
Zian membuka salah satu toples kue kering pemberian Sandro. Kue kering dengan jenis nastar itu dimakannya. Sandro memperhatikan Zian saat mengunyah kue kering itu. Zian begitu manis dengan lesung pipi yang semakin menambah kecantikan dan kemanisan nya. Zian yang merasa diperhatikan oleh Sandro hanya bisa tersenyum.
"Enak banget kue kering nya. Aku paling suka nastar. Kalau hari raya idul fitri kue kering yang aku cari kue kering ini. Setiap ke rumah Mariah atau fauzi, kue kering ini yang aku cari," cerita Zian.
"Hehehehe, enak yah! Ini masih ada lagi. Kue saljunya tidak dicoba?" kata Sandro.
"Jangan khawatir, kak! Kue- kue ini semua bakalan habis aku makan. Karena aku suka ngemil," ucap Zian.
"Qh begitu yah? Kue-kue kering ini yang buat mami aku, Zian!" cerita Sandro.
"Benarkah?. Wah ternyata mami kak Sandro benar-benar hebat dan pandai bikin kue," sahut Zian.
"Kalau mau di rumah masih banyak dan beraneka jenisnya. Bolu basah juga ada kok," cerita Sandro. Zian melebar matanya.
"Wow jadi pingin bermain di rumah kamu dan berkenalan dengan semuanya," kata Zian.
"Ayolah kalau mau! Sekarang saja kalau mau main dan berkenalan dengan keluarga besar ku. Mumpung kita sedang berkumpul. Mami banyak masak di rumah," cerita Sandro.
"Sekarang? Ah jangan deh, aku malu ketemu saudara dan keluarga besar kamu kak Sandro," kata Zian.
"Tidak apa-apa! Keluarga ku baik
dengan semua orang dan ramah kok," ucap Sandro.
"Hehe, bagaimana yah?" Zian masih ragu-ragu.
Sandro dan Zian masih di ruangan tengah rumah itu. Sandro sengaja bermain ke rumah Zian karena libur nasional hari Raya. Hari ini semua berkumpul di rumah utama. Jadi rumah Sandro ramai anggota keluarga besar berkumpul.
"Oh iya, Kak Sandro! Tadi malam Mariah lihat kak Sandro loh," kata Zian.
"Lihat aku? Di mana?" tanya Sandro sambil mengernyitkan dahinya.
"Di gereja terbesar di kota ini. Itu kata Mariah yang melihat kakak keluar dari gereja bersama rombongan yang lain," jelas Zian.
Sandro mulai gugup dan wajahnya penuh kepanikan. Sandro melihat Zian tanpa ekspresi. Tidak ada perubahan atau kekecewaan di sana.
"Lalu?" tanya Sandro.
"Lalu apa maksudnya? Tidak apa-apa kok! Mariah mengira kalau kak Sandro habis merayakan Natal dan beribadah di sana. Aku bilang dengan Mariah kalau kakak sedang ikut meramaikan hari raya. Kak Sandro benar-benar hebat, memiliki toleransi beragama yang tinggi. Aku benar-benar salut loh kak,"kata Zian.
Sandro menggaruk jidatnya sendiri. Terus terang dia bingung. Sandro ingin berkata jujur dengan Zian. Namun Sandro masih takut jika Zian nanti berubah membenci nya. Dan yang paling parah akan menjauhi dirinya kalau Sandro berkata jujur mengenai keyakinan dan kepercayaan yang ia yakini.
"Zian, apakah kamu mau jika berkunjung ke rumahku. Di rumahku sedang berkumpul dan merayakan hari raya bersama," jelas Sandro.
__ADS_1
"Wow, kalian hebat loh! Toleransi nya tinggi. Aku salut. Ini seperti mami papi aku ketika hari raya Idul Fitri di rumah utama juga disiapin banyak makanan dan kue-kue. Mami papi menghormati aku sebagai seorang muslim. Mereka benar-benar hebat," cerita Zian.
"Hem, iya mami papi kamu hebat loh! Mereka mengijinkan dan memberikan kebebasan terhadap kamu untuk memilih agama dan kepercayaan. Aku sangat senang bisa berkenalan dengan mami papi kamu, Zian," kata Sandro.
"Jadi, mau tidak jika aku mengajak kamu bergabung dengan mereka. Ke rumah utama dan berkumpul dengan anggota keluarga besar ku. Kamu tahu Zian? Mami papi ku juga ingin berkenalan dengan kamu, loh!" kata Sandro.
"Loh, yang benar? Hayo kamu cerita apa dengan mereka?" tanya Zain.
"Mereka hanya minta aku mengenalkan wanita yang spesial dalam hidup ku. Dan wanita spesial itu adalah kamu. Kamu mau kan, Zian?" kata Sandro.
"Hem, bagaimana yah? Tapi aku malu, Sandro," ucap Zian.
"Tidak apa-apa kok! Mami papi ku pasti sangat menyukai kamu," sahut Sandro.
"Hem, baiklah! Tapi tunggu sebentar! Aku ganti baju dulu yah, Kak Sandro," kata Zian.
"Tentu! Jangan lupa dandan yang cantik yah, soalnya akan bertemu calon mertua," sahut Sandro. Zian yang mendengar nya menjadi melebar matanya dengan sempurna. Sandro yang melihat nya langsung terkekeh-kekeh.
