
Sementara di ruang makan, di mana Zian sedang bersama ibu mertuanya, nyonya Desi sedang berbincang-bincang. Ibu Desi sambil memakan buah bersama menantunya mengobrol soal trend baju, sepatu, dan tas. Sampai akhirnya tiba diperbincangkan soal keturunan.
"Zian, kamu menikah dengan Genta sudah hampir dua tahun loh, sayang! Tapi kenapa belum ada tanda-tanda kalau kamu hamil dan mengandung. Ini jangan dianggap sepele yah, nak! Kamu dan juga suami kamu harus periksa ke dokter spesialis kandungan, dong!" ucap nyonya Desi.
"Baik, mama! Nanti Zian akan mengajak bang Genta untuk memeriksakan ke dokter spesialis kandungan," ucap Zian dengan bahasa lembut dan santun.
"Mama rasa, kamulah yang bermasalah dalam rahim kamu. Kalau Genta, putra ku sih sudah pasti bagus benih-benih nya. Genta lahir dari keluarga yang sehat dan tidak ada keturunan nya yang mandul," ucap nyonya Desi dengan ketus. Sungguh hal itu membuat hati Zian seperti tertusuk belati. Secara tidak langsung, nyonya Desi telah menuduh jikalau Zian mandul itu lantaran dari turun temurun keluarga nya.
Zian seketika menundukkan kepala nya. Zian selalu sedih jika mengingat akan satu hal ini. Mami papi Zian juga selalu mempertanyakan soal ini kalau bertemu. Apalagi sekarang ini sudah hampir tiap hari Zian akan ketemu dengan orang tuanya di kantor. Mami Juan akan lebih cerewet lagi kalau melihat Zian capek. Itu akan mempengaruhi Zian dalam proses reproduksi nya. Jika wanita capek itu akan berpengaruh juga pada keberhasilan untuk membuahkan benih-benih yang tertanam di rahim.
Langkah kaki mendekati kedua wanita beda generasi itu. Dia adalah Genta.
"Wah kelihatan nya seru yah mama dan menantu mengobrol!" sahut Genta sambil mendekati nyonya Desi lalu mencium pipi kanan dan kiri mama nya. Zian tersenyum lebar ketika melihat suami nya begitu menyayangi mama nya.
"Iya, dong! Tadi ngobrol soal trend terkini dari model baju, tas branded, sepatu. Sesekali ajak istri kamu shopping dong, Genta! Kasihan kan jika Zian ketinggalan jauh soal model masa kini," kata nyonya Desi.
"Zian kan pakai hijab, mama! Tidak perlu aneh-aneh dong! Begitu saja sudah cantik kok," ucap Genta sambil mengedipkan mata ke arah Zian. Zian membalas dengan senyuman.
"Wah Genta! Walaupun memakai hijab harus tetap mengikuti trend dan fesyen. Kapan-kapan aku akan mengajak Zian shoping saja," kata nyonya Desi.
"Iya, silahkan mama!" sahut Genta.
"Oh iya, mama! Kami pulang dulu yah! Sudah mau magrib nih!" kata Genta lalu mendekati Zian yang masih duduk di meja makan itu. Zian berdiri lalu bersiap-siap bersalaman dengan mama mertua nya. Genta cipika-cipiki dengan mama nya.
"Oh iya, Genta! Kamu masih ada hutang dengan mama!" kata nyonya Desi mengingat kan. Genta mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Hutang? Aku hutang apa ma?" tanya Genta.
"Kamu belum kasih mama papa seorang cucu yang lucu," jawab nyonya Desi.
"Oh itu yah! Doakan saja, ma! Kami bisa secepatnya dikaruniai bayi mungil itu," sahut Genta.
"Aamiin! Jangan lupa, Genta! Kamu harus memeriksakan istri kamu ke dokter kandungan yah, supaya bisa tahu jika ada masalah dalam rahimnya," nasihat nyonya Desi.
"Iya, mama!" sahut Genta.
"Mama, Zian pamit ma! Lain waktu kami singgah lagi ke rumah mama papa," kata Zian.
"Oke, Hati-hati di jalan yah nak!" ucap nyonya Desi.
*****
"Maafkan, mama yah!"ucap Genta sambil melirik ke arah Zian.
