Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
74. Pesta


__ADS_3

Sekitar jam 4 pagi El baru bisa tenang karena sakit diperutnya sudah menghilang, padahal dia tidak makan obat apapun. Pria itu memilih menunggu bebarapa jam berlalu untuk menelpon Ay, karena sejak tadi teleponnya tidak di angkat.


“kamu udah gak sakit lagi EL” tanya Olivia khawatir.


“gak apa kak, perasaanku hanya cemas, aku yakin terjadi sesuatu pada adikku” ujar EL.


“Sebaiknya kamu gak kuliah aja hari ini, aku kasih izin gak datang” ujar Olivia.


El menggelengkan kepalanya, “gak, aku akan menelpon Ay sekali lagi, setelah itu aku akan siap-siap untuk kuliah” setelah berucap seperti itu El menelpon Brian, karena sejak tadi ay tidak bisa dihubungi.


“halo abang EL” jawab Brian.


“AY mana?!” seru EL cepat begitu mendengar jawaban Brian.


“Ay Tidur” ujar brian.


“AY mana?!” seru EL sekali lagi dia yakin adiknya itu tidak tidur, El tau ada yang di sembunyikan brian darinya, tadi El sempat mengecek lokasi keberadaan Ay sebelum menelpon brian dan pria itu sedikit terkejut begitu melihat lokasi Ay yang berada di rumah sakit.


“Tidur”


“Tidur di rumah sakit? Dia pingsan karena kamu! Atau kamu memukulnya?!” bentak EL, pria itu sudah mulai emosi menerima kebohongan yang keluar dari mulut brian.


“DIa kelelahan, makanya aku bawa dia kerumah sakit” ucap brian akhirnya.


“makanya kasihkan ponsel ini pada ay! Aku tau dia belum tidur!” bentak EL.


Tidak lama El akhirnya mendengar suara Ay dari dalam ponselnya.


“ya bang, kenapa?”


“kamu gak apa dek? Perut kamu kenapa?” tanya EL langsung, olivia yang sejak tadi melihat kepanikan dan kemarahan EL hanya bisa tersenyum melihat kontak batin saudara kembar itu, sekarang dia tau kenapa EL bilang adiknya yang bermasalah.


“Perut? Perut ay tidak kenapa-kenapa” balas ay tenang.


“Abang ngerasain perut bagian bawah abang sakit, tadi abang telepon Al juga begitu, dia merasa sakit perut saat malam menjelang pagi, apa terjadi sesuatu padamu dek?” tanya el.


“Gak apa bang, itu insting abang salah”

__ADS_1


EL yakin ada yang di sembunyikan oleh Ay, dia akan mencari tau nanti, dia akan menyuruh al untuk pergi kerumah sakit tempat adiknya dirawat.


“Yakin kamu? Apa mau abang bilang ke daddy?” ancam EL, dia ingin mengetahui kebohongan adiknya.


“Benaran bang besok juga ay pulang ke rumah”


Mendengar jawaban ay yang satai EL menjadi sedikit tenang.


“Kenapa sampai besok? Tidak sekarang aja? Kalau memang tidak apa?”


“Gak tau nih suami ay lebay banget kak, dia nahan ay untuk pulang, Cuma karena liat ay pucat dan gak mau makan seharian, jadi ay di infus”


“kenapa gak mau makan sih dek? Abang dengar dari Al, kamu akhir-akhir ini sulit makan, kangen masakan mommy?” suara El mulai melembut tidak sepanik tadi.


“gak tau bang, mungkin bawaan dedek bayi kali”.


Mendengar jawaban Ay, EL langsung melotot dan tegak dari posisi duduk.


“dedek bayi? Kamu hamil sayang?”


“hehehe iya bang, baru tau pas dibawa kerumah sakit, soalnya kak brian khawatir ay gak mau makan terus” ay emang sengaja memberitahu pada EL bahwa dirinya berbadan dua.


“Gak perlu bang, abang fokus aja kuliahnya, dedek bayi cuma pengen liat foto abang bareng kakak cantik, itu aja”


Terdengar suara tawa kecil dari El.


