Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
80. Dansa


__ADS_3

“EL” Ujar Olivia yang semakin mabuk, “Apa yang bisa membuatmu bahagia?”


 


“Aku?”


 


Olivia mengangguk. “Aku tidak tahu cara bersenang-senang dan aku sudah lupa cara untuk tertawa. Aku sudah mengajarimu cara mendesain sesuatu yang baik, sekarang kau harus mengajarkanku untuk menjadi bahagia. What do you do for fun?”


 


“Aku bahagia ketika bermain game.” EL langsung meringis malu dengan jawabannya sendiri yang terdengar sangat bodoh. “Maksudku, hal-hal yang bisa mengalihkan pikiranku jelas membuatku senang. Apa yang suka kau lakukan? Apa ada sesuatu yang selalu ingin kau lakukan tapi belum berhasil?”


 


Olivia mendengus kecil, merasa sedikit terhibur dengan jawaban polos EL. Wanita itu kembali mengalihkan pandangan ke arah lautan luas yang terhampar di hadapannya. Ia berpikir keras tentang pertanyaan yang baru saja EL ungkapkan, apa hal-hal trivial yang seharusnya ia kerjakan, tapi tidak pernah berani melakukannya selama ia sibuk menggali buku-buku dan menjadi orang yang banyak tahu.


 


“Menurutmu bagaimana jika sekarang kita berenang di laut?” Tiba-tiba saja ia bangkit dari duduknya. Tubuhnya sedikit limbung, tapi Olivia tidak memperdulikannya, justru sekarang ia mengambil langkah untuk mendekati lautan.


 


“Kakak, kau sudah mabuk?”


 


“Belum, tapi aku benar-benar ingin mabuk sekarang.” Ia menoleh ke belakang untuk memberi cengiran lebar pada EL kemudian ia menarik tangan lelaki itu untuk bangun dan mengikuti langkahnya untuk mendekat ke lautan.


 


“KAK!! Jangan gegabah, aku baca dari suatu artikel bahwa orang mabuk tidak disarankan untuk berenang, aku pun tidak terlalu pandai berenang.”


 


“Baiklah! Aku akan berenang sendiri kalau begitu.” Ia melepas genggamannya pada lengan EL dan berlari kecil ke arah lautan. Wanita itu terus melangkah bahkan hingga ketinggian air sudah melebihi lututnya, ia pun tidak peduli ketika deburan ombak menyipratkan air laut dan membasahi rambutnya.


 


EL segera menyusul Olivia, kalau menyimpulkan dari cara wanita itu menatapnya, kesenduan di wajahnya, kata-katanya malam ini serta tangisan yang berusaha disembunyikannya, EL tahu bahwa Olivia saat ini sebenarnya sedang merasa kacau. Kondisi itu saja sudah buruk, apalagi jika ditambah faktor mabuk yang sekarang sudah mulai menyerangnya.

__ADS_1


 


“Kakak, berhenti di situ, ayolah kau tidak perlu berenang malam ini, kemarilah.” EL menangkap pergelangan tangan Olivia untuk menahan langkahnya. Lelaki itu kemudian menahan kedua bahu Olivia sambil memaksa wanita itu untuk menatapnya.


 


Saat itulah EL sadar bahwa Olivia saat ini sedang menangis. Wanita itu bukan ingin berenang, ia hanya ingin menyamarkan air matanya dengan rintikan air laut yang kini menyapu wajah cantiknya—wanita itu hanya tidak mau terlihat lemah di hadapan EL.


 


“Kakak.” Dengan ragu, EL menyentuh dagu Olivia untuk menengadahkan wajahnya. “Kau tahu kan kalau kau bisa berbagi kepedihanmu denganku? Aku kekasihmu saat ini, Aku mungkin bisa memberimu solusi, dan aku bisa menjadi pendengar yang baik. Kumohon, izinkan aku meringankan bebanmu.”


 


EL mencoba meyakinkan Olivia sambil perlahan menuntun langkah keduanya untuk pindah ke posisi laut yang lebih pendek.


 


Olivia mengigit bibirnya sebagai usaha untuk memendam perasaannya. Seluruh tubuhnya bergetar karena kedinginan dan juga dari perihnya rasa sakit yang ia rasakan di hatinya. “Berdansalah denganku.” Tanpa peringatan, Olivia meletakkan tangannya di atas bahu EL.


 


“Apa?”


 


 


EL mengerutkan keningnya sambil mencoba menterjemahkan kata-kata Olivia, sementara Olivia sudah mengeluarkan ponselnya dari kantung gaunnya yang sudah mulai basah. Wanita itu memeriksa kondisi ponselnya, mengoyangkan beberapa kali sebagai usahanya untuk membuat benda itu tetap berfungsi.