Genta kali ini sedang menyetir dengan menggunakan mobil Zian. Mobil itu adalah hadiah ulang tahun dari papi mami nya saat Zian berulang tahun di usia 24 tahun. Genta sendiri sudah tidak memiliki aset yang berharga. Semuanya dijual untuk menutupi hutang-hutangnya.
"Kenapa kamu minta maaf, bang? Mama tidak salah kok!" sahut Zian.
"Iya, walaupun begitu aku merasa tidak enak juga kalau mama sudah mengungkit masalah cucu dari kita," kata Genta.
"Tidak apa-apa bang! Itu sangat wajar sekali. Bahkan kedua orang tua ku pun juga selalu sibuk menginginkan itu. Kita sudah hampir dua tahun menikah, tapi belum juga mendapatkan putra. Allah belum kasih kepercayaan itu pada aku, bang! Mungkin saja, aku belum pantas menjadi seorang ibu. Sebagai seorang istri, aku belum sempurna, bang jika belum merasakan mengandung dan melahirkan," ucap Zian.
__ADS_1
"Zian, sayang!" sahut Genta. Genta segera menepikan mobilnya dan menghentikan di pinggir jalan.
Zian terlihat berkaca-kaca. Genta sedikit menggeser tempat duduknya dan merangkum kedua pipi Zian. Air mata itu jatuh juga di sudut mata Zian. Genta perlahan mengusap nya.
"Hai, jangan menangis dong! Kita harus tetap berusaha. Oke? Lusa kita periksa ke dokter kandungan, yah sayang! Semangat dong! Jangan putus asa. Oke?" ucap Genta. Genta mengecup kening Zian. Zian mengangguk pelan.
"Maafkan, Zian bang! Zian belum bisa kasih bayi mungil itu dalam rahim Zian," ucap Zian kembali sesenggukan.
"Sayang! Jangan nangis dong sayang! Aku jadi ikut bersedih!" kata Genta. Zian berusaha tersenyum walaupun dihatinya sangat sedih. Genta kembali menjalankan mobilnya. Dalam perjalanan menuju ke rumah, kedua nya tidak banyak berbicara. Genta juga bingung kalau sudah menghadapi istrinya yang murung jika mengingat belum bisa hamil. Padahal sudah hampir dua tahun usia pernikahan mereka.
"Ayo, turun sayang! Setelah ini kita akan mencoba nya lagi. Semoga benih yang aku tanam di rahim kamu akan berkembang menjadi janin," ucap Genta saat mobil itu sudah tiba di dalam garasi mobil rumah mereka. Zian tiba-tiba bersemu merah wajahnya.
Genta menggandeng istrinya masuk ke dalam rumah dan keduanya melangkah menuju kamar utama mereka.
"Bang, aku mandi dulu yah!" kata Zian. Namun sebelum Zian hendak masuk ke dalam kamar mandi, lengan Zian ditahan dan ditarik oleh Genta. Tubuh itu didekap dan dipeluk oleh Genta.
"Nanti saja mandinya, aku ingin sekarang melakukan nya," ucap Genta. Zian mengernyitkan dahinya menatap wajah tampan suaminya.
"Tapi badanku lengket dan bau keringat, bang!" kata Zian.
"Tidak, aku suka ini!" sahut Genta. Kening itu dikecupnya. Kedua pipi itu dirangkum kembali oleh Genta. Bibir indah merah merekah milik Zian benar-benar sangat menarik untuk disentuh oleh Genta. Pelan-pelan hijab yang menutupi rambut dan kepala Zian dilepas oleh Genta. Rambut panjang lurus itu kini terurai indah. Wanginya sampo masih menyeruak. Genta mencium rambut Zian yang menggoda nya.
"Wangi sekali! Kamu sangat cantik sekali. Terimakasih kamu hanya menunjukkan rambut indah mu hanya untuk ku," ucap Genta. Zian tersenyum malu-malu.
"Boleh yah, aku melakukan nya sekarang?" tanya Genta. Zian menganggukkan kepalanya pelan. Setelah nya Genta mulai pelan-pelan memberikan stimulus kepada Zian.
__ADS_1
"Semoga kamu suka dan menikmati nya sayang!" bisik Genta seraya mengecup bibir merah delima itu.