
“Dan setelah semester ini berakhir, aku akan resign!” Ia mengangkat kedua bahunya kemudian meneguk kembali minuman di tangannya.
Mata EL langsung melotot mendengar pernyataan kekasihnya secara tiba-tiba. El tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Olivia, dan gadis itu dengan mudahnya berkata Resign, EL merasa Olivia tidak memikirkan tentang dirinya saat ini.
“Kalau kau keluar, nasibku bagaimana?” EL menatap Olivia tajam. “Kau adalah orang yang membimbingku untuk menjadi lebih baik, kalau kau keluar, lebih baik aku jug_”
Olivia menjewer telinga EL sambil menariknya kasar, sedangkan yang dijewer sekarang sibuk meringis kesakitan.
“Kau sudah berjanji padaku untuk menjadi orang yang hebat dan juga untuk lulus dengan cepat dan menggapai cita-citamu. Apa kau tipe lelaki yang suka membuat janji hanya untuk kau ingkari saja, hah?”
“Aaa! Kakak sakit!”
“Memang seharusnya kau kesakitan! Apa kau masih mau berbuat onar lagi setelah aku pergi?!” Tekan Olivia.
“Baiklah aku mengerti, aku akan menepati janjiku, berhentilah menjewerku.”
Olivia melepas tangannya dari telinga EL, kemudian memandang ke arah kakinya yang masih bersila dengan tatapan muram. “Ini sangat penting untukku, EL”.
__ADS_1
“tentang apa?”
“Riset ini sudah kuperlakukan seperti anakku, tapi aku rela melepaskannya untuk sesuatu yang jauh lebih baik.” Olivia menolehkan kepalanya ke arah lautan sembari mencoba untuk mengabaikan perasaan sesak yang tiba-tiba menyerang hatinya. “Riset ini muncul dari serpihan kegagalanku, riset ini sebuah penanda bagiku bahwa aku bisa melanjutkan hidup dan riset ini juga yang menjadi landasanku untuk terus bernapas dalam 2 tahun ini”.
“Kalau begitu mengapa kau tidak mau membawa masalah ini ke pengadilan? Apa kau bersungguh-sungguh akan menyerahkannya begitu saja pada profesor Sebastian? Mengapa?”
“Aku punya alasanku sendiri.” Olivia menggelengkan kepalanya. “Tapi aku merasa tenang, karena aku tahu kau akan ikut mempresentasikannya. Setidaknya aku punya satu orang yang bisa kupercaya untuk mengawasi jalannya seminar itu—dan kau harus memastikan bahwa tidak ada yang berubah dari presentasi yang sudah kita siapkan.”
EL diam menatap lekat wajah Olivia yang sedang memandang ombak laut, “Kenapa kau tidak mau mengatakan alasannya padaku?” lirih EL.
Olivia menolehkan kepalanya menatap EL dan sekarang kedua matanya bertatapan dengan manik mata EL, wanita itu merasa bahwa ia harus benar-benar menyampaikan isi hati dan pikirannya pada lelaki di depannya. EL yang dipandangi dengan intens seperti itu justru menjadi semakin salah tingkah.
“Karena aku mencintaimu” ucap olivia dengan suara pelan.
‘deg deg deg’ Jantung EL langsung berdetak keras, setiap mendengar pernyataan cinta dari olivia, pria itu menjadi blank dan tidak bisa berkata apapun.
Olivia menggelengkan kepalanya, “Belum saatnya, umurmu masih belum bisa menerima keputusanku”.
Baru sebentar Olivia membuat EL terbang, namun jatuh kembali karena gadis itu menganggapnya hanya anak kecil, EL ingin gadis itu lebih terbuka padanya, menceritakan semua masalahnya bukan hanya cerita sebait yang membuat hati pria itu mulai hancur.
Mata EL menatap Olivia dengan sendu, “baiklah aku tidak akan bertanya, tapi bisakah ceritakan tentang dirimu lebih dalam padaku? Tentang hal-hal yang tidak aku ketahui”
“Apa yang ingin kau ketahui? Aku sedang bermurah hati hari ini, jadi aku bersedia menjawab beberapa pertanyaan personal.” Ia menolehkan kepalanya untuk memandang El.
__ADS_1
“Pertama-tama, aku ingin tahu bagaimana kau bisa tumbuh menjadi seorang wanita mandiri seperti sekarang?”
