Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
101. Tertekan


__ADS_3

Olivia meletakkan kedua tangannya di atas dadanya sendiri, “Kumohon, kali ini biarkan aku menuntaskan kata-kataku. Percayalah, apa yang akan kukatakan justru akan melukai harga diriku ketimbang gengsimu.”


 


Pria itu menggigit bibirnya ragu sambil mempertimbangkan. “Baiklah, silakan bicara.”


“Aku berharap kalau aku bisa hidup hanya dengan cara mengikuti perasaanku, karena dengan demikian aku tidak perlu berpikir terlalu keras dan bisa mengikuti intuisiku saja sekarang.” Olivia berhenti untuk meneguk birnya lagi sebelum ia melanjutkan omongannya.


“kak~ jangan banyak-banyak.” EL mengingatkan sambil menarik botol dari tangan Olivia dengan jengkel.


 


“Kau tahu apa yang gila?” Lanjut Olivia. “Aku berhenti memandangmu sebagai mahasiswaku sejak lama, bahkan aku berhenti memikirkan tentang umur dan aku selalu dipenuhi luapan rasa bahagia kapan pun kau di dekatku. Kalau aku boleh mengikuti kata hatiku saja, aku yakin saat ini aku sudah terbaring di ranjang itu bersamamu, melakukan hal-hal yang jauh dari kata etis dalam dunia profesionalku.” Ia menunjuk ke arah ranjang EL dengan cuek.


 


Pria itu jelas terkejut dengan pernyataan Olivia yang masuk ke dalam kategori blak-blakan, ia belum pernah melihat wanita ini bicara sejujur ini—bahkan ketika ia mabuk tempo hari di pantai. “Kakak, jujur padaku, kau sudah mabuk?”


“Tidak, aku tidak terpengaruh dengan kadar alkohol dalam bir. Aku bertaruh kalau besok pagi aku akan terbangun dan masih mengingat semua ucapanku, kemudian aku pasti langsung membenamkan wajahku ke dalam bantal untuk menyembunyikan rasa maluku. Tapi aku ingin mengungkapkan apa kurasakan, dan kau pantas mengetahui ini semua.”


 


EL mengangguk paham dan membiarkan Olivia melanjutkan omongannya.

__ADS_1


 


“Aku lelah, EL. Aku benar-benar lelah dengan semua ini.” Kali ini tatapan sendu Olivia telah kembali dan EL bisa menebak arah pembicaraan mereka. “Bahkan saat kita berciuman, yang bisa kupikirkan hanyalah rasa bersalahku padanya—padahal aku benar-benar menikmati sentuhan bibirmu. Dan aku merasa seperti orang yang sedang berselingkuh walaupun sebenarnya tidak! Apa yang kulakukan denganmu tidak terhitung selingkuh, kalau ia sudah.. kalau ia sudah.. meninggal.”


 


Raut wajah Olivia yang kembali murung, kedua mata wanita itu kini berkaca-kaca dan EL yakin tidak lama lagi pasti Olivia akan mulai menangis.


 


“Aku lelah berdebat dengan diriku sendiri, memikirkan apakah pantas jika aku melanjutkan hidupku dengan bahagia setelah apa yang ia korbankan untukku. Aku muak membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku jika tragedi itu tidak pernah ada—dan pada saat yang bersamaan aku tahu bahwa aku hanya melakukan kebodohan dan membuang-buang waktuku, karena faktanya ia memang telah tiada! Aku benar-benar lelah mencoba menjaganya hidup di dalam memoriku dan aku ingin perasaan sesak di dalam hatiku ini pergi.” Air mata mulai mengalir di kedua pipinya.


 


 


“Aku ingin move-on, EL. Aku benar-benar ingin melupakan kejadian itu! Jika aku boleh jahat, itu kan inti dari aku masih hidup? Aku mengenalnya baik dan aku yakin ia hanya menginginkan kebahagiaanku. Tapi mengapa aku terus merasa bersalah seperti ini, EL?” Ia mulai memeluk dirinya sendiri, “Kenapa aku merasa seperti manusia paling kejam jika aku membiarkan kenangan bersamanya ikut mati dengan raganya.”


