
Malam itu cerah ketika Olivia dan Marchel berjalan bergandengan tangan di sepanjang Rue de la Charone di Paris. Di tengah kesederhanaan suasana kota Paris di musim gugur, keduanya menyunggingkan senyum bahagia, bagaiman tidak? Marchel baru saja menyatakan keinginannya untuk menikahi wanita idamannya. Hanya tiga jam yang lalu, di tengah hamparan rumput kecoklatan yang mulai mengering di lapangan Champ de Mars, Marchel baru saja melamar Olivia.
Awalnya mereka hanya merencanakan piknik romantis di lapangan panjang yang terhampar di belakang menara Eiffel yang menjadi ikon utama kota Paris. Di atas tikar piknik mereka bersantai, menikmati sebotol wine yang dipadukan dengan kacang-kacangan, buah apricot kering dan keju. Marchel melakukan rencananya yang tersusun rapi dengan hati-hati. Dimulai dengan obrolan umum tentang kehidupan sehari-hari yang mereka lalui, perekonomian dunia yang mulai mengusik pikiranya, hingga pada nilai-nilai yang terkandung pada bagungan-bangunan klasik Paris yang feminine yang ada di sekeliling mereka—ia tahu Olivia sangan menyukai topik yang satu ini. Ketika Olivia lengah dan mulai terbawa pada topik yang direncanakan, Marchel merogoh saku jasnya untuk memberikan sebuah cicin pada wanita mungil di sampingnya. Dengan segenap keberanian dan usaha mati-matian dari Marchel untuk menutupi kegugupannya, ia menyatakan kalimat yang sukses membuat hati Olivia luluh dan berbunga, ia menghaturkan keinginannya untuk selalu berada di sisi Olivia, untuk melindunginya, untuk hidup berbagi kebahagiannya bersamanya hingga ajal menjemput mereka. Tanpa perlu berpikir dan mempertimbangkan jawabannya, Olivia menggangguk setuju dalam hitungan detik.
Cinta mereka telah mulai bersemi sejak awal pertemuan mereka, sekitar satu tahun silam. Marchel adalah seorang Mafia yang sedang menyamar sebagai kurator bertemu dengan Olivia yang menjadi pembicara di sebuah seminar internasional. Pada awalnya Olivia hanya sebatas mengagumi Marchel melalui fisiknya yang gagah, posturnya yang tinggi dan tegap, sikap gentleman yang menyertai pembawaannya—oh ayolah, wanita mana yang tidak tergoda dengan pria tampan dengan sikap yang satun. Setelah mengobrol lebih banyak dengan pria yang mencuri perhatiannya, Olivia mulai merasa ia menemukan seseorang yang memiliki tingkat intelektual yang sepadan dengan dirinya. Tidak mudah baginya menemukan seseorang yang bisa diajak bergunjing tentang berita selebriti terkini namun juga mampu menanggapi dengan serius topik tentang proyek terbaru Nasa. Seseorang yang bisa diajak bercanda ketika ada hal lucu di sekitarnya tapi juga bisa berdiskusi dalam mengenai detail-detail yang ada di dalam sebuah mesin mobil—seseorang yang bisa diajak bergurau pada banyak waktu, tapi mampu bersikap serius ketika dibutuhkan.
Olivia bukan satu-satu yang sangat terkesan dengan lawan bicaranya.
Marchel pun kagum dengan sikap rendah hati yang dimiliki wanita berpengetahuan luas itu, meskipus Olivia sudah menyandang gelar professor di usianya yang masih sangat muda, Olivia bisa memperlakukan orang lain dengan hormat tanpa kesan merendahkan dan Olivia pun mampu menahan diri untuk tidak membicarakan hal yang membuat orang lain merasa terintimidasi akan kecerdasannya.
Le Belle Equipe, merupakan sebuah restoran Perancis sederhana yang terletak di Rue de la Charone. Olivia dan Marchel memutuskan untuk mengakhiri malam romantis mereka dengan makan malam sederhana sekaligus untuk merayakan pertunangan mereka. Seperti biasa, bagaikan seorang pria santun, Marchel membukakan pintu untuk wanita yang baru resmi menjadi tunangannya dan seorang pelayan segera menyambut mereka dengan antusias. Pasangan ini memilih untuk duduk di dekat jendela di pinggir jalan untuk menikmati suasana authentic dari kota Paris yang mereka kagumi.
__ADS_1
Keduanya menikmati waktu santai mereka dengan menu-menu pilihan yang luar biasa di malam itu. Acara tidak formal itu diawali dengan sekeranjang pilihan roti Perancis yang khas, disertai dengan anggur merah yang dipilih Marchel dengan seksama. Ceasar salad pesanan Olivia datang diikuti dengan fillet mignon dan sepiring irisan daging burung dara yang dimasak ala Perancis dengan sempurna. Setelah kenyang dengan menu utama, Olivia dan Marchel berbincang ringan sebelum akhirnya memutuskan untuk memesan hidangan penutup yang dari tadi sudah mengundang perhatian mereka.
