
Pagi hari, Zian sudah bersiap pergi ke kantor. Zian berusaha melupakan kepahitan hidup yang menimpanya. Zian harus bertemu dengan mami papi nya untuk membicarakan masalah perceraian nya dengan Genta. Walaupun di hatinya masih menyayangi Genta, suami nya. Namun perzinahan itu bagi mami papinya tidak bisa ditolerir lagi. Mami papi Zian bukan seorang agamis atau penganut salah satu ajaran agama di negara ini. Mami papi Zian masih belum memeluk salah satu keyakinan. Tetapi mereka tetap berpegang teguh pada kebenaran dan kebaikan sesama manusia. Dan pengkhianatan kepada seorang pasangan tidak bisa dimaafkan.
Zian membuka pintu utama rumahnya. Pandangan nya jauh ke halaman rumahnya. Pagi ini cuaca begitu segar. Namun berbeda dengan suasana hati Zian yang benar-benar redup. Namun begitu, Zian tetap berusaha berdamai dengan hidupnya. Walaupun kejamnya masalah memporak-porandakan hati, pikiran dan emosinya. Zian tetap menerima nya tanpa rasa dendam dan memaafkan.
Tidak peduli seberapa kejam masalah memperlakukan Zian, berdamai dan tidak mendendam demi masa depan yang gemilang.
Tiba-tiba saja mata Zian tertuju pada seseorang yang meringkuk di kursi panjang kayu di taman tanpa selimut atau sarung menyelimuti seluruh tubuh nya. Zian mendekati seseorang itu dan memastikan apakah benar dugaan nya. Dari pakaiannya jelas kalau itu adalah Genta.
"Bang Genta!" gumam Zian. Ada iba di kedua sorot mata Zian melihat tubuh lunglai sedang meringkuk di kursi taman. Namun begitu, Zian enggan untuk membangunkan nya. Tanpa terasa air mata Zian sudah basah karena air mata.
"Bang Genta! Kenapa kamu di sini bang? Jangan seperti ini. Aku tidak bisa melihat kamu seperti ini," gumam Zian. Zian segera mengusap air matanya. Zian lebih memilih pergi dan membiarkan suaminya itu tidur di kursi panjang di taman.
Zian segera masuk ke dalam mobilnya dan bergegas meninggalkan rumahnya. Sedikit pesan untuk penjaga rumahnya supaya menyampaikan kepada Genta kalau dirinya sudah berangkat ke kantor. Sepanjang perjalanan menuju ke kantor, Zian masih sesenggukan. Air matanya belum mau terbendung, mengalir deras bak sungai bengawan Solo.
Walaupun dirinya sudah berdamai dengan masalahnya. Namun bukan berarti Zian mau kembali bersama dengan Genta kembali. Mengingat pengkhianatan yang sudah dilakukan oleh Genta terhadapnya, Zian tidak akan sanggup untuk berada di sisi Genta lagi. Betapa bayangan itu sangat jelas. Betapa tubuh atletis dan kekar milik suaminya telah dipeluk dan menyatu dengan wanita lain. Bahkan dua tangan yang kokoh itu telah berani memeluk wanita lain dan itu bukan Zian. Pengkhianatan itu sangat jelas dan belum terlupakan oleh Zian.
"Bang Genta! Mungkin saja kita sudah tidak berjodoh lagi. Namun aku tidak akan menjadikan kamu musuh, bang! Kamu tetap bang Genta ku yang dulu. Semoga kelak kita akan menjadi teman atau sahabat daripada menjadi pasangan suami istri yang saling menyakiti," gumam Zian.
Zian memegangi perut nya. Tampaknya Zian harus memikirkan juga kesehatan nya. Zian tetap harus memeriksakan diri terkait diagnosa yang dokter bilang. Setidaknya lebih baik mencegah sebelum benar-benar sakit.
Zian menghentikan mobilnya dan lebih memilih membeli bubur ayam.
"Lebih baik aku makan di warung kecil ini saja, deh!" gumam Zian lalu turun dari mobilnya setelah memarkirkan mobilnya di area parkir.
"Pak, bubur ayam nya satu pak!" ucap Zian sambil duduk di bangku yang masih kosong. Namun tiba-tiba ada duduk di dekatnya.
