
Rani melihat Maya yang masih terlihat sedih dan memutuskan untuk mengubah suasana dengan mengajaknya keluar membeli es krim. Dia tahu betapa Maya menyukai es krim dan berharap itu dapat membuatnya sedikit lebih bahagia.
"Ayo keluar sebentar," ucap Rani sambil tersenyum penuh kebaikan lalu menarik tangan maya keluar dari dalam apartemen.
“Mau kemana, aku belum mandi”
“Udah ayok, nanti juga kamu tau mandi trus pun kamu di selingkuhi tok”
“Raniiiiiii”
“Ayok makanya, mandinya ntaran aja, wong Cuma sebentar”
Maya pasrah mengikuti dan mencoba tersenyum meski masih terlihat sedih. "Ya sudah tapi jangan aneh-aneh lo yo, aku juga butuh sesuatu yang bisa membuatku sedikit lebih baik."
Mereka berdua keluar dari apartemen dan berjalan menuju toko Alpa maret di dekatnya. Saat berjalan bersama, suasana mulai terasa lebih ringan.
“Ibu Maya tidak ingin saya antar?” Tanya Edi saat papas an di lobi apartemen.
“Eh pak edi, kan saya sudah bilang jika sudah mengantar saya pulang kerja, pak edi bisa pulang bawa mobil ini ke rumah bapak tanpa menunggu disini” Jawab maya malah memerintahkan untuk pulang.
“Tapi ini belum jam pulang sesuai instruksi ibu Melan, bahwa minimal jam 10 malam”
“Ya sudah terserahlah, kami jalan aja” Ucap maya dan melanjutkan perjalanan bersama Rani ke Alpa maret.
Selang beberapa menit saat tiba dalam took di depan kulkas tempat berbagai macam es krim di simpan.
"Mau pilih rasa apa?" tanya Rani sambil melihat menu es krim yang tersedia.
Maya memandang berbagai pilihan dengan wajah penuh kebingungan. "Hmm, aku rasa aku ingin mencoba rasa baru hari ini. Bagaimana dengan pisang cokelat?"
Rani mengangguk setuju. "Kayaknya enak! Aku juga akan mencoba rasa yang sama. Yuk, kita pesan!"
Mereka berdua memesan es krim pisang cokelat dan duduk di meja kecil di depan toko alpa maret. Sambil menikmati es krim mereka, mereka mulai mengobrol tentang hal-hal ringan dan lucu.
Rani memulai dengan cerita kocak tentang kejadian lucu di kampus, mencoba membuat Maya tersenyum. Maya tertawa mendengarnya dan merasa terhibur dengan cerita-cerita konyol Rani.
__ADS_1
“Aku di perintahkan pak James bos ku, harus segera pindah ke rumah baru” Ucap Maya memberikan info.
“Kapan”
“Lusa ini, pas hari minggu”
“Koq mendadak, apa semua sudah siap?” Tanya Rani
“90% kelar, besok aku akan meminta Pak Edi menjemput orang tuaku, aku ingin mereka membantu segala sesuatu karena aku belum pengalaman dalam menata perabot”
“Wah acara dong, selamatan bikin tumpeng kek”
“Emang harus?”
Eh sandal swallow putus, dimana-mana orang yang baru menempati suatu tempat, perlu di selamatin nanti di doakan, semoga tempat itu di berkahi” Jelas Rani
“Emang kamu gak nanya-nanya sama orang tuamu?” Tambah rani
“Aku baru berencana nanti ini menelpon mereka, sekalian ngabari jika besok edi akan menjemput mereka kesini, dan berharap mereka bisa datang.
Sambil terus menikmati es krim mereka, Maya dan Rani melupakan sementara masalah yang ada dan fokus pada kebahagiaan dan persahabatan mereka. Mereka tahu bahwa dengan dukungan dan kebersamaan, mereka dapat menghadapi semua halangan dan menemukan kebahagiaan yang sejati.
"Makasih sudah mengajakku keluar dan mencoba membuatku merasa lebih baik," ucap Maya sambil tersenyum tulus.
Rani merangkul Maya dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Kita adalah sahabat sejati dan selalu saling mendukung satu sama lain. Kita akan melewati masa sulit ini bersama-sama."
Maya merasa hangat dalam pelukan Rani. Dia merasa beruntung memiliki seseorang seperti Rani yang selalu ada di sisinya. Dalam momen itu, Maya merasa bahwa tidak ada masalah yang tidak dapat mereka atasi asalkan mereka bersama.
