
"Genta, kamu di mana? Cepat datang ke rumah ku! Kalau tidak, aku akan nekat bunuh diri!" kata Miska melalui pesan chat ke nomor WA milik Genta.
Genta yang sedang sibuk dengan kerjaannya di kantor menjadi panik setelah membuka dan membaca isi pesan chat dari Miska. Genta melihat jam di dinding ruangannya. Sebentar lagi jam istirahat. Genta pikir dia harus menyelesaikan semua masalah nya.Genta segera bangkit dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan kerja nya. Tujuannya saat ini adalah menemui papi mertua nya dan juga Zian.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk!" sahut Papi Leo yang kebetulan sedang berkumpul bersama dengan Zian dan juga mami Juan. Entah apa yang mereka bicarakan satu keluarga kecil itu di ruangan itu. Namun Zian terlihat habis menangis. Mungkin Zian menyampaikan kabar penyakit yang didiagnosis oleh dokter praktek tadi pagi.
"Bang Genta!" panggil Zian sambil mengusap sisa air mata yang jatuh di pipi nya.
"Kamu kenapa, Zian? Kamu menangis?" tanya Genta sambil merangkum pipi Zian dan memperhatikan wajah Zian yang habis menangis. Mami Juan dan juga papi Leo saling berpandangan lalu mereka berucap.
"Istri kamu baru saja menyampaikan pada kami kalau dirinya mengalami masalah di kista nya," jelas mami Juan. Genta segera menenangkan Zian.
"Zian, tadi kan sudah kita bahas. Kita akan mencari pengobatan alternatif untuk membersihkan kista kamu. Dan lagi kita berupaya supaya bisa mendapatkan keturunan. Jadi jangan khawatir yah, sayang," kata Genta. Mami Juan dan papi Leo saling berpandangan lalu tersenyum.
"Nah, apa kata mami! Sudah jangan menangis lagi! Dengarkan suami kamu, Zian! Sudah deh, jangan cengeng. Oke?" sahut papi Leo segera menyambar badan putrinya dan memeluk nya.
"Genta, ada apa? Apa ada yang akan kamu sampaikan pada papi soal kerjaan?" tanya papi Leo seraya melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut kepala putrinya lantaran gemas. Sampai sekarang ini Zian masih juga manja dengan papi nya.
"Papi, mami, saya permisi sebentar! Saya ada sedikit urusan," pamit Genta. Zian menyipitkan bola matanya melihat ke arah suaminya.
"Kamu mau kemana, bang? Aku ikut!" sahut Zian. Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak mungkin dirinya mengajak Zian untuk menyelesaikan masalah nya dengan Miska. Bisa-bisa Miska akan nekat bunuh diri jika Genta membawa Zian, istrinya untuk menyelesaikan masalah itu.
"Eh, tidak usah Zian! Lebih baik kamu di kantor saja. Aku hanya sebentar saja kok," tolak Genta dengan lembut.
"Enggak mau, aku harus ikut!" desak Zian sambil menyambar tas nya. Mami Juan dan papi Leo saling pandang. Sedangkan Genta tidak berani menolak keinginan Zian untuk ikut serta bersama dengan dirinya.
"Papi, mami kami. pamit dulu!" kata Genta akhirnya sambil mengambil tangan papi mami mertua nya untuk bersalaman. Zian juga demikian, bersalaman dengan mami papi nya.
__ADS_1
"Zian, kamu jangan suka merepotkan suami kamu yah, sayang!" bisik mami Juan saat Zian bersalaman dengan mami nya. Zian menganggukkan kepala nya pelan.
Genta mau tidak mau mengajak Zian ke rumah Miska. Sepanjang perjalanan di dalam mobil itu Genta tidak banyak berbicara. Demikian juga halnya Zian yang memperhatikan Suaminya dalam raut wajahnya yang penuh kepanikan.
"Zian, aku mohon nanti kamu jangan banyak bicara yah, sayang! Sebenarnya ada salah satu temanku mengancam bunuh diri jika aku tidak segera menjumpai dia sekarang ini," cerita Genta. Zian melebar matanya dengan sempurna.
"Maksudnya ada teman abang yang mau bunuh diri? Astaghfirullah," sahut Zian. Genta masih panik dengan situasi yang sulit ini.
"Zian, pokoknya apapun yang terjadi kamu jangan berprasangka dulu. Setelah ini aku berjanji akan menceritakan semuanya kepada kamu," kata Genta. Zian semakin tidak mengerti dengan masalah yang terjadi.
"Apakah teman abang Genta ini adalah seorang wanita? Apakah dia menyukai abang Genta?" Zian langsung berpikir ke arah sana. Genta menarik nafasnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Zian, maafkan aku! Aku tidak pernah mengira kalau keadaannya bakal seburuk ini dan akan menyudutkan aku," ucap Genta.
"Ya sudah! Abang Genta tenang dulu. Lagi pula kamu juga belum mengetahui kondisi teman kamu itu. Apakah hanya sekedar ancaman saja atau hanya membuat kamu panik saja. Baiklah, dalam hal ini aku akan menunggu kamu di dalam mobil saja nanti saat berada di rumah teman kamu itu. Jadi aku tidak akan membuat keadaan menjadi kacau dan membuat wanita itu benar-benar melakukan bunuh diri jika ada aku di sana," kata Zian.
