Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
84. Marah


__ADS_3

“Aish, apa yang terjadi kemarin?” Ia mengigit rotinya dengan gusar dan langsung menelannya dengan bantuan kopi.


 


EL mengangkat alisnya. “Kau tidak ingat?”


 


Olivia meletakkan rotinya, tangannya digunakan untuk menopang dagu sambil berpikir keras, sejak ia membuka matanya pagi ini, Olivia telah berusaha memanggil ingatannya. Tapi semakin keras usahanya untuk mengingat, semakin samar juga memorinya. “Aku ingat kita pergi ke pantai”


 


EL mengangguk untuk mengkonfirmasi.


 


“Aku juga ingat kalau aku minum banyak seka…”


 


“Kau menghabiskan satu botol itu sendirian, Kak~” Ia terkekeh dengan senyum meledek.


 


“Ya, itu aku ingat.” Ia mengambil aspirin yang diberi EL dan segera menegaknya. “Aku pun ingat kalau aku tidur-tiduran di atas pasir.” Ia mengerutkan keningnya sembari mencoba memeras sisa-sisa memorinya. “Dan semua menjadi gelap di ingatanku setelah itu. Aku hanya ingat memandang langit di atasku. Apa jangan-jangan aku teler? Ya Tuhan, apa aku malah muntah? Kumohon, beri tahu aku kalau aku tidak melakukan hal yang bodoh yang merepotkan.” Ujarnya dengan wajah memelas.


 


EL menegak habis seluruh kopi di gelasnya, “Kau sungguh-sungguh tidak ingat?” tanya EL dengan nada datar.


Olivia terlihat memijat kepalanya, berusaha untuk mengingat memorinya tadi malam.


“Siapa yang ada dipikiran kakak tadi malam itu aku atau mantan tunangan kakak?”


Pertanyaan EL yang tiba-tiba membuat Olivia menunduk, kenangan malam itu masih belum muncul, sebenarnya apa yang terjadi malam tadi “Aish, mengapa aku tidak bisa ingat apa-apa.” Olivia memukul-mukul kepalanya sendiri. “Apa aku melakukan hal yang kelewatan?”


“Tenang saja, kau tidak melakukan kebodohan apapun. Kau juga tidak perlu memaksa dirimu untuk mengingat, tidak ada yang penting.” EL berkata dengan acuh berusaha untuk tidak menghiraukan rasa nyeri di hatinya. “Hal terbodoh yang kau coba lakukan hanyalah berenang di lautan”.


“dan menjadikanku pengganti dia” batin EL.


“Aku melakukan apa?”

__ADS_1


 


“Berenang—well, kau mencoba untuk berenang, tapi aku menarikmu kembali ke pantai.” Jawabnya singkat.


 


Olivia menggeleng tidak percaya, “Wow, aku pasti benar-benar mabuk semalam. Aku bahkan tidak bisa berenang.”


 


“Ha! Berarti tindakanku tepat.” Ia bangkit dari duduknya sambil mulai membereskan meja makan.


 


Olivia bergegas untuk ikut bangkit dan membantu EL berberes, “EL~ kamu marah?” tanya Olivia sedikit takut.


“Tidak, untuk apa aku marah” ujar El acuh, pria itu membersihkan piringnya tanpa memandang Olivia.


“EL~” panggil Olivia.


“Hmm” hanya dehaman yang el keluarkan, pria itu masih marah dengan sikap olivia, pertama karena penelitian itu, dan kedua karena olivia masih menyimpan tunangannya di dalam hati.


El melepaskan tangan Olivia dengan perlahan, “Apa kakak sudah sadar sepenuhnya?” tanya EL, pria itu mengelap tangannya dengan kain sambil menatap wajah Olivia dengan sendu.”Duduklah di sofa” perintah EL, pria itu sudah lebih dulu duduk di sofa tanpa membantu Olivia untuk duduk di sofa.


EL hanya memperhatikan Olivia duduk pada sofa di depannya.


“Apa kakak sudah sadar sepenuhnya?” tanya EL sekali lagi.


Walau kepalanya masih berdenyut Olivia menganggukkan kepalanya pelan.


EL mengeluarkan proposal penelitian olivia di depannya. “lanjutkan presentasi kakak sendiri, jangan mau digantikan oleh orang lain”.


Kepala Olivia yang tadinya menunduk langsung tegak begitu mendengar pernyataan EL. “Aku sudah menye_”


“Menyerah karena takut foto kita terbongkar pada public?” potong EL.


