Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
69. Tunangan


__ADS_3

‘tok tok tok’ Olivia yang hendak pulang dengan mengendarai mobilnya sedikit terkejut saat pintu mobilnya diketuk dari luar. Mata gadis itu melotot saat melihat El lah orang yang menggedor pintu mobil miliknya.


Olivia menurunkan kaca mobil sambil melihat kekiri kekanan takut melihat mahasiswa atau mahasiswi lain, untung saja dia mengambil parkiran di pingiran Gedung dan tidak ada satupun orang yang ada di sana.


“El ini masih di lingkungan kampus” tegur olivia sambil memicingkan mata kesal.


“Siapa juga yang bilang ini di mall, sana pindah ke kursi samping” ucap El dengan sangat santai.


“EL~” sekali lagi Olivia memberi peringatan pada kekasih yang baru beberapa jam yang lalu resmi itu.


“Iya tau kok, tapi ini lagi sepi, sana pindah cepat sebelum ada yang melihat aku di sini” El menaik turunkan alisnya seolah-olah dia sedang menantang Olivia.


Olivia menghela nafas panjang, dia cepat-cepat pindah ke kursi samping, takut jika lebih lama berdebat maka akan memperbesar kemungkinan orang untuk melihat dirinya dan El, lalu nanti bisa timbul gossip-gosip yang bikin panas telinga.


“Pintarnya kekasihku” puji El sambil mengelus puncak kepala Olivia dengan sayang.


“Udah jangan gombal el, cepat bawa mobilnya” Olvia sebenarnya malu telah di perlakukan seperti tadi, tapi dia tidak mau El semakin besar kepala melihat tingkahnya, El hanya bocah 18 tahun.


“Shall I take it for a spin?” tanya El pada Olivia karena saat ini jalanan sedikit sepi.


“Jangan terlalu mengebut.”


 


“Apa gunanya aku membeli mobil ini kalau begitu, kak” Ia tersenyum sebelum menekankan kaki kanannya dalam ke pedal gas untuk mempercepat laju mobilnya.


Jalanan yang kosong benar-benar sempurna untuk menguji kebolehan mesin mobil. ia juga menggunakan kesempatan ini untuk pamer pada Olivia akan kepiawaiannya dalam menyetir ugal-ugalan. Olivia duduk manis di kursinya sambil menikmati efek torsi yang diberikan dari raungan mesin mobil EL dengan ekspresi wajah datar yang sulit ditebak.


 


Wanita itu paham seluk beluk mobil karena Michel. Pria itu adalah pengemar berat muscle car dan ia selalu mencoba untuk mempengaruhi Olivia agar menyukai hobinya. Kadang pria itu akan mengajak Olivia untuk turut mengebut di dalam Audi kebanggaannya dan mereka juga selalu berargumen tentang mesin mobil mana yang paling baik—Olivia selalu memilih Aston Martin dan BMW, sedangkan Michel tetap bersikeras pada pilihannya, yaitu Audi.


Saat tunangannya masih ada, keduanya sering menikmati waktu libur mereka dengan mencari jalanan berliku terbaik di Eropa untuk diarungi dengan Audi milik Michel. Selama hubungan mereka, liburan itu adalah sebuah perjalanan yang tidak terlupakan. Olivia menyukai suara raungan yang datang dari knalpot mobil ketika mesin mobil bekerja maksimal, ia juga kagum dengan pemandangan yang berlalu dengan cepat seiring dengan menambahnya laju mobil hingga 200 km/jam, seolah-olah seluruh masalahanya juga ikut luruh jika ia berada dalam mobil yang melaju kencang.


 

__ADS_1


EL memelankan laju mobilnya ketika mereka tiba pada area dengan kamera pengawas, lelaki itu menolehkan kepalanya untuk melihat ekspresi Olivia—dan ekspresi wanita itu membuatnya bingung. Wanita itu tersenyum sendu tapi senyumnya tidak menyentuh matanya, ia hanya menatap kosong ke depan seperti orang yang sedang melamun.


 


“Kukira kau pejuang green living, kak” Godanya, membuyarkan lamunan Olivia akan Michel. “Aku tidak tahu kalau kau menikmati acara menyetir ugal-ugalan yang jelas membuang-buang bahan bakar”.


Olivia menggelengkan kepalanya untuk menyingkirkan memorinya tentang Michel, ia memilih untuk fokus pada perbincangan yang terjadi sekarang.


