
Rendra yang sudah tidak tahan dengan kerinduannya terhadap Maya, tiba-tiba mengambil keputusan untuk menjemputnya di kantor. Hatinya dipenuhi dengan keinginan untuk meminta maaf atas semua kesalahan yang telah dilakukannya dan untuk memperbaiki hubungannya dengan Maya.
Sesampainya di kantor, Rendra dengan cemas menunggu Maya keluar dari gedung. Setelah beberapa saat, akhirnya Maya muncul dengan wajah yang terkejut dan terbengong-bengong. Rendra buru-buru mendekati Maya dengan penuh harap, tetapi Maya segera menghentikannya dengan tegas.
"Mohon maaf, Rendra. Tapi aku belum siap untuk menghadapi mu sekarang," ujar Maya dengan suara serius.
Rendra merasakan kekecewaan yang mendalam, tetapi ia juga bisa memahami perasaan Maya. Dia menyadari bahwa kesalahannya telah menimbulkan luka yang dalam pada hubungan mereka, dan memperbaikinya akan membutuhkan waktu dan kesabaran.
"Sampai kapan maya?" Teriak rendra memastikan waktu yang di berikan maya.
Maya berhenti sejenak dan menatap Rendra dengan tatapan penuh pertimbangan. Dia merasa terpukul dengan pertanyaan tersebut, karena dia sendiri belum memiliki jawaban pasti mengenai waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki hubungannya dengan Rendra.
"Sampai aku merasa siap, Rendra," jawab Maya dengan tegas. "Aku butuh waktu untuk memperbaiki diri sendiri dan memahami apa yang aku inginkan dalam hubungan ini. Aku tidak bisa memberikanmu tanggal atau waktu pasti, karena proses ini tidak bisa terburu-buru."
Rendra menunduk sedikit, menyerap kata-kata Maya dengan perasaan yang campur aduk. Dia menyadari bahwa Maya benar, dan memperbaiki hubungan tidak bisa dipaksakan dalam batasan waktu tertentu.
**
Tak lama berselang sebuah mobil mewah yang di kendarai Edi berhenti di depan mereka dan terlihat sang sopir berlari kecil untuk membuka pintu penumpang.
Edi sang sopir membuka pintu mobil dengan sigap, memberikan kesempatan kepada Maya untuk masuk. Rendra merasa bingung dan terkejut dengan kedatangan mobil mewah tersebut, merasa seakan-akan Maya ingin menunjukkan bahwa kini statusnya sudah lebih mapan daripada dirinya.
"Akan aku kabari kamu jika aku sudah siap, saat ini biarkan aku tenang dulu?" Ucap Maya dengan ekspresi datar, seolah-olah tak terpengaruh dengan situasi yang terjadi.
__ADS_1
Rendra yang melihat itu merasa terpukul dengan sikap Maya. Dia merasa bahwa Maya sengaja menolaknya karena kini dia memiliki kehidupan yang lebih mapan dan prestise yang tinggi, sedangkan Rendra masih dianggap kurang layak.
"Apakah ini yang kamu ingin tunjukkan?" Tanya Rendra dengan sedikit rasa pahit dalam suaranya. "Kamu menolak aku dengan sengaja membuatku menderita selama ini karena ini?"
Maya mencoba menggenggam tangan Rendra dengan lembut, namun Rendra menarik tangannya kembali dengan tegas. Dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak akan menjadi pria yang merasa minder dan inferior hanya karena perbedaan materi atau status sosial.
Maya menatap rendra dengan tegas, mempertimbangkan kata-kata yang akan dia ucapkan. Hatinya masih terluka oleh pengkhianatan dan kekecewaan yang pernah dia alami. Dia tidak ingin membuat keputusan impulsif hanya karena faktor materi atau aset yang dimilikinya kepada rendra.
"Rendra, aku menghargai niat baikmu untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan kita," kata Maya dengan suara yang tenang namun tegas. "Tapi aku masih merasa terluka oleh apa yang terjadi di masa lalu. Aku butuh waktu untuk memperbaiki diri dan menyembuhkan luka hati yang masih ada."
"Mungkin ini memang jalan terbaik bagi kita saat ini," kata Rendra dengan sedikit kekecewaan. "Kita perlu fokus pada diri kita masing-masing dan menemukan jalan hidup yang sesuai dengan keinginan dan nilai-nilai kita. Kamu bukan lagi Maya yang dulu menjadi pelayan restoran"
“Apa maksudmu”
Pak yatno sang security plontos yang sedari tadi melihat obrolan serius itu, mencoba mendekat dan menyapa mereka, “Permisi selamat sore bu Maya, Jika masih lama apa perlu saya meminta edi memarkirkan mobilnya lagi agar tidak mengganggu jalan keluar”
“Oh.. ya maaf pak yatno, saya akan segera pergi.” Ucap maya memandang Rendra sekilas dan langsung berbalik dan masuk kedalam mobil dengan perasaan campur aduk. Air matanya pun tidak bisa terbendung lagi selama perjalanan. Saat melihat mobil mewah dan edi sopirnya, membuat segala keputusannya jadi berbeda dan sepertinya hubungan mereka akan berakhir. Menyadari bahwa perjalanan mereka bersama telah mencapai titik akhir. Walaupun ada kekecewaan dan sedikit kepahitan, mereka tahu bahwa ini adalah keputusan yang tepat untuk keduanya.