Olivia terdiam, mata gadis itu memancarkan keterkejutan atas ucapan EL, “Bagai__”


“Bagaimana aku bisa tau?”


Olivia mengangguk mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


“Aku adalah putra kedua dari keluarga Allinsky, mudah bagiku untuk menjebol keamanan sebuah perusahaan atau hanya sekedar hotel, sangat mudah melihat cctv dan membaca Gerakan mulut orang, walau aku bukan mafia hidupku hampir mirip dengan seorang mafia, kakak menyerahkan penelitian kakak hanya karena takut foto itu kesebar? Kenapa kakak tidak bilang padaku, jangan hanya mengambil keputusan secara sepihak, aku sudah mengurus semuanya, professor itu sudah aku asingkan keluar negri__”


“Tapi EL kasiha_”


“Kak aku mohon jangan mengasihani dia, professor itu akan melakukan penelitian di luar negri dan aku sudah memberikan biaya untuknya, dia juga menyerahkan kembali proposal penelitianmu, jangan menyerah lagi dengan keputusan ini, jika ada masalah bicarakan padaku, apa gunanya aku sebagai kekasih kakak?!” potong EL, dia segera beranjak pergi meninggalkan Olivia untuk merenungi kesalahannya.


“Ahhh aku mohon kemarin adalah perpisahan kakak untuk pria itu jangan jadikan aku sebagai pelampiasan lagi, bukankah sudah cukup dansa kemarin?” setelah berkata begitu EL masuk ke dalam kamar mandinya.


Sementara Olivia terdiam mencerna ucapan El, “apakah aku melampiaskan emosiku pada EL?” batin Olivia.


...🐵🐵🐵🐵🐵...


“AL!” panggil Stella, gadis itu berlari mengejar Al dan Aurora yang baru keluar dari dalam kelas.


“AL!” teriak Stella sekali lagi sambil menghadang jalan Al untuk melangkah.


“Ada apa lagi?!” tanya Al datar.


“Aku minta maaf, tolong jangan mengusik perusahaan keluargaku” stella langsung bersujud dan menangis di hadapan al dan itu menjadi tontonan menarik para mahasiswa yang lewat di sana.


Al mengacak rambutnya dengan gusar, “Lo pikir gue yang ngelakuin itu semua? Gue Cuma menyiram bensin pada api yang telah lo nyalakan, jadi lo tidak perlu bersujud seperti ini, itu adalah karma lo”.


“Gue minta maaf AL, Gue mohon bantu keluarga gue, jika keluarga lo memberi bantuan maka masalah akan selesai, gue mohon Al” isak Stella masih dengan pesisi awalnya.


Al sebenarnya hanya mengirim foto dan video kelakuan stella yang suka membulli teman-teman sekolahnya dan foto dan video perselingkuhan ayah stella ke public, jadi setelah video dan foto itu terbongkar mulai terjadi goncangan pada keluarga Stella, bukan salah al, dia hanya menyiram minyak pada api yang sudah membara, jika disuruh menyelesaikan mana mau Al menyelesaikan itu karena cara satu-satunya menyelesaikan masalah yang sudah besar itu adalah dengan bertunangan dengan keluarga terhormat seperti keluarganya.


“Urus sendiri masalah lo” ucap al acuh, dia menarik tangan Aurora untuk berjalan melewati Stella.


Mendapatkan penolakan dari Al Stella semakin menangis histeris beberapa teman-temannya datang menghampiri untuk menenangkan Stella, sebentar lagi gadis itu akan hancur dan jatuh miskin karena saham perusahaan keluarganya mulai jatuh.


.


“AL yakin membiarkan seperti itu? Kasian Al” Aurora menunjuk Stella yang masih dikerumuni teman-temannya.


“Biarin aja, itu masalah dia, aku gak mau tau apapun tentang gadis itu, cara satu-satunya untuk membantu stella adalah dengan berhubungan dengan keluargaku, aku sudah memilihmu tidak akan mengganti berlian dengan bongkahan pasir” ujar Al ketus.


“tidak ada cara lain?”


“Ada, kerja sama dengan keluarga allinsky tapi jika keluarga itu pasti akan meminta lebih seperti pertunangan jadi tidak ad acara lain lagi” ucap AL datar.


...🐻🐻🐻🐻🐻...

__ADS_1


__ADS_2