Wanita Pilihan

Wanita Pilihan
BAB 45


__ADS_3

"Jadi apa hobi kamu?" tanya Sandro saat dirinya bertemu dengan Zian di Starbucks kafe. Mereka sengaja bertemu di tempat itu di jam sebelas pagi. Zian memenuhi ajakan Sandro yang mengajaknya ngopi di kafe itu. Jam istirahat lebih awal karena hari jumat. Karena hari jumat para karyawan berjenis kelamin pria break menjalankan ibadah sholat jumat ditambah beberapa menit makan siang.


"Hobi? Tidak ada yang menonjol! Mungkin aku sebagai seorang wanita kurang produktif kali yah. Memasak pun kurang pandai. Walaupun suka makan," jawab Zian. Sandro terkekeh dibuatnya.


"Lain kali aku ingin mencoba hasil masakan dari kamu, boleh kah?" tanya Sandro. Zian tersenyum saja.


"Baiklah! Kalau hanya sekedar nasi goreng dan juga mie goreng mungkin aku bisa, hehehe," kata Zian.


"Itu juga tidak apa-apa. Yang penting di dasari dengan tulus ikhlas," sahut Sandro.


"Begitu yah? Hehe! Oh iya kak Sandro! Kakak Sandro tidak ibadah sholat jumat? Sebagai seorang muslim yang berjenis kelamin laki-laki dia wajib pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat jumat beserta rukun-rukunnya. Maksudnya rukun-rukun di sini, dia juga mengikuti dan mendengarkan kotbah jumat. Begitu kak Sandro," ucap Zian menjelaskan secara detail.


"Begitu yah? Kalau begitu, kamu tunggu di sini dulu yah Zian! Aku ke masjid depan mall ini dulu. Kamu tidak apa-apa kan?" ucap Sandro. Dia terpaksa berbohong dengan Zian. Karena Zian belum mengetahui bahwasannya diri nya berbeda keyakinan dan kepercayaan dengan Zian.


"Siap, kakak! Aku akan tungguin kamu di sini deh!" sahut Zian sambil memakan kue di piring nya.


*****


Sementara itu Sandro menyebrang jalan. Tujuan nya saat ini adalah butik yang menjual busana muslimah. Sandro ingin membelikan beberapa stel busana muslim lengkap dengan hijabnya untuk Zian. Dengan semangat, Sandro masuk ke butik itu dan melihat-lihat pakaian wanita itu yang terpampang di gantungan dan juga manekin.


"Selamat siang, bang! Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan toko yang saat ini mendekati Sandro.


"Hem, aku ingin lihat model busana muslim berkualitas terbaru. Tapi jangan terlalu menyolok dan norak yah, mbak!" kata Sandro.


"Model terbaru yah?. Mari ikut dengan saya!" ucap mbak pelayan butik itu. Sandro mengikutinya dari belakang.


"Nah sederetan ini semua nya adalah model terbaru di butik kami! Silahkan abang memilih nya. Ini semua all size," jelas pelayan butik itu. Sandro mulai memilih nya.


"Tampak nya ini sangat cocok jika dipakai Zian! Aku ingin melihat Zian pakai busana muslim ini. Pasti akan terlihat lebih anggun," batin Sandro. Pelayan butik itu memperhatikan Sandro yang mulai kebingungan memilih busana muslim itu. Akhirnya pelayan itu menunjukkan motif dan model lain yang tidak kalah bagus nya.


"Ini cukup keren. Saya ambil lima busana muslim ini, mbak! Dan jangan lupa dibungkus dengan rapi semuanya," kata Sandro dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


"Dibungkus semua nya, bang?" tanya pelayan butik itu memastikan lagi.


"Iya, semuanya dibungkus saja!" jawab Sandro.


"Wah semuanya untuk istri abang yah? Betapa bahagianya istri abang memiliki suami seperti abang ini. Selain tampan, abang juga romantis dan penuh kejutan," nilai pelayan butik itu.


"Waduh, anda sedang merayu saya yah mbak?" sahut Sandro.


"Eh, tidak! Tidak! Maaf! Saya hanya menilai saja kok," kata pelayan itu.


