Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 12


__ADS_3

Zian kini sudah bisa bernafas lega. Zian sebagai seorang mualaf sudah bisa tenang menjalankan rutinitas dan ibadah wajibnya sebagai muslimah sejati. Walaupun papi mami Zian masih tidak mempercayai dan menyakini suatu bentuk agama apa pun, namun keduanya selalu mendukung Zian dan melakukan ibadah dan agama yang dipeluknya.


Apapun yang dilakukan oleh Zian sesuatu yang positif, papi Leo dan juga mami Juan tetap mendukung.


🦋🦋🦋🦋🦋


Di kampus.


Zian, Mariah, Fauzi sesaat ini sedang duduk bersama di kantin kampus fakultas. Mereka bertiga sedang makan siang bersama setelah beberapa mata kuliah mereka lewati dengan keseriusan.


"Sebentar yah, aku ke toilet sebentar!" kata Zian kepada dua sahabatnya.


"Oke, jangan lama-lama yah!" sahut Mariah.


"Tentu saja, Mariah! Aku tidak akan tidur di dalam kamar mandi," kata Zian dengan menjulurkan lidahnya.


Zian segera melangkahkan kaki menuju toilet di belakang kampusnya. Kebetulan di toilet kampus itu sedang sepi dan tidak ada antrian yang hendak membuang hajatnya. Zian langsung masuk ke kamar kecil itu khusus untuk wanita. Setelah selesai dengan hajatnya, Zian segera keluar dan melangkah kembali menuju kantin di mana Fauzi dan juga Mariah menunggu. Namun saat dirinya baru sepuluh langkah menjauh dari kamar mandi itu, Zian mendengar suara seseorang telah memanggilnya.


"Hai dik!" teriak seseorang dengan suara laki-laki. Zian menengok ke kanan dan ke kiri seolah memastikan bahwasanya mahasiswa dengan jenis kelamin pria itu memanggil dirinya.


"Aku? Kakak memanggil aku?" tanya Zian memastikan.


"Benar! Iya, aku memanggil kamu!" jawab laki-laki itu sambil tersenyum ramah dan mendekati Zian.


"Oh iya, aku menemukan ini di dalam kamar mandi wanita. Apakah ini milik kamu?" ucap laki-laki itu yang diperkirakan dia juga salah satu mahasiswa di Universitas yang sama dengan Zian. Dan mungkin saja satu fakultas dengan Zian namun beda jurusan. Nyatanya Zian tidak mengenalnya. Kalaupun satu jurusan dan dia merupakan kakak kelas Zian, Zian pasti masih ingat wajah nya walaupun belum mengenalnya.


Zian menyipitkan kedua matanya. Benar, benda yang ada di tangan laki-laki itu adalah milik Zian. Namun kenapa laki-laki itu bisa masuk ke toilet wanita? Bukankah toilet laki-laki dan wanita terpisah? Pikir Zian di kepala nya.


"Benar! Ini handphone aku! Oh, benar! Tidak ada di kantong ku. Berarti terjatuh saat di dalam kamar mandi tadi. Untung saja tidak basah dan rusak," ucap Zian sambil menimang-nimang handphone nya yang masih utuh dan dalam keadaan baik-baik saja.


"Em, terimakasih kak! Tapi di mana kakak menemukan handphone saya? Apakah jatuh ke dalam kamar mandi wanita atau.." tanya Zian penasaran.

__ADS_1


"Tidak! Tadi aku menemukannya di depan toilet. Untung saja yang menemukan aku, kalau orang lain bisa di jual ponsel kamu itu. Lumayan bukan, hasil penjualan ponsel kamu bisa dibelikan bakso," ucap laki-laki itu berusaha bercanda. Zian segera merogoh kantong celananya.


"Oh, benar! Kalau begitu, ini diterima kak! Ini sebagai ucapan terimakasih karena kakak sudah mengembalikan handphone saya dan kakak sudah jujur," kata Zian seraya memberikan uang seratus ribuan kepada laki-laki itu. Laki-laki itu tentu saja dengan tegas menolak nya. Matanya melebar dengan sempurna.


"Hem, simpan saja uang kamu, dik! Aku masih banyak uang kok!" kata laki-laki itu dengan sombongnya. Zian nyengir kuda.


"Benar, nih kak? Kalau begitu terimakasih banyak yah!" sahut Zian akhirnya seraya hendak meninggalkan laki-laki itu. Namun dengan cepat laki-laki itu memanggil nya.


"Tunggu dulu!" teriak laki-laki itu. Zian menoleh.


"Ada apa kak?" tanya Zian.


"Namaku Genta, kamu siapa?" tanya laki-laki itu yang mengaku bernama Genta.


