Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 56


__ADS_3

Buka puasa bersama di hari pertama puasa di bulan ramadhan.


Zian dan Sandro sudah di dalam mobil menuju rumah kediaman mami papi Zian. Keduanya masih terlihat segar walaupun mereka sedang berpuasa. Sandro benar-benar merasa bahagia bisa menjalankan ibadah puasa bersama sang kekasih. Ditambah belajar tentang ilmu agama bersama dengan Zian.


Zian dan Sandro sama-sama masih belajar banyak hal mengenai agama Islam. Karena antara Zian dan Sandro keduanya lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga bukan seorang muslim. Dari sinilah mereka sama-sama berbagi pengalaman dan bercerita saat pengalaman pertama menjadi seorang mualaf yang belajar bacaan sholat, dan lain-lain sebagai nya. Ini tidak sulit dan juga tidak mudah. Karena mereka memiliki semangat dan kemauan akhirnya mereka lebih cepat memahami dan hafal sedikit demi sedikit sesuatu yang diajarkan oleh keyakinan dan kepentingan mereka.


Di sore itu sepanjang jalan orang-orang banyak menjajakkan jajanan berbagai jenis makanan untuk berbuka. Istilah keren nya pasar bedug. Hal ini sering ada disaat bulan suci ramadhan tiba di sore hari. Zian melihat sepanjang jalan banyak makanan di jual di sana.


"Mau beli?" tanya Sandro yang melihat Zian seperti tertarik ingin membeli makanan yang dijual di sepanjang jalan.


"Hem, mami pasti sudah masak banyak juga di rumah. Tapi boleh saja kalau mau berhenti sebentar saja. Aku mau belikan mami papi manisan kolang-kaling. Mereka sangat menyukai itu. Siapa tahu, mami belum bikin manisan kolang-kaling itu," ucap Zian.


"Sebentar yah, aku cari tempat parkir mobilnya dulu," kata Sandro.


"Kamu kalau kerepotan mencari tempat parkir mobilnya bisa menunggu di dalam mobil saja. Aku hanya sebentar beli itu saja kok. Lain waktu kalau kita mau jalan lagi, kita bisa naik motor supaya tidak terjebak macet di sore seperti ini. Apalagi ini hari pertama puasa dan berbuka. Mereka berbondong-bondong mencari makanan manis untuk berbuka puasa," kata Zian.


"Naik motor? Kamu mau, Zian kalau aku bonceng dengan motor ninja?" sahut Sandro.


"Apa, motor ninja? Eh, enggak banget deh, hehehe! Aku tidak bisa pakai gamis dong!" kata Zian.


"Ya sudah, entar pakai motor matic saja deh. Ada kok di rumah! Itu aku beli untuk menyiapkan mbak asisten rumah tangga kalau pergi ke pasar berbelanja di dekat rumah. Tapi kalau aku tinggal di apartemen, tidak ada motor di sana," jelas Sandro.


"Iya, sepertinya nail motor lebih enak kalau jalanan macet seperti ini," kata Zian.


Zian segera turun dari mobil Sandro untuk membeli manisan kolang-kaling yang ia lihat tadi di jual di pasar bedug.


*****


Di rumah kediaman mami Juan dan papi Leo.

__ADS_1


Mami Juan dan Papi Leo sudah menunggu kedatangan Zian dan juga Sandro. Mereka malah membicarakan pacar Zian itu yang sudah mengikuti jejak Zian menjadi mualaf.


"Aku rasa Sandro itu sangat mencintai putri kita yah, mi! Nyatanya sampai menjadi mualaf mengikuti Zian. Aku benar-benar salut dengan pasangan Zian dan Sandro ini. Mereka berjuang demi mengikis perbedaan. Dan sama-sama belajar sesuatu yang baru di mana mereka lahir dari keluarga yang tidak mengajar kan keyakinan dan kepercayaan itu," kata papi Leo.


"Benar! Walaupun kata Sandro sendiri, dia memutuskan pindah agama bukan lantaran Zian. Melainkan atas dasar pilihan dan kemauannya sendiri. Tidak ada paksaan dalam diri Sandro untuk memutuskan menjadi seorang muslim seperti Zian, anak kita. Namun demikian aku yakin semua itu pasti ada pengaruh dari Zian karena Zian adalah wanita yang ia cintai," ucap mami Juan.


"Nah, itu yang mami maksud kan! Terlepas alasan apa yang diucapkan oleh Sandro. Tetap semuanya karena dia begitu mencintai putri kita," sahut papi Leo.


"Tapi sampai sekarang, Sandro belum jujur dengan orang tua dan keluarga besar nya, pi! Kalau Sandro sudah menjadi mualaf. Aku sangat takut jika di sini Zian akan di salah kan oleh orang tua dan keluarga besar dari Sandro," kata mami Juan.


"Itu sudah resikonya, mi! Asal keduanya tetap bersama untuk menghadapi semua masalah itu, pasti seiiring waktu mereka semuanya akan menerima apa pun keputusan yang telah diambil Sandro. Sama seperti kita dulu, saat Zian diam-diam memutuskan memilik keyakinan dan kepercayaan nya. Akhirnya kita mendukung Zian," kata papi Leo.


