Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 34


__ADS_3

"Mariah, kamu di mana? Bolehkah aku ke rumah kamu sekarang?" tanya Zian yang menghentikan mobilnya berhenti di pinggir jalan.


"Aku di rumah kok, Zian! Ada apa dengan kamu, Zian?" tanya Mariah penuh selidik.


"Mariah, hiks, hiks, hiks aku boleh ke rumah kamu kan?" tanya Zian lagi.


"Silahkan saja Zian! Tapi saat ini aku juga sedang bersama kakakku, Kak Bisma baru datang dari Turki," cerita Mariah.


"Kamu ke rumah bunda tidak apa-apa? Aku sedang di rumah bunda. Bukan di rumah suamiku." jelas Mariah.


"Apakah tidak mengganggu kamu?" ucap Zian.


"Tidak, sayang! Sudah kamu datang saja. Oke? Nanti cerita saja semua masalah kamu kepada ku. Aku tunggu yah, Zian!" kata Mariah.


Zian segera menjalankan mobilnya menuju rumah kediaman bunda nya Mariah. Dulu Zian sebelum menikah memang sangat kerap sekali datang di rumah bunda nya Mariah. Selain belajar mengaji dan ilmu agama, Zian paling suka bermain di sana karena merasakan kebahagiaan dan kenyamanan di keluarga itu. Di rumah Mariah rasanya sangat adem karena sangat taat agama dan selalu menjalankan sholat berjamaah barengan ketika sudah berkumpul di rumah.


Setengah jam terlewatkan, Zian sampai di rumah Mariah. Mariah menyambut kedatangan Zian di teras rumah bunda nya. Serta merta Mariah memeluk Zian. Tangis Zian pecah. Zian sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihan dan rasa sesak dada yang menghimpit nya.

__ADS_1


"Mariah, hiks, hiks, hiks, Mariah!" ucap Zian.


"Zian,sayang! Ayo kita lebih baik masuk ke dalam kamar ku dulu, oke?" ajak Mariah. Zian menganggukkan kepalanya mengikuti saran sahabatnya, Mariah.


Mariah dan Zian berjalan melewati beberapa anggota keluarga termasuk bunda, kak Bisma, abah, dan keluarga besarnya. Zian memaksakan tersenyum saat bertemu dengan beberapa anggota yang sudah Zian kenal. Senyuman di sudut bibir Zian dipaksakan saat bersalaman dan menyapa bunda, abah dan saudara Mariah yang lain. Tidak mungkin Zian ngacir begitu saja menuju kamar Mariah dulu sewaktu belum menikah dan tinggal bersama suaminya.


"Zian, bagaimana kabar kamu nak?" tanya bunda.


"InsyaAllah, semoga saya bisa melewati semua nya, bunda!" jawab Zian. Bunda, Abah, dan Mariah saling pandang. Akhirnya bunda memberikan kode pada Mariah untuk mengajak Zian masuk ke kamar. Zian mengikuti langkah Mariah yang mengajak nya ke dalam kamarnya. Sedangkan Bisma mulai bertanya-tanya dan menatap adik nya saat ini bersama dengan sahabatnya.


"Itu Zian sahabatnya Mariah sewaktu kuliah dulu," jawab bunda.


"Oh, sahabatnya Mariah?" sahut Bisma sambil manggut-manggut.


"Kenapa? Dia sudah memiliki suami loh!" jelas abah. Bisma tersenyum lebar.


"Iya saya tahu abah! Kelihatan banget sedang ada masalah yang terjadi. Katanya seperti menahan tangis dan kesedihan. Pasti di dalam kamar itu sebentar lagi heboh karena tangisan Mariah dan juga sahabatnya itu. Mariah orangnya mudah simpati dengan masalah orang," kata Bisma.

__ADS_1


"Tentu dong, putra putri bunda harus memiliki empati yang tinggi dengan sesama," sahut Bunda nya Mariah.


*******


Setelah masuk ke dalam kamar, Zian langsung memeluk tubuh Mariah dan menangis sesenggukan. Mariah belum tahu duduk masalah yang dihadapi Zian, sahabatnya itu. Hingga akhirnya sambil menangis Zian berbicara.


"Mariah, bang Genta, bang Genta telah mengkhianati aku, Mariah! Aku melihat dengan mata dan kepala sendiri, hiks, hiks, hiks, " ucap Zian yang menangis dalam pelukan Mariah.


"Apa? Bang Genta selingkuh? Kok bisa sih? Itu tidak mungkin!" sahut Mariah seperti tidak mempercayai ucapan Zian.


"Aku juga rasanya ingin tidak mempercayai kejadian ini. Tapi nyatanya kebenarannya sudah di depan mata," terang Zian.


"Ya sudah! Ayo duduk dulu dan ceritakan semuanya kepada ku dengan pelan-pelan dan tenang. Oke? Sekarang kamu minum dulu, biar aku ambilkan minuman di lemari es," kata Mariah yang mendudukkan Zian di kursi kamar itu. Zian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Mariah memberikan minuman kemasan pada Zian. Zian mulai meminumnya.


"Sekarang ceritakan semua nya! Aku akan mendengar nya. Oke?" ucap Mariah.


Zian menceritakan semuanya kepada Mariah. Benar saja! Mariah yang mendengar semua cerita Zian menjadi ikut menangis dengan semua yang dialami oleh Zian. Keduanya menangis bersama seperti yang sudah di duga oleh kakak Mariah, Bisma.

__ADS_1


__ADS_2