Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 29


__ADS_3

Zian sudah membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. Zian kini segera turun dari tempat tidur nya mencari Genta, suami nya.


"Bang, maaf yah aku baru bangun," ucap Zian kepada Genta. Genta masih terlihat berantakan menyiapkan sarapan di meja. Namun anehnya pagi ini Zian melihat wajah Genta yang teduh dan tidak marah kepada Zian.


"Tenang saja! Aku sengaja tidak membangunkan kamu kok, sayang! Karena hari ini akulah yang memasak dan menyiapkan sarapan buat kamu, sayang!" ucap Genta. Zian semakin merasa tidak enak jika suaminya lah yang menyiapkan sarapan pagi dan juga susu di meja.


"Zian sayang! Lebih baik kamu mandi saja yah! Ini sudah selesai kok!" kata Genta lagi.


"Hem, tapi abang belum aku buatkan kopi pagi ini. Bagaimana kalau aku buatkan kopi dulu untuk abang?" sahut Zian.


"Tidak usah, sayang! Kamu cepetan mandi biar kita bisa makan dan sarapan bersama-sama," ucap Genta.


"Abang sudah mandi?" tanya Zian.


"Ini mau mandi juga!" sahut Genta.


"Ya sudah, ayo kita mandi bersama-sama saja," ajak Zian. Genta menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Tentu saja Genta sangat takut jika mandi bersama dengan Zian, Zian bisa melihat beberapa tanda merah kebiruan di tubuhnya. Jika Zian bisa melihat nya, Genta tidak bisa menyembunyikan lagi bahwa semalam dirinya sudah bermain dengan Miska.


"Sayang, kamu duluan yah! Nanti aku segera menyusul setelah kamu. Atau biar aku nanti. mandi di kamar mandi bawah saja," ucap Genta yang berusaha menolak ajakan Zian untuk mandi bersama.


"Ya sudah, deh! Aku naik dulu ke atas," sahut Zian. Zian segera berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya. Genta menarik nafas lega.


"Syukur lah, Zian tidak memaksa aku untuk mandi bersama. Jika itu terjadi? Bisa hancur rumah tangga ku dengan Zian. Ini semuanya gara-gara Miska si penggoda itu. Setelah ini aku tidak mau bermain api lagi," gumam Genta.


*****


"Kamu sudah mandi, bang?" tanya Zian yang saat ini sedang berdandan di depan cermin make up. Melihat suaminya yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah, Zian tiba-tiba mengerutkan dahinya.


"Sudah, sayang! Aku tadi mandi di toilet bawah," ucap Genta yang saat ini memakai baju rapi yang sudah disiapkan Zian di atas kasur. Kini Genta mulai beralih mendekati Zian dan merebut hairdryer yang dipegang Zian untuk mengeringkan rambutnya. Genta dengan penuh lembut mengeringkan rambut Zian yang masih basah.


"Kamu keramas, sayang?" tanya Genta.


"Heem, bang! Abang juga keramas yah, rambutnya dibasahi gitu," sahut Zian.

__ADS_1


"Kita sama-sama keramas dan membasahi rambut. Padahal tadi malam kita tidak sedang naninuna kan?" ucap Genta dengan disertai tawa kecilnya. Zian ikut tersenyum mendengar nya.


"Darimana bahasa Naninuna itu sih?" tanya Zian.


"Ada deh!" sahut Genta.


"Maaf, semalam aku capek banget bang! Jadi cuekin kamu deh dan bobok duluan," kata Zian.


"Tidak apa, sayang! Nanti malam bisa di double kan?" sahut Genta. Zian yang mendengar nya jadi tersenyum lebar.


"Sudah siap, sekarang pakai hijab nya lalu kita sarapan di bawah! Oke? Aku tunggu di bawah yah, sayang!" kata Genta.


"Siap, bang! Terimakasih banyak yah, bang! Pagi ini abang sangat baik dengan aku," ucap Zain.


