
Suara melengking dari mikrofon perusahaan memenuhi ruang kantor, mengumumkan kabar penting yang membuat semua orang terdiam sejenak. Suara itu mengumumkan dengan jelas dan lantang:
"Kepada seluruh karyawan Trotoarts, kami dengan bangga mengumumkan bahwa Amaya Thamrin atau yang di sapa Ibu Maya akan mendampingi Ibu Melan sebagai asisten pribadi CEO perusahaan ini. Maya telah dipilih berdasarkan kualitas dan potensi serta dedikasi yang luar biasa sebelumnya, dan kami yakin dia akan memberikan kontribusi yang berharga dalam memajukan perusahaan ini. Kami berharap Anda dapat memberikan dukungan dan kerjasama kepada Maya dalam menjalankan tugasnya. Terima kasih."
Setelah pengumuman tersebut, suasana kantor menjadi hidup dengan desir percakapan dan tepuk tangan. Karyawan yang bekerja di Trotoarts saling memberikan ucapan selamat kepada Maya, mengakui pencapaiannya yang luar biasa. Mereka merasa bangga menjadi bagian dari perusahaan yang memiliki asisten pribadi CEO yang sangat kompeten.
Renny, yang mendengar pengumuman itu, merasa campuran antara kaget, cemas, dan sedikit gugup. Dia merasakan sikapnya selama ini yang di lakukan akan berbahaya jika mengganggu kedudukannya, secara Maya posisinya lebih tinggi. Di satu sisi kebenciannya semakin mengakar karena niat membuly Maya sepertinya tidak akan berjalan mulus.
Renny adalah seorang resepsionis yang selalu menunjukkan ekspresi ketidakpuasan dan keengganan, merasa gugup dan cemas mendengar pengumuman tersebut. Dia merasa terancam dengan kehadiran Maya sebagai asisten pribadi CEO, karena Maya akan memiliki otoritas yang lebih tinggi darinya di dalam perusahaan.
Renny telah lama berada di posisi tersebut dan merasa nyaman dengan peran dan tanggung jawabnya. Kehadiran Maya sebagai atasan baru membuatnya khawatir bahwa tugas dan tanggung jawabnya pasti akan berubah atau bahkan diambil alih sepenuhnya di gantikan dengan yang lain jika maya bertindak. Dia merasa terancam akan kehilangan posisinya atau dianggap kurang kompeten.
Dalam kecemasannya, Renny mulai mempertanyakan kemampuan dan kualitas pekerjaannya sendiri. Dia merasa tidak aman dan merasa perlu membuktikan bahwa dia masih berharga dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
Namun, di balik ketidakpastian dan kecemasan itu, Renny juga menyadari bahwa dia harus siap menerima perubahan dan beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru. Dia berusaha untuk tetap profesional dan fokus pada pekerjaannya, sambil mempertimbangkan kemungkinan adanya kolaborasi dengan Maya di masa depan.
Meskipun perasaan gugup dan cemas masih menghantuinya, Renny berharap bisa menjalin hubungan kerja yang baik kembali dengan Maya dan melihatnya sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang. Dia akan berusaha untuk menutupi pandangan negatifnya menjadi semangat untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pekerjaannya di depan maya.
Dalam hati, Renny tidak dapat membendung perasaan benci, cemas dan gugup bersamaan. Ia berjanji untuk sementara ini akan memberikan yang terbaik dan membuktikan bahwa dia mampu berkontribusi secara signifikan dalam tim perusahaan, meskipun dengan kehadiran Maya sebagai atasan baru sambil menunggu waktu yang tepat untuk membalaskan dendam kebenciannya.
__ADS_1
^^
Sedangkan itu Pak Yatno, kepala keamanan yang selalu menunjukkan ekspresi serius dan tegas, menaikkan bibir sebelah dan tersenyum simpul saat mendengar pengumuman tersebut. Meskipun ada sedikit kejutan dan mungkin kebingungan di benaknya, dia berusaha menerima kenyataan dengan lapang dada.
Pak Yatno menyadari bahwa Maya, yang dulunya hanya seorang anak desa, telah berhasil meraih posisi yang tinggi di perusahaan. Meskipun secara hierarki Maya menjadi atasan langsungnya, Pak Yatno tetap mempertahankan sikap profesional dan siap menjalankan tugasnya dengan baik.
