Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
95. Merenung


__ADS_3

“Jadi putra mommy akan menyerah dengan wanita itu?” tebak Ara.


El menggelengkan kepalanya, “percuma lahir di keluarga allinsky yang mempunyai sifat keras kepala, kalau ditolak saja menyerah, EL akan mencoba berkali kali sampai dia tidak bisa menolak lagi pesona EL” jawab EL penuh kepastian.


Ara menghela nafas panjang awalnya dia pikir wanita itu adalah ibu-ibu tua yang terlihat seperti ibu bagi EL tapi setelah melihat foto gadis itu Ara akhinya menyerah, “bawa dia kehadapan mommy” ucap Ara.


“Mommy mengizinkan?” seru El bersemangat.


“bawa dulu kehadapan mommy” ucap Ara tegas.


EL memandang Ara dengan mata menyipit, “mommy tidak berniat untuk mengujinya kan? Seperti aurora” El memicing curiga.


“Mommy memang berniat begitu, tadi dia bilang sendiri pada daddy” adu Deon, pria itu sudah mengulum senyum melihat El yang mulai emosi.


“Mom! Udah EL bilang dia itu sangat sulit untuk EL dapatkan mau EL sekaya apapun dia tidak tertarik dengan kekayaan EL, dia itu terlalu mandiri untuk bisa sampai di posisinya, dan tidak gila harta seperti yang mommy bayangkan! Bagaimana kalau ujian mommy malah membuat Olivia lari dari El!” amuk El.


Ara hampir saja melongo melihat El memarahinya, padangan ara kini beralih pada Deon yang menyebabkan semua itu terjadi, “mana ada mommy gak pake ujian-ujian kali ini, daddy kamu asal bicara aja itu, maksud mommy ajak dia ketemu mommy biar mommy bantu bujuk buat mau menerima lamaran kamu” elak Ara.


“benaran?” EL masih memicing curiga pada mommy Ara.


“Iya benaran, kamu gak percaya lagi sama mommy? Lebih percaya sama daddy kamu?” balas Ara tidak kalah tegas dari EL.


“Ya udah El akan usahakan, jika EL sudah tidak punya cara lagi, El pakai opsi yang mommy berikan” Ucap El sebelum melangkah pergi dari sana tanpa menunggu Ara menyudahi perbincangan mereka.

__ADS_1


“itu anak siapa sih, galakan dia dari mommy nya” gumam Ara.


“kalau lupa aku bisa ingatkan lagi sayang dari mana jalan proses El bisa hadir didunia ini” canda Deon.


‘Plak’ Ara langsung memukul lengan Deon dengan kuat, “ini gara-gara kamu bapaknya! Makanya bisa jadi gitu” gerutu ara.


Deon tertawa geli melihat istri cantiknya yang sedang ngambek, “sayang! Gimana mau aku ingatkan lagi proses dari mana datangnya EL” kekeh Deon.


“gak mau! Pabriknya udah tutup!” balas Ara.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


‘Aku pergi, tolong pikirkan lagi bagaimana perasaanku dan perasaan kakak selama aku pergi, jangan memikirkna umur atau alasan yang lainnya hanya pikirkan apakah aku sudah bisa masuk kedalam hati kakak? Apakah kakak bisa hidup tanpa aku?


Aku mencintai kakak, sangat jatuh cinta, tapi aku tidak bisa hidup dalam bayang pria itu, bisakah kakak benar-benar melupakannya? Bantu aku untuk bisa membahagiakan kakak’


Diam di depan televisi tanpa melakukan apapun, hanya itu yang bisa Olivia lakukan saat El tidak ada di dekatnya. Ketika bersama EL, Olivia merasa lebih santai. Seumur hidupnya ia sibuk ditempa menjadi pribadi yang dewasa, ia dituntut untuk menyikapi hidupnya yang keras, tapi ketika ia bersama EL, tiba-tiba Olivia merasa bagai seorang remaja yang bisa bersenang-senang. Hal ini merupakan sebuah kasus istimewa karena kalau ia harus menilik ke belakang, dalam hidupnya belum pernah ia bandel atau melanggar peraturan sedikit pun.