"Benar, pi!" sahut mami Juan.


"Kita sudah tua mami! Sepertinya aku mulai tertarik dengan ajaran yang Zian pilih. Bagaimana dengan mami? Kalau kita juga mulai belajar ilmu agama yang dianut dan diyakini oleh Zian," ucap papi Leo. Mami Juan melebar matanya dengan sempurna saat papi Leo berkata demikian.


"Iya, papi mulai tergerak untuk mengenal Tuhan. Mami mau kan ikut menyakini ini sama dengan papi?" kata Papi Leo.


"Tentu mami sangat mendukung, papi! Jadi kapan kita akan menjadi mualaf?" sahut mami Juan.


"Nanti kita tanyakan pada Zian dan juga Sandro, oke?" kata Papi Leo.


"Baik, papi! Sepertinya tahun ini kita akan sama-sama merayakan hari besar bersama putri dan orang-orang terkasih kita," sahut mami Juan dengan kedua mata yang berkaca.


"Lebih baik terlambat dari pada kita menjadi manusia yang tidak mengenal Tuhan seumur hidup," kata papi Leo seraya memeluk istrinya. Air mata itu tertumpah sudah. Mami Juan sangat terharu dengan keputusan suami nya. Mereka akan mulai belajar mengenal ajaran Tuhan dan mempercayai kitab-kitab Nya.


*****


Zian, Sandro kini menjalankan sholat maghrib bersama setelah berbuka puasa dengan teh manis. Setelah selesai menjalankan sholat maghrib bersama, keduanya kembali ke ruang makan di mana mami Juan dan papi Leo menunggu di sana.

__ADS_1


Mereka menikmati makan bersama di meja yang sama. Papi Leo mulai mengutarakan maksud nya untuk menjadi mualaf bersama mami Juan. Betapa hal ini membuat Zian dan juga Sandro sangat bahagia mendengar nya.


"Ya Allah, alhamdulilah. Segala puji bagi Engkau ya Allah. Benarkah semua yang dikatakan oleh papi, mi? Jika benar, setelah mami papi mengikrarkan dia kalimat syahadat itu, aku dengan kak Sandro akan melakukan sedekah untuk anak-anak yatim dan juga karyawan di perusahaan," ucap Zian.


"Hai, itu sudah kewajiban mami papi dong untuk bagi-bagi sedekah untuk karyawan di perusahaan," protes papi. Mami Juan membenarkan.


"Hehehe, ya, ya nanti Zian dengan kak Sandro akan membantu bagi-bagi sedekah nya," kata Zian.


"Zian, nak Sandro! Kapan kalian bisa mengantarkan kami ke tempat kyai atau ustadz? Kami sudah tidak sabar untuk menjadi mualaf dan mulai belajar ilmu agama. Ditambah lagi, biar secepatnya kita juga bisa menjalankan ibadah puasa ramadhan di bulan ini," kata Papi Leo.


"Besok saja papi mami! Niat baik alangkah baiknya disegerakan dan jangan lagi ditunda-tunda," sahut Sandro. Mami papi saling pandang. Mereka tersenyum cerah secerah mentari yang memberikan cahaya dan petunjuk di hati keduanya untuk mengenal Tuhan nya.


*****


Puasa ke dua.


Pagi itu Zian dan juga Sandro mengantarkan mami papi ke Alim ulama. Tekad mami dan papi untuk menjadi mualaf benar-benar diwujudkan dengan lisan, hati dan akal sehat.


Kini kedua-duanya sudah menjadi mualaf dan ingin mengenal Tuhan-nya.


Tangisan air mata jatuh di pipi mereka. Selama bertahun-tahun mereka mengikuti keras kepala dan hati mereka untuk tidak mengenal Tuhan-nya. Mereka kini seperti lahir kembali setelah mengucapkan kalimat syahadat itu dengan disaksikan beberapa saksi.


Zian memeluk mami papi nya. Air matanya ikut jatuh karena kebahagiaan dan keharuan yang dirasakan oleh Zian. Orang tua nya kini telah menjadi manusia yang beragama seperti dirinya. Harapan ini selalu terucap dalam bibir maupun hati Zian supaya mami papi nya kelak akan mendapatkan hidayah dan petunjuk. Dan hari ini di mana bulan penuh ampunan dan rahmat, mereka mami papi nya telah islam, tunduk patuh terhadap perintah Nya serta menjauhi larangan Nya.


"Sudah, mari kita kembali ke kantor! Kita akan bagi-bagi sedekah dan makanan untuk berbuka puasa untuk semua karyawan di perusahaan," kata papi Leo seraya mengusap air matanya.


"Selamat papi Leo! Semoga istiqomah," ucap Sandro seraya memeluk papi Leo.


"Terimakasih Sandro. Semua ini juga karena kamu. Kamu membukakan pintu hati papi untuk kembali mengenal Tuhan," sahut Papi Leo dengan derai air mata yang penuh penyesalan dan taubat.

__ADS_1


__ADS_2