
“PEMBOHONG!” Hardik Olivia dengan mata yang mulai berkaca-kaca, “ITU PENELITIANKU! AKU MENGHABISKAN WAKTU BERTAHUN-TAHUN UNTUK ITU DAN 6 BULAN INI AKU MATI-MATIAN UNTUK BISA BERPARTISIPASI DI SEMINAR ITU.” Teriak Olivia kencang dengan berlinangan air mata.
EL mengangkat kedua tangannya ke atas, mengisyaratkan wanita yang sedang kalut di depannya untuk tenang, “Aku tahu kak, aku tahu.”
“TURUNKAN TANGANMU, UNTUK APA KAU—“
“TENANGLAH SEBENTAR!” Akhirnya EL bertindak. Ia menggenggam kedua bahu Olivia dengan tangannya dan dengan gesit ia membalik posisi mereka, kini Olivia yang tersudut di tembok dengan tubuh EL menghalanginya.
Kata-kata tegas yang keluar dari mulut EL ternyata mampu membuat Olivia terdiam.
“Ibu dosen Alexa” EL melanjutkan dengan nada tenang setelah Olivia berhenti mengomelinya, “Mari kita berhenti untuk saling berteriak, ya? kita bicarakan hal ini dengan tenang.”
Wanita itu masih memelototi mahasiswa sekaligus kekasihnya dengan emosi, tapi ia pun mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
“Aku bersumpah bahwa aku benar-benar tidak tahu bagaimana presentasi kita bisa berakhir di tangannya. Kau lah yang terakhir menyimpan file itu di laptopmu dan aku tidak menggandakan apapun—aku bersumpah kak, aku tidak serendah itu—dan aku tidak punya niat untuk menjatuhkanmu dengan cara murahan seperti ini.” EL mulai menjelaskan, “Aku paham sepenting apa seminar ini untukmu, aku melihat sendiri seluruh usahamu dalam menuntaskannya, seberapa sering kau bergadang untuk ini, dan seluruh paper yang kau baca untuk menyempurnakan penelitian ini kau bahkan mengorbankan waktu tidurmu—dan aku tidak pernah bermimpi untuk mencuri hal ini darimu. Kumohon percayalah, aku benar-benar tidak tahu tentang hal ini.”
“Lalu bagaimana bisa Sebastian memiliki file itu?” Olivia menarik napas dalam, kedua telapak tangannya kini digunakan untuk menutupi wajahnya sendiri, ia tidak ingin EL menyaksikan seberapa kacau ekspresinya sekarang. Penelitiannya dicuri orang sudah menjadi masalah besar, tidak perlu ditambah dengan drama ia menunjukkan kelemahannya di depan mahasiswanya.
EL memejamkan matanya, mencoba mencari jawaban yang masuk akal dari kasus ini.
“Kakak, aku bersumpah…”
“Aku percaya padamu.” Jawab Olivia singkat. “Maafkan tindakanku yang langsung menuduhmu tanpa tahu malu tadi.”
“apa?”
__ADS_1
Olivia mengakat wajahnya untuk menatap EL ke manik matanya, “Kalau kau bilang bahwa kau tidak tahu apa-apa tentang ini, maka aku percaya padamu. Aku yakin kau tidak akan melakukan hal sejahat itu padaku.” Jelas Olivia. “Aneh memang, tapi entahlah, aku merasa kalau aku bisa mempercayaimu, lagi pula kau kekasihku, tidak mungkin kau menjatuhkanku”
EL tersenyum hangat sambil mengelus pipi Olivia dengan lembut.
Olivia menyandarkan kepalanya pada tembok dingin di belakangnya, wajahnya menengadah menatap langit-langit tinggi di ruangan yang entah di bagian mana dari rumah itu sambil ia berusaha menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. “Apa aku harus bicara pada pria busuk itu?”
“Jika kau ingin jawaban dari kekeliruan ini, kurasa memang kau harus bicara padanya.” Ucap El setuju dengan pemikiran Olivia, dalam hati pria itu akan mencari tau apa yang terjadi dan apa yang bisa dia lakukan untuk Olivia.
Olivia menghela napas panjang, “Siapkan segelas champagne untukku, kurasa aku butuh alkohol setelah berbicara dengan pria gila itu.”
...🐨🐨🐨🐨🐨...
Profesor Sebastian sedang sibuk berjabat tangan dengan beberapa koleganya yang memberikan selamat atas prestasi barunya saat pria itu menyadiri sosok Olivia yang mendekat. Jelas pria itu tahu kelakuan macam apa yang baru ia lakukan, dan ia juga sudah menyiapkan serangkaian rencana untuk mempertahankan apa yang baru saja direbutnya.
“Ah! Profesor Alexa, aku tidak melihatmu saat aku berpidato di atas podium tadi, apakah kau sedang keluar ruangan saat itu?” Ia memasang senyum lebar palsu di wajahnya.
