
Genta kini telah berada di kafe tempat nongkrong anak-anak muda. Di kafe itu telah berkumpul teman-teman nya dulu sewaktu kuliah yang saat ini masih banyak yang menganggur dan bergantung pada orang tuanya yang memiliki ekonomi yang berlebih. Gaya hidup yang masih terbilang santai dan belum berpikiran untuk bertanggung jawab, itu lah teman-teman Genta saat itu. Mereka adalah Thomas, Edison dan satu lagi Miska.
"Ada apa sih, bro? Wajah kamu terlihat sangat kacau. Apakah kamu sedang ada masalah?" tanya Thomas kepada Genta.
"Benar! Aku habis ribut dengan istri ku. Rasanya jika aku berada di rumah, bawaannya mau maki dan marah saja dengan nya. Padahal dulu aku tidak begitu, loh!" keluh Genta. Semua teman-teman nya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita dari Genta.
"Aku rasa kamu pasti kurang mendapatkan servis di atas ranjang. Makanya bawaan kamu uring-uringan saja," sahut Edison.
"Benar! Biasanya juga begitu loh! Aku kalau perhatikan kakakku yang sudah menikah kalau seminggu tidak begitu menjadi pemarah dan uring-uringan saja," kata Miska. Kembali semuanya tertawa terbahak-bahak.
"Entahlah, aku juga bingung! Sudahlah jangan membahas itu lagi. Aku di sini mau mencari hiburan dan tenang. Kalian jangan menginginkan aku lagi soal rumah tangga aku," kata Genta ketus.
"Kamu sih, buru-buru menikah saja tanpa proses pacaran. Jadinya kan seperti ini. Coba dulu kamu pacaran dulu dengan itu wanita lalu kamu cobain dulu enak apa tidaknya kan bisa diteruskan kalau cocok. Kalau tidak cocok bisa putus. Benar kan?" celetuk Miska.
"Memang nya istri aku seperti kamu yang bisa di coba dengan semua laki-laki? Istriku itu walaupun seorang mualaf, dia taat dan selalu mengikuti prinsip hidupnya yang lurus. Tidak seperti kamu, Miska!" ucap Genta sewot.
"Idih, kamu langsung seperti itu loh, Genta! Aku kan melaksanakan nya atas dasar suka sama suka dan milih-milih juga loh. Tidak asal celup kayak teh celup. Wle!" Sahut Miska menjadi emosi.
"Eh sudah, sudah! Kalian kok jadi ribut sih? Awas loh, entar kalian sepulang dari sini malah ngamar!" tuduh Edison. Miska menenggak habis minuman di gelasnya.
__ADS_1
"Sudah, ini kamu minum ini saja biar sedikit fresh!" kata Thomas sambil menyodorkan gelas yang berisi minuman beralkohol.
"Tidak! Aku sudah lama tidak minum gituan! Aku pesan juz buah saja," kata Genta. Sontak semua temannya menertawakan nya.
"Itulah dia, semakin lama Genta semakin banci aku lihat. Dan juga menjadi suami yang takut dengan istri," sahut Miska.
"Apa kamu bilang? Aku banci? Aku sekarang juga bisa tunjukkan padamu bisa mengatasi kamu supaya diam mulut kamu itu," Genta tersulut emosinya.
"Siapa takut! Ayo kalau berani!" tantang Miska. Genta pantang sekali mendapatkan tantangan dari Miska. Tanpa memperdulikan teman-teman nya yang lain, Genta segera menarik tangan Miska dan membawa nya keluar dari ruangan itu. Miska tentu saja memberontak dan memaki Genta dengan kata-kata kotor.
"Genta! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!" ucap Miska. Namun Genta tidak memperdulikan Miska yang memukul lengannya dengan keras.
