Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
Kecemburuan Merlin


__ADS_3

Maya duduk di kamarnya, memegang ponselnya dengan perasaan antusias. Setelah beberapa lama tidak bertemu dengan Rani dan Siska, ia merasa rindu dengan kehangatan persahabatan mereka. Dengan cepat, Maya mengirimkan pesan kepada keduanya untuk mengatur pertemuan.


"Hi Rani, hi Siska! Kangen banget sama kalian berdua. Gimana kalau kita ketemu besok malam di tempat favorit kita?" tulis Maya dalam pesan singkatnya.


Tak lama kemudian, Rani membalas pesan tersebut dengan antusias, "Hai Maya! Aku juga kangen banget sama kamu. Besok malam oke banget, aku pasti bisa datang!"


Sementara itu, Siska juga memberikan tanggapan yang positif, "Hi Maya! Akhirnya kita bisa ketemu lagi. Besok malam juga aku bisa kok, aku nggak sabar!"


Maya tersenyum membaca balasan dari kedua sahabatnya. Dia merasa senang karena mereka sepertinya juga merindukannya. Setelah menentukan waktu dan tempat yang tepat, Maya menunggu dengan penuh harap untuk bertemu dengan Rani dan Siska besok malam.


Malam itu, di tempat favorit mereka, Maya, Rani, dan Siska berkumpul. Senyum sumringah terpancar di wajah mereka saat saling berpelukan. Obrolan riang gembira segera mengisi ruangan, seolah tidak ada jarak yang memisahkan mereka selama ini.


Mereka bercerita tentang pengalaman terbaru, kehidupan kuliah, dan rencana masa depan masing-masing. Tawa riang pecah dari mulut mereka, mengingat kenangan indah yang pernah mereka bagi bersama.


Tak lama berselang Rani terlihat sedih di wajahnya. Maya dan Siska segera merasa cemas melihat ekspresi sahabat mereka.


"Apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat begitu sedih?" tanya Maya dengan penuh perhatian.


Rani menghela nafas panjang sebelum menjawab, "Maya, Siska, skripsi saya sudah dua kali ditolak oleh dosen pembimbing. Saya merasa frustasi dan kehilangan semangat."


Maya dan Siska saling bertukar pandangan prihatin. Mereka tahu betapa Rani telah bekerja keras untuk menyelesaikan skripsi, dan penolakan ini tentu menjadi pukulan berat baginya.


"Tetapi Rani, kamu jangan menyerah begitu saja," kata Siska dengan penuh semangat. "Kamu telah melewati begitu banyak tantangan dalam hidupmu, dan aku tahu kamu memiliki kemampuan yang luar biasa. Kamu pasti bisa mengatasi ini."


Maya menyentuh lengan Rani dengan lembut, "Rani, kita berada di sini untukmu. Kami akan selalu mendukungmu. Jangan biarkan penolakan ini meruntuhkan semangatmu. Coba bicarakan dengan dosen pembimbingmu, mintalah masukan dan saran untuk memperbaiki skripsimu."

__ADS_1


Rani mengangguk perlahan, tangisnya mulai mereda. "Terima kasih, Maya, Siska. Kalian selalu ada di sampingku, memberikan dukungan dan semangat. Aku akan mencoba lagi dan tidak menyerah begitu saja."


Malam itu, Maya, Rani, dan Siska duduk bersama, membahas skripsi Rani dengan penuh perhatian. Mereka saling memberikan ide dan masukan untuk membantu Rani memperbaiki skripsinya. Diskusi yang penuh semangat dan kolaboratif itu memberikan Rani kepercayaan diri baru.


Setelah malam itu, Rani merasa lebih bersemangat untuk melanjutkan perjuangan dalam menyelesaikan skripsinya. Dia tahu bahwa meski tantangan datang, dia memiliki dua sahabat yang selalu siap mendukungnya.


Malam itu, pertemuan mereka diisi dengan keceriaan dan kebahagiaan. Mereka merayakan persahabatan yang tak tergantikan dan berjanji untuk selalu saling mendukung dalam setiap langkah hidup mereka. Setelah malam yang penuh kehangatan itu, Maya merasa semakin kuat, siap menghadapi tantangan yang menanti di masa depan.


^^


Tak lama berselang saat mereka lagi bercengkrama seru dari arah pintu kafe terbuka dan Merlin memasuki ruangan dengan langkah angkuh. Dia terlihat percaya diri dan penuh kepuasan pada dirinya sendiri. Maya, Rani, dan Siska saling bertukar pandangan heran melihat kehadiran Merlin.


"Hey, girls! Apa kabar? Semoga kalian baik-baik saja," kata Merlin dengan senyum sombong di wajahnya sambil terus merapikan rambutnya.


Merlin merapikan rambutnya dengan sikap angkuh. "Oh, hanya ingin berbagi berita baik dengan kalian. Aku baru saja mendapatkan promosi besar dan rekomendasi dari kampusku setelah wisuda akan bekerja di kantor pusat Trotoarts Inc, kalian tau kana pa itu. Mungkin suatu saat aku akan menjadi manajer di perusahaan terkenal itu! Tidak seperti kalian, yang sepertinya masih terjebak di tempat yang sama."