__ADS_1
"Sarapan bubur dik?" tanya seorang pria yang langsung duduk di dekat Zian. Zian menatap laki-laki di samping nya.
"Eh, astaghfirullah kak Bisma! Kakak makan di sini juga. Dengan siapa kak?" ucap Zian sambil mencari-cari sosok Mariah siapa tahu ikut diajak kak Bisma juga.
"Aku sendiri kok! Mariah tadi pagi sudah dijemput suaminya, mas Anhar. Bagaimana kamu, sudah lebih baik kah?" kata Bisma.
"InsyaAllah, kak! Doakan saya bisa melewati semua ini," kata Zian.
"Aamiin! Aku yakin kamu bisa kuat kok karena menurutku kamu adalah wanita pilihan," sahut kak Bisma. Zian tersenyum lebar mendengar nya.
"Mari kak Bisma, sarapan bubur dulu!" tawar Zian setelah penjual bubur itu mengantarkan dua porsi bubur ke Zian dan juga Bisma.
Keduanya segera menikmati sarapan pagi mereka tanpa banyak bicara. Hingga beberapa menit akhirnya piring yang sebelum nya berisi bubur ayam itu tandas.
"Kak Bisma! Aku langsung saja yah! Aku harus segera ke kantor!" kata Zian.
"Kak, biar aku bayar sendiri," kata Zian.
"Tidak apa-apa, sekalian aja!" sahut Bisma.
Zian dan Bisma masing-masing masuk ke mobilnya sendiri. Keduanya meninggalkan tempat itu dengan urusan masing-masing.
*****
Di dalam mobil Bisma tersenyum sendiri. Dia seperti berbunga-bunga setelah perjumpaan dengan Zian pagi ini. Perjumpaan yang tidak disengaja.
__ADS_1
"Wanita itu sangat menarik. Sayang nya dia masih istri orang," gumam Bisma.
"Eh, aku lupa untuk meminta nomor WA nya. Hem kalau minta Mariah, pasti aku kena omel dan ceramah," pikir Bisma.
"Mungkin lain kali kalau aku dipertemukan lagi dengan wanita itu. Semoga saja Zian diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan segala urusan nya," pikir Bisma sambil mengendarai mobil nya.
*****
Di kantor pusat. Zian langsung menuju ke ruangan kerja mami nya.
"Jadi kamu sudah memergoki suami kamu berselingkuh dengan wanita itu lagi, Zian?" tanya mami Juan. Zian menganggukkan kepala nya pelan.
"Sudah, mami duga kalau seorang laki-laki satu kali melakukan pengkhianatan dan perselingkuhan, dia akan kembali mengulanginya. Bahkan perselingkuhan atau bermain dengan wanita dianggap masalah enteng. Kamu seperti sudah tidak dihargai lagi sebagai seorang istri, Zian! Apakah semalam suami kamu juga tidak kembali ke rumah kamu?" kata mami Juan.
"Tadi malam bang Genta kembali pulang ke rumah, mami! Tetapi Zian tidak membukakan pintu. Ketika pagi saat Zian berangkat ke kantor, Zian melihat bang Genta tidur di kursi panjang di taman depan," jelas Zian.
"Hem, apa mau Genta setelah kamu mengetahui bahwasanya dia sudah mengkhianatimu?" tanya mami.
"Bang Genta tidak mau kalau kami bercerai, mami!" jawab Zian.
"Sudah aku duga! Genta pasti tidak mau jika kamu meminta cerai darinya. Selain saat ini dirinya sudah tidak memiliki apa-apa, Genta juga tidak mau kalau keluarga nya tahu bahwa dirinya sudah bermain api dengan wanita lain. Benar kan apa kata mami?" ucap mami Juan.
"Bagaimana pun, mami berharap kalau kamu menuntut perceraian dengan Genta. Genta itu kurang bagus perangainya, Zian!" kata mami Juan.
"Itulah yang ingin Zian bahas dengan mami! Zian akan mengurus perceraian dengan bang Genta. Mami bantu aku untuk secepatnya bisa lepas dari bang Genta," ucap Zian.
__ADS_1
"Tentu sayang! Kamu pasti bisa melewati masalah ini. Dan mami akan membantu mengumpulkan bukti perselingkuhan suami. kamu supaya urusan ini bisa kelar," kata mami Juan.
"Terimakasih, mami!" sahut Zian sambil memeluk mami Juan.