Twins Dan Falling In Love

Twins Dan Falling In Love
43. Kenangan Olivia


__ADS_3

Setelah bangun Olivia tidak dapat menutup matanya lagi, setiap dia ingin memejamkan mata maka kenangan itu akan kembali lagi, jadi gadis itu berjalan menuju perpustakaan pribadi miliknya untuk membaca, menghabiskan waktu agar dia tidak mengantuk.


Mata olivia melirik pada jam yang sudah menunjukkan pukul 5 pagi, gadis itu menyunggingkan sedikit senyuman begitu wajah El muncul dalam pikirannya, tapi sedetik kemudian senyum itu memudar begitu mengingat El menjadikan dirinya bahan taruhan.


“Aku haru percaya dirinya yang mana? Dirinya yang lucu dan polos atau nakal dan menyebalkan?” gumam Olivia.


Gadis itu memukul pipinya sendiri dengan kuat, “kenapa aku memikirkan pria kecil itu! Tapi dengan adanya dia aku mampu melupakan Marchel” lirih Olivia.


‘plak’ kembali olivia memukul pipinya dengan kuat, “ini tidak benar, El berurusan dengan Brian, dan tidak aka nada hal yang berakhir Bahagia jika bersama pria itu” keluh Olivia.


Mata gadis itu kembali berair mengingat marchel yang mati di depan matanya sendiri.


🕸Flasback ON🕸


“TOLONG!” Olivia berteriak histeris saat ia benar-benar menyadari sekeritis apa kondisi prianya yang kini mulai kehilangan kesadaran.


Marchel tersenyum sambil memegangi pipi olivia, tangan marchel yang berdarah mengenai pipi gadis itu, “jangan - me- nangis se- muanya a- kan ba-ik-ba-ik sa-ja, a-ku ti-dak a-pa” gumam marchel terbata.


Air mata gadis itu tetap terjatuh, “kamu berdarah Chel, kamu harus bertahan untukku, aku mohon jangan tinggalkan aku” lirih Olivia.


“MARCHEL!” pekik brian, dia berlari mendekati Marchel dan Olivia.


“Chel! Lo bisa bertahan !” pekik Lars.


Mereka memang berada disekitar situ dan penasaran dengan suara tembakan yang terdengar dan ternyata itu adalah marchel yang di tembak.


“TOLONG MARCHEL!” pekik olivia dengan tangisnya.


Johan berlari mengambil kain sebanyak-banyaknya untuk menutupi badan marchel tapi apalah daya peluru yang di tembakkan sangat banyak dan mungkin sudah mengenai organ vital marchel.


Marchel menggelengkan kepala sambil menahan tangan johan yang ingin mengobatinya.


“Ja-Ga Oliv un- tuk ku…” setelah berkata begitu mata marchel tertutup, pria itu sudah terlalu banyak kehilangan darah karena menjadi rompi bagi tunangannya.

__ADS_1


“GAK CHEL!” Johan berteriak dan melakukan CPR pada Marchel tapi tubuh itu tidak bergerak sama sekali jantung marchel sudah berhenti berdetak.


“SEMUA INI KARENA KALIAN!” Teriak Olivia dengan mata memerah, “AKU MEMBENCI KALIAN!” setelah berteriak histeris tubuh Olivia tiba-tiba ambruk. Leon yang kebetulan ada di dekat Olivia langsung menangkap gadis itu.


“ALEXA!” pekik Brian, Leon, Johan dan Lars bersamaan saat tubuh kecil itu terjatuh dan terkulai lemas di lantai.


Johan cepat-cepat memegang tangan Olivia untuk memeriksa nadi gadis itu.


“dia hanya syok, dan cidera kecil” gumam Johan, jangan tanya bagaimana keadaan ke empat pria itu mereka sama seperti olivia syok dan tidak menyangka sahabat mereka akan mati didepan mata mereka.


“Leon, periksa tempat ini, dan cari tau siapa saja korbannya, dan siapa pelakunya” gumam Brian, dia mengangkat tubuh Marchel dan Johan mengangkat Olivia.


“Aku- akan membantu Leon” gumam Lars pelan.


Brian mengangguk pelan, “bunuh mereka semua tanpa ampun, baik wanita ataupun anak-anak, jika mereka terlibat bunuh saja” ucap brian dingin.


“Baik” jawab Leon dan Lars serentak.


.