Dalam hatinya, Pak Yatno merasa terinspirasi oleh perjalanan Maya yang mengubah takdirnya. Dia merasa terdorong untuk terus berusaha dan meraih kesuksesan, tanpa memandang latar belakang atau status sosial. Melihat Maya berhasil, Pak Yatno yakin bahwa dengan kerja keras dan tekad yang kuat, siapa pun dapat meraih impian mereka.
Dengan senyuman di wajahnya, Pak Yatno mengucapkan selamat kepada Maya. Dia merasa bangga memiliki atasan yaitu asisten pribadi CEO yang berdedikasi dan berkompeten. Dia siap menjalankan perannya dengan baik dan memberikan dukungan yang diperlukan dalam menjaga keamanan perusahaan.
Dalam hati, Pak Yatno bertekad untuk terus memberikan dukungan dan kerjasama kepada Maya, mengesampingkan perbedaan posisi hierarki. Baginya, yang terpenting adalah semangat kerja dan dedikasi untuk mencapai tujuan bersama.
^^
Sementara itu, Siana, mentor Maya selama PKL, tersenyum melihat keberhasilan dan perkembangan Maya. Dia merasa bangga melihat Maya menghadapi tantangan dan melampaui harapan dalam karirnya. Siana yakin bahwa Maya memiliki kemampuan dan keahlian yang luar biasa, dan dia senang melihat bahwa Maya telah berhasil mencapai posisi yang lebih tinggi.
Ia menyadari betapa berartinya dukungan dan bimbingan selama masa PKL bagi perkembangan Maya. Dan senang dapat menjadi bagian dari perjalanan suksesnya dan berharap agar Maya terus berkembang dan menginspirasi orang lain.
**
__ADS_1
Menjelang istirahat makan siang maya bergegas menuju ruang makan khusus karyawan. Suasana makan siang pertama Maya sebagai bagian dari Trotoarts terasa sangat berbeda dibandingkan saat ia masih menjadi mahasiswa PKL. Sekarang, ia merasakan atmosfer yang lebih serius dan profesional di sekitarnya. Meja makan siang itu dipenuhi dengan suasana yang sibuk dan penuh percakapan bisnis.
Maya merasa sedikit canggung, namun ia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Ia mencoba untuk mengamati dan belajar dari rekan kerjanya yang telah berpengalaman. Maya berharap dapat menjalin hubungan yang baik dengan mereka dan menunjukkan kemampuannya dalam pekerjaan.
Para rekan kerja di sekitarnya juga terlihat sibuk dan fokus dengan pekerjaan mereka. Maya merasa terdorong untuk memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya. Ia berkomitmen untuk belajar dan mengembangkan diri agar dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi perusahaan.
Walau pun suasana makan siang kali ini terasa berbeda, Maya tetap bersemangat dan penuh antusiasme untuk memulai perjalanan profesionalnya di Trotoarts. Ia yakin bahwa dengan kerja keras dan dedikasi, ia akan mampu menghadapi tantangan yang ada dan tumbuh dalam karirnya.
James mendekati meja makan Maya dengan senyum ramah di wajahnya. Maya merasa sedikit tegang, karena James sang CEO perusahaan dan memiliki reputasi sebagai sosok yang tegas dan cerdas.
"Maya, bagaimana pertama kali kamu bergabung dengan Trotoarts?" tanya James sambil meneguk segelas air.
Maya menjawab dengan sedikit gugup, "Saya merasa sangat bersyukur dan bersemangat, Pak James. Saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini dan siap bekerja keras untuk mendukung kesuksesan Trotoarts."
James mengangguk puas, "Saya senang mendengarnya, Maya. Kami memilihmu karena melihat potensi dan dedikasi yang kamu tunjukkan selama masa PKL. Saya berharap kamu dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang berarti bagi perusahaan ini."
Maya merasa lega mendengar pujian dan dukungan dari James. Ia berusaha menjaga rasa percaya dirinya dan menghadapi tantangan yang akan datang. James memberikan saran-saran dan tips yang berharga dalam menjalani karir di Trotoarts.
Setelah beberapa menit berbincang, James mengucapkan selamat kepada Maya dan kembali ke meja kerjanya. Maya merasa semakin termotivasi dan siap untuk menghadapi perjalanan karirnya di Trotoarts dengan semangat yang baru.
__ADS_1
Makan siang pertama Maya di Trotoarts tidak hanya menjadi momen untuk makan bersama, tetapi juga sebagai awal dari petualangan baru di dunia kerja. Maya berharap dapat terus belajar dan tumbuh bersama perusahaan ini, serta mencapai kesuksesan bersama dengan timnya.