 


“Aku dulu menikmati hal itu.” Balasnya cepat, “Semua orang punya guilty pleasure bukan? Guilty pleasure-ku ternyata mesin v8 turbo.”


 


El terkekeh geli dengan pernyataannya.


 


“Terima kasih.” Ujar Olivia cepat.


 


 


“Untuk membuktikan padaku kalau BMW seri M memang lebih baik, aku tak sabar melihat ekspresi di wajahnya nanti saat aku memberi tahunya tentang hal ini.” Ia tidak tahu mengapa ia justru mulai bicara tentang Michel—sekarang, pada El. Suara wanita itu mulai serak sementara ia berusaha untuk tidak terjebak ke dalam momen melankolis yang selalu menyerangnya ketika ia teringat akan Michel, “Jelas ia tidak akan suka dengan fakta yang kutemukan, tapi aku yakin ia akan menerima kekalahannya seperti seorang pria sejati yang selalu kukenal.”


 


Genggaman El pada setirnya mengencang, ia tidak pernah menyangka hatinya bisa terasa remuk seperti ini hanya karena Olivia berbicara tentang lelaki lain, dan fakta kalau Olivia memandanganya sebagai seorang pria sejati juga mengganggu pikirannya, apakah benar hati Olivia bisa dia ambil? Apakah saat ini dia ada dalam hati Olivia walau hanya sedikit.


 


“Siapa yang kau maksud?” El menggali lebih dalam lagi, walau dia sebenarnya tau maksud orang yang dituju dari ucapan Olivia.


 

__ADS_1


Olivia memalingkan kepalanya dari El, memilih untuk memandang jalanan, “tunanganku” Setetes air mata jatuh dari pelupuknya.


EL tidak tahu hal mana yang lebih menyakitkan baginya: menyaksikan Olivia menangis karena ia mengingat pria yang menjadi tunangannya, atau fakta kalau wanita di sampingnya masih terluka Ketika mengingat mantan tunangannya. Padahal itu sudah bertahun-tahun, dan gadis itu masih belum sembuh dari lukanya, bagaimana caranya untuk menyembuhkan luka hati yang ada pada hati gadis itu.


...🦊🦊🦊🦊🦊...


El menghentikan mobilnya pada sebuah taman yang sepi, disana juga ada sebuah danau yang terlihat sangat tenang.


“Kenapa kita kesini EL?” Olivia memandang wajah El dengan penasaran.


“Buang pikiran negative” jawab EL sambil membaringkan dirinya pada kursi dan memejamkan mata.


“kenapa apa yang sedang kau pikirkan?” Olivia masih tidak tau kenapa El bersikap seperti ini.


“Tunangan? Sudah bertahun-tahun kak, cobalah menganggap dia sudah pergi, bukan aku memaksa untuk melupakan dia sepenuhnya dari hatimu, tapi kak sekarang dia bukan tunangan kakak lagi, dia hanya mantan tunangan, karena sekarang dia sudah tidak ada di sini, hanya aku yang ada di sini sekarang” El memandang Olivia dengan mata sedikit berwarna merah.


Olivia terdiam, ternyata tadi perkatannya telah menyakiti hati EL, “maaf, tanpa sadar aku membicarakan dia lagi, maaf” lirih olivia.


“Kak, apakah benar aku sudah masuk dalam hatimu?” tanya EL pelan.


Olivia yang tadinya menunduk segera mengangkat kepalanya untuk menatap wajah El, “Walau aku membicarakannya, bukan berarti dia masih seutuhnya ada di hatiku, kamu sudah masuk secara perlahan mendobrak pintu hatiku yang sudah di gembok, selama bertahun tahun, tidak ada satupun pria yang bisa memasukinya selain kamu, percayalah, dan maaf jika aku membicarakannya tanpa sadar, itu hanya kebiasaan saja”.


El menyunggingkan senyumnya dan Kembali menyalakan mesin mobil lagi.


“El kita tidak jadi turun?”


“tidak, kita harus cepat sampai apartemen”


“kenapa?”


“Karena aku tidak tahan untuk mencium kakak, jika aku mencium kakak di sini, maka kita akan digiring ke kantor polisi, sebaiknya kita ke apartemen secepatnya”.


Olivia langsung mengalihkan pandangannya dari wajah El, pipi gadis itu sudah bersemu merah mendengar ucapan EL barusan.


...🐼🐼🐼🐼🐼...

__ADS_1


__ADS_2