
Al memasuki kamar Aurora yang lupa untuk di kunci oleh aurora, semenjak dipaksa untuk tinggal di kediaman utama keluarga Allinsky Aurora lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca di dalam kamarnya.
“Sibuk lov?” tanya AL lembut, dia duduk disebelah Aurora yang sedang berbaring di tempat tidur sambil membaca buku.
Aurora menutup bukunya dan memilih duduk menghadap Al, “tidak, ada apa?” tanya Aurora lembut.
“apakah kamu masih tidak mau menikah denganku?” AL menunjukkan wajah sedihnya di depan Aurora.
Aurora menghela nafas panjang dan memegang kedua pipi Al agar mata pria itu menatap matanya. “bukan tidak mau, tapi aku belum siap dengan pernikahan sayang” ucap aurora dengan lembut.
Al tertunduk lemah dia sekarang memilih berbaring di paha Aurora. “yang coba liat ini” Al mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya, dan memperlihatkan beberapa pesan yang dia terima pada Aurora.
Awalnya gadis itu tidak mau membaca isi pesan Al, tapi saat tidak sengaja matanya membaca pesan yang tertulis di sana. Tangan Aurora langsung menarik ponsel yang Al pegang dan tunjukkan padanya.
Diam-diam Al mengulum senyumnya karena itu memang niat dia untuk membuat Aurora cemburu.
“Al, aku mencintaimu, aku menyesal telah memperlakukanmu dengan buruk, aku mohon kembalilah padaku al” Aurora membaca kuat kuat salah satu pesan yang dikirimkan oleh salah satu wanita yang mungkin pernah Al pacari.
“Al, aku sedang sakit bisakah kamu menjengukku?!” Aurora tersenyum sinis memandang kekasihnya yang masih berbaring dipangkuannya.
“Atika, ana, mona, dian, stella, andini, hmmm!? Masih banyak ya pesan untuk kekasihku ini?” gumam Aurora dengan gigi yang terkatup rapat, “senang di puja puja dan digilai seperti itu?” sindir aurora.
Al menggelengkan kepalanya pelan, “Maunya kamu yang puji puji baru deh senang” jawab al sambil mengedipkan sebelah matanya pada Aurora.
“Apa maksud memberitau pesan ini Al?” tanya Aurora masih dengan gigi yang terkatup rapat.
“Biar Lov sadar, kalau gak cepat cepat di terima lamaran abang ganteng ini, banyak loh yang ngantri” ancam Al, mata pria itu kembali mengedip genit pada mata Aurora yang menatap matanya.
“jadi kalau aku gak terima terima, kamu bakal pindah kelain hati gitu?” nada bicara Aurora mulai meninggi.
Al cepat cepat duduk dan menghadap Aurora, “bukan gitu maksudnya Lov, akan banyak orang yang berusaha menjebak diriku” Al menatap Aurora dengan memelas, “jika gak di taken bisa banyak jebakan yang bertebaran di luar sana, aku pria normal lov”.
__ADS_1
“maksudnya pria normal?” Aurora bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
“Kemarin aku hampir kena jebakan teman-temanku meminum, minuman yang ada obat perangsang, aku memang tidak pernah tertarik dengan wanita manapun walaupun mereka bugil di depanku, tapi aku tidak tau jika memakai obat perangsang, aku Cuma bisa menahan sebentar, katanya kalau sudah minum obat perangsang dan tidak disalurkan bisa mati loh lov” terang Al sedikit panjang agar Aurora mengerti.
“Kenapa mau menikah cepat? Kamu Cuma mau rasain tubuhku aja?”
Al menghela nafas panjang, “apa aku terlihat seperti maniak s**s di depanmu? Aku takut akan semakin banyak orang yang berusaha memisahkan kita berdua, tapi ya sudah kalau kamu tidak percaya” al tegak, wajahnya memancarkan kekecewaan yang sangat besar.
“AL!” panggil Aurora tapi Al tidak juga menghentikan Langkah kakinya, “AL!” pekik Aurora lagi, namun kini Al sudah menghilang di balik pintu kamar yang sudah tertutup.
...🐝🐝🐝🐝🐝...