Olivia memutuskan untuk ikut bersandiwara bersamanya, “Sayang sekali bukan? Tapi menurut yang kudengar, kau tadi baru saja melakukan pidato mengagumkan berkaitan dengan penelitianku.” Ia menekankan nadanya.
“Apakah kita perlu mendiskusikan masalah ini? Karena sepertinya ada kesalahpahaman.” Ia melempar tatapan sinisnya pada professor Sebastian.
“Kurasa itu dugaanmu saja, profesor Alexa”
“Aku tidak salah paham, profesor Sebastian. Kecuali kau ingin berhadapan dengan pengacaraku dengan tuntutan bahwa kau telah melanggar kode etik tenaga pendidik dengan mencuri karya intelektual.” Olivia memberi tanda pada professor Sebastian dengan tangannya, agar pria itu mengikuti Olivia untuk keluar dari ruangan.
Pria itu menarik napas dalam sebelum akhirnya membuntuti langkah Olivia. Sesuai dugaannya, wanita ini pasti akan murka dan membawa urusan ini ke badan hukum—bukan masalah baginya, karena profesor Sebastian juga sudah menyiapkan rencana B.
__ADS_1
Sesungguhnya pria itu paham bahwa yang dilakukannya adalah dosa besar dalam bidang profesinya, tapi ada tuntutan akademis yang harus dipenuhinya dan ia tidak memiliki waktu serta kapabilitas yang cukup untuk menuntaskan itu semua. Dalam dua tahun belakangan ini, profesor Sebastian tidak sempat menghasilkan jurnal dan penelitian apapun—mengakibatkan panel akademis mengancam akan mencabut gelar profesornya jika ia tidak memperbaiki kenerjanya. Hanya ini jalan satu-satunya yang bisa menyelamatkan reputasi dan gelar yang dimilikinya, cara yang ia pun sadar sama rendahnya.
Olivia membawa Profesor Sebastian pada ruangan yang sudah EL pesan sebelumnya, ruang rapat yang ada di Gedung itu, entah berapa uang yang El keluarkan tapi Olivia berjanji akan mengganti uang yang di keluarkan oleh EL.
“Jadi hal apa yang harus kita diskusikan professor?” Tantang Sebastian seketika Olivia berbalik menatapnya.
“Pertama-tama, bagaimana caramu mendapatkan akses ke penelitianku?” Olivia berjalan mondar-mandir di hadapannya.
“Kau bekerja bersama dengan putriku.” Jawabnya sambil mengangkat kedua bahu dengan cuek.
Wanita itu seolah bisa mendengar bunti ‘klik’ keras di dalam kepalanya. Tentu saja ada satu orang lagi yang bekerja bersamanya dan gadis itu bisa memperoleh akses ke dalam laptop Olivia disaat wanita itu sedang lengah.
“Kenapa?” Tanya Olivia dengan nada yang masih tenang meskipun dalam hati ia benar-benar ingin meninju senyuman licik di wajah pria paruh baya itu.
“Aku harus menghasilkan penelitian.” Jawab Profesor Sebastian singkat.
“Buatlah sendiri penelitianmu.”
“Aku kehabisan waktu.”
“Mintalah bantuan, bukan justru mencuri penelitian orang lain!” Kesabaran Olivia sudah habis. “Apa kau pernah berpikir sebanyak apa waktu yang kuhabiskan untuk melakukan penelitian ini? Berapa besar usaha dan tenaga yang kukerahkan untuk sampai pada titik ini? Apa kau pikir dipilih menjadi seorang pembicara dalam seminar internasional adalah hal yang mudah?!!”
Profesor Sebastian menelan sisa-sisa harga diri yang dimilikinya dan tetap berpura-pura merasa tidak bersalah. “Caraku memandang masalah ini sedikit berbeda, ayolah kau tidak rugi-rugi amat, bukan? Maksudku begini, penelitian ini hanya membahas aplikasi harian dari green panel yang patennya pun sudah kau pegang—namamu masih tetap dikenal bahkan jika aku yang mempresentasikan penelitian ini. Kau hanya rugi sebuah perjalanan ke Kopenhagen saja, professor Cha.”
Olivia memukulkan tangannya ke atas meja di tengah ruangan dengan seluruh tenaga yang dimilikinya. “BUKAN ITU INTINYA! PENELITIAN INI PENTING UNTUKKU KARENA—”
__ADS_1
Olivia tidak mampu melanjutkan kata-katanya—ia menolak untuk meruntuhkan pertahan dirinya di depan orang yang baru saja mencuri karyanya. Masalah ini bukan tentang kredibilitas, bukan tentang karya intektual yang dirampas darinya, bukan juga tentang jenjang karir yang semakin menjanjikan untuknya.
...🐼🐼🐼🐼🐼...