Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 10


__ADS_3

"Baiklah, nanti mami akan menyusul kalian deh," sahut mami Juan. Pak Leo yang duduk di sana hanya menjadi pendengar setia saja.


Pagi itu Zian mengikuti kuliah pagi dengan serius. Setelah melalui beberapa jam mendengarkan materi kuliah nya, Zian bersama Mariah dan juga Fauzi pergi ke mall. Sesuai rencana mereka yang akan shoping mencari beberapa hijab dan juga pakaian Muslimah. Zian sudah mengutarakan niatnya untuk memakai busana muslim. Tentu saja Mariah dan juga Fauzi yang mendengar niat baik dari Zian itu sangat mendukung dan antusias. Mariah dan Fauzi sangat senang ketika Zian menghubungi mereka berdua dengan rencananya ingin mengenakan hijab. Karena kedua orang tua Zian sudah mendukung Zian dalam memeluk dan menganut agama yang telah dipilih oleh Zian. Hal ini semakin memantapkan Zian untuk belajar mengaplikasikan semua perintah dan ajaran dalam kitab suci itu dalam wujud perbuatan dan tindakan.


Karena Zian datang ke kampus dengan mengendarai motor maka mereka bertiga ke mall mengendarai dua motor dan Zian memboncengkan Mariah yang tadi pagi diantar oleh bundanya ke kampus dan tidak mengendarai motor sendiri.


Dua motor matic itu beriringan menuju tujuan yaitu ke pusat perbelanjaan di kota.Betapa ketiga gadis perawan yang satu generasi itu terlihat ceria dalam kebersamaan. Tidak sampai satu jam mereka tiba di tempat yang hendak mereka tuju yaitu mall terbesar di kota itu. Setelah memarkirkan kedua motor itu Zian, Mariah dan juga Fauzi segera masuk ke dalam gedung dengan menjual beberapa jenis barang maupun makanan. Restoran dan kafe pun ada di pusat perbelanjaan itu.


"Oh iya, Mariah dan Fauzi! Nanti mami aku mau menyusul ke mall ini juga. Kata mami aku, mami juga ingin berbelanja dan mencari barang yang akan dibeli oleh mami. Nanti kita menunggu mami aku ke kafe biasa tempat kita nongkrong saja," ucap Zian.


"Oke, soal nongkrong kami suka suka saja. Apalagi ada Wi-Fi gratisan juga," sahut Fauzi. Mariah menepuk jidatnya sendiri mendengar ucapan Fauzi.


"Hem, kita ke kafe menunggu mami Juan terlebih dahulu atau kita langsung mencari hijab dan busana muslimah yang kamu cari, Zian?" tanya Mariah. Zian dan juga Fauzi saling pandang.


"Hem, biar aku hubungi mami saja. Sambil menunggu mami bagaimana kalau kita lihat-lihat dulu barangnya. Dan tentu saja aku sesuai kan dengan kantong dan tabungan aku. Kan gak. mungkin aku membeli baju muslimah serta hijab hanya satu doang kan? Masak aku gak ganti-ganti baju muslimah dan juga hijab," kata Zian.


"Hahaha... iya, Kamu jangan khawatir Zian! Aku akan memberikan kamu dua baju muslimah dan juga hijab dengan warna berbeda. Tentu saja masih baru dan belum aku pakai. Tapi kamu mau kan jika pakaian muslimah yang aku beli tidak mahal dan juga tidak bermerek," kata Mariah. Zian yang mendengar Mariah hendak memberikan baju muslimah dengan hijabnya sangat senang.

__ADS_1


"Terimakasih banyak Mariah! Aku pasti menyukai nya," sahut Zian.


"Dari Mariah dua, nanti dari aku tiga biji yah, sayang! Pokoknya untuk sahabat ku kita saling mendukung untuk hal yang lebih baik," ucap Fauzi bersemangat. Ketiga gadis perawan itu saling ber genggaman tangan berjalan menaiki eskalator menuju lantai dua di mall itu.


Mereka mulai memilih-milih baju muslimah kekinian. Mariah dan juga Fauzi sangat bersemangat memilihkan baju muslimah yang cocok dengan Zian.