“Aku sudah menceritakan tentang kakak pada kedua orang tuaku, dan jangan ketakutan seperti itu” El kembali tertawa melihat wajah olivia yang langsung berubah pucat. “kedua orang tuaku setuju aku berpacaran bahkan menikah denganmu” lanjut EL.
“apa?! Bisa tolong ulangi?” pekik Olivia tidak percaya.
“kedua orang tuaku setuju aku berpacaran bahkan menikah denganmu” ulang EL.
“Sudah” jawab EL singkat.
“Umur pekerjaan dan masa laluku?” desak olivia.
“sudah tapi tidak semua masa lalu kakak, hanya sekedar intinya saja, bahkan mommy memaksa kakak untuk bertemu dengannya agar kakak bisa mommy paksa untuk menikahiku” jawab EL dengan lancar.
“Orang tuamu normal kan EL?” Olivia masih mencari alasan lagi.
“Hmmm, sedikit aneh sih, memang awalnya mommy tidak terlalu setuju, tapi setelah aku meyakinkannya, mommy akhirnya setuju” ungkap EL.
Olivia terdiam tidak dapat berkata apapun lagi, hatinya masih menolak untuk percaya, karena jika kebalikan yang dia dapatkan akan membuat luka di hatinya semakin membesar.
Olivia menarik napas dalam dan menggeser duduknya agar lebih mudah menatap EL, tangan gadis itu sudah terangkat untuk memegang kedua pipi EL. “dengar baik-baik, alasan sebenarnya aku berangkat ke kotamu, aku memutuskan akan mencoba membuka lagi hatiku untuk kamumasuki sepenuhnya, aku ingin memohon pada kedua orang tuamu jika aku tidak diterima oleh mereka, aku sudah menyiapkan segalanya, berbagai macam alasan terus aku pikirkan asal kamu tetap di sisiku” Olivia mulai merasa wajahnya memanas saat EL memandang matanya dengan intens.
__ADS_1
Apakah Olivia baru saja menyatakan perasaannya pada EL? Pria itu kurang yakin. Yang ia tahu hanyalah detak jantungnya yang berdetak lebih cepat karena ia melihat rona kemerahan yang muncul di wajah polos Olivia. Saat ini wanita itu terlihat tidak seperti dosennya yang memiliki otoritas, namun lebih seperti gadis polos yang sedang malu-malu berbicara pada lawan jenisnya.
“kak, aku akan tetap berada di sisimu jika memang itu membuatmu nyaman.” Ia mengangkat lengannya untuk mengacak rambut Olivia. “Aku benar-benar sayang padamu, Olivia Kalau kau memintaku untuk mendampingimu, maka aku akan melakukan apa yang kau minta—selama kau menginginkan kehadiranku.”
Sensasi ribuan kupu-kupu kembali berterbangan di dalam perutnya, EL bukan orang pertama yang menyatakan perasaannya pada Olivia, tapi pria ini melakukannya dengan cara paling manis yang pernah Olivia dengar—dengan seluruh keangkuhan yang telah ditanggalkan.
“aku tidak pernah memandang umur kita yang berbeda jauh, aku ingin hidup sampai kita tua bersama, kau wanita pertama yang membuatku jungkir balik hanya untuk sekedar menghabiskan waktu bersamamu, berkali kali aku dibuat jatuh bangun” EL tersenyum lemah kemudian menyesap birnya kembali.
Olivia kehilangan kata-katanya, tidak pernah dia bayangkan pria itu mengutarakan perasaannya dengan wajah polos yang kelewat menggemaskan di mata Olivia.
“Indah sekali, EL”
“Apa yang indah?”
“Apa yang barusan kau utarakan.” Olivia menarik napasnya dalam. “Aku benar-benar berharap bisa—”
“Kumohon, jangan lukai harga diriku lagi, jangan menolakku lagi” potong EL cepat.
Olivia meletakkan kedua tangannya di atas dadanya sendiri, “Kumohon, kali ini biarkan aku menuntaskan kata-kataku. Percayalah, apa yang akan kukatakan justru akan melukai harga diriku ketimbang gengsimu.”
Pria itu menggigit bibirnya ragu sambil mempertimbangkan. “Baiklah, silakan bicara.”
...🦄🦄🦄🦄🦄...
__ADS_1