Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
104. Tidur Bersama


__ADS_3

Olivia mengangguk, “Aku janji, EL. Aku janji untuk percaya padamu.”


El tersenyum sambil menatap mata Olivia, “Dan aku berjanji untuk memberikan yang terbaik Kak. Aku akan menjadi pria yang pantas berdiri di sisimu.” Ia menundukkan kepalanya sejajar dengan wajah Olivia untuk menyapukan bibir mereka kembali.


menutup kelopak matanya sambil menikmati ketulusan yang EL sampaikan melalui sentuhannya. Wanita itu sangat bahagia detik ini, meskipun pertemuan mereka tadi di awali dengan acara berkabung, EL lagi-lagi telah membuatnya merasa nyaman. Pelukan pria itu menyampaikan lebih banyak makna ketimbang kata-katanya, dan kebahagian yang dirasakannya kini justru lagi-lagi membuat matanya panas.


 


Olivia membalas kecupan EL sebelum ia menarik wajahnya menjauh, ia memilih untuk menyatukan kening mereka. “EL, aku takut.” Akunya.


 


“Apa yang kau takutkan?”


 


“Aku terlalu bahagia sekarang, aku takut ini akan direnggut lagi dariku.” Bisiknya pelan bersamaan dengan air mata yang jatuh mengalir di pipinya.


 


EL menghapus jejak air mata di wajah Olivia dengan sabar sambil memberikan senyum tulusnya. “Apa kau takut yang kita miliki ini hanya sementara? Kau takut akan pergi darimu?”


 


Olivia mengangguk, “seminggu terakhir ini bisa dikatakan waktu-waktu di saat aku merasa sangat kesepian. Aku benci mengakui bahwa aku merindukan perlakuanmu padaku, semua ucapanmu dan kehidupan kita sehari-hari. aku merindukan kehadiranmu, aku rindu wajah ini yang selalu meledekku tapi juga memandangku dengan tatapan yang hangat. EL, sebelum segala sesuatu menjadi runyam, jika memang kau tidak siap dengan kekacauan hidupku, lebih baik kau mundur sekarang, karena aku tidak tahu sehancur apa hatiku nanti jika kau pergi di saat aku sudah benar-benar tergantung padamu.”


 


“Hey, itulah yang kuharapkan.” Balas EL, “Bukan aku berharap menghancurkan hatimu, tapi aku berharap kau mau bergantung padaku, biarkan aku menjadi sandaranmu, Kak. Aku ingin kau hanya memandangku saja. Jalanku untuk membuktikan diri memang masih panjang, tapi aku janji akan melakukan yang terbaik untukmu,aku bersumpah hanya ada kau di hatiku, Aku serius dengan perasaanku.”


 


Olivia terkekeh pelan. “Kau tahu apa yang lucu? Pesan yang kau kirim itu benar-benar membuatku merasa seperti baru dicampakkan.”


“bukan aku yang mengirimnya” ralat EL.


“hahahha iya aku tau, aku terlalu ceroboh, kenapa aku tidak menelpon dulu malah langsung mendatangimu, makanya aku bilang itu lucu.” Olivia kembali bersandar pada EL sambil melingkarkan kembali lengannya diseputar pinggangnya. “Kurasa aku terlalu nyaman dengan keberadaanmu di sekitarku, membuat aku tidak ingin jauh darimu, dan tidak ingin memikirkan perbedaan usia kita”.


“Sudah aku bilang jangan bahas soal umur, kalau bisa di minta aku mau lahir lebih dulu dari kakak, jadi aku tidak perlu memanggilmu kakak”


“iya iya maaf, tapi kau bisa memanggil namaku el, tanpa embel embel kakak, oliv atau alexa, atau sayang” Olivia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang El karena malu mendengar ucapannya sendiri.

__ADS_1


Sementara EL sudah tidak bisa menahan cengiran lebar pada wajahnya, “Kak, apa kau bisa mendengar detak jantungku sekarang?”


Olivia memindahkan posisi kepalanya pada bagian dada kiri EL, menikmati degupan cepat yang muncul dari dalam rongga dada pria itu. “Sejujurnya, detak jantung kita saat ini tidak jauh berbeda.”


 


“Biar kuperjelas untukmu.” EL menepuk punggung Olivia pelan dengan satu tangan sementara tangan lainnya membelai rambut panjang wanita itu. “Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini pada seorang wanita yang benar-benar kukagumi. Jadi kumohon, jagalah hatiku, kau sedang menggenggamnya sekarang dan semua yang akan terjadi padaku tergantung padamu.” Lanjut EL.


