Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
38. Tunangan


__ADS_3

Olivia menarik El menuju ruang UKS, “tunggu di sini” ucap gadis itu dingin sambil berjalan keluar dari ruangan uks, tidak berapa lama kemudian Olivia kembali dengan membawa satu buah kemeja dan handuk kecil di tangannya.


“pakai ini dulu, lap dengan ini” ucap gadis itu.


El sedikit kebingungan dengan apa yang diberikan oleh olivia. Baju kemeja cowok, kenapa dia bisa punya, tapi kemeja itu merupakan kemeja baru. “kakak beli di mana?” el mulai membuka kemejanya satu persatu. “apa kakak akan tetap di sini?” sambung El lagi, dia masih belum bisa membuka satu kancing di badannya, akibat tangannya yang mulai terasa nyeri kembali, mungkin karena basah dan kena air keringat.


“Arahkan tanganku ke kancing mu” Olivia mendekat dan memejamkan matanya. El sedikit mengulum senyum melihat olivia yang membantunya membuka kancing kemeja dengan mata tertutup.


Tangan olivia terus terarah ke bawah, “i-ini kancingnya kok susah dibuka el?” tanya olivia yang masih membuka matanya.


El masih diam dan mengulum senyumnya, “kakak mau perkosa aku ya?” ucap pria itu akhirnya dan tawa nya lepas saat olivia membuka matanya dan melihat apa yang ingin dia buka.


“EL! Dasar nakal! Sudah cepat ganti bajumu sendiri!” pekiknya kesal, karena tadi tangannya berada di celana el, dan ingin membuka kancing di celana el.


Sementara el tertawa lepas melihat wajah Olivia yang memerah semerah buah tomat.


“kak udah selesai, bantuin pasang kancingnya” rengek El pada olivia yang berbalik badan tidak mau melihatnya.


“pakai sendiri tadi pagi bisa, sekarang kok gak bisa” ucap olivia tanpa mau membalik badannya.


“tadi pagi gak sakit, sekarang sakit kembali karena lembab kena keringat” jelas EL sambil memperlihatkan tangannya yang diperban dan memang terlihat basah. Olivia menghela nafas nya dan mendekat pada el sambil membawa kotak p3k.


“menghadap sini” ketus Olivia.


“Gak tutup mata lagi?” goda El sambil menahan tawanya.


“Berisik El! Aku ini dosen mu! Jangan meledekku” Ketus Olivia dengan wajah merah padam.


“badanku sexy kan?” goda el.

__ADS_1


“lebih sexy milik tunangan ku” jawab Olivia ketus, “dan baju itu milik nya” ucap olivia sambil membuka perban di tangan El.


“kakak punya tunangan?” tanya El pelan, dia sudah tidak mampu untuk tersenyum lagi, hatinya sakit mendengar ucapan Olivia barusan.


“Hmm, punya” jawab Olivia singkat.


“nanti akan aku kembalikan bajunya” ucap El sendu, “dan terima kasih sudah menolongku” ucap el setelah Olivia selesai mengganti perban di tangannya.


“Kamu kenapa bodoh sekali mau saja dikerjai oleh seniormu?” sindir Olivia, gadis itu berusaha mengganti topik dari pembicaraan tentang tunangannya.


“Bukan urusan kakak, dan terima kasih sudah menolongku” El menundukkan kepalanya pada olivia lalu melangkah pergi, membuat Olivia keheranan dengan tingkah el yang berubah-ubah.


“tu anak kenapa sih” gumam olivia kesal.


...🐻🐻🐻🐻🐻...


“Al, aku bisa pergi sendiri ke tempat kerjaku” ujar Aurora pada al yang sedang mengeluarkan motornya dari parkiran motor.


“kamu menyebalkan, selalu harus kemauan mu jika aku membantah, kamu pasti marah dan bersikap acuh” gerutu Aurora sambil naik keatas motor Al.


“Diam saja dengarkan semua yang babang Al katakan” kekeh al, dia memang keras kepala sama seperti daddy dan kedua saudara kembarnya, dan satu lagi sikap daddy yang tertular pada al, yaitu bucin, seperti daddy deon yang bucin dengan mommy ara, begitu juga dengan Al, dia begitu bucin dengan aurora.


