama pria yang sejak tadi mengganggu nya.

__ADS_1


Frans pria masa lalu aurora sekaligus mantan tunangan, kenapa di bilang mantan karena mereka pernah dijodohkan oleh orang tua mereka dan berakhir karena kebangkrutan yang di alami keluarga Aurora, Frans yang merupakan orang biasa mulai memperbaiki nama keluarga nya dengan berkuliah di luar negri, dan nama keluarga aurora tidak bisa lagi membantunya untuk naik ke dalam jenjang bangsawan.


kedua orang tua Aurora juga sudah meninggal, karena tidak bisa memberi bantuan apapun lagi kedua orang tua Frans memutuskan pertunangan mereka karena Frans bisa berdiri sendiri tanpa bantuan keluarga aurora lagi.


"Kau masih marah dengan kedua orang tua ku?" ulang Frans dia masih memegang lengan Aurora tapi kali ini lebih lembut.


"sudah aku katakan aku tidak berhak marah!" jawab Aurora ketus dengan mata sinis. kemarin memang dia bisa tertawa lagi tapi saat kedua orang tua Frans kembali menemuinya secara diam-diam dan meminta Aurora menjauhi Frans yang sudah menjadi manager di restoran terkenal itu.


"Aurora!" panggilan Al membuat aurora dan Frans menoleh melihat Al yang duduk di atas motor dengan wajah mengerikan.


"Lepas kak! kalau tidak kakak akan hancur ditangan kekasihku!" gumam aurora pelan.


"kekasih? dia kekasih mu?" beo Frans.


Aurora melotot menatap Frans saat melihat Al mulai tegak dari motornya, "iya! jadi lepaskan!" gadis itu menghentak tangannya dengan kuat dan berlari memeluk tubuh Al yang mulai mendekatinya.


"Kita pulang aja ya" pinta aurora dengan lembut.


"Dia melakukan apa padamu?" tanya Al dingin.


Aurora menggeleng kan kepalanya pelan, tangannya masih setia memeluk Al Agar tidak melangkah mendekati Frans. "Tidak ada apapun, hanya saling sapa aja, ayo Al~ aku lapar"rengek Aurora dengan mata memelas, dia tidak mau terjadi perkelahian di depan tempat dia bekerja apa lagi Al bukanlah pria biasa, Frans akan babak belur dibuat Al.


Al menunduk menatap Aurora, " apa yang kau katakan padanya tadi?" tanya Al tapi kalo ini lebih lembut.


"Jalan saja dulu aku akan membicarakan nya di jalan" ajak Aurora.

__ADS_1


Al akhirnya mengalah dan menggandeng Aurora menuju motornya.


...🐺🐺🐺🐺🐺...


__ADS_2