“kak……kumohon…”


 


“Dan kau tahu berita buruknya? Aku terpesona olehmu! Aku benar-benar terpesona olehmu hanya dalam kurun waktu beberapa bulan, Kalau itu tidak membuatku nampak seperti wanita ****** yang kejam, maka aku tidak tahu dengan apa kejahatanku ini setara.” Olivia semakin terisak. “Aku menginginkanmu! Aku benar-benar menginginkamu sampai aku tidak kuasa memandang wajahmu sudah sejak kita berciuman! Aku ingin memiliki waktu ekstra denganmu, maka aku merevisi karyamu lebih lama agar kau tetap berdiri di sampingku! Bahkan sekarang, dengan konyolnya aku menggunakan alasan minta tanggung jawab atas ucapanmu. hanya sebagai media untuk bisa bertemu denganmu! Bagaimana mungkin aku terpesona oleh pria lain, padahal pria itu mati karena diriku?!” Olivia menutup wajah dengan kedua tangannya, wanita itu mulai menangis kencang sambil menarik-narik rambutnya sendiri. “AKU TERLALU KEJAM, BUKAN?”

__ADS_1


 


El tidak lagi bisa tinggal diam. Olivia telah menyimpan semua ini rapat-rapat dalam benaknya sendiri dan hari ini seluruh pikiran ini meledak keluar. Wanita ini juga baru mengakui bahwa ia menginginkan El, ia menginginkan pria itu sama seperti El menginginkannya bukan hanya sekedar cinta, tapi menginginkan lebih.


 


Pria itu meletakkan lengannya di pada punggung Olivia, lengan satunya digunakan sebagai tumpuan yang diselipkan di balik lutut wanita itu. Dengan satu gerakan mulus, El mengangkat tubuh ringkih Olivia dan meletakkannya di atas pangkuannya. Ia mendepap Olivia dekat di dadanya, sambil lengan kokohnya terus membelai lembut punggung wanita itu dengan sayang. Ia mengizinkan Olivia untuk menumpahkan semua keresahan yang di simpannya sekarang dan wanita itu hanya bisa menangis semakin kencang kerena perlakuan manis dari pria ini.


Sekarang EL baru benar-benar paham dengan seluruh sikap Olivia yang dinilainya plin-plan. Ia paham mengapa wanita ini bersusah payah menjaga jarak dengannya bahkan ketika ia yakin Olivia sudah menerima dirinya sebagai kekasih dan menikmati waktu bersama. Bukan karena Olivia belum bisa melupakan Michel, bukan karena wanita itu masih mencintai tunangannya yang sudah meninggal, tapi karena ia masih merasa berhutang secara moril pada pria itu—dan Olivia membiarkan rasa bersalah mendikte kebahagiannya.


 


“El, aku juga jahat sekali padamu sekarang, aku membiarkanmu mendekapku seperti ini sementara aku menangis untuk pria lain.” Ujar Olivia diantara isakannya, “Ya Tuhan, manusia macam apa aku ini? Maafkan aku El, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menjadi—”


EL menanamkan kecupan pada dahi wanita itu untuk menghentikan racauannya. “Tidak apa-apa, Kak. . Kau bisa berbagi bebanmu padaku hari ini, tumpahkan semuanya dan kita bisa memulai lembaran baru mulai besok, ya?” pria itu menguatkan pelukannya di sekitar tubuh Olivia.


Olivia benar-benar menyerah sekarang. Ia mengerutkan tubuhnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman, menyatukan setiap lekuk tubuhnya dengan lekuk tubuh EL sembari mencari kenyamanan yang ia butuhkan dari pria itu. Ia menyembunyikan wajahnya pada bahu lebar EL dan membiarkan tangisnya pecah di dalam pelukan kokoh pria yang telah mencuri hatinya.


 


Bagi Olivia, apa yang terjadi saat ini terasa sangat natural. Rasanya memang pelukan pria ini yang ia butuhkan dan ia telah memantapkan keputusannya. Ia telah menyusun seluruh kata-kata yang ingin diucapkan pada EL sejak ia berada didalam pesowat seperti orang bodoh—ia siap memohon pada orang tua el untuk membiarkan EL mendampinginya melalui kesulitannya, ia siap menyatakan perasaannya dan melupakan gengsinya, ia siap meminta EL untuk membantunya memulai kembali lembaran hidupnya. Ia bersyukur karena ia belum terlambat untuk meminta ini semua.


...🐯🐯🐯🐯🐯...

__ADS_1


__ADS_2