
James terkejut melihat ibunya duduk di ruangan Melan. Dia tidak mengira bahwa ibunya akan berada di sana setelah pertemuan mereka tadi. James cepat-cepat masuk ke dalam ruangan dan bertanya dengan keheranan, "Ibu, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"
Ibu James tersenyum sambil melihat putranya. "Aku hanya ingin berbicara dengan Melan sejenak," jawabnya dengan lembut. "Apa kamu punya waktu sebentar?"
James mengangguk, masih bingung dengan kehadiran ibunya di ruangan Melan. Mereka duduk bersebelahan, dan Melan memberikan tempat untuk ibu dan anak itu berbicara dengan tenang.
Ibu James memulai pembicaraan dengan memuji Melan atas kerja kerasnya dan dedikasinya terhadap perusahaan. Dia kemudian beralih ke topik yang ingin dia sampaikan, "James, aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu yang terlintas dalam pikiranku."
James menatap ibunya dengan penuh perhatian. "Tentang apa, Ibu?"
Ibu James mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Aku melihat ada perubahan dalam sikapmu belakangan ini, terutama terkait dengan seorang karyawan di perusahaan kita, Maya. Apakah ada sesuatu yang kamu ingin katakan?"
James merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan ibunya. Dia tidak menyangka bahwa ibunya telah memperhatikan perubahan sikapnya terhadap Maya. Namun, dia memutuskan untuk jujur dan terbuka dengan ibunya.
"Ibu, memang benar bahwa Maya adalah seorang yang luar biasa dalam pekerjaannya," kata James dengan penuh perasaan. "Namun, saat ini, hubungan kami adalah profesional. Tidak ada yang lebih dari itu."
Ibu James mendengarkan dengan penuh perhatian, mengamati putranya dengan seksama. Dia bisa melihat kejujuran dalam kata-kata James, namun ada juga rasa penasaran yang belum terpuaskan.
"James, sebagai ibumu, aku hanya ingin memastikan bahwa segala sesuatunya berjalan dengan baik di perusahaan dan tidak ada konflik kepentingan yang muncul," kata ibu James dengan lembut. "Aku percaya kamu akan menjaga profesionalisme dalam bekerja dan tidak membiarkan hubungan pribadi memengaruhi kinerja kita."
James mengangguk dengan tulus. "Tentu saja, Ibu. Aku sangat menghargai perhatianmu. Aku akan terus menjaga profesionalisme dan memastikan bahwa perusahaan tetap berjalan dengan baik."
Ibu James tersenyum lega mendengar jawaban putranya. Dia merasa lega bahwa James memahami kekhawatirannya dan berkomitmen untuk menjaga integritas profesional.
"Dalam hal itu, aku percaya kamu, James," kata ibu James dengan penuh keyakinan. "Kami akan terus mendukungmu dan perjalanan karirmu di perusahaan."
**
__ADS_1
Setelah berjalan keluar dari ruangan Melan, ibu James menoleh pada anaknya dengan pandangan tajam. "James, ada satu pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan padamu," ucapnya dengan serius. "Kapan kamu berencana untuk melamar Ivon?"
James terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari ibunya tentang melamar Ivon. Dia merasa sedikit terjepit dalam situasi ini, karena sebenarnya dia tidak memiliki rencana untuk melamar Ivon. Namun, dia mencoba tetap tenang dan menjawab dengan hati-hati.
"Ibu, aku harus jujur denganmu," kata James dengan lembut. "Saat ini, aku belum merasa siap untuk melamar Ivon. Meskipun dia adalah calon yang dipilih olehmu, tetapi aku merasa bahwa kita tidak memiliki ikatan emosional yang cukup kuat untuk mempertimbangkan pernikahan saat ini."
Ibu James mendengarkan dengan serius, mengolah kata-kata putranya dengan bijak. Dia memahami bahwa keputusan seperti ini adalah hal yang sangat personal dan harus diambil dengan hati-hati.
"Aku mengerti pendapatmu," kata ibu James dengan penuh pengertian. "Ingat dia adalah anak sahabatku."
James memandang ibunya dengan wajah yang terlihat sedikit ragu. "Ibu, sejujurnya, aku tidak merasa cocok dengan Ivon," ujarnya dengan tegas. "Atitude dan sikapnya tidak sesuai dengan apa yang aku cari dalam seorang pasangan hidup, berapa kali harus aku jelaskan."
Ibu James terkejut mendengar pengakuan itu. Dia mengamati wajah anaknya, mencoba memahami apa yang ada di balik pernyataannya. "James, apakah kamu yakin dengan perasaanmu ini?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.