"Ya Tuhan, Zian! Kamu benar-benar sangat paham situasi yang aku pikirkan. Terimakasih sayang! Kamu benar-benar istri yang paham dan pengertian. Setelah ini aku janji akan menceritakan dan menjelaskan semuanya kepada kamu, sayang," kata Genta.
"Baik bang! Aku percaya kepada abang! Jadi jangan menyalahgunakan kepercayaan yang sudah aku berikan kepada kamu, yah bang! Begini lah resikonya jika memiliki suami yang gagah, tampan dan baik pada semua orang. Terkadang orang akan beranggapan kalau bang Genta juga menyukai orang tersebut bukan?" kata Zian yang sok tahu dan menganalisa keadaan.
Genta meraih satu tangan Zian dan mencium punggung tangannya.
"Aku menyayangimu sayang! Jangan pernah tinggalkan aku jika aku pernah berlaku kesalahan pada kamu, yah!" kata Genta.
"Iya, abang! Kita saling menjaga dan mempertahankan hubungan suami istri dan rumah tangga kita, bang!" kata Zian.
"Terimakasih sayang! Makin cinta deh sama kamu! Setelah urusan ini kelar, kita makan makan di restoran yah!" kata Genta.
"Jangan dong! Kita bakal ditunggu papi mami di kantor sayang!" sahut Zian.
"Sekali-kali kita setengah hari kerja tidak apa kan?" kata Genta sambil meringis saja. Zian terkekeh saja. Benar kalau bekerja di perusahaan milik keluarga sendiri jadi tidak disiplin bukan?
******
__ADS_1
Genta menghentikan mobilnya di bangunan yang mewah seperti istana. Genta diam lalu melihat ke arah Zian.
"Ini rumah teman abang itu?" tanya Zian.
"Benar! Kamu yakin tidak ikut ke dalam dan mempercayai aku menyelesaikan urusan ini sendiri?" kata Genta.
"Iya, selesaikan masalah kamu bang! Dan mana kunci mobilnya?" kata Zian. Genta mengerutkan dahinya.
"Kenapa minta kunci mobilnya, sayang?" tanya Genta.
"Hanya berjaga-jaga saja kalau kamu terlalu lama di dalam rumah itu. Aku akan kembali ke kantor lagi! Jangan lupa setelah ke kantor aku akan menjemput kamu di sini. Oke? Lagipula aku yakin teman kamu itu tidak menghendaki kamu cepat-cepat kamu pergi meninggalkan dirinya. Karena dia mencintaimu kan?" ucap Zian.
"Zian, apa yang kamu bicarakan sih? Itu artinya kamu memberikan kesempatan aku untuk berdua dengan teman ku itu?" tanya Genta.
"Bang Genta! Bukankah aku sudah bilang kepada abang! Jangan menyalahgunakan kepercayaan aku terhadap kamu. Jadi aku aku memberikan kamu kesempatan untuk membuat tenang teman kamu itu,"jelas Zian.
" Baiklah, aku mengerti sayang!" sahut Genta.
"Ingat yah, bang! Jika abang melakukan kesalahan lagi, aku tidak akan memaafkan abang," tambah Zian. Genta menyipitkan bola matanya.
"Kenapa Zian seperti sudah mengetahui kalau aku dengan Miska ini pernah ada affair? Apakah Zian benar-benar tahu kalau aku pernah berselingkuh dengan Miska? Sedangkan aku belum menceritakan semuanya pada Zian," batin Genta.
"Sudah sana bang! Kamu pasti telah ditunggu oleh teman kamu itu! Jangan sampai ada apa-apa dengan wanita itu!" kata Zian sambil menimang kunci mobil yang telah diberikan padanya dari Genta.
"Zian!" panggil Genta sebelum turun dari mobil itu.
"Iya, bang!" sahut Zian.
"Aku mencintaimu, sayang! Aku tidak mau kamu meninggalkan aku jika aku sudah menceritakan semuanya ini," kata Genta.
"Lihat nanti, bang! Sudah sana!" sahut Zian. Genta turun dari mobil itu dan segera menuju ke pagar rumah itu.
Zian menatap suaminya yang masuk ke pintu pagar rumah itu setelah dibukakan oleh penjaga rumah itu.
__ADS_1
"Aku tidak akan pernah mempercayai semua itu jika tidak mami papi yang menyampaikan pengkhianatan kamu terhadap ku selama ini. Dan bahkan tadi mami papi sampai menunjukkan bukti kalau kamu sudah bermain api dengan wanita itu. Sekarang? Wanita itu mengancam mu hendak bunuh diri kalau kamu tidak menemui dirinya? Sungguh benar-benar licik! Dia ingin merebut kamu dariku! Tapi aku akan memberikan kesempatan itu padamu bang! Kamu akan terus menerus melakukan kesalahan dan pengkhianatan itu pada ku atau menyudahinya. Tinggal aku yang akan memutuskan semua nya. Di akhiri atau dilanjutkan lagi hubungan suami istri ini," gumam Zian sambil melihat dari dalam mobil Genta telah disambut hangat oleh seorang wanita muda dengan penampilan seksi.