"Namaku Zian, kak! Apakah kakak juga kuliah di sini?" tanya Zian.


"Oh Zian! Tidak! Aku sedang menjemput adikku," ujar Genta. Zian menyipitkan matanya.


"Siapa adik, kakak? Siapa tahu aku mengenalnya," tanya Zian.


*****


Zian mengajak laki-laki yang kira-kira berumur tiga tahun lebih tua dari Zian itu ke kafetaria di kampus. Di mana di sana masih ada Fauzi dan juga Mariah menunggu nya. Genta menurut dan mengikuti Zian dari belakang.


"Mas Genta! Kenapa di sini?" teriak Fauzi saat melihat Genta dan juga Zian mendekati tempat duduknya. Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku mencari kamu, dik! Ada nenek yang baru tiba dari Kampung menyuruh aku untuk mengajak kamu pulang. Nenek sudah rindu berat katanya," jelas Genta. Mariah dan Zian saling pandang. Keduanya tidak tahu kalau laki-laki itu adalah kakak kandung dari Mariah. Selama ini kakak Fauzi itu jarang pulang ke rumah dan memilih tinggal sendiri di apartemen. Walaupun saat ini masih menyewa namun kakak Fauzi itu sudah bekerja walaupun masih tetap kuliah.


"Duduk dulu, mas! Zian kamu kok bisa ketemu dengan Mas Genta kakak ku?" ucap Fauzi.


"Itu tadi mas Genta menemukan ponselku yang tertinggal di kamar mandi," kata Zian.

__ADS_1


"Oh, kenapa dibalikin sih, mas! Coba tadi mas Genta jual saja, kan dapat duit banyak dari menjual handphone milik Zian," sahut Fauzi dengan bercanda.


"Sttt tidak baik seperti itu! Nanti dimarahi oleh Tuhan Yang Maha Esa loh!" kata Genta.


"Betul, bersyukur yang menemukan ponselku adalah mas Genta. Kalau kamu Fauzi? Wah, aku gak jamin besok pagi Zian membawa kembali ponselnya lagi," sahut Mariah.


"Ya sudah, mas Genta mau makan atau minum, silahkan pesan sendiri. Biar aku yang bayarin," kata Zian sambil tersenyum ramah.


"Memang berapa sih, duit kamu dik?" tantang Genta. Zian hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau cuma nasi soto dengan es teh atau es jeruk, aku masih bisa membayar nya mas!" kata Zian.


"Oke, oke!" kata Mas Genta sambil ikut duduk di sebelah Zian. Kini di meja itu sudah ada empat orang.


Mas Genta sudah memesan makanan dan minuman menurut seleranya. Kini keempatnya sudah mulai menghabiskan makanan nya sendiri-sendiri.


"Dik, kamu sudah selesai belum makannya?" tanya Mas Genta.


"Sudah kok, mas!" jawab Fauzi.


"Ayo kalau begitu, kita cepat kembali ke rumah. Nenek sudah sangat rempong badai mencari kamu, dik!" ajak Mas Genta.


"Tapi, mas! Aku masih ada satu mata kuliah lagi. Bagaimana dong?" sahut Fauzi. Kini mata Fauzi menatap dua sahabatnya Mariah dan Zian.


"Hai, jangan menyuruh aku memalsukan data dan tanda tangan kamu yah!" ucap Mariah sinis. Hal itu membuat Fauzi cemberut lantaran sahabatnya tidak mau diajak bekerja sama.


"Hem, bagaimana yah! Ya sudah kalau begitu, mas tunggu kamu sampai selesai kuliah saja. Sebenarnya nanti nanti juga tidak apa-apa. Nenek juga masih di kota ini. Hanya saja nenek sudah rindu berat. Jadi sebaiknya mas tunggu kamu saja dek. Kita pulang ke rumah bersama-sama. Kalau aku pulang sendiri, nenek pasti memberondong banyak pertanyaan," kata mas Genta.


"Nah itu lebih bagus, mas! Lagi pula jangan mengajari adik kamu ini berbohong dan kabur di jam kuliah," ucap Fauzi.


"Iya, aku tunggu kamu dik!" sahut Mas Genta.

__ADS_1


Saat jam kuliah akhir mereka bertiga sudah masuk ke ruangan. Sedangkan Mas Genta menunggu di taman depan kampus fakultas. Entah kenapa Mas Genta lebih sering memperhatikan Zian. Sepertinya ada ketertarikan di mata Mas Genta terhadap Zian.


"Fauzi pasti punya nomor WA nya bukan? Dia cukup manis dan terlihat pintar. Sangat menarik," gumam Mas Genta sambil mengingat awal perkenalan nya dengan Zian.


__ADS_2