
Aurora memeluk erat Al yang sedang mengendarai motor, gadis itu tau Al sedang marah saat ini. Aurora kembali teringat dengan kemarah Al yang membuat pria itu pergi dari apartemennya sendiri, dan itu karena hal yang sama dengan saat ini.
*Flashback ON*
Aurora tidak bisa tidur dia terus melirik jam di kamarnya, cemas, takut, marah, semua itu dia rasakan hanya untuk satu pria tidak lain tidak bukan dialah Danial, Pria yang memang sudah menempati hatinya tapi Aurora tidak ingin mengungkapkan perasaanya begitu saja, dia takut, terlalu takut untuk mengakui bahwa dia mencintai Al.
Dulu Aurora pernah jatuh cinta, cinta masa kecil dan didukung oleh kedua orang tuanya, namun sayang cintanya harus hancur karena ternyata kejatuhan keluarganya membuat keluarga pihak pria menghentikan perjodohan.
‘Ceklek’ pintu apartemen terbuka, Aurora yang sejak tadi waspada dengan suara apapun langsung membuka pintu kamarnya, Al tampak berdiri di depan pintu dengan wajah datarnya.
Tanpa peringatan Aurora langsung lari memeluk pria itu.
Sebuah senyuman muncul di bibir Al, saat gadis yang dia cintai langsung memeluknya. “Sudah dapat jawaban dengan pertanyaanku?” suara Al keluar, pria itu masih tidak mau membalas pelukan Aurora, dia ingin gadis itu menjawab pertanyaan yang selama ini dia tunggu.
“Al jahat!” isak Aurora. Gadis itu mulai menangis karena perlakuan Al, bukannya dia tidak mau menjawab tapi ini menyangkut hatinya, jika dia menjawab apa tidak aka nada masalah ke depannya? Apa keluarga al akan menerima dia yang tidak punya orang tua dan miskin.
“Jahat? Aku hanya bertanya apa kamu menerimaku menjadi kekasih atau masih menggantungku?” Ujar Al dengan nada datar.
Aurora melepaskan pelukannya dari pria itu, “Baiklah, Aku akan mengatakannya!” teriak aurora.
Hampir saja bibir Al menyunggingkan senyuman, tapi dia tahan sebelum gadis itu benar-benar mengutarakan isi hatinya.
“Aku menyukaimu, tapi…” Aurora menggantung ucapannya.
“tapi?” Al hampir saja bersorak senang namun mendengar kata tapi dia menjadi bingung.
“Aku tidak mau tersakiti lagi, bisakah beri aku waktu sampai aku bertemu dengan orang tuamu?” pinta Aurora.
“kenapa harus seperti itu?”
“Al! sebenarnya aku sudah tidak mau menjalin hubungan seperti pacaran, aku miskin tidak punya waktu untuk memikirkan tentang berpacaran, tujuanku saat ini hanya belajar dan bekerja, bagaimana aku bisa hidup untuk hari esok, kamu datang dan mulai menghancurkan semua planningku, tidakkah kamu jahat?! Muncul secara mendadak memporak poorandakan isi hatiku dan marah begitu saja, kamu egois, keras kepala, dan pemaksa tapi kenapa justru bisa masuk ke dalam pikiranku? Aku tidak mau berpacaran jika nantinya akan membuat aku sakit hati lagi dengan sebuah penolakan, kita bukan anak kecil yang akan terus berpacaran, kita pasti ingin menikah, tapi pernikahan perlu izin dari orang tua, apa orang tuamu mau menerima keadaanku?” Aurora mulai mengeluarkan uneg uneg yang selama ini dia tahan.
Al memang egois dan keras kepala, dia juga terlalu terburu-buru untuk menjadikan Aurora kekasihnya.
“kamu menyukaiku? Tapi tidak mau menerima aku sebagai kekasihmu?” Al menarik kesimpulan dari pernyataan yang telah aurora sampaikan.
Sebuah anggukan pelan Al dapatkan.
“Jika sudah dapat persetujuan orang tuaku, kamu mau menerimaku? Atau kita langsung menikah?” Tanya Al.
Aurora diam, dia tidak ingin langsung menikah masih banyak yang ingin dia lakukan.
Melihat keterdiaman Aurora, al mengulangi pertanyaannya, “kamu akan menerimaku jika orang tuaku mengizinkan?” Al meralat pertanyaan yang dia berikan.
Kali ini Aurora mengangguk.
__ADS_1
“baiklah, tapi jangan pernah bicara dengan lelaki, atau dekat dengan lelaki manapun selama kamu menggantungku” putus Al.
“Semua lelaki?”
“Iya semua, jika ada yang mendekat dan berbicara padamu ceritakan padaku apa saja” ucap Al lagi.