 


“Ini terdengar sangat bodoh, tapi tadi kau bilang kau mau membantuku. Jadi kumohon, berdansalah denganku.” Ia menyelipkan satu buah earphone ke dalam telinga kanan EL dan menyelipkan pasangannya pada telinganya sendiri sebelum ia menekan tombol play pada ponselnya. Musik mellow yang lembut mulai terdengar dan EL memutuskan untuk menuruti keinginan Olivia.


 


Lelaki itu melangkah mendekat, tangan kanannya diletakkan dengan hati-hati pada punggung wanita itu dan tangan kirinya menggenggam tangan Olivia dengan lembut. Kemudian ia menyelipkan jemari mereka sambil mendekap tubuh Olivia tanpa menyiskan jarak di antara mereka. Dari jarak sedekat ini, EL bisa merasakan tubuh Olivia yang bergetar dalam pelukannya dan yang ingin dilakukan lelaki itu hanyalah meredakan kekalutan dalam diri Olivia.


 


Wanita itu tidak mampu memandang EL, karena lagi-lagi ia teringat akan Michel setiap kali mereka bertatapan—karena EL menatapnya dengan sinar lembut yang sama, dengan senyum tulus yang sama dan dengan kelembutan yang selalu mengingatkannya akan tunangannya yang telah pergi.

__ADS_1


 


“Tatap mataku, Olivia” EL berbisik di telinga Olivia. Ia memindahkan posisi tangannya dari punggung Olivia menuju dagunya, mengangkat wajah wanita itu agar menatap matanya. “Kau bilang ingin berdansa denganku, mari kita lakukan ini dengan benar” Ujarnya tenang.


 


Olivia menggigit bibirnya yang bergetar dan memutuskan untuk melakukan dansa ini dengan sungguh-sungguh, matanya mengunci tatapan lelaki itu—ah, bukan. Mungkin lebih tepat jika Olivia memandang EL sebagai seorang pria sekarang benar-benar seorang pria bukan bocah 18 tahun lagi—sambil tubuhnya bergerak mengikuti irama yang mengalun samar di telinga mereka.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


AL menatap heran nomor asing yang menelponnya, sekarang pukul 9 malam dan dia yakin tidak ada masalah penting hngga harus menelpon semalam itu.


“Halo” Al akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu.


“Al sebaiknya lo cepat ke restoran tempat kekasihmu kerja, gue merasa ada hal buruk yang akan terjadi jika logaksegera datang ke sini” ucap suara dari sebrang telepon.


“Ini Siapa?” tanya Al dengan mengernyitkan keningnya bingung.


“gue Aziz, sekarang lo harus ikuti ucapan gue, saat ini Stella dan teman-temannya sedang merayakan pesta ulang tahun di restoran tempat cewek lo bekerja, gue gak sengaja dengar mereka mau mengerjai cewek lo, jadi cepat kesini”.


“Apa yang mereka rencanakan?” Al sudah mengambil jaket dan kunci motor yang dia punya, pria itu berlari keluar masih dengan ponsel yang menggantung di telinga.


“Gue gak tau ap aitu, yang pasti bukan rencana yang kecil”


“Kenapa lo mau bantu gue?” selidik AL.


“Gue punya seorang adik perempuan, gue gak mau karma mengerjai kekasih lo malah berimbas pada adik gue, untung gue dapat nomor lo dari teman, makanya gue hubungi lo sekarang” jelas Azis.


“Oke thank you, gue akan balas kebaikan lo nanti” Al cepat-cepat mematikan ponselnya, dan langsung mengendarai motornya dengan cepat.


.


“Manager! Mana karyawan kalian yang Bernama Aurora gue mau dia yang ngelayani kita semua” ujar stella dengan angkuh.


“Ta-tapi karyawan itu sangat special disini nona, anda tidak bisa mengganggunya” ucap si manager dengan wajah sedikit takut.


“Jadi kalian lebih memilih pelanggan kalian pergi dari pada mengorbankan salah satu pegawai kalian!” bentak Stella dengan kesal.


Manager itu menunduk, “baik nona akan segera saya panggilkan”.


Stella dan teman-temannya tertawa Bersama karena berhasil membuat manager hotel itu tunduk.

__ADS_1


“Gue gak nyangka kalau lo sekaya ini stel, sampai bisa booking satu restoran yang sangat hebat ini” puji Ana, tidak di pungkiri keluarga stella memang kaya apa lagi sejak stella mendapatkan uang dari mommy ara, uang itu digunakan keluarga stella untuk memperbesar usahanya, tapi kekayaan stella masih belum mampu mengalahkan kekayaan keluarga Allinsky, maka dari itu stella berusaha mengejar Al, dia ingin menjadi lebih kaya lagi.


...🐻🐻🐻🐻🐻...


__ADS_2