 


Olivia mengangguk. “Hatiku juga sedang dalam proses penyembuhan, EL. Kumohon jangan hilang kesabaran untuk menunggunya benar-benar sembuh.”


 


“I’ll give you all the time in the world, my love”


...🙊🙊🙊🙊🙊...


Al begitu bahagia saat ini, ia merasa sedang mendapat keberuntungan double sekarang. keberuntungan hidupnya itu muncul dalam wujud wanita yang kini terbaring lelap dalam pelukannya. Aurora berbaring di atas ranjangnya, menyandarkan kepala pada dadanya sambil lengan mungil wanita itu memeluk Al di sekitar pinggangnya. Setelah acara makan malam kedua pasangan itu lanjut menonton film di apartemen Al dan Aurora ketiduran, hingga membuat Al harus mengangkat gadis itu ke atas tempat tidur, tapi saat al mau pergi, Aurora malah menarik tubuh pria itu untuk tidur bersamanya, dan sekarang disini lah al, pria yang tidak pernah macam-macam dalam hidupnya pertama kali tidur bersama seorang wanita yang sangat dia cintai.


Pria itu mengangkat lengannya untuk menyibakkan rambut Aurora yang menutupi wajahnya, tangan satunya mengusap lembut punggung wanita itu. Aurora menguap pelan dari tidunya, kemudian menanamkan kepalanya lebih dalam pada dada Al.


...🙉🙉🙉🙉🙉...


Tidak jauh beda dengan Aurora dan Al, Olivia dan EL juga berada dalam posisi yang sama, EL seperti biasa selalu menemani Olivia tidur, tapi perbedaan kali ini Olivia tidur di kamarnya bukan kamar olivia lagi.


Olivia sedikit terusik dengan cahaya matahari yang mengganggu tidurnya.


“Apa kau sudah bangun?” Bisik EL, takut kalau-kalau wanita itu ternyata masih lelap, pria itu sudah lama terjaga dan menikmati wajah tidur Olivia di dalam dekapannya.


 


“Ng.”


 


“Bagaimana perasaanmu?”


Olivia bergeser dari dada EL kepada bantal yang ada di sampingnya, wajahnya langsung dibenamkan di dalam bantal sambil mengguman pelan, “Aku malu.”


 

__ADS_1


EL terkekeh geli, ia merubah posisinya ke samping untuk memandang Olivia, menahan kepala dengan sikunya sendiri. “Mengapa kau malu? Kita tidak melakukan apa-apa semalam, kita masih berpakaian utuh, mengapa kau malah tersipu seperti ini, ng?” jemarinya mengusap wajah merona Olivia lembut.


 


“Ng.” Balas Olivia ragu sambil mengintip dari balik bantalnya—sekaligus menikmati pemandangan tampan yang terhidang di hadapannya. “Aku menyatakan perasaanku padamu semalam, itu kan memalukan.”


“Jadi kau ingat?” Sindir EL.


“Aku ingat semuanya.” Olivia mencari posisi nyaman di bantalnya agar bisa memandang wajah tampan EL dengan lebih leluasa. “Maafkan aku.”


 


“Untuk?”


 


“Drama yang kubuat semalam.” Wanita itu berbaring terlentang sembari memandang kosong pada langit-langit kamar EL. “Aku pun tidak bisa berjanji kalau drama itu akan menjadi yang terakhir.”


 


Pria itu tersenyum simpul, “Aku akan lebih mempersiapkan diri lain kali.”


 


Olivia menggeser posisinya lebih dekat pada EL dan pria itu otomatis membuka lengannya agar Olivia bisa berbaring di atas bahunya dengan nyaman.


El mempererat pelukannya dan mengecup kening Olivia.


Olivia tersenyum senang dan semakin mempererat pelukannya pada EL. “besok kita berangkat ke rumahku”


“rumah? Mau apa?”


“memperkenalkamu pada orang tuaku” ujar EL.


Olivia sedikit mengangkat kepalanya untuk melihat wajah EL, “harus besok? Tidak bisa di tunda?” lirih Olivia.


EL menggelengkan kepalanya, “tidak ada penundaan lagi, kalau bisa besok kita langsung menikah” ucap EL tegas.


Olivia menghela nafas panjang, “baiklah sesuka hatimu” ucap Olivia pasrah.


...🙈🙈🙈🙈🙈...

__ADS_1


__ADS_2