Mami Juan sudah berada di mall yang sama di mana Zian, Fauzi dan juga Mariah di tempat itu. Mami Juan sudah masuk dan duduk di kafe tempat nongkrong anak-anak muda, remaja, dewasa maupun segala usia. Mami Juan segera mencari nomor WA putrinya, Zian untuk memberitahu keberadaan nya di kafe itu.


📱📲 "Halo Zian sayang! Mami sudah tiba di mall tempat yang kita janjikan. Mami sudah di kafe nih! Kamu segera lah kemari yah!" isi pesan chat kepada Zian.


Tidak lama kemudian Zian membalas pesan chat WA itu dengan cepat.


Mami Juan tersenyum membaca balasan pesan chat dari putrinya tersebut. Selang beberapa lama, akhirnya orang yang ditunggu kini datang. Zian, Fauzi dan juga Mariah masuk ke dalam kafe itu dengan menenteng tas belanjaan. Mami Juan menyipitkan bola matanya. Namun senyuman lebar lalu dilemparkan nya pada ketiga gadis muda yang kini sudah mendekati tempat duduknya.


"Mami!" ucap Zian sambil bersalaman dan mencium punggung tangan mami Juan. Kemudian keduanya saling cipika-cipiki. Kini giliran Fauzi dan juga Mariah bersalaman dengan mami Juan. Dengan senyuman nya yang mengembang mami Juan menyambut hangat ketiga gadis perawan itu duduk satu bangku dengan dirinya.


"Kita makan dan minum dulu yah, sayang! Kalian mau pesan apa saja, silahkan!" kata Mami Juan sambil melihat list menu makanan dan minuman yang ada di kafe itu. Tentu saja Zian dan kedua temannya bersemangat untuk memesan makanan.

__ADS_1


Pelayan kafe datang mendekati tempat duduk mereka dan mencatat semua makanan dan minuman yang dipesan oleh Zian, Mariah, Fauzi serta mami Juan. Setelah nya pelayan itu dengan hormat meninggalkan mereka setelah mencatat semua pesanan mereka.


"Kalian sudah berbelanja?" tanya mami Juan sambil melihat tas belanjaan yang lebih dari dua tas besar. Fauzi dan juga Mariah saling berpandangan. Sedangkan Zian tersenyum saja.


"Itu tadi Zian yang berbelanja tante! Beberapa hijab dan juga pakaian Muslimah," jelas Mariah.


"Cuma dua baju muslimah dan tiga hijab saja kok, mami. Rencananya Zian mau lihat di toko langganan Mariah yang menjual baju gamis dengan harga yang lebih murah. Zian kan butuh baju muslimah yang banyak juga, mami!" kata Zian.


"Jadi, kamu sudah yakin mau memakai hijab, Sayang? Tapi kamu tidak boleh lepas-lepas lagi seperti artis di televisi itu yah, sayang," kata mami Juan.


"Doakan Zian tetap istiqomah dan teguh dalam keputusan ini, mami. Mami tidak keberatan kan jika Zian memakai hijab dan menutup rambut Zian?" tanya Zian.


"Tentu saja sayang! Mami akan selalu mendukung kamu. Sebenarnya mami bergabung dengan kalian untuk shoping ini dengan maksud ingin membelikan kamu beberapa baju muslimah. Dan juga beberapa mukena," jelas mami Juan. Zian, Mariah dan juga Fauzi yang mendengar rencana baik dari mami Juan merasa ikut senang dan terharu.


"Mami, terimakasih banyak! Mami sangat peduli dengan Zian," sahut Zian dengan mata yang mulai berkaca.


"Kamu bicara apa sih, sayang! Bukankah mami sudah bilang dengan kamu kalau mami akan mendukung kamu dengan segala keputusan kamu memeluk agama yang kamu pilih," kata mami Juan.

__ADS_1


Obrolan mereka terhenti sesaat karena pelayan kafe itu tiba dengan membawa pesanan makanan dan minuman mereka. Tidak banyak obrolan saat mereka menikmati makan itu bersama-sama di kafe itu. Yang pasti dalam hati Zian terbersit doa yang baik untuk mami nya. Seandainya saja mami nya bisa sama satu keyakinan dalam memeluk agama yang dipilihnya, pasti hari raya tahun depan akan semakin hangat dan lebih berkesan.


__ADS_2