"Hai, kami ngomong apa sih? Kamu itu istriku. Jadi sangat wajar kan jika aku perhatian dan sayang dengan kamu," kata Genta sambil merangkum kedua pipi Zian.


"Bahagianya memiliki suami seperti abang!" sahut Zian.


"Ya sudah, aku pakai hijab ku dulu, bang!" sahut Zian.


"Oke, cepatlah! Aku akan menunggu di ruang makan," kata Genta segera keluar dari kamar itu dan bergegas menuju ruang makan di lantai bawah.


****


"Wow, ini sangat enak sekali bang! Abang benar-benar sangat pandai memasak," ucap Zian saat sudah duduk di meja makan dan menikmati sarapan pagi hasil masakan dari suaminya. Genta tersenyum ketika mendapatkan pujian dari istrinya.


"Benarkah? Kamu menyukai nya kah? Ayo tambah lagi kalau kamu suka!" sahut Genta.


"Hem, dibungkus saja, bagaimana? Abang kan tahu kalau aku tidak bisa makan pagi terlalu banyak," kata Zian.


"Hahaha, dibungkus?Untuk siapa?" tanya Genta.


"Untuk mami Juan dan papi Leo di kantor," jawab Zian. Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Gimana yah? Aku malu, Zian! Gak usah saja yah, sayang!" ucap Genta.


"Kenapa malu sih? Justru mami Juan dan papi Leo akan menilai kalau menantunya sangat menyayangi putrinya sampai bela-belain membuatkan sarapan juga," kata Zian. Genta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hem, boleh bawa tapi jangan bilang aku yang masak yah? Sebentar aku ambilkan kotak tupperware dulu," ucap Genta bersemangat. Zian hanya geleng-geleng kepalanya saja.


Namun tiba-tiba saja, Zian merasakan mual dan ingin muntah. Dengan sekuat tenaga Zian menahannya tapi malah membuat Zian merasakan pusing. Akhirnya Zian berlari di dalam kamar mandi di dekat ruang makan secepat mungkin.


Huek.


Huek.


Huek.


Zian mengeluarkan semua makanan yang tadi ia makan barusan. Genta yang mendengar Zian muntah-muntah menjadi ikut panik.


"Sayang? Kenapa?" tanya Genta.


"Tiba-tiba aku merasakan pusing dan mual!" jawab Zian.


"Kamu masuk angin yah, sayang? Sebentar aku carikan minyak kayu putih dulu. Kamu duduk dulu di sini yah," ucap Genta lalu mengambil minyak kayu putih di kotak obat.


"Nah, mungkin semalam kamu begadang nungguin aku sampai larut malam. Jadi kamu masuk angin deh," kata Genta sambil mengolesi minyak kayu putih itu ke bagian perut Zian dan tengkuk Zian.


"Aku sudah tidak apa-apa bang!" ucap Zian. Namun tidak berselang lama Zian berkata seperti itu, kembali Zian berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Hal itu semakin membuat panik Genta.


"Ada apa dengan Zian? Eh? Jangan-jangan Zian hamil," ucap Genta.


"Kalau benar-benar Zian hamil mami Juan dan papi Leo pasti akan bahagia. Tidak hanya mereka yang bahagia kedua orang tua ku tentu saja ikut senang. Aku akan menjadi calon ayah. Terimakasih Tuhan. Seandainya semua benar," gumam Genta.


"Zian! Zian sayang! Kamu tidak apa-apa sayang? Bukakan pintu kamar mandi nya sayang!" ucap Genta sambil mengetuk pintu kamar mandi yang di dalamnya ada Zian. Zian keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang pucat.


"Zian, sayang! Kamu pucat sekali! Ayo duduk dulu sayang! Aku akan buatkan teh manis hangat dulu yah, sayang! Setelah itu kita periksa ke dokter," kata Genta yang heboh sendiri. Genta segera menjadi suami siaga yang penuh perhatian dengan sang istri yang sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2