Saat membuka mata Olivia masih diam dan tidak banyak bicara, kebetulan ruangannya kosong, gadis itu duduk dan menatap sekitarnya, dia tau itu adalah markas utama mafia milik tunangannya atau bisa dikatakan mantan tuanangan karena pria itu sudah tenang di alam yang berbeda.


Mata olivia menatap vas bunga yang ada disebelahnya, dan gadis itu mengambil dan memcahkan vas itu lalu mengambil pecahannya dan mengarahkan pada tangannya, dia sudah tidak sanggup hidup lagi, semua orang yang ada disekitarnya selalu meninggalkan dirinya, dimulai dari kedua orang tua, hingga orang tua angkat gadis itu, bahkan sekarang tunangan tercinta juga meninggalkan dirinya apa lagi yang bisa dia lakukan untuk bertahan hidup.


Saat tangan olivia ingin menggores urat nadi, sebuah suara menghentikan gadis itu.


“Jangan lakukan itu!kau akan membuat Marchel kecewa karena berusaha melindungimu dengan tubuhnya” Ucap Johan yang datang sambil membawa nampan berisi makanan.


Johan masuk lebih dalam diikuti dengan Brian, Lars dan Leon.


“kau mau melihat video yang Marchel rekam untukmu?” Tanya Brian.


Olivia masih diam tapi pupil mata gadis itu bergetar menatap Brian.

__ADS_1


“Kami akan meninggalkan dirimu disini dengan rekaman itu, tapi jangan berniat bunuh diri, percuma marchel melindungimu jika kau akhirnya mati juga” ujar Lars.


‘ceklek’ setelah terdengar bunyi pintu yang tertutup olivia berjalan lemah menuju laptop yang dibiarkan terbuka oleh Leon. Di sana memang menampilkan wajah Marchel, air mata Olivia kembali jatuh menatap wajah tunangannya walau dari layar laptop.


Tangan gadis itu menekan tombol play dan terlihatlah marchel yang tersenyum padanya.


“Hai Oliv, Jika kamu mendengarkan rekaman ini berarti aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, jangan pernah menyalahkan dirimu atas kepergianku, ini memang resiko yang harus aku tanggung sebagai seorang mafia, dan jangan menyalahkan sahabat-sahabatku, mereka sudah memaksaku untuk berhenti tapi aku yang tetap mau bertahan, Oliv jaga dirimu, jangan lupa makan, maaf popeye ini tidak bisa menemanimu lagi, jangan pernah melakukan hal yang aku benci, jangan membunuh dirimu atau aku tidak akan pernah memaafkanmu!” terlihat marchel mengeluarkan air matanya.


“beberapa hari ini aku bermimpi sedikit menakutkan, aku takut itu akan terjadi, kau pergi menjauhiku dan kita tidak bisa bersama lagi, aku tidak tau arti mimpi itu, tapi aku berharap tidak ada yang terjadi padamu, Jaga Kesehatan dan tetap menjadi oliv yang aku banggakan, aku mencintaimu Oliv, Popeye akan pergi” lalu video berhenti.


Olivia menangis meraung-raung di dalam ruangan itu, sementara ke empat sahabat Marchel menunggu di luar kamar dan mereka juga sama dengan olivia menitikkan air mata. Keempatnya memang sengaja menunggu olivia di depan kamar takut gadis itu kembali nekat untuk membunuh dirinya.


.


Beberapa hari kemudian olivia mulai bersikap normal namun perubahan yang terjadi gadis itu lebih pendiam jika bersama keempat sahabat Marchel.


“Aku ingin mengajar kembali di kampus” ucap Olivia pada Brian.


“oke lakukanlah” ujar brian.


“tapi tidak dengan kawalan itu, aku tidak akan membunuh diriku” ucap Olivia sambil memandang para bodyguard perempuan yang ada didekatnya.


“tapi kami diminta untuk menjagamu” ujar lars.


“menjaga bukan berarti seperti ini, aku tidak suka” ujar olivia kesal.


“baiklah begini saja, hanya dikawal saat kau berada diluar atau dalam perjalanan menuju tempat tujuan setelah itu mereka akan pergi” putus brian.


“baiklah” ucap Olivia pasrah.


🕸Flashback Off🕸


Olivia memijat kepalanya yang kembali berdenyut karena kenangan itu kembali muncul, jika seandainya dia mati bersama Marchel Olivia tidak akan perlu mencari cara untuk bertahan hidup, gadis itu sudah kehilangan minat untuk hidup, dia bertahan sampai sekarang juga karena permintaan Marchel. jika tidak sudah lama gadis itu mati untuk ikut bersama Marchel.

__ADS_1


__ADS_2