Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
35. Sarapan


__ADS_3

Aurora bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan, memang tidak di haruskan tetapi Aurora tidak mau di anggap hanya menumpang secara gratis, jadi dia sengaja lebih cepat bangun, agar tidak menyusah ay dan Al, dia juga belum bisa ikut menyumbang dalam membayar sewa.


Aurora terdiam saat melihat kulkas, pikirannya kembali terbayang ciuman Al dibibirnya, dan bisa-bisanya dia menerima ciuman itu bahkan Aurora mengalungkan tangannya pada leher Al.


‘Ceklek’ Aurora langsung membuka kulkas beritu terdengar bunyi pintu yang di buka.


“pagi au” sapa Al dengan suara beratnya pria itu baru saja terbangun dan langsung keluar kamar, ini pertama kalinya dia menginap di apartemen bersamaan dengan Aurora yang tinggal di sana.


“Pa-pagi” jawab Aurora sedikit gugup, bagaimana tidak gugup Al masih tampak memejamkan matanya sambil garuk-garuk tengkuknya, pemandangan yang pertama kali Aurora lihat, jika aurora adalah fans atau pacar Al maka dia akan langsung berlari memeluk tubuh jangkung itu.


Al berjalan mendekati aurora yang berdiri di dekat kulkas, “kau mau kucium lagi, lama-lama membuka kulkas” goda Al dengan sedikit membuka matanya.


“A-Apaan sih al! sana mandi! Bau tau!” elak Aurora sambil berusaha mendorong tubuh Al untuk kembali memasuki kamar.


“Bentar au, ay mana?” tanya Al, badannya sama sekali tidak bergerak padahal Aurora sedang mendorong punggungnya agar berjalan menuju kamar.


“masih tidur, ini masih pagi juga” ucap aurora.


“kalau gitu morning kiss boleh dong” goda Al dengan senyum menggodanya.


‘Plak’ kali ini Aurora melayangkan pukulan pada punggung Al, “apaan! Kita gak ada hubungan apapun ya! Morning kiss? Enak aja!” gerutu Aurora sebal ditambah malu.


“Sekali aja au, sebelum ay bangun” pinta el lagi.


“Gak ada! Enak aja aku buk_” ucaoan aurora terhenti karena Al sudah menempelkan bibirnya pada bibir aurora, dan setelah itu Al lari terbirit-birit meninggalkan aurora yang terkejut mendapatkan morning kiss di pagi hari.


Aurora diam dan memegangi bibirnya yang baru saja dicium al, pria itu memang seenaknya saja, nanti dia ngambek kalau aurora menolak ciumannya, entah apa hubungan mereka, tapi aurora memang tidak bisa menolak ciuman itu, bukan karena dia takut al marah tapi aurora mulai ketagihan dengan ciuman dari Al.


“Dasar playboy! Sudah berapa banyak wanita yang dia permainkan hatinya” gerutu Aurora sambil mulai memotongi sayuran untuk sarapan pagi.


.


Sekitar 20 menit kemudian Al kembali keluar sudah lengkap dengan pakaian kuliahnya, “Au udah siap sarapannya?” tanya al, dia bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi tadi.


“Ini” aurora meletakkan nasi goreng lengkap dengan telor dan juga cornet dihadapan Al.


“Waahhh tau aja aku lapar banget” ucap Al.


‘Ceklek’ Al dan aurora sama-sama menoleh melihat pintu kamar yang dibuka, tampaklah kembaran al sedang berdiri di sana, Ay berdiri sudah sangat rapi dan lengkap dengan atribut untuk MOS.

__ADS_1


“Ay mau kemana?” tanya al yang sedang duduk di meja makan.


“Ay ma uke rumah Om brian, sarapan di sana, kan ay diantar om brian” ucap ay dengan sangat bersemangat.


Al menghela nafas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah saudara kembarnya itu.


Ay berjalan mendekati abang kembarnya mencium pipi kanan Al lalu berlari pergi dari sana, “bye bye bang! Jaga au baik-baik, kalau lecet ay minta tanggung jawab!” teriak Ay sebelum benar-benar menghilang.


“Tanggung jawab? Tanggung jawab apaan?” ujar Aurora panik setelah mencerna ucapan dari Ay.


