
James memilih untuk tetap diam sepanjang acara malam itu. Meskipun ada kekosongan dalam perasaannya dan pertanyaan yang menghantui pikirannya, ia memilih untuk menahan diri dan tidak mengungkapkan kebingungannya kepada siapapun. Ia merasa bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengamati dan mengumpulkan informasi lebih lanjut sebelum membuat langkah selanjutnya. Dalam diamnya, James memperhatikan setiap gerak dan interaksi antara Maya dan orang lain, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menyelesaikan misteri ini dengan hati-hati dan memastikan keputusannya nanti didasarkan pada pemahaman yang mendalam.
Sepanjang acara malam itu ia hanya diam, meskipun ada senyuman di wajahnya dan ia terlihat mengikuti perbincangan yang sedang berlangsung. Namun, pikirannya jauh dari situ. Ia terus memutar-mutar kejadian-kejadian belakangan ini, mencoba mencari jawaban atas perasaan aneh yang menggelitik di dalam dirinya. Pemandangan sekitarnya seperti berlalu begitu saja, tanpa menyadari hiruk-pikuk acara di sekelilingnya. Ia merenung dalam ketenangan, mencoba memahami perasaannya yang rumit terhadap Maya. Hati dan pikirannya saling berbenturan, menciptakan kekacauan dalam dirinya. James tahu bahwa ada hal yang perlu diungkapkan, namun ia belum siap untuk melakukannya. Diamnya malam itu adalah cermin dari pertempuran batin yang ia alami, saat mencoba menemukan kejelasan dalam perasaannya terhadap Maya.
Saat acara penggalangan dana berlangsung, James memikirkan kembali percakapan singkat mereka barusan. Meskipun mereka berusaha menjaga ketenangan dan berpura-pura baik-baik saja, James dapat merasakan ketegangan yang tak terucapkan di antara mereka.
James merasa sedikit cemas dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Apakah ada masalah atau ketidaksepakatan yang belum terselesaikan? Apakah ada perasaan yang masih terpendam di hati mereka?
Namun, James juga menyadari bahwa sebagai CEO Trotoarts, tidak semuanya harus berkaitan dengan kehidupan pribadi para karyawan. Dia mencoba untuk tidak membesar-besarkan situasi dan fokus pada tujuan utama acara, yaitu menggalang dana untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Meskipun James merasa ada sesuatu yang terlewatkan dan ingin mengetahui lebih jauh tentang apa yang terjadi di antara Maya dan Rendra, dia memutuskan untuk tidak mencampuri urusan pribadi mereka. Dia berkomitmen untuk tetap profesional dan menjaga hubungan kerja yang baik dengan semua karyawan, termasuk Maya dan Rendra.
James berharap bahwa mereka dapat menyelesaikan perbedaan mereka dengan baik, jika memang ada masalah di antara mereka. Dia percaya bahwa setiap individu memiliki hak atas privasi dan ruang pribadinya sendiri, dan sebagai atasan, dia harus menghormati hal tersebut.
Malam itu, James berusaha melupakan ketegangan yang terlihat di antara Maya dan Rendra, dan fokus pada keberhasilan acara penggalangan dana. Dia berharap bahwa kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat yang besar bagi mereka yang membutuhkan, dan mampu menyatukan semua orang dalam semangat kepedulian dan kebersamaan.
Namun, dalam hatinya, James tetap prihatin dan berharap bahwa Maya dan Rendra dapat menyelesaikan masalah mereka dengan baik. Dia berharap agar mereka dapat menemukan cara untuk berkomunikasi dan memahami satu sama lain, sehingga konflik atau ketegangan yang terjadi dapat diatasi dengan baik.
James menyadari bahwa sebagai atasan dan pemimpin, tanggung jawabnya tidak hanya terbatas pada keberhasilan perusahaan, tetapi juga mencakup kesejahteraan dan hubungan antara karyawan. Dia berharap dapat membantu mereka dalam hal-hal yang mempengaruhi kesejahteraan mereka, termasuk jika ada konflik personal yang perlu diselesaikan.
Dengan harapan yang tinggi, James berusaha untuk tetap profesional dan memberikan dukungan kepada semua karyawan Trotoarts, termasuk Maya dan Rendra. Dia berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan mendukung perkembangan pribadi dan profesional mereka.
Malam itu, James memutuskan untuk tidak membicarakan atau memikirkan terlalu jauh tentang percakapan antara Maya dan Rendra. Dia berharap bahwa di waktu yang tepat, mereka akan menemukan cara untuk mengatasi perbedaan mereka dan menjaga hubungan kerja yang baik.