Wanita itu tersenyum, walaupun emosi itu tidak sampai pada matanya. “Aku mendapatkan banyak masalah dalam masa pertumbuhanku. Tidak seperti anak-anak kebanyakan, aku berkali-kali di tinggalkan oleh orang tuaku, aku hidup sendiri tanpa bantuan orang tua sejak aku berumur 17 tahun, saat itu aku sudah mendapatkan gelar sarjana dan sedang melanjutkan ke magister” Olivia terdiam sejenak menatap langit malam yang penuh dengan bintang.
“Aku dulu dikucilkan karena caraku dibesarkan berbeda, kawan-kawanku melihatku sebagai anak aneh, karena wajahku dan kedua orang tua angkatku berbeda, bahkan warna rambut kami juga berbeda, aku terlalu malas meladeni teman-teman sekolah hingga aku tumbuh hanya dengan membaca buku, tanpa sadar aku sudah bisa menguasai semuanya dan mencoba melompati beberapa kelas, yang aku pikirkan hanya belajar dan cepat mendapatkan pekerjaan impianku agar bisa membuat kedua orang tua angkatku bangga”
EL masih memperhatikan omongan Olivia dengan seksama, perlahan ia menyadari bahwa sinar mata wanita itu meredup saat ia membicarakan tentang masa lalunya.
“Aku menjadi pribadiku yang sekarang karena berbagai benturan yang harus kuhadapi sejak dulu. Terkadang makna hidup tidak kau dapatkan dari memori yang indah, tapi justru dari memori pahit yang mengajarkamu untuk terus bangkit.” Ia bangun dari posisinya untuk duduk sambil memeluk lututnya sendiri.
Olivia mencondongkan badannya kearah EL yang tadi secara sembunyi sembunyi mengambil botol champagne dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. “Sekarang izinkan aku untuk menghabiskan seluruh isi botol minuman ini dan aku minta maaf sebelumnya jika nanti aku mabuk dan merepotkanmu—aku benar-benar butuh membebaskan pikiranku sekarang EL”.
EL bisa menghirup aroma musk yang segar dari tubuh Olivia yang sekarang nyaris berhimpitan dengannya, tindakan sederhana dari wanita ini saja sudah berhasil membuat jantungnya siap melompat keluar dari rongga dadanya. Otak pria itu masih bertanya tentang alasan yang membuat kekasihnya menjadi sekacau itu.
Olivia memiringkan botol hingga nyaris membentuk garis vertikal di atas wajahnya agar ia bisa menegak seluruh isi minuman berbuih itu, dalam hati sesungguhnya ia berharap EL membawa lebih dari satu botol sehingga Olivia bisa benar-benar puas bermabukan. Bisa dikatakan malam ini adalah hari pertama Olivia benar-benar lepas kontrol sejak kejadian tragis yang menimpanya beberapa tahun lalu. Setelah usaha kerasnya dirampas oleh atasannya sendiri, Olivia merasa bahwa ia pantas menyalurkan rasa frustasinya lewat alkohol.
Wanita itu mendesah tajam seketika seluruh cairan di dalam botol telah habis diteguknya. Masih kurang, pikirnya. Ia ingin benar-benar melupakan seluruh kegetiran dalam hatinya, ia ingin melupakan kekhawatiran dan memori buruknya. Ia sudah letih karena harus terus-terusan dihantui mimpi buruk itu. Ada bagian dari dirinya yang menuntut untuk melupakan adegan-demi-adegan sadis yang telah merampas kebahagiannya, tapi pada saat yang bersamaan, ia pun tidak ingin Michel meninggal sia-sia untuknya—wanita itu sadar, jika ia melupakan kenangannya, maka Michel pun benar-benar akan pergi untuk selamanya. Dalam usahanya untuk menjaga memori mereka, Olivia lupa untuk mengurus dirinya sendiri, ia lupa untuk menjaga perasaannya, dan hasil akhirnya jelas ia lupa cara untuk menjadi bahagia.
Dan ia merasa perlu seseorang untuk mengingatkan arti dari kebahagiaan itu sendiri.
__ADS_1
“EL~” Ujar Olivia yang semakin mabuk, “Apa yang bisa membuatmu bahagia?”
...🐺🐺🐺🐺🐺...