Sandro masih melihat-lihat busana muslim di butik itu. Sandro membayangkan kalau dirinya mengenakan busana koko yang di gantung. Tanpa sadar Sandro nyengir kuda dan senyum-senyum sendiri.


"Aku kalau pakai baju koko ini apakah pantas yah?" gumam Sandro.


"Abang mau juga baju koko nya?" tawar pelayan butik itu.


"Eh, tidak mbak! Lain saja!" jawab Sandro.


"Baiklah!" sahut Sandro.


Sandro segera membayar semuanya. Setelah itu dia melihat beberapa orang-orang sudah keluar dari masjid. Itu berarti ibadah sholat jumat sudah selesai. Sandro segera kembali menuju kafe di mana Zian masih menunggu nya di sana.


"Maaf, Zian! Lama yah menunggu nya?" kata Sandro saat sudah masuk ke Starbucks kafe itu.


"Tidak kok! Malah cepat sekali!" sahut Zian sambil tersenyum lebar menunjukkan gigi putih nya yang berderet rapi.


"Zian, ini untuk kamu!" kata Sandro sambil memberikan paper bag besar yang berisi bingkisan yang dibeli di butik busana muslim tadi. Zian mengerutkan dahinya menerima pemberian dari Sandro.


"Ini apa kak Sandro? Aku tidak sedang ulang tahun loh," ucap Zian.


"Harus di hari ulang tahun yah kalau mau kasih bingkisan seperti ini?" sahut Sandro.

__ADS_1


"Eh, tidak juga sih! Tapi kak Sandro sudah sering kasih aku melulu. Bahkan buket dan paket makanan selalu datang tiap hari di kantor. Aku takut berhutang dengan kak Sandro," ucap Zian.


"Semua yang aku berikan bukan piutang yang harus kamu bayar, Zian! Aku ikhlas dah tulus memberikan semuanya pada kamu," kata Sandro.


"Iya, iya deh! Kalau begitu, mulai besok aku juga akan kasih kejutan buat kamu," sahut Zian. Sandro menyipitkan bola matanya.


"Eh, kejutan untuk ku? Apa itu?" tanya Sandro.


"Kalau aku kasih tahu bukan kejutan namanya dong!" ucap Zian.


"Oh iya, benar! Tapi Zian, kamu jangan ikutan repot-repot yah!" kata Sandro.


"Kamu juga selalu repot memberikan aku banyak kejutan setiap hari. Dari buket, makanan yang enak dan kesukaan ku. Masa aku tidak membalasnya juga sih. Ini tidak adil dong!" ucap Zian.


"Hehehe terserah kamu saja deh!" kata Sandro.


"Sandro, kita pulang yuk!" ajak Zian.


"Kita belum makan siang loh! Kamu hanya makan roti dan juga minum kopi saja! Bagaimana kalau kita coba makan makanan di kafe itu," ajak Sandro.


"Hem, boleh saja! Tapi aku yang bayarin kamu yah Kak!" sahut Zian.


"Hem kenapa begitu? Aku yang ngajak duluan loh. Jadi akulah yang bayarin semuanya. Masa laki-laki dibayarin sama cewek sih? Malu dong aku," tolak Sandro mengada-ada.


"Yaelah, apakah kak Sandro ini terlalu kaya raya sih? Hingga tidak mau menerima pemberian orang?" kata Zian.


"Tidak juga! Ayo kita ke kafe itu dan lihat daftar menu makanan di sana. Siapa tahu makanan nya enak. Kita bisa berlangganan di sana kalau enak," kata Sandro.


"Baiklah! Tapi nanti kalau uang kakak kurang pakai uang aku yah? Di kafe itu pasti mahal banget," ucap Zian. Sandro terkekeh mendengar ucapan Zian.


Seumur hidup Sandro selama jalan dengan cewek-cewek yang dia kenalnya, selalu dirinya yang membayar. Bahkan tidak ada acara basa-basi dari ceweknya untuk membayar atau mentraktir dirinya. Ini berbeda dengan Zian.

__ADS_1


"Semakin hari semakin menarik wanita ini, Ya Tuhan aku semakin tergila-gila dibuat nya," batin Sandro.


__ADS_2