Mereka menyelesaikan es krim mereka sambil berbicara dan tertawa. Saat mereka berjalan pulang, langit senja yang indah memberikan harapan baru bagi mereka. Meskipun masih ada perjalanan yang harus mereka lewati, mereka tahu bahwa dengan persahabatan mereka, mereka akan bisa melaluinya dengan baik.
^^
Setelah kembali ke apartemen maya segera membersihkan diri dan sudah tidak sabar menghubungi kedua orang tuanya.
Setelah mandi Maya duduk di kamar apartemen, menelpon orang tuanya untuk berbagi kabar baik tentang kepindahan ke rumah barunya. Dia merasa senang dan bersemangat untuk memberi tahu mereka tentang langkah besar dalam hidupnya.
__ADS_1
"Halo, Ma. Halo, Pa. Apa kabar?" Maya menyapa dengan penuh keceriaan.
"Kami baik-baik saja, Nak. Bagaimana kabarmu di sana, sudah makan?" jawab ibunya dengan suara hangat.
“Udah bu, barusan sama Rani beli es krim”
Maya pun berbagi cerita tentang pekerjaannya di Trotoarts dan bagaimana ia mendapatkan kesempatan untuk tinggal di perumahan mewah milik perusahaan. Ia menjelaskan betapa pentingnya momen ini baginya dan betapa dia ingin orang tuanya menjadi bagian dari perubahan ini.
"Ma, Pa, Aku sudah mencari perumahan yang nyaman dan layak untuk di tinggali," Maya berkata dengan penuh harap.
Terdengar senyap sejenak di ujung telepon. Lalu, ibunya menjawab dengan suara yang penuh kehangatan, "Nak, itu adalah hal yang sangat baik. Kami merasa bangga dan bersyukur melihatmu tumbuh dan berkembang seperti ini."
"Terima kasih, Ma, Pa. Aku sangat senang jika kalian akan bersama-sama dengan ku di sini. Besok, sopir pribadiku, Edi, akan menjemput kalian dari desa dan membawa kalian ke rumah baru kita," kata Maya dengan rasa syukur.
Setelah menjelaskan rencananya kepada orang tuanya, Maya merasa perlu menanyakan pendapat mereka tentang selamatan untuk rumah barunya.
"Ma, Pa, apa menurut kalian perlu kita adakan selamatan untuk rumah baru ini?" tanya Maya dengan penuh harap.
Ibu Maya memikirkan pertanyaan tersebut sejenak. "Nak, memang tradisi selamatan adalah hal yang baik untuk dilakukan ketika kita pindah ke rumah baru. Itu bisa menjadi ungkapan rasa syukur kita atas kesempatan ini dan juga sebagai doa agar rumah baru ini menjadi tempat yang penuh berkah dan kebahagiaan."
Ayah Maya setuju, "Benar, Maya. Selamatan adalah cara kita memohon berkah dan perlindungan dari Tuhan untuk rumah baru kita. Selain itu, ini juga bisa menjadi momen spesial untuk berkumpul bersama keluarga dan mempererat hubungan kita."
Maya merasa lega mendengar pendapat kedua orang tuanya. Dia merasa penting untuk menghormati adat dan tradisi yang sudah melekat dalam keluarganya. "Baiklah, kita akan adakan selamatan untuk rumah baru ini. Saya akan mengurus persiapannya," kata Maya dengan penuh semangat.
Ibu Maya tersenyum, "Itu baik, Nak. Kami akan membantu dan mendukung persiapan selamatan ini. Kita akan menjalankan tradisi dengan penuh kebersamaan dan rasa syukur."
Maya merasa senang mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Mereka berdiskusi lebih lanjut tentang persiapan selamatan dan menentukan tanggal yang sesuai.
Mereka berbincang-bincang lagi tentang rencana masa depan dan Maya merasa semakin dekat dengan orang tuanya melalui percakapan tersebut.
Setelah menutup telepon, Maya merasa lega dan bahagia. Dia bersiap-siap untuk tidur dengan pikiran yang tenang, karena tahu bahwa besok akan ada kejutan dan kebahagiaan saat orang tuanya tiba di rumah barunya.
Maya merasakan kehangatan keluarga dalam hatinya dan merasa beruntung memiliki orang tua yang mendukung dan mencintainya. Dia tahu bahwa perjalanan hidupnya akan menjadi lebih berarti dan penuh cinta dengan kehadiran mereka di sisinya.
Malam itu, Maya tidur dengan pikiran yang tenang dan hati yang penuh syukur.
__ADS_1