Genta membawa masuk Miska ke toilet pria. Dengan cepat Genta mengunci toilet itu. Miska sudah memberontak namun Genta cukup kuat untuk menahan kedua tangan Miska untuk mendominasi nya. Sampai akhirnya Miska dibuat melongo dan tidak percaya, kalau Genta telah menciumnya dengan brutal. Pada titik tertentu, akhirnya Miska ikut larut dalam permainan itu dan di dalam toilet dan masih di lingkungan kafe keduanya melakukan tindakan mesum dengan kesadaran dan akal sehat yang masih belum dipengaruhi oleh minuman beralkohol.
Prank
Prank.
Prank.
__ADS_1
Tiba-tiba bingkai foto pengantin itu jatuh. Zian segera menghambur di ruangan tengah. Tentu saja Zian sangat terkejut dengan itu. Tanpa angin bingkai foto pengantin antara dirinya dengan Genta pecah dan jatuh di lantai. Pelan-pelan Zian memungut pecahan kaca nya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan bang Genta? Ah, mungkin saja paku nya sudah tidak kuat sehingga bingkai ini lepas dan jatuh di lantai," gumam Zian.
"Tapi ini sudah sangat larut malam sekali. Kenapa bang Genta belum juga kembali. Kemana bang Genta. Apakah aku harus menelpon bang Genta?" gumam Zian. Zian kini membersihkan pecahan kaca bingkai yang jatuh di lantai. Setelah nya, Zian kembali duduk menunggu di ruang tengah sambil mengutak-atik handphone nya mencari nama suaminya. Zian nekat menghubungi Genta karena waktu sudah diujung malam.
"Halo!" ucap Zian setelah nomer yang dipanggil nya telah tersambung dan diangkat si punya ponsel.
"Halo, ini siapa?" sahut seseorang di seberang sana dengan suara wanita. Suara musik keras membuat suara di seberang sana bolak-balik bertanya. Tentu saja Zian sangat kaget lantaran dirinya sudah sangat yakin telah menghubungi nomer WA suaminya, namun kenapa yang mengangkat seorang wanita. Kembali Zian melihat nama yang tertera di panggilan itu dan nyatanya benar adanya nama suaminya.
"Maaf, kenapa handphone suami saya ada pada anda?" tanya Zian masih berusaha tenang dan mengatur irama jantung nya yang berdetak kencang lantaran sangat terkejut karena pikiran nya sudah berprasangka buruk ke mana-mana.
"Apa? Tidak dengar! Di sini lagi berisik suara musik. Genta nya lagi mabok berat tuh," kata wanita di seberang sana. Zian melongo dan hampir berhenti bernafas. Cukup lama Zian terdiam menahan rasa yang tidak menentu. Sejak kapan Genta jadi orang pemabuk dan minum-minuman keras? Bukankah selama ini Genta adalah laki-laki sholeh yang taat beribadah serta memahami agama. Bahkan Genta lahir dari keluarga yang agamis dan tidak aneh-aneh. Tapi sekarang? Benarkah suaminya telah berubah?
Sambungan jarak jauh itu terputus. Zian mulai gelisah. Zian sangat bingung harus berbuat apa. Haruskah dirinya menyusul di tempat itu? Tetapi Zian tadi belum sempat bertanya dimana posisi suaminya saat ini. Di kafe mana atau di clubbing mana suaminya berada?
"Bang Genta! Kenapa kamu berubah? Apakah karena kebangkrutan usaha kamu dan kamu menjadi pengangguran menjadi seperti ini? Apakah aku benar-benar istri pembawa sial seperti kata kamu, bang? Hiks hiks bang Genta!!" ucap Zian.
Zian menangis terisak-isak. Dia ingin curhat dengan siapa sedangkan semua ini adalah aib keluarga nya. Lebih tepatnya aib rumah tangganya.
__ADS_1
"Fauzi, Mariah! Di saat seperti ini dulu kalian lah yang selalu menguatkan aku ketika dalam masalah. Tapi setelah berumah tangga, aku tidak berani menceritakan semua keburukan rumah tangga ku. Aku ingin terlihat semuanya baik-baik saja dari pandangan kalian," gumam Zian.
Zian kini mencari air wudhu dan mensucikan dirinya. Dirinya harus tenang menghadapi segala masalah ini.