“kau juga harus begitu” ancam balik aurora.
“Oke” akhirnya bibir itu menyunggingkan senyuman.
*Flashback OFF*
Al dan aurora masih diam selama perjalanan menuju aparetemen hingga sampai di parkiran motor.
“Katakan siapa pria itu dan kenapa dia menahanmu?” al akhirnya bertanya juga saat motor itu sudah berhenti dan Aurora sudah turun menunggu dirinya.
“Fans kakak kelasku sekaligus mantan tunanganku” jawab Aurora, dia harus menepati janjinya dengan al, bisa bahaya jika pria itu kembali mengamuk.
Urat-urat Al mulai keluar ketika Aurora baru mengatakan pria yang sudah membuat dia 2 kami emosi.
“mantan tunangan? Apa yang kalian bicarakan?” al berusaha menahan amarahnya saat ini.
“Tidak ada hal penting, dia hanya bertanya apakah aku masih marah dengan keputusan orang tuanya? Itu saja” jelas aurora.
“keputusan apa?”
“hanya itu?” tanya al lagi.
“Iya aku mengatakan tidak marah dan dia bertanya siapa kamu” ungkap aurora.
“lalu kamu menjawab apa?” Al menatap mata aurora lekat-lekat, tapi gadis itu berusaha mengalihkan pandangannya dari mata Al. “jawab Au!”
“kekasihku!” wajah aurora sudah semerah tomat, sementara Al mengulum senyum melihat Aurora yang tidak mau menatap matanya dan wajah memerah.
‘Cup’ Mata Aurora melotot saat merasakan bibirnya secara tiba-tiba di kecup oleh Al.
“Gadis pintar” puji Al, “itu hadiah” tambah al.
‘Bluush’ mata aurora melotot, gadis itu dengan cepat menutupi bibirnya dengan tas yang dia kenakan, “Al menyebalkan” bentak Aurora, dia berbalik dan berlari meninggalkan al yang sedang tertawa di parkiran motor.
“Au! Tunggu aku!” teriak al dengan tawa bahagianya.
“Gak mau!” bentak aurora.
“Kekasihku! Jangan malu!” kekeh al lagi.
__ADS_1
“AL! hentikan! Itu memalukan!” pekik Aurora.
“Tapi aku suka!” al masih tertawa Bahagia, mengejar aurora yang sudah seperti kepiting rebus.
...🐯🐯🐯🐯🐯...
‘Ting tong’ ‘ting tong’
Olivia berjalan menuju pintunya melihat siapa yang menekan bel pintu apartemen saat malam hari.
“Kakak Do_” baru saja Olivia melihat wajah El, pintu langsung ditutup kembali oleh olivia hingga ucapan yang keluar dari mulut El tertahan.
‘Brak’
“Kak! Buka!” teriak El yang berada diluar.
‘ceklek’
“mau apa?” tanya Olivia ketus.
“tanganku masih sakit” El kembali menunjukkan tangannya yang masih diperban, bagaimana mau sembuh, baru sehat sudah dibawa untuk bertarung berkali-kali.
“Sudah habis waktunya, itu sakit bukan karena kesalahanku” ketus Olivia.
“Kita kan tetangga, sesame tetangga saling menolong, aku lapar kak” rengek EL, pria itu sudah memutuskan untuk mengejar Olivia apapun yang terjadi, hanya berhenti saat tunangan olivia benar-benar muncul dihadapannya.
“Aku bukan tetangga yang baik , seperti katamu sosial skill ku tidak bagus, aku gadis yang introvert” ketus Olivia.
“Heiii, ayolah kak, masak seperti itu saja di masukkan ke dalam hati?” bujuk El.
“kamu punya dua kepribadian ya?” tanya Olivia, dia bingung pria didepannya ini kadang seperti anak kecil, kadang dingin menyebalkan, tapi terkadang hangat dan dewasa.
“kak aku lapar” rengek EL dengan mata memelas, “bukankan kakak, dosenku? Apakah tega melihat mahasiswanya kelaparan?” mengabaikan pertanyaan tadi El kembali membujuk gadis itu agar bisa di manja kembali.
Olivia menatap sinis El, lalu membuka pintu rumahnya dengan lebar, “hanya sampai tanganmu sembuh” ketus nya.
“Yee~ baiklah” El langsung masuk ke dalam apartemen Olivia.
“dasar berkepribadian ganda” gumam Olivia.
“Haaa? Kakak bilang apa tadi?”
Olivia menggelengkan kepala, “tidak ada, cepat masuk dapur sana” perintah olivia.
“Oke”
__ADS_1
... 🦁🦁🦁🦁🦁...