James mengangguk mantap. "Ya, ibu. Aku tidak ingin memaksakan diri dalam sebuah hubungan yang tidak benar-benar membuatku bahagia," katanya dengan tegas. "Aku ingin menemukan seseorang yang benar-benar sejalan dengan visi dan nilai-nilai hidupku."
“Ibu”
“Ya lupakan, masalah ini biar aku selesaikan dengan ibunya Ivon, Kamu fokuslah kerja aku pulang dulu.”
James merasa lega mendengar dukungan ibunya. Meskipun ada perasaan bersalah karena membatalkan rencana lamaran dengan Ivon, dia tahu bahwa dia harus mengikuti hatinya dan mencari kebahagiaan sejati.
"Terima kasih, ibu," ucap James sambil memeluk ibunya dengan erat. "Aku akan berbicara terus terang dengan Ivon dan menjelaskan perasaanku. Semoga dia juga bisa memahami dan menerima keputusanku."
Ibu James tersenyum dan membelai rambut anaknya dengan lembut. "Aku yakin kamu akan menemukan seseorang yang benar-benar istimewa, James," kata ibunya. "Teruslah mengikuti hatimu dan jangan takut untuk mencari kebahagiaanmu sendiri."
James merasa lega dan bersemangat untuk mengejar kehidupan yang sesuai dengan keinginannya. Meskipun ada ketidakpastian di depannya, dia percaya bahwa dengan mengikuti hatinya, dia akan menemukan cinta sejati yang dia cari.
__ADS_1
**
Maya memasuki ruangan dengan hati-hati, membawa beberapa berkas yang perlu dia serahkan kepada James. Dia merasa sedikit gugup ketika melihat seorang wanita paruh baya duduk di ruangan tersebut. Maya dengan sopan memberikan salam kepada mereka berdua.
"Salam. Permisi, saya Maya," kata Maya dengan lembut. "Saya datang untuk menyerahkan beberapa berkas yang harus diserahkan kepada Pak James."
Ibu James tersenyum ramah. "Salam, Maya. Senang bertemu denganmu," ucapnya. "Aku ibu dari James."
Maya mengangguk dengan sopan. "Senang bertemu dengan Anda, bu," ujarnya dengan ramah.
Ibu James melihat Maya dengan penuh perhatian. Dia bisa merasakan kebaikan dan kecerdasan dalam diri Maya. "James dan Melan telah memuji kerja kerasmu dan kemampuanmu dalam penelitian ini," kata Ibu James dengan senyum hangat. "Dia sungguh menghargai kerjasama kalian."
Maya tersenyum dan merasa lega mendengar pujian tersebut. "Terima kasih, bu. Saya senang bisa bekerja sama dengan Pak James dalam proyek ini," kata Maya dengan tulus.
Ibu James melanjutkan, "James juga memuji kepribadianmu yang baik dan kerendahan hatimu. Dia mengatakan bahwa kamu adalah orang yang dapat diandalkan dan memiliki etos kerja yang kuat."
Maya merasa terharu mendengar kata-kata itu. Dia tidak menyangka bahwa James telah memberikan pujian seperti itu tentang dirinya kepada ibunya. "Saya berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam setiap tugas yang saya emban," ucap Maya dengan rendah hati.
Ibu James tersenyum lembut. "Kamu sungguh luar biasa, Maya. Saya harap kamu sukses dalam semua upayamu, baik dalam karier maupun dalam kehidupan pribadi," kata Ibu James dengan penuh doa.
Maya merasa hangat dengan dukungan dan kebaikan yang ditunjukkan oleh ibu James. Dia berterima kasih kepada ibu James atas sambutan yang baik dan doanya. Mereka berdua berbincang sejenak tentang penelitian Maya dan rencana masa depannya.
Setelah pertemuan singkat, Maya berpamitan dengan sopan kepada ibu James. "Terima kasih banyak, bu. Saya akan melanjutkan tugas saya dan menyelesaikan berkas-berkas ini," ucapnya.
Ibu James tersenyum dan menganggukkan kepala. "Semoga sukses, Maya. Jika ada yang bisa saya bantu, jangan ragu untuk menghubungi saya," kata Ibu James dengan tulus.
Maya meninggalkan ruangan dengan perasaan hangat dan senang. Pertemuan singkat dengan ibu James membuatnya semakin terinspirasi untuk terus berusaha dan mengejar impian-impiannya. Dia merasa diterima dan dihargai, dan itu memberikan semangat baru dalam perjalanan hidupnya.
__ADS_1
“Cantik dan berintegritas” Kata ibu James melirik ke arah James.