**
Dalam acara tersebut, James d undang ke atas podium untuk memberikan pidato singkat tentang pentingnya membantu sesama dan memberikan dorongan kepada para tamu untuk berdonasi dengan murah hati. Mereka juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada semua yang hadir dan berkontribusi dalam penggalangan dana ini.
Selama acara, Maya berinteraksi dengan banyak tamu dan para penerima manfaat yang hadir. Dia mendengarkan kisah-kisah mereka, memberikan dukungan emosional, dan menginspirasi mereka untuk tetap kuat dalam menghadapi tantangan hidup.
James juga aktif terlibat dalam acara tersebut, berbincang-bincang dengan para donatur dan menjelaskan secara detail bagaimana dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Dia memberikan komitmen bahwa perusahaan Trotoarts akan terus mendukung kegiatan amal semacam ini.
Penggalangan dana berlangsung dengan sukses. Banyak tamu yang memberikan sumbangan mereka dengan penuh kerelaan dan kebaikan hati. Semangat kepedulian dan kebersamaan terasa begitu kuat dalam acara ini.
Saat acara berakhir, Maya dan James merasa bangga dan terharu dengan apa yang telah mereka capai bersama. Mereka berdua menyadari betapa pentingnya memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan dan berbagi kasih kepada sesama.
Malam itu, Maya dan James pulang dengan perasaan bahagia dan puas. Mereka tahu bahwa penggalangan dana ini akan memberikan dampak positif dalam hidup banyak orang. Mereka berkomitmen untuk terus terlibat dalam kegiatan amal dan membantu mereka yang membutuhkan, dengan harapan dapat memberikan perubahan yang nyata dalam dunia ini.
__ADS_1
Kesuksesan penggalangan dana ini menjadi pengingat bahwa bersama-sama kita dapat membuat perbedaan dan membawa harapan kepada mereka yang sedang mengalami kesulitan. Maya dan James bersyukur dapat berkontribusi dalam misi mulia ini, dan mereka berjanji untuk terus melangkah maju dalam membantu sesama.
^^
Saat perjalanan pulang setelah acara penggalangan dana itu berakhir, James memutuskan untuk mengantar Maya pulang ke apartemennya karena tadi ia datang di jemput oleh salah satu sopirnya. Yang masih menjadi pertanyaan james, mengapa sampai saat ini maya belum pindah ke rumah yang di perintahkan beberapa minggu kemarin. Meskipun Maya telah diberi kesempatan memilih rumah sendiri, namun dia masih memilih untuk tinggal di apartemen Rani yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama ini.
“Mengapa kamu masih tinggal disana?” Tanya james saat mereka sudah berada dalam mobilnya.
“Terima kasih atas tawarannya pak, Tapi belum terbiasa tinggal di rumah sebesar itu, lagian saya belum memiliki banyak tabungan untuk biaya operational disana” Jawab maya menjelaskan.
“Maya kamu itu asisten saya, apa yang menjadi kekuranganmu atur dengan melan. Aku tidak ingin sesuatu terkendala hanya tentang kurang ini dan itu, semua harus tepat peruntukannya.” Ucap James dengan tegas bahwa ia merasa Maya belum bisa menggunakan fasilitas perusahaan yang di berikan kepada pegawai apalagi ia adalah pendamping asisten pribadinya.
“Baik pak, maaf atas lambannya saya menyikapi sesuatu, saya pastikan segala sesuatu tidak akan terulang lagi.” Jawab maya berdegub kencang karena hal semacam ini pun selalu menjadi perhatian sang CEO.
Di dalam mobil, suasana kembali canggung antara James dan Maya. Keduanya saling diam, tetapi suasana tetap nyaman. James memilih untuk tidak mengomentari pilihan Maya untuk tetap tinggal di apartemen Rani. Dia menghormati keputusannya dan tidak ingin mengganggu kenyamanannya tapi tidak boleh berlama-lama karena sebagai seorang eksekutif tempat yang sekarang tidak cocok dengan maya.
Selama perjalanan, James mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain untuk menciptakan suasana yang lebih santai. Mereka berbicara tentang acara penggalangan dana, proyek-proyek perusahaan, dan kegiatan lainnya yang terkait dengan pekerjaan. Maya tampak lebih rileks dan mulai terlibat dalam percakapan.
Setelah tiba di apartemen Rani, James juga turun dari mobil dan membantu Maya membawa beberapa barangnya.
“Oh terima kasih, pak cukup disini saja biar saya yang bawakan” Ucap maya gugup dengan perlakuan sang bos.
Mereka pun berjalan bersama naik kelantai atas dan menuju pintu masuk apartemen dan saling tersenyum. James mengucapkan terima kasih kepada Maya atas partisipasinya dalam acara penggalangan dana dan memberikan apresiasi atas kontribusinya.