Ia baru berani mencoba alcohol saat dia berumur 22 tahun, Michel yang menantangnya untuk meminum Wine. Semenjak itu Olivia sangat menyukai Alkohol. Sempat beberapa kali ditawari dengan penggelapan dana gadis itu tidak berani sama sekali, hidupnya sangat lurus dan monoton. bahkan Olivia tidak pernah berani membohongi guru-gurunya—hidup wanita itu terlalu lurus hingga tiba pada tahap membosankan. Olivia lelah menjadi miss sok tahu yang penurut dan kadang ia ingin membongkar pola hidupnya sendiri.


 


Baru ketika ia menghabiskan waktu dengan EL lah, Olivia mulai berani membangkang—dan bagi wanita yang tidak pernah melanggar peraturan, membangkang ternyata bisa menjadi satu hal yang menyenangkan. Bagi Olivia, menghabiskan waktu dengan EL adalah salah satu caranya untuk kabur dari karakternya yang kaku dan membosankan.

__ADS_1


 


EL, Lagi-lagi pria itu mengusik pikiran Olivia.


 


Pria itu telah menambah warna dalam hidupnya yang kelabu, ia telah meringankan beban hatinya, bahkan EL telah berhasil membuat Olivia terbuka padanya hanya dalam kurun waktu yang terhitung sebentar. Wanita itu sadar bahwa ia tidak pernah peduli dengan peraturan dan etika ketika ia mempertimbangkan kehadiran EL di hidupnya. Toh El kaya, masa depan pria itu sudah kokoh walau ada gossip atau hantaman apapun padanya, dosen dan mahasiswa? Bukankah itu suatu yang menantang untuk dicoba, lagian kalau dia keluar dari kampus juga tidak masalah, dia masih mempunyai uang untuk menghidupi hidupnya yang membosankan. El juga pasti tidak akan diam membiarkan dia keluar dari kampus itu. Kalaupun dia keluar dari kampus, ia bukan lagi dosen EL dan ia tidak lagi terikat dengan kode etik itu, jadi Olivia seharusnya mengikuti kata hatinya untuk memberi pria muda itu kesempatan untuk berada di sisinya.


 


Nyatanya, bukan etika yang menjadi dasar pertimbangan Olivia, tapi Michel.


 


Ya, pria itu telah tiada, tapi pria itu menginginkannya bahagia. Pria itu mengorbankan hidupnya sendiri agar Olivia bisa tetap bernapas, tapi mengapa Olivia selalu merasa bahwa ia sedang mengkhianati tunangannya itu setiap kali ia menghabiskan waktu dengan EL?


 


Olivia merasa bersalah, tidak seharusnya pria itu tewas sia-sia hanya karena sekelompok orang gila memutuskan untuk melakukan pembunuhan masal entah karena apa. Tidak seharusnya pria itu melemparkan tubuhnya ke atas tubuh Olivia untuk menghadang timah-timah panas yang menyerbu mereka, tidak seharusnya seorang Michel pergi dengan seluruh kehebatan dan pencapaian yang nyaris sempurna di mata Olivia.


Tidak seharusnya Olivia mendebatkan masalah ini dalam pikirannya.


 

__ADS_1


Sampai detik ini, wanita itu tetap bersikeras untuk menjaga apa yang tersisa dari hubungannya dengan Michel. Jika hanya memorinya yang menjadi benang merah dari sisa-sisa hidup Michel, maka Olivia akan terus mengenangnya. Jika rasa bersalahnya ini menuntut dirinya untuk hidup sendiri selamanya, maka Olivia siap melakukannya. Karena sangat tidak pantas jika Olivia merasa nyaman dengan pria lain hanya beberapa saat sepeninggal tunangan sempurnanya. Namun ia hanya manusia yang juga memiliki kapasitas, dan semakin lama Olivia mencoba bertahan dengan kenangannya, semakin yakin juga Olivia bahwa ia hanya membodohi dirinya sendiri.


...🐷🐷🐷🐷🐷...


__ADS_2