“Berisik, udah jalan aja” ketus Aurora, dia sudah tidak dapat berbicara pada pria itu, Al terlalu mendominasi dirinya untuk mengatakan apapun yang al inginkan.


.


Sekitar 15 menit Al dan aurora sampai di restoran mewah milik Brian, restoran itu buka saat malam tapi persiapannya sejak sore, dan hanya orang-orang kaya yang mampu untuk makan di sana, tempat itu juga perlu reservasi untuk makan di sana karena sangat terkenal dan banyak orang-orang yang ingin makan di sana.


“kau mau apa AL?” tanya Aurora heran saat Al juga ikut turun.

__ADS_1


“menunggumu pulang kerja” jawab AL polos.


“Gak ada! Nanti saat aku pulang saja kamu jemput, jangan menungguku!” amuk Aurora.


“tapi_”


“pergi atau aku gak akan mau tinggal di apartemen mu lagi” ancam Aurora, Al akhirnya menyerah dia mengikuti permintaan aurora, dalam hati pria itu berharap akan ada lowongan untuk pria sehingga dia bisa bekerja bersama Aurora, tapi mengingat pekerjaannya Al merasa tidak sanggup, yang ada restoran itu akan bangkrut karena al belum pernah bekerja sebagai pelayan resto.


“Nanti tunggu aku didepan resto, jangan pulang naik angkot, atau aku akan menghapus semua angkot yang ada di kota ini” al balik mengancam Aurora.


“Emang bisa?”


Al menaik turunkan alis dan tersenyum ke arah Aurora, “silahkan saja coba, kalau tidak percaya” tantang al.


Aurora bergidik ngeri bahwa al mampu melakukan hal seperti itu, dan dia tidak mau menjadi orang yang membuat banyak pemilik angkot menganggur. “baiklah, sudah sana pergi” usir Aurora.


“Gak cium selamat tinggal gitu?” goda Al.


‘Plak’ tangan Aurora dengan cepat memukul lengan Al, “GAK ADA DANIAL!” pekik Aurora kesal. Dia lalu meninggalkan Al yang masih belum menjalankan motornya.


...🐺🐺🐺🐺🐺...


Al tidak pulang, melainkan dia berjalan-jalan keseliling tempat kerja aurora ingin memastikan tidak ada bahaya, saat al meninggalkan Aurora sendirian di sana, Al takut akan ada preman yang menggoda Aurora saat gadis itu menunggu Al untuk menjemput pulang.


Al bernafas lega saat dia merasa lingkungan di sana sangat aman, bagaimana tidak aman itu adalah kawasan adik iparnya lebih tepat lagi calon adik ipar, brian menjaga lingkungan sekitar kampus dan apartemen itu tetap aman dan Restoran termasuk ke dalam kawasan kampus dan apartemen.


“Adik ipar memang hebat” gumam al pelan saat melihat beberapa orang yang berjualan dipinggir jalan tapi terlihat badan penjual itu sangat gagah walau sudah memakai pakaian yang sederhana, tetap saja al mampu untuk menebak orang-orang siapa yang berpura-pura menjadi penjaganya.


Sementara al berjalan-jalan disekitar apartemen dan tempat kerja aurora, EL juga berjalan-jalan disekitar kota Jogja, hatinya sedang bergemuruh, dan dia masih belum sanggup untuk melihat Olivia, entah kenapa dia merasa kalah sebelum berperang, El merenung memikirkan apa yang terjadi pada dirinya, cukup lama pria itu berdiam diri, tanpa makan siang. Dia akhirnya yakin perasaan yang dia alami adalah cinta, tapi cintanya hancur sebelum berbunga.

__ADS_1


Pukul 5 sore EL baru pulang, dia memandang pintu apartemen olivia yang masih tertutup, el sangat berharap pintu itu tiba-tiba terbuka dan olivia memanggil namanya, namun sayang semua itu hanyalah harapan el dan harapan itu tidak akan bisa terjadi, Olivia sejak awal sudah membangun tembok besar untuk El dekati, tembok yang sulit dia robohkan bernama ‘Tunangan’


...🦁🦁🦁🦁🦁...


__ADS_2