*****
"Kak Sandro! Apakah penampilan ku sudah rapi dan bagus? Aku takut kalau ketemu keluarga besar kamu," ucap Zian setelah selesai berganti pakaian nya dengan warna senada dengan hijab nya.
"Zian, kamu benar-benar cantik! Serius!" jawab Sandro.
"Benarkah? Wow ini terlihat cocok dengan kamu, Zian. Aku sampai lupa dulu milih yang mana," sahut Sandro.
"Terima kasih yah Kak. Ini pasti sangat mahal yah?" kata Zian.
"Tidak kok! Masih bisa terjangkau," ucap Sandro.
"Ya sudah, ayo kita berangkat!" ajak Sandro.
"Tunggu kak Sandro! Hem tapi nanti kita mampir dulu ke toko bakery yah kak. Aku mau belikan oleh-oleh juga untuk mami kakak Sandro," kata Zian.
"Hem, tidak usah Zian! Di rumah sudah banyak sekali makanan baik kue-kue kering, makanan berat dan berbagai jenis minuman pun juga ada," sahut Sandro.
"Kak Sandro! Walaupun di sana sudah tersedia makanan dan minuman berbagai jenis. Tapi aku tetap ingin bawa buah tangan. Ini seperti seorang calon menantu yang membawakan buah tangan untuk calon mertuanya," kata Zian sambil bersemu merah wajahnya. Sandro menatap lekat wajah Zian yang merona lantaran malu.
"Tadi kamu bilang apa, Zian! Coba katakan sekali lagi!" ucap Sandro.
"Eh, tidak, tidak. Itu hanya perumpamaan saja, kakak!" tepis Zian.
"Tapi aku berharap itu semua yang kamu katakan akan benar-benar menjadi kenyataan. Aku, aku, aku mau kamu bisa masuk dalam kehidupan ku dan menjadi.... " ucap Sandro.
__ADS_1
"Menjadi apa kak Sandro?" tanya Zian menyipitkan bola matanya.
"Menjadi pendamping hidup ku!" sahut Sandro. Ini adalah kesempatan untuk Sandro mengungkapkan perasaan dan niatannya untuk serius dengan Zian. Pergelangan tangan Zian diraihnya. Serta merta dikecup punggung tangan itu. Zian sangat takut dan gugup. Dengan cepat tangan itu dia tariknya.
"Eh, em maaf! Aku khilaf!" ucap lirih Sandro.
Beberapa lama mereka diam tidak berkata-kata. Mereka belum bergeming dan beranjak dari tempat itu.
"Zian, aku serius! Aku menyukai kamu sejak awal kita bertemu. Setelah itu kamu tahu? Aku berusaha mencari informasi tentang kamu. Di mana rumah kamu, status kamu, di mana kamu bekerja dan paling ingin aku tahu adalah apa kesukaan kamu baik makanan maupun minuman yang kamu sukai. Setelah itu aku mencoba mengirimkan kamu buket mawar beserta makanan favorit kamu," kata jujur Sandro. Zian memerah wajahnya mendengar semua pengakuan dari Sandro.
"Aku ingin kamu menjadi ibu bagi anak-anak ku kelak, Zian! Kamu mau kan menjadi istriku dan akan aku kenalkan pada semua keluarga ku," tambah Sandro.
Beberapa lama Zian diam namun akhirnya kepala itu mengangguk pelan.
"Terimakasih Tuhan! Terimakasih Zian! Jadi kamu menerima cintaku kan, sayang?" ucap Sandro sontak langsung memeluk Zian.
"Eh???" Zian sangat terkejut bukan main lantaran Sandro tiba-tiba memeluk nya. Dengan pelan Zian mendorong pelan tubuh Sandro.
"Kakak Sandro! Maaf, jangan memeluk ku! Kita bukan muhrim dan belum halal," ucap lirih Zian.
"Ehh iya! Maaf, aku sangat senang sampai lupa kalau kita belum boleh bersentuhan," kata Sandro. Zian memerah wajahnya. Detak jantung nya berirama dan tidak beraturan hanya dengan dipeluk oleh Sandro. Kedua netra mereka beradu. Keduanya saling melemparkan senyuman termanis diantara keduanya.
"Ayo, kita berangkat! Aku akan mengenalkan kamu pada keluarga besar ku di hari bahagia ini," ajak Sandro.
Zian masih belum paham dan masih beranggapan kalau Sandro satu server dengan dirinya. Dirinya belum mempermasalahkan perbedaan itu karena memang belum mengetahui kebenarannya. Apa yang akan terjadi nanti ketika sudah tiba di rumah keluarga besar Sandro di rumah utama orang tua nya?
*****
Di dalam mobil.
"Kamu kenapa, Zian?" tanya Sandro.
"Aku gugup, kak Sandro!" jawab Zian jujur.
"Jangan takut, mami. papi ku tidak galak kok. Mereka super baik dan menurut ku beliau orang tuaku yang paling mengerti keinginan dan kemauan anak-anak nya," cerita Sandro.
"Tapi aku tetap gugup, kak Sandro!" sahut Zian.
"Jangan takut! Ada aku. Aku tidak akan jauh-jauh dari kamu," kata Sandro.
"Aku juga seorang janda dan pernah menikah. Sedangkan kak Sandro belum pernah menikah. Aku takut kalau orang tua kakak Sandro beserta keluarga besar kakak mempermasalahkan status aku yang seorang janda," kata Zian.
"Tidak, tidak Zian! Kamu jangan berpikiran seperti itu. Percaya deh dengan aku," ucap Sandro.
__ADS_1