“jadi ngidam ni dek? Nanti abang coba tanyain ya”


“iya bang”


“Ya udah, kamu istirahat aja biar abang yang kasih tau Al tentang ini”


“jangan kasih tau daddy dan mommy dulu ya, ay pengen buat kejutan” jawab ay.


“Iya, kamu harus dengarin kata kak brian, abang tutup dulu” setelah berkata begitu el menutup teleponnya.


El langsung memeluk Olivia setelah mematikan ponselnya. “Adik gue hamil kak” seru pria itu.

__ADS_1


Olivia mengelus punggung El dengan lembut, “selamat ya, jadi sakit karena adik kamu? Bukan karena yang lain?”


EL mengangguk pelan “iya, dan sekarang Ay ngidam pengen liat foto kita berdua”.


“hmmm susah nih, aku gak suka di foto” canda Olivia.


‘cup’ El mencium bibir Olivia dengan lembut, “harus mau, kalau gak akan aku lakuin hal labih dari sekedar ciuman” ancam EL dengan seringai nakalnya.


...🦊🦊🦊🦊🦊...


Hari demi hari berlalu, tidak terasa sebulan sudah El mendapatkan kabar dari ay yang akan menjadi seorang paman.


Malam ini adalah acara tahunan yang diadakan oleh rector kampus, hampir semua dosen ikut dalam acara makan malam itu. Dan beberapa mahasiswa dan mahasiswi berprestasi juga ikut ke dalamnya. Event ini diadakan agar semua dosen dan karyawan kampus semakin dekat dan kompak, serta perayaan penghargaan bagi dosen-dosen yang memberikan dampak positif pada kampus itu.


Olivia, EL dan Lana baru saja menuntaskan seluruh file dan eksplorasi yang harus mereka tuntaskan dua hari yang lalu, dan ketiganya akan pergi ke Kopenhagen minggu depan. Waktu tidur yang layak sudah tidak lagi didapatkan Olivia karena ia berniat mengerahkan seluruh usaha terbaiknya untuk seminar yang akan datang, serta melakukan satu misi rahasianya—yaitu untuk menggali potensi EL ke level maksimum. Olivia tidak salah menilai potensi EL, lelaki itu jelas sangat jenius, ide-ide yang dimilikinya inovatif dan ia tidak pernah patuh pada standar yang ada, sehingga terkadang pemikirannya terdengar mengada-ngada—padahal jika ditelusuri dan dicari jalan keluarnya, ide EL justru menjadi sangat brilian.


Acara itu sangat meriah karena dihadiri oleh orang-orang penting seperti para sponsor kampus dan orang-orang hebat lainnya.


“Kakak~” suara bisikan EL membuat Olivia yang sedang duduk di luar gedung menikmati makanannya terkejut. Pria itu sama sekali tidak melihat tempat dan waktu untuk mendekatinya, El terlihat tidak peduli jika ada yang melihat kebersamaan mereka apa lagi status mereka.


“EL! Menjauh dariku, orang-orang akan berpikir aneh jika kamu berbicara berdua seperti ini denganku” ancam Olivia.


EL menghela nafas panjang, “sampai berapa lama lagi sih, kita harus menyembunyikan hubungan kita? lagian ini di luar kak, acaranya di dalam” gerutu EL.


“EL, kamu mahasiswa dan aku adalah dosenmu? Umur kita beda jauh, apa kata orang jika melihat hubungan kita? Udah sana nanti aku akan kasih hadiah dirumah” ujar Olivia pelan.


“baiklah~ tapi, apa kakak tidak kesepian menikmati makanan kakak sendirian disini?” tanya EL.


“Dasar bocah, tau apa kamu aku kesepian, sana pergi” usir Olivia sekali lagi.


“Oke, tapi bukankah kakak harus segera masuk ke dalam?”


“kau benar, Aku harus masuk, Kalau menurut jadwal susunan acara, seharusnya namaku akan segera dipanggil.” Ujar Olivia.


 “Baiklah, ayo kutemani” El tersenyum lebar sambil mengulurkan tangannya pada Olivia.


“EL!” peringat Olivia.

__ADS_1


Al segera menarik tangannya kembali, “aku hanya mencoba, siapa tau kakak tertarik, ya sudah aku akan berjalan di belakang kakak saja”.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


__ADS_2