Maya, Rani, dan Siska saling bertatapan, tidak terkesan dengan sikap sombong Merlin. Mereka telah belajar untuk tidak membandingkan diri mereka dengan orang lain, dan sikap angkuh Merlin hanya membuat mereka semakin mantap dengan pilihan dan perjuangan mereka sendiri.


"Sangat mengesankan, Merlin. Selamat atas promosi mu," kata Siska dengan senyum tulus, mencoba menjaga sikap positif.


Maya menambahkan dengan bijak, "Setiap orang memiliki jalan dan waktu masing-masing dalam mencapai kesuksesan. Kami tetap bangga dengan pencapaianmu, tapi kami juga yakin bahwa kami sedang berjuang dan tumbuh sesuai dengan ritme kami sendiri."


Rani mengangguk, "Benar sekali, maya. Setiap langkah kita adalah bagian dari perjalanan unik kita. Kami tidak perlu memamerkan keberhasilan kami atau meremehkan orang lain. Kita semua sedang berusaha mencapai impian dan tujuan kita masing-masing."


“Cih apa guna nasihat dari orang-orang semacam kalian” Kata merlin memancing emosi ketiganya

__ADS_1


Merlin terdiam sejenak, merasa tidak sedikit pun tersentuh oleh sikap bijak dan dewasa yang ditunjukkan oleh Maya, Rani, dan Siska.


"Dengarlah, girls. Maaf jika sikapku terlalu sombong. Tapi memang kita ini berbeda kelas jadi maaf saja nasihat kalian tidak berguna bagiku yang sebentar lagi aku akan melampaui kalian” Ucapnya beranjak dari sana mencari kursi yang kosong lainnya.


Maya, Rani, dan Siska tersenyum dan menganggukkan kepala mengikuti irama permainan merlin dan mengabaikannya. Mereka menyadari bahwa sikap rendah hati dan saling menghargai adalah inti dari persahabatan yang kuat dan berkelanjutan. Mereka bersama-sama melanjutkan perbincangan mereka dengan penuh kehangatan dan semangat, tanpa membiarkan perbandingan atau kesombongan merusak hubungan mereka.


Selama pertemuan itu, mereka membahas mimpi dan tujuan masing-masing, serta tantangan yang mereka hadapi dalam mencapainya. Maya berbagi tentang persiapan untuk wisuda dan rencananya setelah lulus. Rani menceritakan tentang perjuangannya dengan penolakan skripsi dan bagaimana ia tetap gigih untuk mencapai tujuannya. Sementara Siska menceritakan tentang proyek yang sedang ia kerjakan di perusahaan dan harapannya untuk masa depan.


Dalam obrolan tersebut, mereka saling memberikan semangat dan motivasi tanpa memperdulikan situasi yang barusan terjadi. Mereka menyadari bahwa setiap langkah kecil yang diambil menuju impian mereka adalah suatu pencapaian yang patut disyukuri. Mereka saling mengingatkan untuk tetap fokus pada perjalanan mereka sendiri, tanpa terjebak dalam perbandingan atau ekspektasi dari orang lain.


Setelah malam yang penuh keakraban dan dukungan, mereka berpisah dengan senyum dan harapan untuk masa depan yang cerah. Meski masing-masing memiliki perjalanan dan tantangan sendiri, mereka tahu bahwa persahabatan mereka akan tetap kuat dan saling mendukung. Maya, Rani, dan Siska menyadari betapa berharganya memiliki sahabat yang selalu ada di samping mereka dalam setiap langkah perjalanan hidup.


Dengan semangat yang baru, mereka melanjutkan perjalanan masing-masing, siap untuk menghadapi tantangan dan meraih impian-impian mereka. Bersama-sama, mereka membuktikan bahwa persahabatan yang tulus dan saling mendukung adalah kunci untuk melewati segala halangan dan meraih keberhasilan.


Mereka memang menghabiskan waktu hingga kafe tersebut akan tutup untuk pulang. Dan saat akan pulang, di parkiran Merlin terkejut melihat Maya menggunakan mobil dengan sopir. Dia tidak menyangka bahwa Maya telah menggunakan mobil lebih mewah dari miliknya di tambah ada sopir pribadi. Rasa iri dan kecemburuan melintas di pikiran Merlin karena merasa di kalahkan.


"Duh Maya, apakah itu mobil dan sopir yang kamu sewa untuk berusaha mengalahkanku?" tanya Merlin dengan rasa jengkel karena merasa di permainkan Maya


Maya tersenyum sopan dan menjelaskan, "Oh ini? Perusahaan tempat aku PKL kemarin yang memberikan fasilitas ini sebagai bagian dari penghargaan atas hasil penelitian yang saya lakukan selama PKL di perusahaan."


“Apaaaa??? Kamu bercanda kan?” Tanyanya tidak percaya.


Merlin merasa semakin cemburu dan tidak puas dengan penjelasan itu. Dia merasa bahwa Maya tidak seharusnya mendapatkan fasilitas seperti itu, dan dirinya yang lebih berprestasi seharusnya yang mendapatkannya.


“Sudah saya jelaskan dan selamat malam merlin, ini sudah larut” Ucap maya menutup pintu mobilnya dan menyuruh edi segera pergi.

__ADS_1


__ADS_2