“tanggung jawab buat nikahin kamu lah” komentar al sambil memasukkan satu suap nasi goreng kedalam mulutnya.


“enak aja! Siapa yang mau nikah sama kamu! Aku mah ogah” elak Aurora.


“Jangan bilang gitu, benci sama cinta itu beda beda tipis loh, banyak yang mengantri buat menjadi istri aku” kekeh al.


“itu mah mereka, aku gak mau ya, dapat barang bekas” ujar Aurora.


Al menghela nafas panjang, “sudah berapa kali aku bilang, aku belum pernah berciuman dengan para kekasihku” ucap al tegas.


“Aku gak percaya” ujar aurora.


“ya udah terserah mau percaya atau enggak, cepat kita pergi kuliah” al segera berdiri begitu makanannya sudah habis.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...


‘kruuuyuukkk’ Saat sedang mengeringkan rambut El, tiba-tiba perut El berbunyi nyaring membuat Olivia tertawa pelan.


“itu bukan berasal dariku” elak El, dia malu telah ketahuan belum makan dan sedang kelaparan.


‘Kruuyyuukkkk’ kembali perut el berbunyi nyaring.


“hahahha” Olivia tidak dapat menahan tawanya lagi, gadis itu mematikan hairdryer ditangannya dan mengacak rambut el yang sudah kering. “ayo kita makan” ajak Olivia.


“bukan aku kak” elak El, dia malu kenapa perutnya harus berbunyi di saat yang tidak tepat.


“Iya-iya bukan kamu, dasar anak kecil” ledek Olivia sambil menarik tangan El yang tidak sakit.


Sementara el hanya diam mengikuti Olivia yang menariknya menuju dapur.

__ADS_1


“nah makan” Olivia mendudukkan El di kursi tepat dihadapannya, gadis itu juga makan di depan El.


“makasih kak” ucap El tulus.


Olivia memperhatikan el yang makan menggunakan tangan kiri, pria itu tampak kesusahan, bahkan banyak yang tumpah. “kemarikan sendoknya” ucap Olivia.


El menatap olivia dengan wajah datarnya, “hhaaa?” bengong nya.


“Kemarikan, kalau kau makan seperti itu gak bakalan kelar” Olivia merebut sendok di tangan el dan menyuapkan El makanan yang dia buat. Diam-diam El bersorak Bahagia karena sekali lagi berhasil menipu kakak dosen itu.


“Emang masih sakit banget ya tanganmu?” tanya Olivia sambil melihat tangan El yang diperbannya tadi malam.


El mengangguk cepat dan mengangkat tangan yang diperban itu, “masih kak”.


“nanti habis makan aku ganti perbannya ya” ujar Olivia, selain dia ingin memeriksa apa El berbohong olivia juga merasa curiga kenapa tangan el tidak bisa digerakkan sama sekali.


El mengangguk mengiyakan, “silahkan saja, tadi pagi aku sudah menghantam ke dinding dan menambah gigitan pada tanganku” batin El. Pria itu masih belum mau sembuh, dia ingin Olivia terus merawatnya seperti ini.


.


Saat diobati kembali olivia semakin bingung melihat tangan El yang masih memerag dan bahkan terlihat lebih parah dari kemarin malam. “kok bisa?” gumamnya pelan sambil mengoleskan antiseptic dan obat merah pada tangan el.


“kakak rabies ya?” celetuk El.


‘plak’ dengan cepat tangan Olivia melayang pada bahu El, “enak aja! Aku bukan hewan!” maki Olivia kesal.


“Syukur deh, tapi tanganku kok belum sembuh juga ya kak?” tanya El dengan wajah tanpa ekspresinya.


Olivia menatap wajah el yang tidak bisa terbaca, “bawa kerumah sakit aja gimana?” tawar Olivia.


“kakak siap jadi tersangka, nanti kakak dikira rabies loh sama orang rumah sakit” celetuk el.


‘plak’ sekali lagi tangan Olivia melayang memukul bahu El.


“Kak! Sakit, suka banget sih penganiayaan, udah berapa kali kakak pukul, kalau aku buka baju akan terlihat lebam lebam disekujur tubuhku akibat ulah kakak” gerutu el.


“Dasar lebay!” balas Olivia sambil terkekeh pelan.


...🌜⛈️⛈️⛈️⛈️🌛...

__ADS_1


__ADS_2