Disisi lain, rendra merasa jika maya dengan status sosialnya yang meningkat sudah tidak ingin menjalin hubungan dengannya yang Cuma musisi kafe. Rendra memilih melangkah mundur, melepaskan diri dari kehidupan Maya yang kini tampak lebih mewah.
Dalam langkah-langkah yang berbeda, Maya dan Rendra memulai babak baru dalam hidup mereka. Meskipun takdir mereka terpisah, mereka akan selalu mengingat dan menghargai waktu yang telah mereka habiskan bersama, serta pelajaran berharga yang mereka peroleh.
Dalam keheningan dan ketenangan, kisah cinta mereka berakhir namun meninggalkan kenangan yang tak terlupakan. Mereka berharap bahwa di masa depan, mereka akan menemukan kebahagiaan dan kesuksesan di jalur masing-masing, dan siapa tahu, mungkin suatu saat jalan mereka akan kembali bertemu, meskipun dalam peran yang berbeda.
__ADS_1
^^
Maya merasa terjepit di antara perasaan bingung dan kesedihan. Dia merasakan tekanan emosional yang begitu besar, dan dia butuh waktu untuk merenung dan mengurai benang kusut dalam pikirannya. Maya meminta sopir pribadinya, Edi, untuk mengantarnya ke pantai sebagai tempat untuk merenung dan mencari ketenangan.
Perjalanan menuju pantai berlangsung dalam hening. Maya duduk di kursi belakang mobil, memandangi jendela yang menampilkan pemandangan jalan yang berlalu. Hatinya penuh dengan kebencian dan kekecewaan, tapi dia juga ingin menemukan cara untuk melampaui semua itu.
Saat mobil berhenti di tepi pantai yang tenang, Maya keluar dengan langkah berat. Dia berjalan menuju tepi air, merasakan pasir halus di bawah kakinya dan angin laut yang menyapu wajahnya. Gelombang yang tenang dan langit biru membantu menghapus sedikit kekhawatiran dan membebaskan pikirannya.
Maya duduk di tepi pantai, memandangi horison yang luas. Dia membiarkan dirinya merenung tentang kehidupan, tentang cinta dan kesalahpahaman yang terjadi. Dia tahu bahwa dia harus memaafkan dan melepaskan beban hati yang membebani dirinya.
Di tengah suasana yang tenang, Maya mulai mengumpulkan kekuatan dalam dirinya. Dia mengingat semua pelajaran hidup yang pernah dia dapatkan, semua pengalaman yang telah membentuknya menjadi pribadi yang tangguh. Dia tahu bahwa dia layak mendapatkan cinta yang tulus dan saling menghargai.
Maya memejamkan matanya, menghirup udara segar dan membiarkan angin laut menghapuskan kesedihan yang ada dalam dirinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan memulai langkah baru, membangun kembali kepercayaan dalam dirinya, dan tidak lagi membiarkan masa lalu mengikatnya.
Di pantai yang indah itu, Maya merasa ada kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya. Dia menyadari bahwa hidup terus berputar, dan dia tidak boleh membiarkan kesedihan dan kekecewaan menghalangi langkahnya menuju kebahagiaan.
Maya berdiri, menghadap ke arah matahari terbenam yang memancarkan sinar keemasan. Dia merasa sebuah kekuatan batin yang membara, memberinya keyakinan dan semangat baru untuk melanjutkan perjalanan hidupnya. Ia menjanjikan pada dirinya sendiri bahwa dia akan mengikuti jalan yang membawa kebahagiaan dan kedamaian.
Dalam keremangan senja, Maya melangkah perlahan meninggalkan pantai. Dia merasa lebih kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan datang. Dalam hatinya, dia tahu bahwa masa depannya dipenuhi dengan harapan dan kemungkinan yang tak terbatas.
Maya kembali ke mobil, dengan pandangan yang lebih jernih dan pikiran yang lebih teguh. Dia merasa siap untuk menghadapi tantangan yang ada di hadapannya. Dalam perjalanan pulang, Maya berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan membangun kehidupan yang bahagia, penuh dengan cinta yang sejati dan kedamaian yang abadi.
Dalam perjalanan menuju ke depan, Maya mengetahui bahwa ada cahaya di ujung setiap kegelapan, dan dia tidak akan pernah berhenti mencari kebahagiaan yang sesungguhnya.
__ADS_1