Hanya perasaan damai dan bahagia yang dirasakan pasangan itu, keduanya sedang seru menebak-nebak kandungan bahan dari éclair coklat yang mereka pesan ketika ketenangan malam itu pecah oleh suara decitan ban mobil yang terdengar nyaring bagi pengunjung restoran.
Sebuah mobil Seat hitam berhenti dengan dramatis di sebrang restoran kecil itu, sukses menarik perhatian semua pengunjung yang sedang menikmati makan malam mereka. Satu detik kemudian, suasana tenang berubah seketika, dan bagi Olivia semuanya terjadi begitu cepat.
Olivia tidak bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya karena Marchel dengan sigap langsung melemparkan tubuhnya sendiri ke atas tubuh kecil Olivia, pada saat tubuh mereka jatuh ke lantai yang dingin, suara tembakan bertubi-tubi segera terdengar. Kaca besar yang sebelumnya ada di samping mereka kini sudah pecah berkeping-keping dan pecahannya tersebar di lantai sekitar mereka. Orang-orang panik berlarian dan berteriak, Olivia pun dapat merasakan salah satu pecahan tajam kaca besar tadi telah menusuk telapak tangan dan bahunya. Marchel masih tetap memposisikan dirinya di atas Olivia, melindungi wanitanya dari serangan peluru yang membabi buta dan juga pecahan kaca yang masih berterbangan di sekitar mereka. Yang bisa Olivia lakukan hanya bungkam sambil berdoa dalam hati agar terror masal ini segera berakhir. Sementara Marchel lupa membawa senjatanya yang ditinggalkan di mobil, dia terlalu terbawa suasana hingga melupakan benda itu, dia juga tidak menganakan rompi anti peluru.
Pria-pria bermasker itu terus mengarahkan senjata mereka ke dalam restoran yang sekarang telah porak-poranda, mereka sepertinya berencana untuk menghabiskan seluruh cadangan peluru yang disiapkan dan mereka tidak segan-segan menembak apa pun yang bergerak di hadapan mereka.
__ADS_1
Terlihat jelas di mata Olivia bagaimana keluarga yang terdiri dari empat orang yang tadi duduk tepat di samping meja mereka sekarang terkapar tak berdaya di lantai, dengan tubuh bersimbah darah. Ia mengalihkan pandangannya untuk menatap tunangannya yang masih melindungi tubuhnya dan tangisan histeris segera keluar dari mulut wanita itu.
Secepat datangnya, pembantaian itu juga berakhir setelah seluruh peluru cadangan pria-pria biadab itu habis. Tiga menit lamanya tragedi itu berlangsung, namun bagi Olivia itu adalah tiga menit terpanjang dalam hidupnya.
Marchel masih bersusah-payah untuk melindungi Olivia, menggunakan tubuh lebarnya untuk menghimpit wanita yang dicintainya, mencoba menjadi tameng dari serbuan peluru buta yang menyerang ke berbagai arah. Tangan kokoh yang semula menahan bobot tubuhnya kini terkulai lemas, ia sudah kehabisan banyak darah dan setelah ia merasa situasi telah sedikit aman, Marchel segera mengulingkan dirinya ke samping Olivia.
“Chel! kau terluka! Ya tuhan Marchel! kau—” Seruan Olivia tertahan, ia tidak mempedulikan nyeri di bahunya yang didapat dari tusukan kaca yang sukses menembus kulit mulusnya. Perhatiannya sepenuhnya terlalih pada kondisi Marchel yang kini terbaring lemas di hadapannya, matanya membelalak melihat beberapa genangan darah yang muncul dari tubuh tunangannya.
“Aku akan baik-baik saja.” Kilah Marchel seraya membaringkan tubuhnya di lantai seiring dengan mulai lenyapnya sisa-sisa tenaga yang tadi ia kerahkan untuk melindungi wanita di depannya.
“TOLONG!” Olivia berteriak histeris saat ia benar-benar menyadari sekeritis apa kondisi prianya yang kini mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1
Mata olivia terbuka lebar keringat dingin mulai membasahi badannya, mimpi itu kembali muncul setelah beberapa tahun ini mimpi itu tidak pernah hadir, tapi kini mimpi itu kembali muncul. Olivia menangis keras begitu mengingat kembali bagaimana tunangannya mati di tangan ******* yang tenyata mereka bukan hanya *******, tapi mafia berkedok *******.
...🦁🦁🦁🦁🦁...