Saat mereka tiba di depan pintu apartemen, James berhenti sejenak dan melihat Maya dengan penuh perhatian. Dia mengungkapkan kebanggaannya atas apa yang Maya telah mencapai selama PKL dan penelitiannya di Trotoarts hingga saat ini menjadi pendamping asisten pribadinya. Dia memberikan semangat dan dukungan bahwa masa depan Maya akan sukses bersama perusahaan.
Maya tersenyum terima kasih kepada James atas perhatian dan dukungannya. Dia menghargai kesempatan untuk bekerja di Trotoarts dan mendapatkan pengalaman berharga dalam proyek-proyek perusahaan selama PKL dulu. Maya juga berterima kasih atas kesempatan yang diberikan oleh Trotoarts, termasuk mobil dan sopir yang telah memudahkan perjalanannya.
^^
Saat itu sudah larut malam dan Rani berencana untuk tidur, tapi ia merasa terganggu dengan suara obrolan depan pintu, Rani pun bergegas kesana untuk membukanya dan membuat jantungnya hampir copot karena ternyata di depannya berdiri CEO trotoarts bersama maya.
Rani yang terkejut saat membuka pintu apartemennya dan menemukan CEO Trotoarts, James, berada di sana bersama Maya. Ekspresi terkejut tergambar di wajahnya, tapi dia segera mengumpulkan diri dan memberikan salam ramah kepada James.
"Selamat malam, koq berdiri di depan maya?" tanya Rani dengan rasa penasaran sambil melotot kearah maya.
James tersenyum lembut dan menjawab, "Hai saya james, maaf mengganggu. saya hanya ingin memastikan Maya aman sampai disini.” Kata James mengulurkan tangan kepada rani untuk berkenalan.
__ADS_1
Rani mengangguk dan mengulurkan tangannya, “Rani”
Ia pun memberi tanda kepada Maya untuk mengajak james masuk ke dalam apartemen. Melihat itu James tersenyum lucu, gelagat rani yang seperti ibu tiri memerintahkan anaknya.
“Saya pamit pulang dulu, Semoga tidurmu lelap, sampai ketemu besok di kantor” Ucap james berpamitan.
"Oh tidak mampir pak?" tanya Rani menawarkan kepada james.
“Ini sudah larut malam tidak baik laki-laki bertamu di apartemen perempuan.” ucapnya menunduk memberi hormat kepada keduanya.
“Ok baik pak, sampai ketemu besok”
Setelah itu James berpamitan untuk pulang. Rani merasa kagum dan masih syok melihat pertemuan mereka dan merasa senang atas kesuksesan sahabatnya. Setelah kepergian James, Rani menarik tangan Maya menuju di ruang tamu.
“Jelaskan” Tanya rani penuh selidik.
“Apa yang perlu di jelasin, kami dari acara penggalangan dana, sebagai asisten saya harus…..”
“ceh ceh ceh.. bukan itu” Potong rani meminta hal yang lain.
Maya merasa bingung apa yang harus di jelaskan, memang benar mereka dari acara penggalangan dana malam ini dan james mengantarnya ke depan pintu apartemen. Dan maya merasa biasa-biasa saja.
“Eh pe’a, seorang CEO berdiri di depan apartemen murahan untuk mengantar asisten pribadinya, kamu tidak melihat ada yang salah?” Tambah rani.
“Ya wajarlah, kan dia laki-laki harus melindungi perempuan”
“Hrrrrgggggg, kamu ini memang polos atau bego sih. Dia itu suka sama kamu.”
“Masa sih, aku tidak merasa seperti itu, hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan”
“Mayaaaaa, kamu buka matamu kalo lugu dan polos ya gitu aja jangan bego jadi sahabatku, lihat sekelilingmu. Jika ada sampai seorang mengantar ceweknya ke depan pintu itu ada sesuatu yang tidak beres.” Jelas rani panjang lebar.
“Ya, ya, ya akan aku pikirkan” Ucap maya yang membuat rani seperti kebakaran jenggot melihat ketidakpekaan sahabatnya menilai situasi.
“Oh iya, tadi aku ketemu dengan rendra di acara, dan dia ingin…….” Ucapnya terpotong.
“Lupakan laki-laki biadab itu, sudah berapa kali aku ingatkan jangan dekati dia lagi, saat ini kamu punya masa depan yang jauh dari perkiraan banyak orang. Jangan sia-siakan hidupmu hanya untuk laki-laki brengsek seperti dia, Paham” Jawab rani dengan berapi-api.
__ADS_1
“Koq jadi marah”
“Sudah cukup aku mau tidur, besok kita lanjutkan, dan tolong cuci otakmu setidaknya berpikir logis malam ini.” Ucap Rani sambil bergegas meninggalkan maya yang sedang terbengong di sofa.